
Leo berserta beberapa orang keluarganya yang membawa hantaran masuk ke area pertunangan yang telah di hias.
Leo yang mengenakan baju batik warna senada dengan Mei begitu tampan dan berkarisma. Yang membuat Mei tak mengedipkan matanya sedetik pun.
“Tampan.” tanpa Mei sadari gumam yang ia lontarkan di dengar oleh banyak orang, termasuk Leo sendiri.
Semua yang ada dalam ruangan pun tertawa. Pfffftt...
Hahahhaha....
Mei yang tersadar menjadi grogi dan menundukkan kepala.
“Apa benar, anak tante setampan itu nak?” bu Dita mencoba menggoda Mei.
Mei tak menjawab karena sudah terlanjur malu. Lalu para tamu yang datang di persilahkan untuk duduk di atas sofa yang telah di sediakan, terkhusus Mei dan Leo duduk di sofa pasangan yang berada tepat di depan inisial nama mereka berdua.
Lalu ayah dari Leo, pak Rendy memperkenalkan dirinya, beserta seluruh keluarga yang datang kepada keluarga besar Mei Lissah, dan juga menjelaskan niat mereka datang ke kediaman pak Wahyu.
“Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, Puji syukur kita ucapkan hanya kepada Allah SWT yang telah begitu banyak memberikan rahmat, hidayah, serta nikmat kepada kita semua, sehingga kita dapat bertemu, berkumpul dan saling bersilaturahmi pada hari yang berbahagia ini, dalam keadaan sehat wal’afiat. Perkenalkan nama saya Rendy Rasyid ayah dari ananda Leo Rasyid, hari ini datang ke kediaman keluarga pak Wahyu ingin mengutarakan maksud kami untuk mengikat putri pak Wahyu Mei Lissah dalam pertunangan yang hari ini kita akan Laksanakan, bila mana putri kita Mei Lissah belum memiliki hati pada pria lain, maka boleh bagi kami untuk memperat hubungan ini.” terang pak Rendy.
“Wa'alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh, terimakasih terlebih dahulu saya ucapkan kepada keluarga pak Rendy yang telah menerima putri kamu Mei Lissah apa adanya, dan dengan penuh rasa syukur saya dan seluruh keluarga menerima dan merestui pertunangan serta lamaran dari keluarga pak Rendy.” ucap pak Wahyu dengan perasaan penuh haru.
Mei yang duduk di sebelah Leo, terus saja curi-curi pandang pada calon suaminya yang begitu tampan.
Leo yang sadar langsung membalas lirikan itu, tanpa mengatakan apapun, yang ada di hatinya saat ini adalah mantan pacarnya.
“Kenapa dia memblokir semua akses telepon dan media sosial ku? Wajar sih, tapi kenapa tiba-tiba? Yalisa aku benar-benar rindu.”
“Bagaimana dengan Mei Lissah, apakah bersedia kami ikat dalam ikatan pertunangan untuk nantinya kami jadikan menantu?” tanya pak Wahyu pada Mei yang ada di hadapan mereka.
“Saya bersedia!” ucap Mei dengan penuh semangat.
Lalu Leo meraih tangan Mei untuk di arahkan berdiri.
Kedua orang tua mereka pun maju lebih dekat, bu Dita membuka kotak cincin yang berbentuk indah terbuat dari mas putih, yang di dalamnya terukir nama Leo dan Mei.
Lalu Leo mengambil cincin itu dan menyematkannya di jari manis Mei, selanjutnya Mei mengambil cincin yang ada dalam kotak yang masih di pegang oleh bu Dita, untuk di sematkan ke jari manis Leo.
__ADS_1
Terukir raut bahagia di wajah setiap orang yang menyaksikan pertunangan itu, kecuali Leo yang menampilkan ekspresi datar.
Di kira sudah selesai, Mei ingin duduk kembali, tapi Leo menarik tangan Mei dengan cukup kuat, hingga Mei jatuh ke pelukan Leo.
“Le-Leo.” ucap Mei seraya mendongak, saat Mei akan menjauhkan dirinya dari Leo, Leo menariknya kembali ke pelukannya, Dengan tatapan mata tajam, Leo berkata.
Orang-orang yang ada dalam ruangan membantu melihat Leo memeluk Mei.
“Ngapain anak ini? Dasar enggak lihat tempat.” batin semua orang kepada Leo.
“Kata orang, cinta adalah sebuah penyakit, ada nama yang selalu tertulis di dalam hati. tapi, belum tentu ia tercatat di atas buku nikah. Dan aku ingin kamu ada di keduanya, jadi, maukah kamu jadi penyembuh sakit ku? Jadilah pengantin ku.” semua orang yang mendengar barisan kata lamaran Leo pada Mei, jadi menangis haru.
Tak terkecuali Mei yang masih ada dalam pelukan Leo, matanya berkaca-kaca, tanpa ia sadari air matanya menetes, begitu pula dengan Leo, bedanya Mei menangis karena bahagia, Leo menangis karena Yalisa yang takkan mungkin ia miliki lagi.
“Aku mau, jadi apapun yang kau mau.” ucap Mei.
Setelah itu, Leo mengecup kening Mei, yang membuat semua orang bertepuk tangan.
Lalu Mei mencium telapak tangan Leo, kini keduanya telah resmi menjadi sepasang tunangan.
Kedua kelurga juga sepakat, anak-anak mereka akan di nikahkan setelah lulus Ujian Nasional.
_____________________________________________
“Hah! Sudah jam 10?!” ia juga melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari Yalisa.
“Ya Tuhan kencan ku, ya Tuhan, aku rugi 2 jam!” ucap Riski seraya heboh mencari handuknya untuk bergegas mandi.
__________________________________________
Sementara Yalisa yamg sudah selesai dari jam 08:00 pagi merasa geram.
“Dia mau ngerjain atau apa sih! Kenapa belum jemput? Telepon juga enggak di angkat, pesan enggak di balas, kemarin nyuruh buat sudah siap jam 8 pagi, emang gila ya itu anak.” Yalisa menjadi marah-marah sendiri di rumahnya.
______________________________________________
Riski yang telah selesai mandi buru-buru mengambil baju dalam lemari.
__ADS_1
Ia mengambil kau polos warna putih celama jeans warna hitam, tak lupa ia mengambil jaket kulit mahalnya beserta kunci motor.
Setelah selesai ia turun dengan menaiki lift ke lantai dasar.
Riski yang telah sampai di lantai dasar berjalan cepat menuju garasi, namun tanpa ia sangka sang ayah telah duduk sofa, di sebelah pintu menuju garasi dengan memegang sebuah buku.
“Mau kemana?” tanya pak doni dengan wajah yang kecut.
“Ayah,” batin Riski.
“Ayah tanya mau kemana?”
“Ya mau pacaran lah Yah, masa mau ke sekolah.” ujar Riski, saat Riski ingin melangkah kembali, pak Doni mencegatnya dengan berkata.
“Berhenti, jangan coba-coba maju selangkah lagi.”
“A-apa Yah?” lalu pak Doni berdiri dari duduknya.
“Apa ini?” pak Doni membalik setiap halaman buku tugas Riski yang nilainya sangat memprihatikan.
“Haduh, bisa panjang nih ceritanya.” batin Riski dengan perasaan memburu.
“Yah, maafin Riski, tapi bolehkan marah-marahnya besok atau nanti malam saja?”
“Apa? Kamu berani menawar ayah?” pak Doni membanting buku tugas Riski ke lantai.
“Ngapain saja di sekolah? Kenapa nilai mu enggak ada perubahan dari yang kemarin? Hah!” pekik pak Doni dengan mata memerah.
“Yah, maafin Riski.” ucap Riski seraya menggaruk-garuk kepalanya.
Lalu tiba-tiba handphone yang ada di genggaman Riski bergetar.
Drrttt...
Drrttt...
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu