
“Riski...,” saat Zuco akan memberi tahu dimana Riski berada, tiba-tiba Marco yang duduk di belakangnya memegang pundak Zuco dan berkata.
“Riski sudah enggak sekolah disini lagi,”
“Apa? Kok bisa?” Yalisa tak percaya akan perkataan Marco.
“Iya, karena dia juga menghajar Yovi dan Yuna, jadi dia ikut di keluarkan dari sekolah, kamu lihat juga kan, Yovi dan Yuna enggak masuk lagi?” terang Marco.
“Jadi, sekarang dia sekolah dimana?” tanya Yalisa penasaran.
“Kita enggak tahu, karena kita juga sudah putus kontak dengannya.
“Apa?!” batinnya tak dapat menerima, kalau Riski telah pindah dari sekolah mereka, dengan tubuh yang lemas perasaan yang cemas, Yalisa kembali ke tempat duduknya.
Mei yang melihat Yalisa kembali dengan kondisi yang tidak baik-baik saja, langsung bertanya..
“Apa kata mereka? Kok kamu jadi lemas begini Lis?”
“Riski.” dengan setengah menangis Yalisa menceritakan apa yang di sampaikan oleh Marco.
“Hah??? Jadi karena itu dia enggak datang ke sekolah lagi?! Sebentar, coba aku dial nomornya.” ujar Mei seraya mengeluarkan handphonenya.
Namun, berkali-kali Mei mendial, yang berbicara hanyalah sang operator telepon, yang menyatakan nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
“Benar Lis, nomornya juga enggak aktif, ku fikir yang di drop out cuma Yovi dan Yuna, saat itu Riski memperjuangkan hak mu bangat, dia sangat marah akan Yovi dan Yuna,” terang Mei.
“Iya, aku nyesal Mei udah bilang putus,” ungkap Yalisa dengan mata berkaca-kaca.
“Apa kamu masih mencintai Riski?” tanya Mei.
“Masih, sebelumnya aku enggak sadar kalau aku sudah jatuh cinta pada Riski, mungkin karena ia selalu ada di dekat ku, setelah ia menjauhi ku, sesuai permintaan ku, baru aku tahu, ternyata aku sangat mencintainya, melihat dia bermesraan dengan Felicia membuat hati ku sakit, sekarang hanya ada penyesalan, mungkin Riski juga sudah nyaman sama Felia yang cantik dan juga baik hati.” ujar Yalisa dengan menitihkan air mata.
Mei bingung harus berkata apa, karena ia juga tak tahu apapun soal Riski akhir-akhir ini.
“Sudahlah, jangan fikir kan lagi, dunia pacaran memang begitu, kalau enggak ke pelaminan bersama dia, ya berarti sama yang lain,” Mei turut menangis, mengingat akan kegagalan pernikahannya.
“Tapi aku Rindu Riski, emang sih dia genit dan sangat porno, tapi cuma dia dan kamu yang sayang sama pada ku, hiks...,” ucap Yalisa.
__ADS_1
Hati Mei semakin di buat bersedih, meski ia telah berbuat jahat pada Yalisa, Yalisa masih tetap menganggapnya sebagai orang baik.
“Udah lupain dia, lagian kamu masih ada Leo,” ujar Mei.
“Leo?”
“Iya, kamu bisa balikan lagi sama dia.” ucap Mei seraya menyeka air matanya.
“Aku udah enggak suka lagi Mei sama Leo, entah itu sejak kapan, pokoknya aku sudah enggak ada rasa lagi sama dia, dia juga sudah punya calon, seandainya aku dan Riski enggak berjodoh, aku juga enggak akan mau balikan sama dia,” terang Yalisa.
“Apa? Ku fikir Yalisa masih mencintai Leo.” batin Mei, namun kini Mei tak lagi mengharapkan Leo, ia sudah ikhlas dengan semuanya.
“Tapi dia masih mencintai mu Yalisa,” ucap Mei.
“Betul, tapi aku enggak, dan aku sudah bilang itu ke dia, dan kami berdua sudah mengikhlaskan apa yang terjadi di antara kami selama ini,” terang Yalisa.
“Pada hal mereka sudah saling merelakan, tapi Leo tak sekali pun menanya kabar ku,” batin Mei.
“Begitu rupanya?” ucap Mei, yang di angguki oleh Yalisa.
Setelah percakapan panjang itu, guru pun masuk ke dalam kelas, dan memulai pembelajaran seperti biasa.
“Ayo, kita tanya Felicia tentang Riski,” ujar Mei, seraya menggenggam tangan Yalisa.
“Kamu udah gila ya? Nanti dia bisa salah sangka lagi.” ucap Yalisa seraya melepaskan genggaman Mei.
“Kamu enggak mau tahu Riski sekolah dimana sekarang dan bagaimana kabarnya?” ucap Mei.
“I-iya juga sih,”
“Makanya ayo.” Mei menarik tangan Yalisa, menuju bangku Felicia yang ada di meja barisan ke empat paling belakang.
Felicia yang baru selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, bingung karena Mei dan Yalisa mendatanginya.
“A-ada apa ini?” tanya Felicia.
“Hmmm, Fel, kita mau nanya, kira-kira kamu tahu enggak Riski sekolah dimana sekarang?” tanya Mei tanpa berbasah basi.
__ADS_1
“Apa? Riski pindah sekolah? Kok dia enggak bilang sama aku? Dia pindah kemana? Aku sudah hubungi dia sampai ribuan kali, tapi nomornya enggak aktif, kalau aku tahu rumahnya dimana, pasti aku datangi.” ucap Felicia dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi kamu enggak tahu sama sekali? Gimana sih? Kamu kan pacarnya?” ucap Mei.
“Walau pun aku pacarnya, kalau dia sendiri enggak cerita gimana? Riski...., hiks... kok kamu malah ninggalin aku sih?” Felicia di buat menangis, setelah mendengar kabar kepindahan Riski.
Yalisa yang berdiri di belakang Mei pun diam-diam ikut menangis.
“Sebenarnya kamu dimana Ki?” batin Yalisa.
Orang-orang yang masih berada di kelas menerawai Felicia yang sedang menangis.
“Sudah, jangan nangis ah!” ucap Mei.
“Pada hal katanya aku adalah segala-galanya, tapi kenapa malah ninggalin aku di saat sayang-sayangnya, hiks,” Felicia yang terlihat tenang ternyata adalah gadis yang lemah.
Karena mereka tak mendapatkan informasi apapun mengenai Riski, Mei mengajak Yalisa untuk pulang.
Di perjalanan menuju gerbang, Mei menyarankan agar mereka langsung saja berkunjung ke rumah Riski, namun karena Yalisa bukan siapa-siapanya Riski lagi, Yalisa menolak.
_____________________________________________
Sejak saat itu, Yalisa tak lagi melihat dan mendengar kabar tentang Riski, hari-hari di lalui Yalisa dengan rasa sepi dihatinya, semua penyesalan ia telan dalam-dalam.
Hingga 2 minggu berlalu, tapi Yalisa tak kunjung mendapatkan kabar soal Riski.
“Semoga kamu sehat-sehat saja Ki, aku juga harus mengikhlaskan mu, berdamai dengan keadaan adalah hal yang terbaik.” batin Yalisa.
Di Minggu malam yang sunyi, tanpa ada yang menemani, Yalisa hanya duduk menonton tv, tak ada acara yang menarik, di saat Yalisa mematikan tv, tiba-tiba handphonenya berbunyi, anehnya nomornya tidak di ketahui.
Disaat Yalisa akan mengangkat panggilan itu, tiba-tiba handphonenya mati, karena kehabisan baterai, Yalisa pun buru-buru mengisi daya handphonenya.
“Siapa ya yang nelepon tadi? Pakai nomor di sembunyiin lagi,” gumam Yalisa.
Karena sudah pukul 22:00, Yalisa memutuskan untuk tidur, karena besok ia harus berangkat ke sekolah.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu