SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CIII (Kronologi Kematian Bu Alisyah)


__ADS_3

Waktunya pas sekali, mengingat saat itu sudah memasuki makan siang. “Ayo makan.” ujar Riski ke Yalisa.


“Kalian saja.” jawab Yalisa.


“Jangan gitu Yalisa, kalau kamu sakit entar yang urus siapa?” ucap Mei.


“Benar, makan teratur nak, yang datang itu adalah ujian, semua pasti mengalaminya, kita semua hanya tinggal menunggu giliran masing-masing,” terang bu Amel.


“Iya bu.” sahut Yalisa, namun ia tetap tak memindahkan nasi itu ke mulutnya.


Riski yang tak sabaran pun mengambil alih keadaan. Di ambilnya nasi ke tangannya dan mengatakan.


“Buka mulut mu.”


“Aku... aku bisa sendiri.” ujar Yalisa yang terlihat lemas.


“Sudah, buka sekarang, lelet bangat sih kamu.” setelah mengatakan begitu, Yalisa membuka mulutnya, dan dengan telaten, Riski menyuapi Yalisa dengan tangannya langsung, tak boleh berhenti sebelum 1 porsi jatah Yalisa habis.


“Kamu makan juga Ki.” ujar Yalisa.


“Kamu dulu, baru aku.” ucap Riski dengan menahan perasaan sakit di hatinya, ia tak sanggup melihat Yalisa yang kini menjadi sebatang kara.


Orang-orang yang ada di sekitar mereka tak ada yang berani meledek apa lagi bicara, semua fokus menghabiskan apa yang ada di hadapan mereka.


“Enggak kira-kira nih siswa laknat ku, dia fikir di ruangan ini hanya ada mereka berdua saja?” itulah suara hati bu Amel, yang telah menjanda selama 2 tahun.


“Oh iya, om dan tante mana?” tanya Riski, karena ia tak melihat kehadiran 2 kerabat Yalisa tersebut.


“Tadi pagi sudah pulang, ada kerjaan penting katanya.” terang Yalisa. Mereka yang menyimak pun mengangguk, lalu Leo melirik Mei seraya berkata.


“Kamu nginap di sini kan Mei?” Mei yang tiba-tiba di tanya seperti itu menampilkan ekspresi bingung.


“Mmm, aku nginapnya besok saja, karena di rumah lagi ada urusan penting, hehehhe, maaf ya Yalisa.”


“Iya, enggak apa-apa aku ngerti.” ujar Yalisa.


Setelah selesai menyuap Yalisa, barulah Riski makan untuk dirinya sendiri.


Mei yang menyaksikan kebesaran kasih sayang Riski, seketika merasa iri.


“Hem, aku juga mau di sayang seperti itu.” batin Mei.


Setelah semua selesai makan, mereka pun beranjak pulang, sebelum benar-benar meninggalkan Yalisa, Riski berpesan.


“Kunci pintu setiap keluar dan setiap kamu ada dalam rumah, jangan buka pintu kalau ada orang yang enggak di kenal datang, nanti malam aku kesini lagi.” ujar Riski, Yalisa pun mengangguk.


_______________________________________________

__ADS_1


Seperti janji Riski, ia datang pada malam harinya, namun tidak sendirian, ia membawa sekitar 30 anak pesantren untuk melakukan pengajian wirid Yasin, tak lupa Riski mengundang orang kampung Yalisa juga.


Riski membuktikan rasa cintanya yang begitu besar dengan membuat pengajian selama 3 hari 3 malam, serta bersedekah atas nama ibu Yalisa.


Sebenarnya Yalisa menolak hal itu, namun Riski bersikeras untuk tetap membantu.


Setelah semua cara selesai, satu persatu tamu meninggalkan rumah Yalisa, termasuk Riski, tinggallah hanya Mei dan Yalisa di rumah yang sederhana itu.


Pukul 00:00, Yalisa sudah tertidur, sedangkan Mei yang berada di sebelahnya, tak bisa memejamkan mata, meski untuk sedetik.


Bayang-bayang wajah bu Alisyah selalu bersemayam di kepalanya.


Bu Alisyah adalah sosok yang baik, ia juga telah menganggap Mei seperti anak kandungnya sendiri.


Jadi tak heran jika Mei yang tak bisa tidur malam itu perlahan-lahan menitihkan air matanya.


Namun, air mata itu mengandung 2 makna, yang pertama sedih kehilangan, yang kedua penyesalan melenyapkan.


“Ini semua karena anak mu yang gatal ini tan! Sehingga tante jadi korban!” itulah yang ada dalam benak Mei.


Yalisa yang berbalik menghadap Mei menjadi tambah kesal, terlebih Mei dapat melihat dengan jelas, bekas merah yang begitu banyak di leher Yalisa.


“Enggak mungkin Riski yang lakuin itu, aku dengan jelas mendengar kalau mereka mau ketemuan hari minggu, apa mereka sudah bersetubuh? Ha? Kalau benar, bagaimana nasib ku? Dasar cewek ******! Cewek kotor! Murahan!” Mei terus saja mengumpat dalam hatinya. Air mata kekesalan juga terus saja mengalir pipi Mei.


Ia pun duduk dari tidurnya, terus ia pandangi Yalisa yang tertidur pulas.


“Kali ini, aku benci sama kamu Yalisa, harusnya bukan tante, tapi kamu!” gumam Mei, seraya tangannya berulang kali ingin mencekik leher Yalisa, namun ia tak sanggup melakukannya.


FLASHBACK!


Pagi itu, bu Alisyah mendapat telepon dari temannya, yang berkata kalau reunian mereka harinya di undur, karena ada suatu alasan.


Lalu ia yang tak tahu harus berbuat apa di rumah memutuskan untuk pergi ke ladang, niatnya mengambil sedikit cabe yang ia tanam, mengingat persediaan di dapur sudah menipis.


Bu Alisyah ke ladang menggunakan transportasi angkutan umum, tanpa ia tahu dari belakang Mei telah mengikutinya, mulai dari ia masih dalam angkot, sampai ia ke ladangnya.


Mei yang melihat area perladangan sepi memanfaatkan hal itu untuk melancarkan niat jahatnya.


“Assalamu'alaikum tan!” seru Mei.


“Wa'alaikumussalam Mei, eh gimana kamu bisa kesini?” tanya bu Alisyah keheranan, karena Mei yang datang berpenampilan aneh.


“Hehehe, tadi diam-diam Mei ngikutin tante, mau buat kejutan, tante lagi apa sih?” tanya Mei dengan basa-basi, untuk mengalihkan perhatian bu Alisyah, sedang dari belakang bu Alisyah sudah berdiri Winda memegang sebuah sapu tangan yang telah di taruh obat bius.


Kali ini mereka bermain bersih, dengan masing-masing menggunakan sarung tangan karet berlapis sarung tangan kain. pakai masker dan rambut di cepol. Mana tahu ada tindakan otopsi, mereka tak meninggalkan sidik jari.


Bu Alisyah yang menganggap Mei sebagai anak, sedikit pun tak menaruh curiga.

__ADS_1


Saat mereka sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba dari belakang Winda membekap mulut serta hidung bu Alisyah menggunakan sapu tangan berbius itu.


Tanpa sempat teriak atau melakukan perlawanan, bu Alisyah seketika pingsan tak sadarkan diri.


“Ayo capat, kita angkat dia ke tepih sungai.” ujar Mei, karena Mei tahu di dekat ladang itu ada sungai besar nan dalam, jika tak dapat berenang, ucapkan wassalam.


Dengan susah payah mereka mengangkat tubuh bu Alisyah sampai ke pinggir sungai, kemudian mereka pun membaringkannya di atas tanah.


Ternyata mereka datang bukan dengan tangan kosong, dan mereka datang bukan tanpa perencanaan yang matang.


“Ambil karungnya mbak!” titah Mei pada Winda.


Winda pun bergegas mengambil karung yang tak jauh dari mereka.


“Buka sedikit karungnya.”


“Non yakin?” tanya Winda lagi.


“Cepatlah! Nanti ada orang yang lihat.” ucap Mei, lalu Winda dengan hati-hati membuka karung itu sedikit, tanpa kasihan dan perasaan ragu-ragu, Mei memasukkan kaki kanan bu Alisyah ke dalam karung, yang berisikan 2 ekor ular King Kobra dewasa dengan ukuran masing-masing 3 dan 4 meter.


Itu adalah ular peliharaan Mei, sengaja ia tak kasih makan, agar si ular menjadi ganas.


Tak perlu menunggu lama, 2 ekor ular itu langsung berisik.


Tub tap tub!


Berulang kali 2 ekor ular itu memindahkan bisanya ke kaki hingga betis bu Alisyah, Bu Alisyah yang tak sadarkan diri mendadak kejang-kejang, matanya melotot, mulutnya komat kamit.


Mei pun mendekatkan telinganya ke bibir bu Alisyah yang terbaring di tanah.


“Kenapa?” ucapan itulah kata terakhir yang keluar dari mulut bu Alisyah, sebelum dia benar-benar meninggalkan dunia fana ini.


Setelah merasa cukup, Mei mengeluarkan kaki bu Alisyah dari dalam karung. Sebelum menggulingkan tubuh tak bernyawa itu ke sungai, Mei terlebih dahulu memastikan, apakah ada jejak yang mereka tinggalkan, lama ia periksa, sampai ia yakin tubuh itu bersih, kemudian Mei mulai menggelindingkan tubuh bu Alisyah ke sungai.


Cebur!!


Jasad itu pelan-pelan menjauh, mengikuti arus sungai.


Dengan buru-buru mereka kembali ke mobil yang mereka parkir kan di pinggir jalan.


Nasib bagus memang menyertai Mei hari itu, karena mereka tak bertemu seorang pun selama perjalanan mereka.


Setibanya mereka di pinggir jalan, Mei mencabut plat mobil palsu yang sebelumnya ia pakai, lalu di ganti dengan yang asli, sedang Winda memasukkan ular ke dalam mobil.


Setelah pekerjaan mereka selesai, mereka pun meninggalkan TKP.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


__ADS_2