SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XCII (Perpanjang)


__ADS_3

Lalu dengan senyum tipis Riski membelai kedua pipi Yalisa dengan kedua tangannya bersamaan.


“Hum, pffft..., aku enggak sangka kamu benar-benar bego.” ucap Riski seraya menahan tawanya, Yalisa yang tadinya merasa bersalah, kini berbalik jadi kesal.


“Apaan-apaan kamu!”


“Besok aku bawa buku tuntunan sholat untuk kamu.” ucap Riski dengan mencubit kecil pipi Yalisa sebelah kanan.


Yalisa memutar mata malas, karena Riski meledeknya.


“Ayo pulang, sekarang sudah jam 20:00.” Yalisa mengingatkan Riski akan waktu.


“Baik bos.” Riski pun kembali membenarkan posisi duduknya.


Setelah itu mereka kembali melaju membelah jalan raya menuju rumah Yalisa.


Selang 39 menit mereka pun sampai di depan gang rumah Yalisa.


“Makasih ya, aku duluan.” Saat Yalisa akan menarik handle pintu, Riski menahan bahunya.


“Aku antar sampai ke dalam.”


“Jangan, lihat banyak bapak-bapak di warung.” Riski pun memperhatikan siapa saja yang ada di warung yang pernah ia singgahi itu untuk sesaat.


“Enggak apa-apa, aku bisa bereskan.” ujar Riski seraya keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Yalisa.


Mereka pun sama-sama menyebrangi jalan. “Kamu duluan aku mau singgah sebentar.” titah Riski pada Yalisa. Yalisa hanya mengangguk lalu meninggalkan Riski di depan warung.


Riski yang melihat penghuni warung adalah teman-temannya langsung bergabung.


“Pak, aku boleh ya bertamu ke rumah Yalisa.” Riski meminta izin pada mereka semua.


“Tentu saja boleh, asal jangan aneh-aneh.” ucap salah satu bapak, yang di angguki semua yang ada disana, karena mendapat lampu hijau, Riski dengan rasa terimakasih mengambil uang dari dompetnya, sebanyak Rp. 300.000, yang di serahkan langsung ke ibu pemilik warung.


“Ini, untuk bayaran makanan para bapak.” ucap Riski, yang di terima dengan senyuman oleh ibu pemilik warung.


Setelah itu Riski pamit menuju rumah Yalisa, Riski yang telah berada di teras rumah Yalisa dengan pintu terbuka lebar, segera membuka sepatunya.


“Assalamu'alaikum.” ucap Riski seraya masuk ke dalam rumah.


“Wa'alaikum salam.” jawab Yalisa yang telah duduk di atas sofa, Riski melihat sudah ada air zamzam di atas meja.


“Silahkan duduk.” bukannya duduk di tempat yang telah Yalisa tunjuk, Riski malah menarik tangan Yalisa sampai ia berdiri dari sofa yang ia duduki.


“Hei.” Yalisa bingung akan tindakan Riski.


Bruk! Riski menjatuhkan bokongnya ke atas sofa, Yalisa mengernyit melihat tingkah laku Riski.


“Pada hal masih ada sofa lainnya, kamu memang...” Riski langsung menarik pinggang Yalisa untuk duduk di Pakuan nya, tanpa membiarkan Yalisa menyelesaikan omongannya.

__ADS_1


“Kenapa jadi tiba-tiba cerewet? Pada hal tadi cengengnya minta ampun.” bisik Riski ke telinga Yalisa.


“Ki, apa-apaan sih, lepas ah! Aku bisa duduk di tempat lain kalau memang kamu mau duduk disini.” Yalisa terus berucap tanpa mau menatap mata Riski, sebab ia teramat malu berlipat ganda pada Riski perihal yang mereka lalui bersama hari ini.


Baik itu soal ibadah, mau pun kontak fisik yang mereka lalukan.


“Aku maunya duduk bareng kamu, apa perasaan mu sudah baikan?” tanya Riski seraya menyilang kan tangannya ke perut Yalisa.


“Sudah, aku sudah baikan, jadi tolong lepasin aku.” Riski tak mendengarkan sedikit pun perkataan Yalisa, ia malah sibuk membenamkan pipinya di puncak kepala Yalisa.


“Anak ini, kamu dengar aku enggak sih!” Nada suara Yalisa meninggi, karena ia merasa kesal pada Riski yang tak mau melepaskannya.


“Buat apa dengarin kamu, kamu sendiri, ngomong enggak lihat aku.”


“Hufff..., biarin aku duduk di sofa lain ya.” ucap Yalisa seraya mendongak.


“Oke, tapi nanti ya.” Riski tak menyia-nyiakan kesempatan saat Yalisa masih mendongak.


Lalu ia luma* bibir Yalisa dengan lembut, yang membuat kedua kelopak mata Yalisa membulat.


“Bukannya kami baru saja taubat?!” teriak Yalisa dalam batinnya.


Yalisa tak tahu harus berbuat apa, sebab tubuhnya tak bisa bergerak, akibat Riski mengunci setiap celah untuk ia berontak, Yalisa hanya bisa menunggu sampai Riski menyelesaikan aksinya.


Riski terus saja melum** bibir mungil Yalisa yang berwarna merah muda dengan memejamkan mata, seolah menikmati momen itu, tak jarang indera perasa Riski bermain-main dengan indera perasa Yalisa.


Deg deg deg deg! Jantung Yalisa berdetak dengan kencang, nafasnya jadi memburu.


“Umm, u-udah Ki, aku enggak bisa nafas.” ucap Yalisa dengan suara yang tak jelas, karena Riski masih menyumpal mulutnya dengan mulut Riski, sesaat kemudian Riski pun mengehentikan ciumannya.


“Haahh.. haaah...!” nafas Yalisa jadi terengah-engah.


“Makanya, nafasnya jangan di tahan dong biar enggak sesak nafas gitu.” ujar Riski seraya mengecup kening Yalisa.


“Kamu! Akh!” Yalisa tak tahu harus bilang apa lagi, rasanya apapun yang ia katakan akan memantul di telinga Riski.


“Yalisa, aku senang, kamu marah karena aku enggak bisa datang tadi siang.”


“Apa maksud mu?”


“Aku tahu, kamu kesal karena ingin segera bertemu dengan ku.” mulut Yalisa seketika menganga, mendengar pernyataan Riski yang tingkat kepercayaan dirinya di atas rata-rata orang normal.


“Benar-benar deh, kamu luar biasa!” ucap ketus Yalisa.


“Jadi Yalisa, apa kamu mau pacaran kita, cukup untuk hari ini saja? Atau kamu mau pacaran dengan ku seterusnya?” Yalisa bingung harus menjawab apa, setelah ciuman panas tadi perasaan menjadi aneh.


“Aku, bingung Ki.” ucap Yalisa seraya menundukkan kepalanya.


“Kalau ada keraguan, berarti ada sedikit kebenaran, aku mau kita lanjut.”

__ADS_1


“Tapi Ki...”


“Apa sih yang buat kamu bingung? Apa mantan mu itu? Sudahlah, lupakan dia.”


“Bukan, ayah mu Ki.”


“Hum, jangan perduli kan dia, sebenarnya ayah enggak sekejam itu kok, makanya ayo sama-sama berubah biar ayah suka.” seru Riski yang Kini meraih dagu Yalisa.


“Kalau itu sih sudah jelas, hem.., soal tadi aku minta maaf, gara-gara aku kamu kena pukul.”


“Hehehe, enggak apa-apa kok, selama itu bukan kamu.”


“Makasih banyak Riski.”


“Jadi, apa bisa kita perpanjang masa pacaran kita?” Yalisa yang sudah tak tahu cara menolak Riski pun menganggukkan kepalanya.


Seketika perasaan bahagia terpancar dari wajah Riski, karena kini ia dan Yalisa resmi berpacaran.


“Tapi tolong dong, jangan asal nyosor, aku kan enggak nyaman, dan jangan macam-macam juga dengan ku, ku lihat kamu orangnya liar.” ucap Yalisa mengungkapkan isi hatinya.


“Tenang saja, aku tahu batasan untuk mu, kalau kamu enggak mau, mana mungkin aku menerobos masuk, tapi kalau area leher ke atas aku enggak bisa janji, karena aku juga laki-laki normal.”


“Pokoknya jangan seenaknya, aku enggak suka. Dan lagi kita baru saja kena marahi, ku fikir kamu akan taubat, setidaknya lebih kalem, ternyata sama saja.” terang Yalisa.


“Yang penting aku menyeimbangkan amal baik dan amal buruk ku, dan aku belum ketemu orang yang benar-benar menjalani hidupnya sesuai syariat tuh, kalau dia masih menjalani yang namanya pacaran, jadi ku rasa yang ku lakukan bukan masalah besar.”


“Sudahlah, aku malas berdebat dengan mu, kamu memang enggak mau kalah.”


“Apa ada yang salah dari ucapan ku?” tanya Riski dengan polosnya.


“Enggak, kamu yang paling benar, ya sudah pulang sana, nanti om marah lagi.”


“Oke kalau begitu, tapi aku cium lagi ya.” pinta Riski dengan semangat.


“Hem! Jangan lagi ya.” ucap Yalisa, yang membuat Riski memutar mata malas, lalu melepaskan pelukannya.


kemudian Yalisa bangkit dari pangkuan Riski. “Sudah, pulang sana, aku mau istirahat.”


“Iya bawel, enggak usah bilang 2 kali.” Riski langsung bergegas bangkit dari duduknya.


“Jaga diri, belajar lagi yang benar, yang terjadi di rumah ku, jangan ambil hati, aku cinta kamu sayang.” Riski mengecup singkat kening Yalisa, sebelum ia benar-benar berlalu dari kediaman pacarnya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2