SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXXII (Love You)


__ADS_3

Pukul 06:30, Yalisa terbangun dari tidurnya, saat ia melirik ke jam di dinding ia pun tersentak.


“Ya Allah sudah jam setengah tujuh?” Yalisa yang takut terlambat ke sekolah pun buru-buru mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi.


Seusai mandi Yalisa memakai seragam putih abu-abunya, karena ia takut terlambat, ia pun tak mengisi perutnya terlebih dahulu.


Yalisa setengah berlari menuju sekolahnya agar tepat waktu. Akhirnya Yalisa sampai ke sekolah pukul 07:05


.


“Alhamdulillah,” batin Yalisa seraya memegang kedua lututnya.


Saat ia bangkit, tak sengaja ia melihat 500 meter di hadapannya, orang yang selama ini ia rindu-rindukan.


“Riski,” gumam Yalisa.


Riski melambaikan tangannya, seraya menampilkan senyum hangat ke arah Yalisa, Yalisa yang memang sudah lama menanti untuk bertemu dengan Riski pun membalas lambaian tangan tersebut.


Yalisa pun berjalan menuju Riski, saat Yalisa akan menyapa Riski, tiba-tiba Felicia mendahului langkah kakinya.


“Sayang!!!” teriak Felicia seraya memeluk tubuh Riski.


Tentu saja, Yalisa langsung salah tingkah, karena ia fikir Riski melakukan interaksi dengannya.


“Apa kabar sayang,” ucap Riski pada Felicia.


“Aku baik, kenapa sayang enggak ada kabar selama 2 minggu lebih?” tanya Felicia dengan nada manja.


Yalisa yang berada di hadapan mereka menelan saliva nya, Yalisa pun berjalan pelan melewati kedua kekasih itu, berharap Yalisa mendengar sedikit informasi soal Riski selama 2 minggu ini.


“Kita cerita nanti saja, kalau sudah istirahat pertama,” ucap Riski.


“Ck.” Yalisa berdecak, karena ia tak dapat informasi apapun.


Yalisa mempercepat langkahnya menuju kelas, saat Yalisa melihat Zuco dan Marco, Yalisa memelototi keduanya.


“Sialan, bisa-bisanya mereka mengerjai ku.” batin Yalisa, baru saja Yalisa akan duduk ke kursinya, Mei membuka obrolan.


“Tahu enggak,” ujar Mei.


“Sudah tahu Mei, tadi aku sudah lihat Riski di depan, pelukan sama Felicia.” terang Yalisa dengan wajah memasam.


“Oh, gitu ya,” sahut Mei seraya menganggukkan kepala.


Tak lama Felicia dan Riski pun masuk kelas dengan bergandengan tangan, raut cemburu nampak jelas di wajah Yalisa.

__ADS_1


tet... tet... tet...


Bel sekolah pun berbunyi, tanda pelajaran akan di mulai.


Di jam pertama hari itu adalah pelajaran olah raga.


“Assalamu'alaikum anak-anak,” ucap pak Roni.


“Wa'alaikumussalam,” jawab semua siswa siswi yang ada di kelas.


“Ayo buruan, kalian ganti pakaian kalian, bapak tunggu di lapangan sepak bola, oke!” seru pak Roni, yang kemudian meninggalkan mereka untuk kelapangan terlebih dahulu.


Semua siswa-siswi bergegas ke toilet untuk mengganti pakian mereka. Setelah selesai berganti pakian, semuanya menuju lapangan sesuai perintah pak Roni.


“Ayo, ayo ayo! Cepat bentuk barisan!” titah pak Roni dengan nada yang keras.


Setelah semua berbaris rapi, pak Roni membagi mereka menjadi beberapa tim, di sesuaikan dengan bakat siswa masing-masing.


Mei dan Riski menjadi satu tim kali itu, di bidang bulu tangkis, sedang Yalisa di arahkan ke tim volley bersama Zuco dan Marco.


Setelah pembagian tim selesai, pak Roni menyuruh semua tim untuk mengambil peralatan olah raga mereka ke gudang olah raga.


Ketika di dalam gudang, Yalisa yang berada di rak sebelah Riski mengambil raket mendengar Riski berkata pelan pada Felicia.


“Nanti kita ngobrol disini selesai jam olah raga, ada rahasia yang cuma kamu yang boleh tahu,”


Jantung Yalisa berdetak dengan sangat kencang, pembuluh darahnya seakan pecah, badannya menjadi panas dingin, ia tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya antara Felicia dan Riski.


“Sudah berapa cewek yang Riski ajak bermesraan di gudang ini?” batin Yalisa.


Yalisa yang sudah mendapatkan bola volley pun kembali dengan langkah terhuyung-huyung ke gedung olah raga, badannya gemetar akibat cemburu di selimuti rasa cemburu.


“Yalisa!” Zuco meneriaki nama Yalisa, karena Yalisa berjalan sudah sepeti siput.


Yalisa yang tak ingin membuat kekacauan pun sekuat tenaga melangkahkan kakinya dengan cepat.


“Ada apa?” tanya Zuco.


“Enggak ada apa-apa,” jawab Yalisa.


“Ya sudah, ayo kita mulai latihannya,” ujar Zuco.


Mereka pun berbaur dengan anggota tim volley lainnya.


Saat mereka melakukan permainan, Yalisa terus saja membuat kesalah, tidak bisa melepar bola bahkan tubuhnya sering terkena lemparan bola, itu membuat timnya marah, tak terkecuali Zuco.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih hari ini?!” pekik Zuco, karena Yalisa mereka banyak ketinggalan poin.


“Maaf maaf, aku akan berusaha lebih baik,”


“Sudah, kamu istirahat saja di pinggir lapangan!” peki Zuco.


Dengan perasaan bersalah, Yalisa keluar dari permainan dan duduk di bangku penonton.


“Riski mau ngomong apa ya kira-kira sama Felicia?” gumam Yalisa yang semakin penasaran.


15 Menit sebelum jam olah raga selesai, akhirnya tim volley menyelesaikan pertandingannya, lalu Zuco dan Marco mendatangi Yalisa ke tempat duduknya.


“Kamu kenapa sih?” tanya Marco.


“Aku kurang enak badan.” jawab Yalisa, lalu Marco dan Zuco duduk menghimpit Yalisa.


“Riski udah balik juga, masih ajah kurang sehat,” Zuco meledek Yalisa.


Sontak Yalisa memukul bahu Zuco dan Marco bergantian.


“Kenapa kalian bilang dia pindah sekolah?” ucap Yalisa dengan perasan kesal.


“Ya, kita cuma pengen lihat, ekspresi mu bagaimana kalau dia enggak ada, ternyata...” Zuco mulai menampilkan mimik wajah menangis.


“Hahahaha...., katanya enggak cinta, nyatanya Riski enggak ada mewek juga, hahaha.” ucap Marco seraya menertawai Yalisa.


“Kalian tega bangat ya, udah ngerjain aku, aku kwatir tau!” pekik Yalisa.


“Kenapa kamu harus kwatir? Memangnya kamu masih punya hak untuk itu?” tanya Zuco.


“Memangnya enggak boleh? Bagaimana pun juga, dia sudah menolong ku dari pembullyan Yovi dan Yuna, jelas saja aku merasa berhutang budi dan terimakasih.”


Pernyataan Yalisa di respon dengan gelak tawa oleh Zuco dan Marco.


“Kwatir? Merasa hutang budi atau rindu?” ucap Zuco.


“Lagian ya, kamu simpan saja semua itu dalam angan mu, atau kau do'akan saja agar Riski sehat wal'afiat, karena sekarang sudah ada Felicia, yang lebih berhak dari pada kamu, makanya kalau mau ambil keputusan, jangan saat marah, bagi Riski mendapatkan siapapun adalah hal yang mudah,” terang Marco.


“Betul, cewek mana sih yang dapat menolak pesona Riski? Sudah tampan, bertubuh tinggi kekar, kaya 14 turunan lagi, mata mu saja yang rabun, tak dapat melihat mana emas mana imitasi,” terang Zuco lebih lanjut.


“Omongan kalian lebih tajam dari pada silet, bikin kesal,” umpat Yalisa.


“Tapi nyatakan? Riski pacaran sama siapa saja pasti royal, memang sih dia orangnya mesum, tapi... yang namanya pacaran pasti berbuat mesum, mana ada sih pacaran cuma tatap-tatapan,” terang Marco.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2