SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XVII (Debaran Part II)


__ADS_3

Mendengar perkataan dari ibunya Yalisa menjadi lemas, momen-momen yang dia impikan selama ini bisa jalan berdua dengan Leo seketika hilang begitu saja.


Bu Alisyah dengan keputusan yang bulat tak mengizinkan anaknya keluar rumah, ia pun mulai mendatangi Leo yang duduk di sofa sederhana berwarna coklat mereka.


“Nak Leo.” seketika omongan bu Alisyah terhenti saat melihat banyak barang belanjaan di ruang tamu mereka.


“Pada hal tadi ini semua enggak ada,” batin bu Alisyah.


“Oh iya tante, ini ada sedikit oleh-oleh dari Leo buat tante dan Yalisa.” ucap Leo seraya curi-curi pandang pada Yalisa yang begitu cantik dan imut malam itu.


Yalisa yang berdiri di samping ibunya merasa keheranan, saat ibu dan anak itu mencek apa yang di bawa Leo, ternyata isi adalah kebutuhan pokok.


“Ya ampun Leo, harusnya kamu enggak usah repot-repot bawa ini semua,” ucap Yalisa.


“Aku enggak merasa repot sama sekali kok,aku senang bisa melakukan ini semua buat tante dan kamu Yalisa,” ungkap Leo.


“Sebelumnya, terimakasih banyak nak Leo, tapi ini agak berlebihan menurut tante, kalau kamu mau datang main, datang saja nak, enggak usah bawa apa-apa, tante merasa enggak enak sama kamu kalau begini , pada hal cuma kamu teman Yalisa, tapi sikap mu seperti anak yang bertanggung jawab pada orang tuanya sendiri,” ucap bu Alisyah.


“Aku memang sudah menganggap tante seperti ibu ku sendiri kok,” ujar Leo.


“Apa?” ucap bu Alisyah dengan saling melihat satu sama lain dengan Yalisa.


“Ya Tuhan, anak ini pandai sekali mengambil hati orang lain, ya sudahlah apa boleh buat,” batin bu Alisyah.


Bu Alisyah tertawa dengan hati yang resah, karena terpaksa akan mengizinkan anaknya keluar dengan Leo berduaan saja.


“Tante, Leo minta izin buat bawa Yalisa nonton ke bioskop ya, nanti jam 22.00 pas, Leo bawa pulang lagi Yalisa ke rumah,” pinta Leo.


Hati Yalisa pun menjadi harap-harap cemas, takut tak di izinkan ibunya.


“Ya sudah, tapi kalian jangan berbuat yang aneh-aneh di luaran sana ya nak,” ujar bu Alisyah.


Mendengar ibunya memberi izin, seketika hati Yalisa berjoget ria.


“Yes, yes yes yes.... akhirnya,” batin Yalisa.


“Terimaksih banyak tante,” ucap Leo.


Dengan hati yang sangat gembira, Yalisa dan Leo berpamitan dan mulai berlalu dari hadapan bu Alisyah.


“Kamu bawa mobil ya?” tanya Yalisa.


“Iya, karena tadi bawa barang, jadinya harus bawa mobil,” terang Leo dengan raut wajah bahagia.

__ADS_1


“Oh... gitu ya?” ucap Yalisa.


Saat Yalisa akan membukakan pintu mobil, dengan sigap Leo mencegatnya.


“Bentar,” ucap Leo.


“Ada apa?” tanya Yalisa dengan keheranan.


Leo menarik pelan jemari kanan Yalisa dari handle pintu mobil, sentuhan fisik yang terjadi, membuat jantung keduanya berdebar kencang, Yalisa pun menoleh ke wajah Leo.


“Ya ampun, Leo ganteng bangat malam ini, jaket kulit hitam yang dia pakai juga cocok bangat buat dia, jadi makin ganteng,” batin Yalisa.


“Bi- biar aku yang buka pintu mobilnya,” ucap Leo dengan menghela nafas, setelah pintu terbuka, Leo mempersilahkan Yalisa masuk ke dalam mobil.


“Makasih ya, pada hal aku bisa sendiri lo.” terang Yalisa seraya melontarkan senyum manis pada Leo, Leo pun menutup kembali pintu mobil, dan bergegas masuk ke dalam mobil dari arah pintu kemudi.


“Kita berangkat ya.” ucap Leo sambil menyalakan mesin mobil, sebelum mobilnya melaju, Leo menekan klakson dan menundukkan kepalanya pada ibu Alisyah, kemudian mulai membelah jalan raya.


Dalam perjalanan keduanya hanya diam-diaman saja, karena ini adalah pertama kalinya bagi mereka berada dalam situasi tanpa ada dayang-dayang yang menemani.


“Aduh, aku harus ngomong apa ya sama Leo, masa kita berdua diam seribu bahasa gini?” Batin Yalisa.


“Kok jadi canggung begini ya? Yalisa juga cuma diam saja, paling bodohnya, aku juga enggak tahu mau ngomong apa sama dia, jadi blank begini,” batin Leo.


“Apa Leo enggak bisa ngomong kalau lagi menyetir ya? Tapi masa kita berdua begini sampai ke bioskop? Aku juga enggak tahu mau ngomong apa sama dia,” batin Yalisa.


Yalisa terus berfikir topik apa yang cocok untuk di bicarakan.


“Mmm... leo, kalau boleh tau kita mau nonton di bioskop mana?” ucap Yalisa dengan suara yang lembut.


“Akhirnya dia ngomong juga,” batin Leo.


“Bioskop jalan Buaya, sebelum jemput kamu tadi aku cari-cari dulu bioskop terbaik buat nonton, dapatnya yang ada disana, ratingnya juga 4.9,” ucap Leo.


“Berarti bagus bangat dong,” ujar Yalisa.


“Iya, review orang-orang di google juga positif semua, oh iya tadi juga aku lihat ada film horor yang baru release, kamu mau nonton film horor atau film romantis?” ucap Leo.


“Horor saja, karena aku suka bangat sama film horor,” sahut Yalisa.


“Yang benar saja kalau film romantis, bisa kaku entar kayak batu,” batin Yalisa.


“Pasti bersih ya tempatnya,” ucap Yalisa.

__ADS_1


“Iya, selain bersih banyak yang bilang bangku penontonnya nyaman, banyak juga pasangan yang memilih nonton disana,” ucap Leo seraya melihat ke arah jalan raya. Mendengar kata pasangan Yalisa menjadi salah tingkah dan senyum-senyum tak menentu.


Selang 30 menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga ke tempat tujuan, setelah memarkirkan mobil, Yalisa dan Leo masuk ke dalam bioskop.


“Kamu tunggu disini ya, aku beli tiket dulu.” ucap Leo menyuruh Yalisa duduk di sebuah sofa.


“Berdua saja,” ujar Yalisa.


“Enggak apa-apa aku saja.” terang Leo, yang kemudian berlalu dari hadapan Yalisa untuk membeli tiket, minuman dan popcorn, setelah selesai transaksi, Leo menghampiri Yalisa kembali.


“Ayo, film nya bentar lagi mulai,” ucap Leo.


“Aku bawa popcorn nya ya,” ujar Yalisa, mereka pun menuju studio II. Ketika telah memasuki studio alangkah kagetnya mereka melihat bangku yang begitu nyaman di hadapan mata.


“Anjim, ternyata ini namanya premiere class, semoga Yalisa enggak berburuk sangka pada ku,” batin Leo.



Ternyata di Premiere Class tempat duduk penonton bukanlah bangku, melainkan ranjang.


“Apa ini? Ini sih bukan bangku, tapi ranjang, ada sekatnya lagi ya ampun Leo, kamu bikin aku malu bangat, aku enggak tau harus lihat wajah kamu dari mana,” batin Yalisa.


Perlahan Leo dan Yalisa menuruni anak tangga menuju ranjang mereka, saat menyusuri anak tangga studio banyak sekali pasangan yang bermesraan, ada yang berpelukan sambil tiduran, ada juga yang beradu cumbuh.


“Kampr*t! Pemandangan macam apa ini? Mereka datang mau nonton film atau mau mesum sih?” batin Leo.


“Astaga, orang-orang ini kok enggak malu bermesraan di tempat umum, terlebih lagi aku malu bangat buat lihat Leo, enggak tahu mau taruh dimana muka ku,” batin Yalisa.


Saat keduanya telah sampai ke ranjang yang di tuju, mereka langsung duduk tegap bersila dengan menjaga jarak, nafas keduanya menjadi berat, jantung pun berdegup kencang, suasana panas itu membuat keduanya jadi serba salah.


“Maaf ya, aku enggak tau kalau tempatnya seperti ini, apa kita pulang saja? Atau kita ganti tempat?” Ucap Leo.


“Ah hahaha, enggak apa-apa kok, lagian kita sudah disini, dan juga enggak enak kalau harus ngelewatin orang-orang sekali lagi.” ujar Yalisa dengan sorot mata tak menentu.


“Semoga saja satu jam kedepan aku masih bisa hidup,” batin Yalisa.


“Buat dirimu senyaman mungkin.” ucap Leo sambil meraih satu persatu popcorn yang terletak di atas meja untuk di makan olehnya.


Bersambung....


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram :@saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2