
“Ma-maaf om, saya dan Riski hanya te-teman.” jawab Yalisa dengan terbata-bata.
“Apa? Hanya teman? Cuma teman tapi berani main ke rumah cowok sampai semalam ini? Dan masuk kamar juga? Benar kalian cuma teman?!” Melihat ayahnya memperlakukan Yalisa dengan kasar, Riski jadi berontak.
“Ayah! Jangan salahkan Yalisa, aku yang memaksa dia untuk datang, aku juga yang memaksa dia masuk ke dalam kamar, memang gara-gara siapa semua ini!” Riski menghardik ayahnya yang dalam keadaan emosi.
“Apa?” pak Doni memelototi Riski.
“Ayah sendiri yang melarang aku untuk keluar rumah dan keluar kamar, apa ada pilihan lain selain masuk kamar yah?” Riski mencoba melimpahkan kesalahan pada ayahnya.
“Beraninya kamu membantah ayah, hanya karena perempuan yang hanya menganggap mu teman? Perempuan yang sudah bermasalah dengan mu beberapa bulan yang lalu, memeras ayah, dan sekarang kamu melawan juga pada ayah?”
Yalisa yang berada di antara ayah dan anak itu merasa tak nyaman, ia juga merasa bersalah, ia yang bukan siapa-siapa membuat Riski durhaka pada orang tuanya.
“Sudahlah yah.” ucap Riski dengan mengalihkan pandangannya dari pak Doni.
“Baik, kalau begitu ayah juga ingin kalian menyudahi hubungan konyol kalian berdua.” mendengar penuturan ayahnya, Riski langsung memberikan tatapan mata tajam pada pak Doni.
“Apa?!”
“Ayah tidak merestui kalian berdua, putuskan. segala hubungan kalian.” titah pak Doni.Sontak Riski berdiri dari duduknya dan berkata.
“Jangan campuri urusan pribadi ku! Soal yang lain-lain aku masih terima, tapi kalau soal Yalisa, aku enggak terima, hargai apa yang aku sukai ayah! Seperti aku menghargai candu ayah yang dulu!” pekik Riski, ia mengingatkan soal perselingkuhan ayahnya.
“Ki.” Yalisa mendongak seraya menarik ujung baju Riski, agar Riski duduk kembali.
“Apa! Beraninya kamu membantah ayah!” pak Doni bangkit juga dari duduknya.
“Aku berani! Karena ayah keterlaluan!”
“Riski, Riski jangan begini.” ucap Yalisa yang sekarang berdiri juga, ia memegang lengan Riski. Namu Riski tak menggubris perkataan Yalisa itu.
“Anak tidak tahu untung! Jamal! Bawakan hasil tes anak ini!” titah pak Doni. Dengan segera pak Jamal pun menyerahkan hasil tes matematika dan bahasa Inggris Riski sebelumnya.
“Nih!” pak Doni melempar hasil tes itu di atas meja kaca yang ada di hadapan mereka.
“Matematika 70 dan bahasa Inggris 80! Janji mu setinggi langit! Tapi hasil 0! Ini sudah mau ujian semester dan UN, tapi nilai mu masih memprihatinkan! Dan, pengeluaran mu bulan ini enggak main-main! Kalau kamu pintar dan enggak nakal! Ayah enggak masalah, ini sudah goblok, nilai 0, melawan lagi, ayah juga tahu, di kelas kamu bukan belajar, melainkan memperhatikan Yalisa, terus dan terus! Mau di bawa kemana masa depan mu Riski!” Riski menghela nafas panjang mendengar omelan ayahnya.
“Ayah benar soal semua itu, dan Riski benar-benar minta maaf, tapi soal Yalisa jangan ikut campurkan yah, Riski janji akan berubah.” mendengar anaknya minta maaf, hati pak Doni jadi sedikit reda.
“Jamal.”
“Iya tuan?”
__ADS_1
“Ambil rotan nya, aku mau memukulnya,” titah pak Doni.
“Lagi-lagi mau di pukul?” batin Yalisa.
Tak lama pak Jamal pun datang, membawa Rotan sepanjang 30 cm.
“Ini tuan.” pak Jamal menyerahkan Rotan itu pada Doni.
“Ulurkan tangan mu!” Riski yang sadar akan kesalahan dan kenakalan yang ia perbuat pun pasrah akan di hukum ayahnya.
Yalisa yang berdiri di sebelah Riski merasa kasihan dan tak tega, kalau tangan Riski yang masih berbekas merah, harus di pukul kembali.
Riski pun mengulurkan tangannya dan plak! Plak! Yalisa yang tak sanggup menyaksikannya pun langsung saja menurunkan tangan Riski.
“Jangan, jangan pukul lagi om.” ucap Yalisa dengan tubuh yang gemetaran.
“Minggir.” ucap pak Doni.
“Sudah, ini kesalahan ku.” ujar Riski.
“Eng-enggak, kalau mau pukul, pukul tangan ku saja om, aku juga sa-salah, jangan pukul Riski lagi, hiks hiks.” Yalisa yang sedari tadi sudah tak kuasa menahan air matanya pun mulai menangis.
“Kamu...” Pak Doni menurunkan rotan nya, dan duduk kembali di atas sofa.
Pak Doni memperhatikan tingkah anaknya yang mirip sekali dengannya sewaktu muda.
“Anak-anak ini, tanpa malu saling bersentuhan di depan ku.” itulah yang ada dalam batin pak Doni, saat melihat Riski menyeka air mata Yalisa.
Pak Doni kehilangan semua kata-kata yang akan ia lontarkan pada anaknya, tatkala ia menyaksikan seorang wanita menangis di hadapannya, terlebih wajah wanita itu mirip sekali dengan sang mantan.
Pak Doni mengelus dadanya, mencoba meredam amarah.
“Sayang, jangan nangis lagi.” pak Doni yang mendengar anaknya berucap kata demikian di hadapannya langsung merasa tak nyaman.
“Apa benar anak ini keturunan ku? Dia benar-benar menganggap ku tak ada disini?” pak Doni bergumam dalam hatinya.
“O-om, maafin Yalisa, kalau Yalisa banyak menimbulkan masalah, tapi jangan pukul Riski lagi ya om.” Pak Doni geleng-geleng kepala, ia tak mengerti harus merasa kagum atau kesal pada Yalisa, yang masih bisa membuat permintaan.
“Sekilas ku fikir kau anak wanita itu, nyali mu dengannya benar-benar sama persis.” ucap pak Doni dalam benaknya.
“Antar kan dia pulang Ki.” titah pak Doni tanpa menjawab perkataan Yalisa terlebih dahulu.
“Iya yah.”
__ADS_1
“Yalisa pamit om.” dengan keadaan wajah basah Yalisa mohon undur diri pada pak Doni, lalu Riski menggenggam tangan Yalisa seraya berlalu dari hadapan ayahnya, menuju garasi.
Kali ini, Riski mengantar Yalisa menggunakan mobil, karena ia rasa Yalisa pasti capek, setelah melalui ketegangan beberapa jam ini.
Ceklek!
Riski membuka handle pintu mobil yang di seberang pintu kemudi, dan menyuruh Yalisa masuk.
Setelah itu, Riski menutup kembali pintunya, dan mulai beralih ke pintu mobil arah kemudi.
Setelah mereka berdua telah berada dalam mobil, Riski menyalakan mesin mobil untuk keluar dari garasi menuju jalan raya.
Saat mereka berjalan cukup jauh dari area kediaman Riski, Riski berinisiatif meminggirkan mobilnya ke tepih jalan raya, karena ia melihat, pipi Yalisa masih di hujani air mata.
“Kok berhenti?” tanya Yalisa seraya menatap wajah Riski.
Kemudian Riski menarik beberapa lembar tisu yang ada di hadapannya.
“Sini-sini.”
“Ha?”
Riski meraih wajah Yalisa dengan tangannya yang lebar.
“Jangan nangis lagi, kok makin hari kamu kamu cengeng sih?” ucap Riski seraya menyeka setiap air mata yang menempel di mata dan wajah Yalisa.
Lalu Yalisa menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya lagi.
“Apa ini? Jangan takut, orang tua biasa kok memarahi anaknya, apa lagi kalau anaknya itu nakal, karena semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.”
“Iya, maafin aku ya, gara-gara aku...” belum sempat Yalisa menyelesaikan katanya tiba-tiba Riski memotong.
“Sssst..., ini semua salah ku, bukan kamu.” Riski menekan bibir Yalisa dengan telunjuknya.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1