
Yalisa menatap sinis Riski yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Makanya, jaga jarak dong.” ucap Yalisa.
“Kamu sendiri tadi enggak nolak, nih!” Riski menunjuk ke arah bajunya yang basah.
“Kamu nangis sampai buat baju ku basah,” ujar Riski.
“Yang meluk kan kamu, bukan aku.”
“Memang! Habis kamu nangis sudah seperti gila! Siapa yang tahan melihatnya!” pekik Riski.
“Kok jadi marah sih?”
“Aku enggak marah.” Riski menggeleng-geleng kan kepalanya.
“Tadi marah.”
“Udahlah kamu enggak akan pernah ngerti.” ucap Riski seraya bersedekap.
“Loh! Sekarang malah ngambek.”
“Siapa juga yang ngambek, dasar enggak peka.”
“Eh, kalau mau debat mending pulang.”
“Kan!” pekik Riski dengan menyunggingkan bibirnya.
“Apa sih Ki?”
“Aku lapar.”
“Kalau lapar ya tinggal makan.” ujar Yalisa.
“Ada apa di dapur?” ucap Riski seraya beranjak dari duduknya.
“Mau kemana?” tanya Yalisa.
“Ya nyari makan ke dapur lah.” jawab Riski, lalu berjalan ke arah dapur.
“Ih, gila ya, enggak ada sopan-sopan nya.” Yalisa pun mengikuti langkah Riski menuju dapur.
Rtttt...., Riski menggeser kursi yang ada di meja makan.
“Cepat layani aku.” titah Riski yang berlagak seperti suami Yalisa.
“Hiiih! Apaan sih Ki!” Yalisa memegang tengkuknya karena merinding mendengar ucapan Riski, di tambah dengan tatapannya yang begitu tajam.
“He... eh, kamu pernah belajar etika bertamu enggak?”
“Ha?”
“Dengar, aku kasih ilmu dasar rumah tangga, biar nanti kamu enggak buat malu dalam keluarga ku.” terang Riski.
“Pffft... Apa lagi ini?” ucap Yalisa seraya menahan tawa.
“Dengar dulu jelek.” sontak Yalisa menutup rapat bibirnya.
“Pertama, kalau kita kedatangan tamu, kita harus menerima dengan ikhlas, menyambut dengan keramahan, selain itu penting juga untuk menyediakan jamuan kepada tamu yang berkunjung, seperti minuman dan makanan. Jangan sampai tamu yang berkunjung merasa kehausan atau kelaparan.” terang Riski yang sudah seperti guru.
Yalisa yang berdiri di hadapan Riski menggaruk kepalanya, kemudian beranjak ke rak piring.
“Iya-iya, maaf aku enggak tahu.” ucap Yalisa seraya mengambil nasi dari rice cooker kemudian ia sediakan di atas piring kaca polos.
“Nih.” Yalisa pun meletakkan nasi yang baru ia ambil ke hadapan Riski.
“Lauk ada di bawah tudung.” ujar Yalisa seraya duduk di sebelah Riski.
“Kamu enggak makan?” tanya Riski sambil membuka tudung nasi.
__ADS_1
“Enggak selera,” jawab Yalisa.
“Hooh, kalau gitu sekalian ambi air minum.” titah Riski, Yalisa yang setengah niat pun mengambil air putih dan meletakkannya di hadapan Riski.
Riski yang melihat lauknya hanya ikan kembung goreng, di lumuri sambal dan sawi hijau rebus, menelan salivanya.
Bukan karena nikmat, tapi lauk seperti itu belum pernah ada di daftar menu keluarganya.
“Apa lagi sekarang?” tanya Yalisa penuh selidik.
“Mau pizza enggak?” tanya Riski kembali.
“Enggak,” jawab Yalisa.
“Ya sudahlah, tolong ambilkan aku lauk.” titah Riski.
“Kamu dari tadi nyuruh-nyuruh melulu Ki.” ucap Yalisa seraya menjalankan titah Riski.
“Itu adab bertamu, kalau enggak tahu, lihat google dong.” ujar Riski.
“Bawel.” saat mulut Riski terbuka lebar, Yalisa memasukkan satu sendok makan sambal ke mulut Riski.
“Ck!” Riski menatap tajam mata Yalisa, lalu ia pun mengambil beberapa lembar tisu yang ada di atas meja, kemudian mengeluarkan semua sambal yang ada dalam mulutnya.
“Pedas bangat bangsa*,” batin Riski.
Namun Riski tak mau menunjukkan ekspresi yang kepedasannya itu, agar tetap terlihat keren di hadapan Yalisa.
“Ki..., kamu enggak kuat makan cabe ya?” tanya Yalisa dengan sedikit khawatir, karena mata dan wajah Riski memerah.
“Siapa bilang?”
“Itu.” Yalisa menunjuk ke arah wajah Riski.
“Bukan kok,” ucap Riski.
“Ya sudah, kalau begitu silahkan makan tamu terhormaaaat.” Yalisa pun menambahkan sambal ke piring Riski, yang membuat mata Riski membulat.
Karena sudah terlanjur sok keren, akhirnya Riski melahap isi piringnya seraya menahan pedas.
“Kamu beneran enggak makan?” tanya Riski dengan mata berkaca-kaca.
“Ck, udah di bilang enggak.”
“Nyiksa diri sama dengan dosa, kamu harus adil pada dirimu sendiri, jangan karena cinta hidup mu jadi menderita.”
“Ssstt..., dakwahnya nanti saja, habiskan dulu isi piring mu.” ujar Yalisa.
Karena Riski tak kuat untuk menghabiskan sisa makanannya, jadi ia memutar akal agar makanan itu tidak mubasir.
Ting! Dalam sekejap Riski mendapatkan ide, ia pun mengisi sendok makannya dengan nasi.
“Nih.” Riski mengarahkan sendok berisi nasi itu pada Yalisa.
“Enggak, aku enggak mau makan.” ucap Yalisa.
“Kamu harus makan, lihat! Sekarang kamu lebih kurus dari sebelumnya, sudah jelek, pendek, keras kepala lagi, enggak ada yang mau di lihat dari kamu.” ujar Riski dengan terus terang, dan itu berhasil membuat wajah Yalisa jadi cemberut.
“Dasar tamu enggak ada akhlak, udah enggak di undang, maksa makan lagi.” balas Yalisa yang tak mau kalah dari Riski.
“Buka mulut mu, kalau kamu sampai kena penyakit maag, emang Leo bakalan jenguk atau mengkhawatirkan mu?”
Mendengar nama Leo membuat Yalisa teringat akan mantan kekasihnya itu. Ia pun mendadak muram.
“Kancil! Kancil! Salah ngomong lagi!” batin Riski.
“Hei.” Riski menurunkan sendoknya ke piring.
“Hum?”
__ADS_1
“Maaf, aku enggak bermaksud buat menyakiti perasaan mu, aku cuma khawatir kalau kamu sampai sakit.” terang Riski.
“Iya aku tahu,” ucap Yalisa.
“Sebenarnya, sah-sah saja kalau kamu mau menikmati masa-masa gundah mu saat ini, tapi seimbangkan juga dengan nutrisi mu, kan aku sudah pernah bilang, kalau kamu kenapa-kenapa, yang paling rugi adalah kamu, yang sedih dan susah adalah ibu mu, jadi, hargai dirimu sebelum kau mengindahkan orang lain.” terang Riski.
“Iya benar, makasih atas nasehatnya.” ucap Yalisa, seperti biasa Riski pun memeluk Yalisa.
“Kalau kamu sakit, aku juga ikut sakit.” bisik Riski ke telinga perempuan yang ia sayangi itu.
“Ki...”
“Tunggu sebentar.” Riski membenamkan wajah Yalisa ke dadanya, lalu dengan secepat kilat mengambil air minum yang ada di meja.
Gluk, gluk, gluk. Riski menelan habis air minum yang ada dalam gelas, dan meletakkan pelan gelasnya kembali ke atas meja.
“Ki..., lepas dong, kamu kebiasaan ya.” Yalisa mendorong tubuh Riski.
“Hehehe..., abis wajah mu terlihat sedih bangat, jadi ku fikir akan lebih baik kalau kamu dapat satu pelukan.” terang Riski.
“Itukan sudah jadi kebiasaan mu, hei kita cuma teman, jadi jaga sikap dong.” terang Yalisa.
“Iya-iya bawel bangat sih! Udah ah buka mulutnya biar aku suap.”
“Enggak!”
“Eh, masih bagus di suap pakai sendok, jangan sampai pake mulut ya! Tapi kalau mau sih enggak apa-apa, karena aku sudah banyak pengalaman.” terang Riski.
“Ah..., ngancam mulu! Apa bagusnya sih punya pengalaman begitu?”
“Jangan di tanya, kalau mau tahu, silahkan di coba.” ucap Riski seraya menyuapi Yalisa dengan sendok.
Yalisa yang luluh pun akhirnya membuka mulutnya.
“Yes! Misi berhasil.” batin Riski.
Riski terus saja mengisi mulut Yalisa dengan sisa makanan yang berada di piringnya sampai habis.
“Kamu enggak kepedasan?” tanya Riski, yang hanya melihat ekspresi datar dari Yalisa.
“Emang pedas? Malah enggak berasa apapun di lidah.” ucap Yalisa seraya menuang air ke gelas Riski.
jrurrr....
Riski memperhatikan Yalisa yang minum di bekas bibirnya.
“Dia kok enggak Risih minum di bekas gelas orang lain.” batin Riski yang perlahan senyum-senyum sendiri.
“Enggak jelas nih anak, tiba-tiba senyum-senyum sendiri.” Yalisa mengejek Riski, namun Riski malah makin melebarkan senyumannya.
“Dasar aneh.” kemudian Yalisa beranjak dari duduknya menuju wastafel, dengan membawa bekas peralatan makan mereka.
Setelah meletakkannya di atas wastafel Yalisa menoleh ke arah Riski.
“Hei.”
“Hum?”
“Kamu enggak ada rencana buat pulang?” tanya Yalisa, seraya menunjuk ke jam dinding yang telah menunjukkan pukul 21:20. Sontak Riski pun menoleh ke arah jam.
“Hem! Benar juga, tapi Yalisa, menanyakan tamu pulang atau enggak juga adab loh, kamu enggak boleh memaksa tamu pulang apabila sang tamu belum mau pulang.” terang Riski dengan datarnya.
“Eh gila! Ini udah malam, kalau ada 2 orang dalam 1 ruangan, yang ke tiga adalah setan, dan menghargai tuan rumah itu juga adab, lagi pula besok kan kita ketemu di sekolah.” terang Yalisa.
“Tapi....” belum sempat Riski melanjutkan kata-katanya tiba-tiba Yalisa mengambil bekas gelas yang mereka pakai tadi.
“Mau pulang apa enggak? Kalau enggak pulang sekarang, aku lempar nih!” pekik Yalisa seraya mengayun-ngayukan gelas yang ada di tangannya.
“I-iya! Santai dong, enggak usah pakai kekerasan.”
__ADS_1
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️