
Keduanya terbaring lemas di atas ranjang yang telah tercecer darah suci.
“Akhirnya, kami menyatu juga.” batin Mei menatap sendu wajah sang suami.
“Ternyata antara cinta dan nafsu itu beda tipis, ku fikir semua akan canggung, enggak di sangka malah kelepasan sampai pagi.” batin Leo.
Akhirnya pengantin baru itu pun tertidur lelap karena kelelahan.
Pukul 15:00, Mei tiba-tiba membuka mata, karena mendengar suara dering teleponnya.
Perlahan ia bangkit dari ranjang, “Au!” Mei meringis kesakitan, langkahnya pun terpingkal, menahan perih di area serabinya.
Ketika ia meraih handphone yang berada di atas meja belajar Leo, ternyata yang meneleponnya adalah Winda.
Lalu Mei bergegas ke kamar mandi sebelum mengangkat telepon tersebut.
📲 “Halo,” Mei.
📲 “Halo non, maaf kalau saya mengganggu, terkait tawanan di ruang bawah tanah, harus di apakan non? Apa di bius lagi? Atau bagaimana?” Winda.
“Oh iya, aku lupa kalau pak Aryo masih di rumah,” batin Mei.
📲 “Aku akan segera kesana, siapkan hidangan enak, bagian daging yang paling empuk, dia juga belum makan kan?” Mei.
Winda yang mengerti akan maksud majikannya pun mengangguk.
📲 “Baik non, saya akan memerintahkan koki,” Mei.
Setelah menutup telepon, Mei segera mandi wajib, mensucikan diri dari hadas besar.
Selesai ia mandi, suaminya masih saja terlelap, Mei yang mempunyai kesempatan buru-buru memakai bajunya.
“Mumpung Leo masih tidur, aku bereskan dulu urusan yang di rumah.” batin Mei.
Setelah selesai, Mei keluar dari dalam kamar, saat ia berniat ingin pamit pada mertuanya, ternyata tak ada seorang pun dalam rumah kecuali mereka berdua.
“Kemana mereka semua?” gumam Mei.
“Tapi bagus juga sih enggak ada orang.” ucap Mei, ia pun memesan mobil online menuju rumahnya.
Selang beberapa saat Mei tiba di kediamannya, Winda yang ada di pintu menyambut kedatangan sang majikan.
“Mama dan papa dimana?” tanya Mei.
“Sudah kembali ke Bandung non,” ujar Winda.
__ADS_1
“Buru-buru bangat pulangnya,” batin Mei.
Dengan rasa kecewa Mei menuju ruang bawah tanah.
Setibanya mereka di ruang bawah tanah, tempat pak Aryo di tawan, Mei melihat sang kepala sekolah tengah duduk di sebuah kursi roda dengan tubuh di lilit rantai serta tangan terborgol.
Dan di hadapan pak Aryo ada sebuah meja makan mini, dimana di atasnya ada hidangan stik lezat, ala kepala koki keluarga Mei.
“Halo pak,” ucap Mei.
Pak Aryo yang kini lehernya di balut luvina stretcher melirik Mei.
“Dasar kurang ajar!” pekik pak Aryo dengan suara yang pelan, akibat vita suaranya yang belum pulih.
“Jangan gitu dong pak, ngomong harus yang baik dan lembut, bukannya seorang guru harus mencontohkan yang baik? Kalau bapak masih tidak beradab, siswa bapak juga akan mengikuti keburukan bapak.” ujar Mei dengan tawa menyeringai.
Pak Aryo yang masih kesal, tak terima dirinya di tawan, ia pun dengan berani meludahi wajah Mei.
“Cuih! Anak setan! Pergi saja ke neraka!” Mei yang menerima perlawanan dari korbannya untuk pertama kalinya menjadi murka.
“Non!” ucap Winda.
Lalu Mei segera ke wastafel yang ada di ruangan itu untuk membasuh wajahnya.
“Berani-beraninya kamu meludahi wajah ku!” Mei yang naik pitam, segera membersihkan kotoran di wajahnya, setelah itu, ia ambil daging stik yang ada di hadapan pak Aryo dengan tangan kosongnya.
Pak Aryo tak sanggup menelan semua daging yang memenuhi mulutnya.
Mei yang tak sabar melihat pak Aryo lambat dalam menelan daging yang ia beri, langsung saja mendorong semua daging yang tersisa dalam mulut pak Aryo dengan tangannya.
Akibatnya pak Aryo tak dapat bernafas, karena daging-daging itu tersangkut di tenggorokannya.
Puas melihat sang kepala meneteskan air mata penderitaan, Mei pun duduk di hadapan pak Aryo, dan mulai memasukkan stik bagiannya ke dalam mulutnya juga.
“Harusnya tadi bersikap baik saja pak! Biar enggak kesakitan seperti itu,” ujar Mei.
Winda yang takut kalau pak Aryo akan lewat pun berniat membantu pak Aryo, dengan memberi air minum.
“Biarkan dia seperti itu mbak, dan kabari kepala koki, untuk memotong kaki sebelah kirinya, simpan di chiller, sebelum ia koit, bedah sekarang juga, ambil organnya, untuk di jual di dark web, ia harus membayar uang yang kemarin ia ambil dari ku,” titah Mei.
“Tapi non....,”
“Cepat mbak, uang penjualan organnya, kalian bagi-bagi saja, aku enggak butuh, lagian siapa suruh dia main-main degan ku,” ujar Mei.
Pak Aryo yang tahu riwayatnya tak lama lagi, mengangguk histeris.
__ADS_1
Bawa dia ke ruang bedah, sisa dagingnya, potong-potong kecil, berikan untuk para keponakan.” setelah memberi perintah, kepala koki pun datang, dan mendorong kursi roda pak Aryo ke ruang bedah.
Raut wajah takut terpampang jelas di wajahnya, namun Mei tak perduli, ia masih saja memakan stik daging dari hasil olahan kaki kanan pak Aryo.
“Bersihkan semua, jangan sampai ada jejak mbak, aku mau pergi ke pinggir kota, akan ku nyalakan kembali gps pak Aryo disana, setelah itu baru membakar barang bukti, urus yang disini, rapikan, jangan sampai ada jejak, karena setelah ini, aku akan menjadi orang yang baru,” terang Mei.
Winda mengangguk, ia tak dapat menolak perintah tersebut.
Setelah selesai makan, Mei beranjak ke kamarnya untuk mandi dan mengganti baju, sementara baju yang ia kenakan, segera di bakar di halaman belakang rumahnya.
Selepas itu, Mei menjalankan aksinya, pergi ke pinggir kota, menyalakan kembali handphone pak Aryo, setelah sebelumnya Winda membawa handphone itu berkeliling kota, singgah di sebuah bar, agar seolah kemarin pak Aryo telah keluar dari rumah Mei.
Beruntungnya mereka, kedatangan pak Aryo pada saat itu menggunakan transportasi online, jadi mereka tidak terlalu repot untuk menghilangkan jejaknya.
Setelah semua selesai, Mei kembali lagi ke rumah mertuanya.
Sesampainya ia, bu Dita langsung bertanya padanya.
“Kamu dari mana saja nak?”
“Aku dari rumah bu,” ucap Mei.
“Kenapa enggak pamit sayang?”
“Habis, enggak ada orang dalam rumah bu, Leo juga kebetulan masih tidur, jadi enggak enak buat bangunin,” ujar Mei.
“Oh, begitu ya, lain kali kalau mau keluar pamit dulu ya sayang,”
“Iya bu, maafin Mei sudah buat ibu khawatir.”
“Oh iya sayang, ibu barusan dapat email,”
“Email dari siapa bu?”
“Dari universitas H yang ada di London, alhamdulilah kalian berdua di terima menjadi mahasiswa disana.” seru bu Dita dengan perasaan senang.
“Beneran bu?”
“Iya.” Lalu bu Dita pun memeluk Mei dengan rasa bangga.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1
Nantikan karya baru dari author pada tanggal 15 Desember 2021.