
Pukul 06:55, matahari pun telah menampakkan sinar indahnya.
Di bawah cahaya cerah itu sang gadis muda berjalan menampakkan kaki di trotoar jalan menuju ke sekolah.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, ia pun sampai ke tujuan.
“Baru juga sampai, tapi aku udah kebelet buang air kecil,” gumam Yalisa, ia pun bergegas menuju toilet terlebih dahulu.
Saat ia melewati kelas Leo, tak sengaja dari sudut ekor matanya ia melihat Leo sedang memeluk seorang wanita.
“Wah, mungkin itu calonnya,” batin Yalisa.
Karena ia sudah selesai dengan Leo, ia tak memperdulikan hal itu, Yalisa melanjutkan perjalanannya menuju toilet.
Hanya butuh beberapa menit untuk menunaikan hajatnya, Yalisa pun kini berjalan menuju kelasnya.
Ketika Yalisa akan melintas lagi dari kelas Leo, tiba-tiba Leo dan Mei keluar dari dalam ruangan tersebut.
Deg! Jantung Yalisa berdetak kencang, “Enggak salah nih?” ucap Yalisa dalam hati.
Namun Yalisa mencoba berfikir positif, mungkin Mei baru saja masuk ke dalam kelas Leo.
Mei dan Leo pun ternyata melihat kehadiran Yalisa yang datang dari arah toilet.
“Yalisa.” sapa Mei dengan wajah pucat.
“Loh Mei, kamu sakit?” Yalisa menyentuh dahi sahabatnya itu.
“Cuma kurang sehat sedikit kok,” terang Mei.
“Sedikit gimana sih Mei? Wajah mu pucat begini, harusnya enggak usah masuk sekolah,” ujar Yalisa dengan khawatir.
“Enggak apa-apa kok,” ucap Mei.
“Sejak kapan kamu sampai?” Yalisa mencoba memperjelas kecurigaannya.
“Sudah lama sih,”
“Apa? Sudah lama?” batin Mei.
Terlihat dengan sangat jelas, mimik penuh tanya di wajah Yalisa.
“Yalisa, sebenarnya aku mau bicarakan sesuatu sama kamu.” ucap Leo, namun Mei menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Mau bicara apa Leo? Hum?” tanya Yalisa.
“Gimana kalau kita ke dalam kelas saja ngomongnya, kayaknya itu lebih baik buat Mei.” ujar Leo, Yalisa pun menganggukkan kepala.
“Oke.” Mereka bertiga pun masuk ke dalam kelas Leo, saat Yalisa akan memapah Mei, Leo langsung mendahuluinya. Dan dengan hati-hati, Leo membantu Mei duduk di sebuah kursi.
Dari situ Yalisa pun sudah dapat menebak, hal apa yang akan di sampaikan oleh Leo.
Mei memegang erat tangan Leo, seperti belum siap, kalau kebenaran di antara mereka di ketahui oleh Yalisa.
Yalisa jelas melihat interaksi antara keduanya yang begitu aneh.
Namun Yalisa pura-pura tak mengerti apapun, karena ia ingin kejujuran di antara keduanya.
“Yalisa, mohon maaf sebelumnya kalau aku baru menyampaikan hal ini sekarang, aku mohon kamu memaafkan kesalahan ku, karena disini yang salah adalah aku.” belum selesai Leo menyampaikan barisan katanya, Yalisa sudah menyanggahnya.
“Kamu mau ngomong apa sih sebenarnya? Bilang dengan jelas.” ucap Yalisa yang berdiri di hadapan Leo.
“Calon istri ku yang sebenarnya adalah Mei, sahabat mu,” ucap Leo dengan menundukkan kepalanya.
Mei pun ikut menundukkan kepala, karena tak mampu menatap mata Yalisa secara langsung.
Yalisa menelan saliva nya, meski pun ia sudah tak ada cinta pada Leo, namun rasa kecewa tentu saja menyelimuti hatinya.
“Maafkan aku Yalisa, aku salah sudah mengkhianati kamu, dan sudah memisahkan kamu dengan Leo, maafkan aku, aku salah, aku pantas mendapat amukan mu, enggak, aku enggak pantas buat di maafkan, aku pantas di benci, kamu yang menganggap aku sebagai orang baik, malah menusuk mu dari belakang.” terang Mei dengan menangisi segala perbuatannya.
“Sebenarnya Mei enggak salah, akulah yang salah, aku yang memulai segalanya, dan kamu pun sudah tahu kronologinya Yalisa, dan aku mohon maaf sudah membohongi kamu selama ini, dan... aku dan Mei akan melangsungkan pernikahan setelah lulus sekolah, aku harap kamu merestui hubungan kami, tolong jangan benci Mei Lissah, kalau ada yang harus di benci, akulah orangnya.” terang Leo.
Mei terus menerus menangis, Yalisa sebenarnya sudah ikhlas dengan semuanya, namun yang ia sulit percaya adalah perempuan itu adalah Mei.
Lalu, Yalisa melepas genggaman tangannya Mei, kemudian ia mengelus rambut Mei dengan lembut.
“Iya, aku sudah memaafkan mu, dan mengikhlas kan hubungan mu dengan Leo.” Seketika Mei merasa lega, akan kemurahan hati Yalisa.
“Terimakasih banyak Yalisa,” ucap Mei dengan senyum bahagia.
“Tapi, kenapa kamu enggak jujur sedari awal pada ku? Dan kamu membuat ku seperti orang bodoh, curhat mengenai Leo pada mu, menangis menyedihkan di hadapan mu, apa kamu senang melihat ku begitu?” tanya Yalisa dengan tatapan mata tajam.
Mei langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bukan seperti itu, aku hanya takut merusak persahabatan kita,” ungkap Mei.
“Yalisa, tolong jangan marah, aku kan sudah bilang, kalau aku yang salah,” ujar Leo.
__ADS_1
“Aku enggak marah, dan aku juga benar-benar sudah ikhlas, tapi kenapa harus berbohong? Aku tahu pengorbanan yang sudah Mei lakukan, dan itu enggak ada apa-apanya dengan ku, tapi apa sesusah itu untuk jujur?!” pekik Yalisa.
Tanpa mereka sadari, sudah banyak orang yang menonton perdebatan mereka.
Zuco dan Marco pun tak ketinggalan menyaksikannya.
“Wah, bisa rame nih!” ujar Zuco.
“Sstttt... diam,” ucap Marco.
“Maaf.” hanya itu yang keluar dari mulut manis Mei dan Leo.
“Aku sudah bilang, aku sudah memaafkan kalian, tapi maafkan aku juga, kalau di hati ku masih tersisa rasa kecewa atas kebohongan kalian berdua,” terang Yalisa.
Saat Yalisa ingin menyampaikan lagi isi hatinya, tiba-tiba ada yang memegang pundaknya, ketika ia menoleh kebelakang, ternyata itu adalah Riski.
“Jangan hanya marah pada mereka, marahi aku juga, karena aku juga tahu hal ini tapi enggak kasih tahu kamu,” ucap Riski.
“Apa? Kamu juga ikutan?” ucap Yalisa tak percaya.
“Kalian anggap apa sih aku selama ini?”
“Dan aku juga turut ikut memisahkan mu dari Leo, agar aku bisa mendapatkan mu.” meski tahu Yalisa pasti akan marah besar, namun Riski merasa lega, karena tak ada kebohongan yang ia sembunyikan dari Yalisa.
“Kalian semua gila ya!” Yalisa yang bertambah kecewa keluar dari kelas Leo dengan wajah kesal.
Ia pun bergegas ke kelasnya, dengan perasaan campur aduk, saat akan sampai di pintu kelas, ia mendengar Zuco dan Marco bergosip.
“Wah, kayaknya kali ini bakalan parah deh, abis mereka bertiga bohong sih,” ucap Marco.
“Iya, apa lagi si Mei, rubah bangat, akhirnya ketahuan juga, aturan aku mau bilang ke Yalisa, tapi karena Riski larang, jadinya aku harus tutup mulut, kasihan juga sih Yalisa,” ungkap Zuco.
“Jadi hanya aku yang enggak tahu apa-apa?” batin Yalisa, dengan langkah yang kasar, Yalisa masuk ke dalam kelas, melintasi Zuco dan Marco.
Sekejap jantung keduanya hampir lepas dari tempatnya, karena melihat Yalisa lewat di hadapan mereka berdua.
“Ya Tuhan, tadi dia dengar enggak ya!” ungkap Zuco.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1