
Sesampainya mereka ke meja resepsionis Leo dengan datarnya meminta satu kamar.
“Tolong 1 kamar mbak,” ucap Leo.
“Baik pak, bisa saya minta ktp nya terlebih dahulu?” pinta resepsionis dengan sedikit tersenyum.
Kemudian Leo mengambil ktp dari dompetnya. Yalisa yang menahan malu hanya bisa menunduk di belakang tubuh besar dan jenjang Leo.
“Aduh, jangan sampai deh ada orang yang kita kenal datang ke sini juga.” batin Yalisa dengan perasaan was-was dan jantung berdebar-debar.
Selesai chek-in, resepsionis memberikan kunci pada Leo, untuk menuju ke kamar 205, pelayan sebagai petugas hotel pun mengantar mereka berdua ke kamar yang di maksudkan.
Saat menunggu lift turun, Leo di kejutkan akan kehadiran pak Aryo yang tiba-tiba sudah berada di samping kanannya, yang tengah berbincang dengan teman lelaki yang Leo tak kenal.
Yalisa yang ada di samping kiri Leo, tak menyadari akan kehadiran pak Aryo, langsung saja Leo menarik paksa tangan Yalisa, membawanya ke sudut lobby hotel.
“Ada apa?” ucap Yalisa yang kebingungan.
“Ada pak Aryo,” sahut Leo dengan suara berbisik.
Yalisa pun melihat ke arah lift, dan langsung saja menutup rapat mulutnya dengan tangannya.
Belum selesai ketakutan mereka, tiba-tiba mereka melihat dari pintu lobby hotel, pak Roni masuk menuju lift, bersama 2 orang pak guru dari sekolah mereka juga.
“Kamu duduk saja di sofa, sembunyikan wajah mu dengan koran, aku mau minta ktp ku dulu ke resepsionis.” ucap Leo seraya berjalan pelan menghindari guru-gurunya itu, sementara Yalisa duduk di sofa membuka lebar koran dengan kedua tangannya untuk menyembunyikan wajahnya.
Setelah beberapa saat, Leo menggenggam tangan Yalisa kembali.
“Ayo, kita keluar,” seru Leo.
Yalisa mengikuti langkah Leo, dengan tetap membawa koran sebagai media penutup wajahnya.
Sesampainya di parkiran, mereka berdua bergegas naik ke atas motor, kemudian Leo melajukan motornya, keluar dari area hotel.
Setelah melaju lumayan jauh, mereka berdua tertawa bersama, mengingat ketegangan yang mereka lalui beberapa saat yang lalu.
“Sekarang kita kemana?” tanya Yalisa.
“Mau ke villa keluarga ku enggak?” jawab Leo.
“Mau, kenapa enggak dari tadi sih?” ucap Yalisa.
“Karena jaraknya 1 jam dari rumah Mei, aku enggak tega, kamu juga kelihatannya udah cape dan ngantuk,” ucap Leo.
“Iya, kan sayang tadi kamu udah bayar Rp 750.000 buat 1 malam.” sahut Yalisa.
“Asal Yalisa senang, uang enggak jadi masalah.” ucap Leo.
Yalisa tersenyum sendiri di belakang boncengan Leo.
__ADS_1
“Leo yang sebaik ini, malah aku khianati diam-diam, dasar aku makin hari semakin enggak tahu diri,” batin Yalisa.
Kemudian Yalisa melingkarkan kedua tangannya di pinggang kekar Leo, Leo yang menerima sikap hangat Yalisa, memegang punggung tangan kekasihnya dengan tangan kirinya, seraya fokus juga memegang setir dengan tangan kanannya.
Tak terasa, setelah 1 jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ke villa keluarga Leo, yang terletak di pinggir kota.
Villa itu berada tepat di atas bukit yang tidak terlalu tinggi, masih bisa di tempuh dengan menaiki mobil atau motor, jalannya juga sudah beraspal, di sekitar villa masih ada juga beberapa bukit lainnya yang tingginya berbeda-beda.
Bukit-bukit disana di tumbuhi dengan pepohonan yang rimbun dan menjulang tinggi ke langit, yang menjadikan suasananya persis seperti di hutan, hanya saja itu di pinggir kota.
Dan di kaki bukit, di bawah villa keluarga Leo, terdapat danau yang cukup besar nan indah, cahaya bulan purnama malam itu memantul jelas di atas air danau yang membuat siapapun yang melihat akan takjub dan enggan untuk beranjak dari sana.
“Hei..” Leo mencoba membangunkan Yalisa dengan menggoyang punggung tangannya, yang Leo pegang sedari tadi.
“Mm.. aku masih ngantuk.” gumam Yalisa yang masih memejamkan mata.
“Kita sudah sampai ke villa,” ucap Leo, dengan perasaan malas, Yalisa perlahan membuka matanya.
Saat ia pertama kali melihat bulan purnama yang bersinar terang, matanya langsung menjadi liar.
Bibirnya membulat, seolah takjub akan ke indahan yang tersuguh di depan matanya.
“Bagus bangat, ini villa keluarga mu Leo?” ucap Yalisa, seraya turun dari atas motor.
“Iya, beruntung malam ini kita kesini, bulannya terlihat besar, kalau di lihat dari atas bukit ini, apa lagi cahayanya memantul di atas air danau, bagus kan?” tutur Leo, yang mulai turun dari motornya, lalu mendorong motornya ke teras villa.
“Ayo masuk!” ucap Leo, seraya membuka pintu villa. Yalisa pun menuruti perintah Leo.
Pintu villa terbuka, karena gelap, Leo berjalan menuju saklar lampu.
“Tek,” setelah lampu menyala, Yalisa melihat isi villa yang perabotannya begitu lengkap, sudah seperti rumah berpenghuni setiap harinya.
“Duduk di sofa saja Yalisa, aku akan buatkan air panas, setelah itu kamu tidur ke kamar,” ucap Leo.
Yalisa pun duduk di atas sofa sesuai arahan dari Leo, setelah beberapa menit menunggu, Leo pun datang membawa 2 air mineral panas di dalam gelas yang ada yang ada pegangannya.
“Minumlah, biar tubuh mu hangat, di tempat seperti ini, hawanya memang dingin.” ucap Leo seraya menyeruput air panasnya.
“Iya,” sahut Yalisa.
“Kamu tidur di kamar yang itu saja.” Leo menunjuk dengan menaikkan kedua alisnya ke arah kamar yang berada di belakang Yalisa.
“Iya, makasih ya.” sahut Yalisa.
“Jendela kamarnya menghadap danau, jadi kamu bisa menikmati bulannya lebih lama, tapi jangan lama-lama juga ya, nanti masuk angin lagi.” ucap Leo.
“Ehhehehe, tenang saja bos.” sahut Yalisa dengan tertawa kecil.
“Kamarnya juga bersih kok, karena setiap hari ada pekerja yang membersihkan villa ini.” ucap Leo.
__ADS_1
“Pantas saja, pas masuk enggak tercium bau debu sama sekali,” batin Yalisa.
“Terus kamu tidur dimana?” tanya Yalisa.
“Aku akan tidur di sebelah kamar kamu.” jawab Leo, kemudian Yalisa melihat ke arah kamar yang di maksudkan Leo.
“Benar juga, kan ada banyak kamar disini, mikir apa sih aku, kalau dia Riski sudah pasti ngajak tidur bersama, eh! Kok aku jadi mikirin Riski.” batin Yalisa.
“Ya sudah, aku mau ke kamar sekarang, sudah mau jam 02:00 juga, aku duluan ya.” ucap Yalisa.
“Iya, kalau ada apa-apa, jangan segan buat telepon, atau ketuk pintu kamar ku,” ujar Leo seraya berdiri dari duduknya.
Saat akan berpisah dengan Yalisa, Leo melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki Yalisa.
“Mm, kalau kamu kurang nyaman dengan gaun mu, kamu bisa pakai baju ibu ku yang ada di dalam lemari.” ucap Leo, lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Seketika Yalisa melihat gaun terbuka yang ia kenakan.
“Iya, benar juga,” gumam Yalisa.
Kemudian Yalisa masuk ke dalam kamarnya, ia membuka lemari yang ada di depan ranjang, dan mengambil baju daster warna hitam di hiasi motif bunga edelweiss.
Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk cuci muka, dan mengganti gaunnya.
Setelah ia selesai mengganti bajunya, ia pun keluar dari kamar mandi, dan melipat gaun yang ia pakai tadi.
Kemudian Yalisa berjalan menuju jendela kaca persegi 4 berukuran besar, ia menyingkap gorden berwarna pink yang menghalangi cahaya bulan masuk ke dalam kamar.
“Indahnya,” gumam Yalisa.
Karena tidak ingin menyia-nyiakan momen itu, Yalisa pun mengambil handphonenya, lalu ia memotret bulan itu serta, mengambil beberapa photo selfi dirinya, yang berlatar belakang bulan purnama.
Yalisa tak menutup kembali gorden jendela, karena ia ingin tidur di temani cahaya bulan, saat ia akan merebahkan badannya di atas ranjang, tiba-tiba ia teringat akan rambut yang ada di dalam kantong gaunnya.
Ia pun bergegas untuk melihat kembali rambut tersebut, saat ia merogoh tisu sebagai pembalut rambut, Yalisa keheranan, karena barang bukti yang ia simpan tak ada dalam kantongnya lagi.
Yalisa pun melebarkan kantong gaunnya, tetap saja tidak ada, sampai ia mengkibas-kibaskan gaunnya pun, hasilnya tetap nihil.
“Jatuh dimana rambutnya?” batin Yalisa.
Yalisa menggaruk-haruk kepalanya, yang tiba-tiba terasa gatal.
“Apa jatuh di rumah Mei ya?” gumam Yalisa.
“Tahu begitu, percuma aku nginap di villa ini, ya sudahlah, pikirkan besok saja lagi,” batin Yalisa.
Karena lelah, Yalisa memutuskan untuk tidur saja, ia pun merebahkan badannya di atas ranjang yang begitu empuk dan nyaman.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu