
Yalisa dan Riski saling melihat satu sama lain, mereka tak tahu apa yang menyebabkan kedua orang tua Mei tak kunjung pulang, pada hal mereka bukan orang yang terkendala soal uang.
“Apa kita boleh tahu alasannya pak?” tanya Yalisa.
“Aduh, kalau itu saya kurang tahu non, lagi pula bapak hanya satpam disini, bukan hak saya untuk mengetahui urusan pribadi mereka.” terang sang satpam.
Mendengar penuturan sang satpam, Yalisa merasa agak kecewa, ia juga penasaran tentang kehidupan pribadi Mei yang sebenarnya.
Karena, walau pun mereka sudah berteman sangat akrab, namun Mei tak pernah berbagi hal pribadinya pada Yalisa.
Yalisa sendiri adalah seorang yang tak mau tahu urusan orang lain, apabila orang tersebut tak mau bercerita padanya.
“Ki,” ucap Yalisa.
“Iya?” sahut Riski.
“Atau non Yalisa dan tuan mau tunggu di dalam?” sang satpam menawarkan mereka untuk masuk.
“Enggak baikkan kalau cuma berdiri di gerbang begini, nanti kalau tiba-tiba non Mei pulang, dan dia lihat ini, saya bisa di marahi lagi.” ucap sang satpam.
“Gimana Ki?” Yalisa menanya pendapat Riski.
“Enggak usah, oke pak kalau gitu kita pamit pulang sekarang, kalau Mei sudah pulang, bilang kalau kita kesini, dan minta untuk kabari kita secepatnya.” pinta Riski pada sang satpam.
“Baik tuan,” sahut sang satpam.
“Kalau begitu kami permisi pak, bapak boleh tutup gerbangnya sekarang.” titah Riski seraya merangkul bahu Yalisa yang wajahnya penuh kecemasan.
“Baik tuan, saya tutup gerbangnya tuan.” sang satpam pun menutup gerbangnya kembali.
“Sekarang gimana?” tanya Riski.
“Ya kita cuma bisa nunggu, atau kita lapor polisi saja?” ucap Yalisa.
“Yang benar saja kalau lapor polisi, bisa-bisa Mei malah masuk kandang lagi, masalah pak Ari kan masih berlanjut.” batin Riski.
“Mungkin dia lagi nginap sama pacarnya kali di hotel.” ucap Riski mengalihkan topik.
“Kalau ngomong yang benar dong, jangan ngada-ngada.” Yalisa yang kesal mendengar ucapan Riski, melepas paksa rangkulan Riski.
“Bisa jadikan?”
“Ya bagus kalau emang gitu, takutnya dia di culik, terus di jual di dark web.”
“Ngomong apa sih kamu, itu enggak mungkin bangat, kalau kamu yang hilang sih bisa jadi.”
“Siapa juga yang mau menculik cewek segila itu, yang ada penculiknya jadi hidangan di meja makan.” batin Riski.
“Emang apa bedanya aku sama Mei? Kita berdua sama-sama cewek kok.”
“Hum! Masih nanya beda lagi, udahlah, sekarang kita mau kemana? Mau pulang apa mau pacaran?” ucap Riski seraya tertawa kecil.
“Pulanglah, ngikutin kamu entar cuma menimbulkan hal negatif.” ungkap Yalisa.
“Kalau ngomong suka benar nih anak, entar aku masukin ke karung baru tahu rasa.” Riski mencoba menghibur Yalisa dengan kata-kata ketusnya.
“Punya karung juga enggak, sok-sok mau karungin orang.” ucap Yalisa.
__ADS_1
“Udah, ayo naik biar aku antar pulang, di ajak enak malah enggak mau.”
“Enak mata mu.” ucap ketus Yalisa seraya naik ke atas motor Riski.
“Jangan bacot turus, entar aku buang ke empang yang ada di dekat rumah mu baru tahu rasa!” pekik Riski.
“Kamu kalau bercanda enggak lucu sama sekali tahu.” ucap Yalisa yang telah duduk di belakang Riski.
“Emang kamu sendiri lucu?” sahut Riski.
“Jadi menurut kamu aku enggak lucu?” tanya Yalisa dengan mimik wajah serius, lalu Riski memutar badannya ke arah belakang.
“Nyebelin sih iya, baru benar.” jawab Riski.
“Kamu mau ngantar pulang atau mau ngajak berantam sih?!” pekik Yalisa.
“Sebenarnya mau ngajak makan,” ucap Riski.
“Enggak nyambung bangat deh, dari ngata-ngatain aku sama ngajak makan.”
“Itu karena jaringan mu enggak bagus, jadi susah nyambung kalau di ajak ngobrol.” ungkap Riski.
“Jadi mau lanjut debat disini nih?” tanya Yalisa dengan wajah horornya.
“Hehehe, kayaknya kita lanjut besok saja deh.” jawab Riski, seraya menghadap ke depan kembali.
Kemudian Riski menggas motornya membelah jalan raya menuju rumah Yalisa.
_____________________________________
Setelah cukup menenangkan fikirannya di taman, Leo memutuskan untuk kembali. Ia berencana untuk ke ruangan Mei terlebih dahulu.
Sesampainya ia di depan ruangan Mei, ia pun memegang handle pintu.
Ceklek...
Saat telah berhasil membuka pintu, ia di kejutkan dengan ke hadiran ibunya di ruangan itu.
Kedua wanita itu mengobrol dengan akrab, seperti sudah lama saling kenal, perlahan Leo masuk dan mendekat ke ibunya dan Mei.
“Kenapa ibu bisa ada disini?” tanya Leo dengan wajah tegangnya.
Lalu bu Dita yang duduk di kursi roda menoleh ke arah Leo.
“Ya bisa dong, ibu kan tinggal tanya sama dokter, apa susahnya.” terang bu Dita.
Lalu Leo memandangi wajah Mei yang begitu ceria duduk di atas ranjang, seolah tak terjadi apapun.
“Ayo duduk.” ucap Mei, seraya mengarahkan matanya ke sebuah kursi di samping ranjang Mei.
“kok dia tiba-tiba ceria?” batin Leo. Kemudian Leo pun duduk di atas kursi.
“Ibu udah tahu semuanya.”
“Maksud ibu?” tanya Leo dengan perasaan waswas takut tindakannya sudah di bongkar oleh Mei.
“Kalian satu sekolah, seangkatan, dan berteman akrab juga, ibu senang bangat lo nak.” ucap bu Dita dengan wajah yang berbinar-binar.
__ADS_1
“Sudah sebanyak apa sih mereka mengobrol?” batin Leo.
“Gimana Mei sama yang ibu bilang tadi?” pertanyaan bu Dita sontak membuat Leo melirik tajam ke arah Mei.
“Emangnya Leo setuju tante? Mei enggak mau ada paksaan lo.” terang Mei pada bu Dita.
“Maksud kamu apa Mei?” tanya Leo.
“Ibu udah bilang tujuan ibu sama Mei, tau enggak nak, ibu merasa sehat bangat sekarang, Mei juga orangnya ceria, mungkin ibu bisa hidup lebih lama kalau ada kalian berdua di samping ibu.” ucap bu Dita seraya menyatukan tangan Leo dan Mei.
“Apa ibu sudah bilang sama ayah?” tanya Leo.
“Sudah dong, ibu sudah bilang lewat telepon, ayah sih katanya terserah ibu saja.” ucap bu Dita.
“Bu, bisa kasih waktu sebentar buat Leo dan Mei?” pinta Leo dengan wajah serius.
“Ya sudah, bicara baik-baik ya nak.” bu Dita menghargai privasi antara anaknya dan Mei, jadi bu Dita memutuskan untuk keluar dari ruangan, di bantu sang suster yang mendorong kursi rodanya menuju kamar inapnya.
Setelah bu Dita telah pergi dan pintu juga telah tertutup, Leo menatap tajam ke arah Mei.
“Hei hei, disini yang jadi korbankan aku, buka kamu atau ibu mu, ibu mu kasih penawaran bagus, ya aku terimalah, nikah muda kayaknya enggak buruk juga.” ucap Mei dengan senyum nakalnya.
“Tapi aku enggak siap Mei, tolong kamu tolak permintaan ibu ku itu, kalau kamu menolak, pasti ibu akan mengerti,” pinta Leo.
“Gimana bisa aku menolak hal sebagus itu?” Mei mengangkat alis kirinya ke atas.
“Kita itu enggak saling cinta, dan kamu tahu hati ku untuk siapa, jadi kalau kamu tetap memaksa, dan andai akhirnya itu kejadian, kamu dan aku enggak akan bahagia.” ungkap Leo dengan penuh harap Mei mau menolak lamaran ibunya.
Mei diam sejenak memikirkan perkataan Leo. “Baiklah.”
“Kamu setuju buat tolak lamaran ibu ku kan?”
“Ayo kita menjadi pasangan yang sebenarnya.” ucap Mei, raut wajah Leo langsung suram mendengar ke kokohan hati Mei.
“Mei, kamu tahu kan selain perasaan mu ada perasaan Yalisa juga.”
“Itu urusan mu dan dia, ini yang namanya karma, seharusnya kamu berfikir panjang sebelum menculik orang lain!” pekik Mei.
“Itu memang salah ku, kita kan sudah sepakat, aku cukup memutuskan hubungan ku dengan Yalisa.”
“Terserah mau bilang apa, jangan jadi enggak tahu diri setelah mendapat bantuan dari orang lain, kalau enggak siap dengan kenyataan yang ada, harusnya kamu ikhlaskan, apa saja yang terjadi pada ibu mu ke depannya.”
“Mei!” hardik Leo.
“Ibu mu saja pengertian, masa kamu mau jadi pecundang? Apa perlu aku bilang semua kelakuan mu ini?” ancam Mei pada Leo.
“Kalau aku enggak ada jejak kriminal, pasti udah ku laporin si brengsek ini ke kantor polisi, tapi tawaran dari ibunya cukup membuat aku puas.” batin Mei.
“Aku akan keluar dulu, aku harap setelah aku kembali kesini, kamu sudah berubah pikiran.” ucap Leo seraya berlalu dari hadapan Mei.
“Sampai kiamat pun aku enggak akan berubah fikiran, malah kalau bisa, aku akan mempercepat tanggal pernikahan itu.” gumam Mei, seraya merebahkan badannya kembali ke ranjangnya.
Di luar ruangan Leo bertambah perustasi, Leo yang kesal, meninju dinding dengan kepalan tangannya.
“Sial! Sial sial!!” Harapan Leo hanyalah Mei, meski tak bersama Yalisa ke depannya, setidaknya ia tak menyakiti perasaan Yalisa dua kali, terlebih lagi, ia tak memiliki perasaan sedikit pun pada Mei.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH HADIAH, LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 5 SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu.