
Karena Riski hanya fokus pada jalan raya, Yalisa pun mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya juga.
“Aku salah ngomong ya?” gumam Yalisa, yang kebetulan di dengar oleh Riski.
Riski pun meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan.
“Loh, kok berhenti Ki?” tanya Yalisa kebingungan bercampur takut, mungkin omongannya barusan bisa saja membuat Riski tersinggung.
“Ki, maaf ya kalau perkataan ku ada yang menyakiti hati mu, karenakan gimana pun juga, aku rindu kamu.” ucap Yalisa dengan suara yang redup.
“Yalisa,”
“Ya?” jawab Yalisa.
“Sebenarnya, aku sebentar lagi akan berangkat keluar negeri.” ucap Riski dengan meremas kuat setir mobil.
“Apa?” Yalisa tak menyangka ia mendapat kabar yang begitu membuat jantungnya berdetak kencang.
“Iya, maka dari itu, aku mau pamit sama kamu,”
“Kapan? Kemana?” tanya Yalisa dengan suara lirih, seperti menahan tangis.
“Bulan depan ke Brazil,” jawab Riski.
“Apa? Kok baru bilang sekarang Ki?”
“Maafkan aku, untuk mengatakan hal ini, aku harus mengumpulkan keberanian dulu,” ungkap Riski.
“Jadi selama ini kamu belajar keras, sampai enggak bisa ketemu aku karena mau keluar negeri?”
“Iya, betul,” Riski menganggukkan kepala.
Dengan menahan tangis Yalisa melihat langit-langit mobil agar air matanya tak jatuh.
“Jangan lupa, kasih kabar,” ucap Yalisa dengan menghirup air hidungnya yang hampir keluar.
“Tapi tenang saja, aku pasti jaga hati, makanya aku bilang, jaga hati mu Yalisa, jangan nikah sama orang lain selama aku pergi,” ujar Riski.
“Soal jodoh kita enggak ada yang tahu, kalau ada yang lebih baik dari pada kamu, apa salahnya? Toh aku enggak tahu sampai kapan kamu disana, atau mungkin kamu sudah punya pacar baru, jadi aku enggak harus mewajibkan diri atau berjanji tetap menjaga hubungan ini kan?”
“Sayang, aku pasti setia, makanya tunggu aku, do'akan aku,” pinta Riski.
“Insya Allah,”
“Sayang.” Riski mencoba memberi pengertian pada Yalisa.
“Kamu enggak mikirin perasaan aku apa? berbulan-bulan saja kamu ada di dekat ku, bertemu di sekolah setiap haru, malah jarang gubris aku, apa lagi kalau kamu keluar negeri, lagi pula, disini juga kan bisa sekolah Ki.” Yalisa berfikir kalau Riski keluar negeri untuk kuliah.
Riski pun memeluk Yalisa yang mulai menagis.
__ADS_1
“Aku rindu kamu Ki, kamu yang disini saja masih membuat aku rindu, apa lagi kalau sampai jauh, jangan pergi,” pinta Yalisa.
“Ini demi kita juga Yalisa, aku harus pergi,” batin Riski.
“Tapi aku harus pergi, dan perlu kamu tahu aku kesana bukan untuk sekolah, melainkan kerja, mengurus perusahaan ayah, makanya aku bilang, do'akan aku, dan itu adalah persyaratan dari ayah, kalau aku mau menikahi mu,” terang Riski.
Yalisa yang baru tahu kalau kepergian Riski karena dirinya juga, tak dapat menawar kepergian sang kekasih lagi.
“Apa kamu seserius itu Ki sama aku?”
“Tentu, aku sayang dan cinta bangat sama kamu, maka dari itu, ayo kita saling percaya, tunggu aku pulang,”
“Berapa lama kamu disana?”
“1 tahun sayang.” Yalisa yang tak ingin bersikap egois mencoba mengerti, karena semua demi masa depan mereka berdua.
Setelah Yalisa sudah lebih tenang, Riski menyalakan kembali mesin mobil, dan mulai membelah jalan raya menuju rumah Yalisa.
Selama di perjalanan Yalisa sering kali curi-curi pandang pada Riski.
Riski tahu itu, ia pun membalas dengan senyuman.
“Riski beda bangat sama yang dulu, biasanya kalau ketemu wajib lakuin dosa, sekarang malah kayak jaga jarak gitu, apa dia udah hijrah? Hmmm... Pada hal aku kangan berciuman dengannya.” batin Yalisa.
Riski yang terus dapat lirikan dari Yalisa lama-lama menjadi grogi.
“Ada apa yang? Kok lihatin aku segitunya?” tanya Riski.
Dan mulai berkaca pada spion yang ada dalam mobil.
“Mana?” Riski terus mencari yang di maksud oleh Yalisa.
“Lihat yang benar dong, sini biar aku ambil.” Riski pun mendekatkan wajahnya pada Yalisa.
Cup! Tak di duga-duga, Yalisa justru memberi satu kecupan di pipi Riski, sontak Riski tersentak. Lalu menatap mata Yalisa dalam-dalam.
“Kenapa? Apa aku enggak boleh cium kamu?” tanya Yalisa dengan perasaan was-was.
“Bukan, bukan itu,”
Lalu Yalisa kembali mengecup Riski, kali ini di area bibirnya.
“Tolong jaga hati dimana pun kamu berada, karena kalau kamu sudah pergi, akan banyak yang kamu temui di tempat mu berpijak nanti, tentunya yang lebih cantik, atau lebih baik,” terang Yalisa.
Lalu Riski menekan bibir Yalisa dengan telunjuknya.
“Sssstt...., memang banyak yang lebih, tapi yang seperti kamu, cuma ada satu,” ujar Riski.
Yalisa merasa sedikit lega, untuk saat ini kata-kata Riski mampu membuat ia ikhlas, jika harus berhubungan jarak jauh dengan sang kekasih.
__ADS_1
“Riski,”
“Iya, Yalisa ku,”
“Apa aku masih boleh buat cium kamu?” tanya Yalisa dengan sopan.
“Boleh, semua yang ada di diriku, milik mu.”
Yalisa yang telah mendapat izin, mulai mencium wajah sang kekasih inci demi inci, Riski yang juga merasa rindu, tak dapat menahan hasratnya lagi.
Ia pun memeluk Yalisa, dan mencium rambutnya yang masih terasa wangi, sebelum lanjut membalas ciuman sang kekasih, ia terlebih dahulu mematikan lampu.
“Kok lampunya di matiin?” tanya Yalisa dengan suara berbisik.
“Diam!” ucap Riski dan langsung menarik sang gadis agar bisa duduk di atas pangkuannya.
“Nanti ada yang lihat Ki,”
“Tenang saja, dari luar orang enggak lihat yang di dalam.” terang Riski yang mulai terbawa suasana.
Meski Yalisa telah duduk di atas pangkuannya, namun ia masih harus sedikit menunduk, agar dapat sejajar dengan wajah kekasihnya.
“Kamu rindu aku?” cup! Riski mencium pipi kanan Yalisa.
“I-iya,”
“Seberapa besar?” cup! Riski mencium pipi kanan Yalisa.
“Sepenuh hati ku.” jawab Yalisa yang mulai gugup.
“Bohong,” cup! Riski mengecup kening Yalisa.
“A- aku serius, saking rindunya, aku enggak bisa tidur nyenyak,”
“Aku enggak percaya sebelum lihat sendiri.” Riski mengecup bibir Yalisa yang masih di warnai lipstik.
“Lihat dari mana?” tanya Yalisa dengan polosnya.
Lalu Riski mengecup dada Yalisa yang masih di balut baju bridesmaid.
“Dari sini.” seketika bulu kuduk Yalisa merinding.
“Kamu masih anggap aku murahan ya? Kamu fikir aku segampang itu?” wajah gadis itu mulai merah padam seperti menahan amarah.
“Yalisa, aku enggak pernah menganggap mu murahan, kalau pun pernah terlontar dari mulut ku, itu ketidak sengajaan, sampai sini harusnya kamu faham, gimana perasaan ku pada kamu” terang Riski
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu