
Jantung Mei berdetak hebat mendengar penuturan Yalisa.
“Yalisa.”
“Aku benci sama keduanya, tapi aku enggak bisa apapun.” Yalisa menangis dengan sedihnya.
Mei hanya mengusap-usap bahu Yalisa, ia tak tahu harus berkata apa pada sahabatnya itu.
Riski yang melihat Yalisa menangis langsung berlari ke arah Yalisa.
“Ngapain kamu nangis di cuaca sepanas ini?” tanya Riski seraya memegang bola volley.
“Jangan ganggu deh, aku lagi fokus meratapi nasib ku.” ucap Yalisa dengan perasaan yang kacau.
“Cengeng bangat sih kamu, enggak berubah dari dulu, terus...” Leo melirik ke arah Mei.
“Kamu udah bilang apa saja Mei sama Yalisa?” tanya Riski pada Mei, sontak Mei melotot pada Riski.
“Bukan urusan mu!” pekik Mei yang tak senang akan kehadiran Riski.
“Hahaha...” Riski tertawa melihat Mei yang langsung emosi.
“Apa sih Ki? Ganggu mulu, aku lagi curhat sama Mei, sana kamu! Gabung sama yang lain.” titah Yalisa, lalu Riski pun berhenti tertawa, sebelum pergi Riski berkata.
“Kalau sedih ingat Allah dan aku saja, selain itu, saran ku, simpan rapat kesedihan mu itu.” kemudian Riski berlalu dari hadapan mereka berdua.
“Ck.” Mei mendecak, ia merasa sepertinya Riski akan terus mengganggunya.
“Yalisa, sudah jangan menangis lagi, kamu enggak seharusnya menangisi orang yang sudah meninggalkan mu, hidup mu itu masih panjang.” terang Mei.
“Iya, aku tahu Mei, seandainya dia bilang langsung putus saat bertemu l, aku enggak akan masalah, tapi kenapa dia harus ngelakuin itu dulu sama aku sebelum bilang putus.” sontak mata Mei membulat.
“Ha! Maksudnya ngelakuin apa?” batin Mei.
“Yalisa maaf, kalau aku lancang buat tanya ini.”
“Mau tanya apa?”
“Kalau benar mereka sudah melakukan itu, aku akan mundur.” batin Mei.
“Apa kalian sudah pernah bersetubuh?” tanya Mei dengan raut wajah tegang.
“Hah!” mata Yalisa membulat, ia tak menyangka Mei menyalah artikan curahan hati dan air matanya.
“Kamu ngomong apa sih Mei? Mana mungkin aku lakuin itu sama Leo.” Yalisa mendadak grogi karena pertanyaan Mei.
“Terus, yang kamu maksud dengan ngelakuin itu, apa?”
“Itu..., maksud ku sebelum dia bilang putus, kami sempat bermesraan dulu, huffff...!” seketika Yalisa mengingat kenangan yang mereka lakukan detik demi detiknya, wajahnya pun perlahan memerah.
“Apa ini? Dia malu?” batin Mei, kemudian Yalisa memalingkan wajahnya dari Mei.
“Kamu tahukan maksud ku Mei? Jadi jangan salah faham, lagi pula Leo bukan orang seperti itu, mungkin karena itu hari terakhir kami pacaran, makanya dia tak henti menciumi ku, hehehehe...” Yalisa menoleh kembali ke arah Mei, dengan tawa yang sulit di artikan.
__ADS_1
“Apa ini? Apa dia sengaja mau memanas-manasi aku?” batin Mei sedari tadi tak henti bertanya.
“Oh, hahaha..., maaf ya kalau aku sudah salah sangka, habis kamu nangisnya berlebihan bangat.” ucap Mei dengan tawa di bibirnya.
“Enggak kok Mei, tapi... walau pun dia bilang putus, katanya dia enggak mau kehilangan aku loh? Huummm....” ujar Yalisa seraya melap air matanya.
“Apa benar?” jantung Mei mulai berdetak kencang kembali.
“Iya, habis perjodohan itu bukan maunya, dia juga nangis karena harus pisah sama aku.” sebenarnya Mei tak ingin mendengar lagi perkataan Yalisa yang membuat badannya panas dingin.
“Mei...” Yalisa menatap mata Mei dengan tatapan tajam.
“Mau bilang apa lagi dia kali ini?” batin Mei.
“Apa?”
“Menurut mu, kalau dia ajak aku balikan, bagusnya aku terima atau enggak?”
“Jangan!”
“Ha?” Yalisa mengernyit melihat respon Mei yang begitu antusias.
“Ma-maksud ku, jangan di terima lagi, masih banyak yang lebih baik dari pada dia.” Mei tak sadar kalau tadi dia hampir kehilangan kontrol.
“Jangan, jangan ambil dia Yalisa, aku enggak bisa lepasin Leo untuk yang kedua kalinya.” batin Mei.
“Au!! Mei memegang perutnya yang terasa nyut-nyutan.
“Enggak, enggak usah,” ucap Mei.
Lalu dari arah gudang penyimpanan alat-alat olah raga pak Roni datang.
“Ayo! Ayo! semuanya buat barisan, biar kita pemanasan! seru pak Roni.
“Ayo.” ucap Yalisa pada Mei.
“Kamu duluan saja, aku mau ke kelas sebentar, tolong titip izin sama pak Roni.”
“Aku ikut ke kelas ya.” ujar Yalisa.
“Jangan, aku cuma bentar kok.” terang Mei seraya berlalu dari hadapan Yalisa.
Yalisa pun bergegas bergabung dalam barisan, tapi sebelumnya, ia menyampaikan izin Mei untuk ke kelas sebentar pada pak Roni.
Riski yang mendengar Mei pergi ke kelas sendirian, mulai mencari alasan agar ia keluar dari barisan juga.
“Permisi pak!” seru Riski seraya mengangkat tangan kanannya ke atas.
“Ya Riski?”
“Izin ke toilet sebentar pak, udah enggak bisa di ajak kompromi soalnya.”
“Ahhh kamu, emang tadi waktu ganti baju enggak nyetor dulu?!” ujar pak Roni yang membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Gimana? Boleh kan pak?”
“Iya,-iya, sana buruan!” seru pak Roni, Riski pun keluar dari barisan dengan segera, tentunya ia bukan ke toilet, melainkan ke kelas mereka.
Sesampainya ia di kelas, ia mendapati Mei sedang meminum sebuah obat.
“Apa efek operasi begitu serius?” tanya Riski seraya bersedekap di pintu masuk kelas.
Mei yang kaget mendengar suara Mei pun di buat tersedak. “Huk uhuk uhuk!”
Kemudian Riski berjalan perlahan mendekati Mei ke kursinya.
“Sakit ya?” tanya Riski dengan mimik wajah yang sulit di jelaskan.
“Mau apa kamu!” pekik Mei.
“Enggak mau apa-apa, aku cuma khawatir sama kamu yang tiba-tiba pergi ke kelas sendirian.”
“Alah, banyak bacot bangat sih kamu.”
“Mei, jujur aku kasihan sama kamu, maafin aku, bagaimana pun ini salah ku juga.” ucap Riski dengan perasaan bersalah di dalam hatinya.
“Sudahlah, semua sudah terjadi, ini tak luput dari kesalahan ku juga, yang enggak bisa jaga diri.” terang Mei, seraya menyelesaikan meminum obatnya.
Riski pun melihat 5 macam obat yang ada di atas meja, dengan ukuran yang lumayan susah di telan tenggorokan.
“Itu obat apa saja?”
“Pereda nyeri, pengering luka, dan lain-lain, sudahlah, jangan campuri urusan ku.” setelah selesai minum obat, Mei menyimpan sisa pil nya ke dalam tasnya.
“Mei, apa enggak sebaiknya kamu jujur sama Yalisa? Takut ku, kalau kamu enggak jujur, kedepannya makin parah, lambat laun pasti akan ketahuan, mengingat kalian akan menikah setelah lulus sekolah,” ujar Riski.
“Aku tahu, tapi kalau aku bilang sekarang, menurut mu apa dia akan terima begitu saja? Terus aku enggak tahu mau taruh dimana muka ku nanti, kita berdua kan satu meja Ki.” terang Mei.
“Iya juga sih, tapi... apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu?”
“Tanya apa?”
“Mmm.....,” Riski merasa ragu untuk menanyakan hal yang mengganjal dalam hatinya itu.
“Mau tanya apa sih?” desak Mei yang merasa penasaran.
“Enggak jadi deh, semoga keputusan mu benar.” terang Riski.
“Oh.”
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mampir juga ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1