SAVE YALISA

SAVE YALISA
(2023)


__ADS_3

Tanggal 22 September 2023, tahun yang begitu sibuk bagi setiap orang yang memiliki aktivitas.


“Selamat pagi dok!” sapa tiga orang yang menjaga loket administrasi pada sebuah rumah sakit besar yang terletak di ibu kota Jakarta.


“Pagi juga.” jawab Kenisha, seorang dokter muda yang usianya baru 27 tahun.


Setelah saling bertegur sapa, Kenisha pun bergegas ke ruangannya.


Ceklek !


Krieeettt !!


Saat Kenisha membuka pintu, ia mendapati perawat yang sering menjadi asistennya, yaitu Ida sedang merapikan ruang kerjanya. Lalu ia juga melihat ada seorang lagi dalam ruangan yang menjadi teman Ida yang bernama Afridha.


“Pagi dok.” ucap kedua perawat itu, seraya menundukkan kepala mereka.


“Pagi juga, bagaimana kabar kalian hari ini?” tanya Kenisha dengan senyum hangat khas pagi harinya.


“Baik dok.” jawab keduanya dengan semangat.


“Kamu Afridha ya?” ujar Kenisha.


“Iya dok, saya perawat yang baru masuk kerja hari ini, mohon kerja samanya ya dok.” ucap Afridha seraya menjabat tangan Kenisha.


“Iya, mari kita saling membantu satu sama lain,” ujar Kenisha, seraya melepas jabatan tangan mereka.


“Oh ya Da, pasien yang ada di ruangan nomor 68, apa kalian sudah mengeceknya pagi ini?” tanya Kenisha seraya membuka jaketnya, lalu memakai jas dokternya.


“Maaf belum dok, karena kita berdua baru sampai 15 menit yang lalu.” ungkap Ida.


“Oh, tapi ada kan suster jaga semalam?”


“Ada dok,” terang Ida.


“Baiklah, setelah selesai beres-beres, kalian segera ke kamar si pasien, cek apakah air infusnya masih ada, saya mau mengerjakan laporan penting dulu, setelah itu baru pergi kesana.” terang Kenisha seraya menyalakan layar monitor komputernya.


“Baik dok.” jawab Ida dan Afridha.


Kedua perawat itu pun mengerjakan tugas mereka dalam ruangan dokter Kenisha secepat mungkin. Setelah selesai mereka memohon izin untuk menuju ke ruangan 68.


Saat dalam perjalanan Afridha yang tak tahu siapa pasien yang ada di kamar nomor 68 pun mulai bertanya-tanya.


“Kak, memangnya siapa pasien yang akan kita kunjungi?” tanya Afridha.


“Oh, itu pasien wanita yang sudah di rawat selama 3 tahun lebih disini.” terang Ida.


“3 tahun lebih? Memangnya dia sakit apa kak?” tanya Afridha lagi.


“Cedera otak, tepatnya 3 tahun 2 bulan yang lalu, dia mengalami kecelakaan, saat sedang menyetir mobil sendiri, ia dapat telepon, kalau suaminya meninggal akibat kecelakaan.” terang Ida.


“Apa?” mata Afridha membulat.


“Iya, yang lebih kasihan nya lagi, ia kecelakaan saat tengah mengandung 5 bulan.” terang Ida lebih lanjut.


“Ha?” mata Afridha kembali membulat tak percaya.


“Terus anaknya gimana kak?” tanya Afridha penasaran.


“Ajaibnya, kandungannya tidak apa-apa, hanya kepalanya saja yang mengalami benturan hebat.”

__ADS_1


Krieettt !!! Ida membuka ruangan nomor 68, lalu Afridha melihat seorang wanita terbujur kaku di atas ranjang yang bagian ketiak sampai kakinya di tutupi selimut.


“Dia...” Afridha terkejut bukan main.


“Iya, sejak pasien di bawa dari TKP sampai kesini, si pasien belum sadarkan diri, alias koma.”


“Apa!”


“Pelan kan suara mu Af, walau pun dia koma, dia dapat mendengar pembicaraan kita.” sontak Afridha menyatukan kedua bibirnya.


“Kak...”


“Nanti saja ceritanya, jangan disini, kasihan pasien.” ucap Ida seraya melirik jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 09.00 pagi.


“Apa hari ini mas itu enggak datang ya?” batin Ida bertanya-tanya, karena biasanya ada seorang pemuda yang akan datang membersihkan tubuh wanita koma itu setiap hari, dan itu sudah berlangsung selama 1,6 bulan.


“Af.”


“Iya kak?”


“Tolong bantu aku buat bersihkan tubuhnya, ambilkan 2 buah baskom berisi air dingin atau hangat kuku, 2 buah waslap, perlak, handuk, selimut mandi, bak instrumen.” Ida menyebutkan satu persatu pada Afridha, agar Afridha cekatan kedepannya.


Sementara Ida mengecek, sisa infus yang masih ada dalam kantong, dan juga membuat beberapa laporan lainnya.


Setelah beberapa saat, Afridha pun datang membawa apa yang di minta Ida.


Lalu mereka berdua pun mulai membersihkan tubuh wanita koma itu.


“Dia cantik ya kak.” ucap Afridha.


“Iya, biasanya ada yang membersihkan tubuhnya, tapi sepertinya orang itu enggak datang hari ini.” ujar Ida


“Bukan.” setelah mereka selesai melakukan tugas mereka, Ida pun mengganti baju si pasien tersebut dengan yang baru.


Ceklek!


Krieett.


Bunyi pintu terbuka membuat mereka berdua melihat ke arah sumber suara.


Ternyata yang datang adalah dokter Kenisha. “Oh, kalian yang mandikan pasien hari ini ya?” tanya Kenisha.


“Iya, karena masnya enggak datang hari ini dok.” terang Ida.


“Tumben.” ucap Kenisha seraya meminta laporan perkembangan pasien wanita itu.


Setelah selesai, Kenisha memberi mereka perintah.


“Jangan tinggalkan pasien ya, tetaplah berjaga sampai shif kalian selesai, bagaimana pun keluarganya sudah menempatkan kalian secara khusus disini dengan bayaran yang tinggi.” terang Yalisa, seraya berlalu dari ruangan itu.


Ruangan tempat si pasien wanita itu, begitu luas dan besar, ada ruang tamu, tv, dapur dan juga kamar untuk orang yang berjaga, semuanya lengkap sudah seperti rumah pribadi, kamar itu sengaja di desain sesuai keinginan wali si pasien agar siapapun yang ada disana merasa betah dan nyaman.


Dan keluarga si pasien juga memberi bayaran tinggi pada rumah sakit setiap bulannya, agar memberikan perawat, dokter serta suster yang siaga 24 jam di kamar itu.


Lalu Ida dan Afridha pun menuju ruang tamu untuk melepas lelah di atas sofa.


Bruk!


“Aku baru lihat, kamar pasien semewah ini kak.” ungkap Afridha seraya menjatuhkan bokongnya ke atas sofa.

__ADS_1


“Walinya kaya, jadi bisa melakukan ini.” ujar Ida.


“Kak, kamu belum bilang, siapa yang biasa membersihkan pasien itu.”


“Oh, namanya mas *********, seumuran dengan si pasien.”


“Ha? Aku fikir ibunya, ternyata bukan.”


“Ibunya sudah almarhum, dia tidak punya siapa pun selain walinya yang sekarang, serta si mas yang selalu mengunjungi si pasien secara rutin.” ungkap Ida.


“Oh, aku lupa, anaknya apa kabar kak?” tanya Afridha lebih lanjut.


“Anaknya sehat, jenis kelamin laki-laki, usianya sudah mau 3 tahun, sesekali kakeknya membawa anak itu kesini, aku selalu kasihan melihat anak itu, yang tak mengerti apapun, meski ibunya tak pernah merawatnya, tapi terlihat kalau Zanjiil kecil sangat menyayangi ibunya yang tak berdaya itu.” terang Ida dengan mata berkaca-kaca.


“Siapa, nama pasien itu kak?” tanya Afridha penasaran.


“Namanya....” saat Ida ingin mengatakan siapa nama si pasien tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka.


Krieeettt...


Sontak Ida dan Afridha bergegas mengecek ke pintu, untuk melihat siapa yang datang.


“Selamat pagi.” ucap si lelaki dengan senyum ramahnya.


“Pagi juga mas, tumben mas nya datang terlambat.” ucap Ida.


“Tadi saya ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan.” terang si lelaki.


Afridha menelan saliva nya saat melihat pemuda tampan itu berdiri di hadapannya.


“Ini untuk kalian berdua.” si lelaki menyodorkan sebuah kantong berisi makanan pada Ida dan Afridha.


“Terimakasih banyak.” ucap Ida seraya menerima pemberian lelaki itu.


“Kalian bisa keluar sekarang.” pinta si lelaki yang setiap kali ia berkunjung tak mau ada orang lain selain dirinya dan wanita itu di dalam ruangan.


Ida yang sudah mengerti pun mengajak Afridha untuk keluar.


Setelah hanya tinggal dirinya dan wanita itu, dia pun duduk di atas kursi yang ada di samping ranjang wanita itu.


“Assalamu'alaikum sayang, apa kabar hari ini?” sapa lelaki itu dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian si lelaki meraih tangan wanita itu, lalu mencium punggung tangannya.


“Maaf aku terlambat datang hari ini, sayang sudah lebih dari tiga tahun kamu di rawat disini, tapi tak ada perkembangan, aku ada rencana untuk merujuk mu keluar negeri dalam waktu dekat, karena aku menemukan ada rumah sakit bagus di Amerika, aku sangat berharap banyak, kalau kamu bisa sembuh setelah di bawa kesana, aku... aku ingin, melihat mata indah mu lagi memandang ku dengan ceria, aku rindu suara mu yang membuat jantung ku berdebar-debar.” si lelaki itu menitihkan air mata kesedihan yang tak dapat ia bendung.


“Zanjiil sekarang sudah besar, kamu pasti rindukan? Ayo, semangat sayang, kumpulkan. tekat mu untuk sembuh.” ucap si lelaki seraya mengecup kening wanita itu.


“Ya Tuhan, kembalikan orang yang ku cintai ini seperti sediakala.” batin si Lelaki memohon pada Tuhannya.


SELESAI.


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Mampir juga ke karya author di bawah ini ya.


__ADS_1



__ADS_2