
Setelah percakapan singkat itu, akhirnya mereka bertiga kembali kembali ke kelas masing-masing.
Sesampainya Yalisa dan Mei ke kelas, sudah ada Riski yang duduk di kursinya, Riski memberi tatapan licik pada Mei, seolah mengisyaratkan perjanjian mereka yang kemarin.
Mei hanya mengedipkan matanya, karena mau tidak mau memang ia harus melakukan hal yang Riski minta agar hidupnya aman.
“Sialan, masih pagi udah di ganggu sama dia.” batin Mei.
Setelah keduanya sampai ke kursi, mereka berdua pun duduk bersama.
“Gimana hubungan kamu sama Leo, lancar?” tanya Mei mencoba berbasa basi.
“Lancar kok, dan maaf juga soal di pesta waktu itu.” ucap Yalisa dengan memegang tangan Mei.
“Jangan di ulang lagi Yalisa, enggak enak bangat lihatnya.” ungkap Mei, lalu Yalisa mengangguk.
“Sialan, aku belum punya rencana apa pun buat pisahin mereka, malah si brengsek itu mendesak bangat lagi,” batin Mei.
Tidak lama bel sekolah pun berbunyi, dan bu Dewi masuk ke dalam ruangan mereka.
“Anak-anak, sudah lihat kan ada mobil donor darah di lapangan, nanti satu-satu akan pergi kesana ya,” terang bu Dewi.
Mereka pun memulai pelajaran, sembari siswa bergilir satu persatu ke mobil donor darah.
Tibalah saatnya giliran Mei, ia pun bergegas menuju mobil donor darah, sesampainya ia ke tempat, ternyata ada Leo juga disana.
“Kebetulan bangat, giliran kita samaan.” ucap Mei.
“Iya nih,” sahut Leo, lalu mereka berdua di suruh merebahkan badan di atas ranjang yang telah di sediakan, yang posisinya bersebelahan.
“Mei juga golongan darahnya O kan? Apa aku ambil darah Mei juga? Mana tahu cocok dengan ginjal ibu.” batin Leo.
“Hei, kemarin lancarkan sama Yalisa?” tanya Mei.
“Lancar bangat, hehehe,” sahut Leo.
Lalu petugas donor darah pun mulai menusuk di area pembuluh Vena mereka berdua yang berada pergelangan tangan mereka.
Leo terus saja memperhatikan aliran darah Mei, yang mulai mengalir menuju kantong darah.
“Aku harus bisa ambil darah itu.” batin Leo.
Setelah beberapa saat, kantong darah mereka berdua pun telah terisi penuh, lalu petugas medis memberikan mereka minuman sari kacang hijau, dan buah-buahan.
“Kayaknya kita langsung ke kantin deh Mei, minuman sama buah ini ajah enggak cukup.” ucap Leo.
“Iya kamu benar juga.” sahut Mei.
Setelah bekas luka mereka di tutup dengan kapas dan plester, mereka pun beranjak ke kantin.
Lalu Leo dengan sengaja, memegang bekas tusukan jarum Mei dengan tiba-tiba.
“Ayo Mei aku sudah lapar.” ucap Leo.
“Au! Tunggu Leo, jangan genggam pergelangan tangan ku.” Mei meringis kesakitan, akibatnya bekas tusukan jarum yang ada di pergelangannya mengeluarkan darah kembali.
“Maaf ya aku enggak sengaja, bentar ya aku ke kantin beli kapas dan plester baru.” ucap Leo, dengan langkah yang cepat.
__ADS_1
Beberapa saat Mei menunggu, Leo pun kembali dengan kapas, plester.
Leo pun membersihkan darah Mei dengan media kapas, lalu kapas-kapas bekas darah Mei, Leo masukkan ke dalam plastik kresek kecil.
Setelah itu, Leo menutup luka Mei dengan kapas dan plester baru.
“Tunggu ya, aku ke toilet dulu cuci tangan, duluan saja ke kantinnya.” ungkap Leo.
“Oke, kalau begitu.” sahut Mei, seraya meninggalkan Leo.
Leo, mengambil handphone dari sakunya, lalu membuka aplikasi pengiriman online ekspres.
Leo dengan buru-buru ke gerbang sekolah untuk memberikan sampel darah Mei kepada kurir, tujuannya adalah ke lab rumah sakit, tempat biasa bu Dita berobat.
Setelah selesai Leo kembali ke kantin, agar Mei tidak merasa curiga.
_____________________________________
Yalisa yang telah sampai ke lapangan di buat terkejut, karena tepat di sampingnya ada Riski yang akan di ambil darahnya juga.
Riski yang tengah duduk di atas kursi menyapa Yalisa yang berada di sampingnya.
“Apa kabar?” ucap Riski seraya memberi senyuman.
“Aku baik-baik saja.”
“Oh iya, enggak ada yang gangguin kamu kan beberapa hari ini?”
“Ada,” sahut Yalisa, membuat Riski mengernyit.
“Siapa?”
“Berarti Mei enggak ganggu dia sama sekali,” batin Riski.
Setelah beberapa saat, akhirnya kantong darah Riski dan Yalisa pun telah terisi penuh.
Sang petugas pun memberi plester ke bekas tusukan jarum yang ada di pergelangan tangan mereka berdua.
“Ayo ke kantin.” ajak Riski pada Yalisa yang sedikit terhuyung.
“Enggak ah.” sahut Yalisa yang berdirinya masih tidak stabil.
“Apa aku jadi kekurangan darah karena darah ku di keluarkan sekantong?” batin Yalisa, yang merasa pusing dan lemas.
Riski yang melihat kondisi Yalisa langsung memegang kedua bahu Yalisa.
“Ini pertama kali kamu donor darah ya?” tanya Riski pada Yalisa.
“Iya, rasanya jadi pusing dan lemas,” Yalisa memegang baju seragam Riski.
“Kalau begitu kita ke kantin buat makan sup kambing,” Riski pun memapah Yalisa perlahan-lahan menuju kantin.
Riski sangat khawatir ketika melihat kondisi wajah Yalisa yang sangat pucat.
“Pengen gendong, tapi entar malah bikin heboh satu sekolah.” batin Riski.
Saat Mereka berdua telah sampai di pintu masuk kantin, mata Riski langsung melihat Leo dan Mei yang tengah mengobrol di salah satu meja dalam kantin.
__ADS_1
“Cih, ngerusak suasana bangat mereka berdua.” batin Riski.
Yalisa pun mendongak pada Riski yang tidak melanjutkan langkah mereka.
“Kenapa kita berhenti?”
“Kita ke UKS saja,” saat Yalisa akan mengalihkan pandangannya ke dalam kantin, Riski langsung saja menutup wajah Yalisa dengan telapak tangannya yang lebar.
“Ayo, kamu perlu istirahat, kita makannya di uks saja!” seru Riski dengan masih memegang wajah Yalisa, agar Yalisa tak melihat kembali ke dalam kantin.
“Aneh bangat sih kamu, tadi ngajak ke kantin, sekarang malah bawa aku ke UKS, aku kan butuh nutrisi.” Yalisa jadi sedikit kesal pada sikap Riski yang plin-plan.
“Cerewet, lebih baik tutup mulut mu, makin banyak ngoceh, tenaga mu akan terforsir banyak.”
Tak terasa mereka berdua pun sampai di uks, saat itu tak ada siapapun di dalam ruangan, Riski tanpa permisi membantu Yalisa untuk tidur di atas ranjang.
“Kamu tunggu disini, aku ke kantin beli makanan buat kita, jangan kemana-mana,” ucap Riski.
“Iya bawel, buruan sana, aku lapar nih.” Yalisa memejamkan matanya karena pandangannya berkunang-kunang.
“Iya sayang,” gumam Riski.
“Aku dengar, sana pergi sebelum aku pingsan beneran.” ucap Yalisa.
Sebelum meninggalkan Yalisa sendirian, Riski menutupi ranjang Yalisa dengan gorden panjang yang melingkari ranjang.
Yalisa memiringkan posisi tidurnya, lalu tersenyum tipis mengingat ucapan Riski.
“Riski bodoh,” batin Yalisa.
Riski yang telah kembali ke uks membuka pelan gorden yang menutupi seluruh ranjang Yalisa.
Srekkkk...
Lalu ia mendapati Yalisa yang tengah tertidur pulas.
“Baru di tinggal 10 menit, dia udah tidur sepulas itu.” batin Riski.
Riski meletakkan beberapa makanan yang ia beli dari kantin di atas meja yang ada di samping ranjang Yalisa. Yaitu ada 2 kantong sup kambing yang terbungkus dalam plastik, 4 sari kacang hijau, 4 buah pisang cavendis, dan air mineral dua botol.
“Huh, aku bangunin sekarang, apa tunggu sampai bangun sendiri? Tapi entar sup nya jadi enggak enak kalau udah dingin.” gumam Riski, lalu Riski mengambil kursi untuk ia duduki.
“Yalisa, bangun Yalisa, hoi Yalisa bangun.” Riski terus saja memanggil nama Yalisa, seraya menekan-nekan hidung Yalisa dengan jari telunjuknya, namun Yalisa seperti batu besar, yang walau di terpah angin topan dan banjir bandang sekali pun, posisinya takkan tergeser sedikit pun.
“Oh iya aku lupa, diakan emang susah buat di bangunin kalau tidur,” batin Riski.
Riski yang ke habisan kesabaran menghantarkan wajahnya ke wajah Yalisa, lalu ia mengecup dahi Yalisa.
“Bangun sayang, kalau sup nya dingin rasanya enggak akan enak.” bisik Riski ke telinga Yalisa. Seketika Yalisa merasa merinding, suara Riski begitu menusuk ke telinganya.
“Sialan, pada hal aku cuma mau ngerjain dia bentar, enggak di sangka langsung main cium.” batin Yalisa.
Ia yang ternyata sudah bangun sejak Riski memanggil namanya jadi merasa sedikit canggung, Yalisa terpaksa pura-pura masih tidur, karena malu melihat wajah Riski.
“Heh, aku udah tau kamu kalau sudah bangun, kalau enggak mau bangun juga, aku bakalan tiduran sama kamu di ranjang.” ucap Riski, Yalisa yang tahu Riski pasti akan melakukannya, sealami mungkin pura-pura bangun.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram : @Saya_muchu