SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXXXIX (Pergi)


__ADS_3

“Leo, dimana bu?” tanya Mei.


“Kamu masih panggil suami mu dengan sebutan nama?” ujar bu Dita.


“Memangnya kenapa bu?”


“Jangan dong, panggil dia abang, atau sayang, masa panggil nama sih?” ucap bu Dita menggoda menantunya.


“Apaan sih bu,” ia menjadi malu karena godaan mertuanya.


“Oh iya, dia ada di kamar kalian, tadi pas bangun nyari-nyari kamu, ingat ya, panggil sayang,” ujar bu Dita.


“I-iya bu, kalau begitu, Mei ke kamar sekarang ya bu, dan terimakasih sudah bantu kita mendaftar ke sana bu,” ucap Mei.


“Sama-sama sayang,”


Mei beranjak ke kamar, dan di sana ia melihat Leo yang sudah berpakaian rapi.


“Assalamu'alaikum sayang,” ucap Mei.


Sontak Leo memandang Mei yang berada dalam pintu.


Telinga Leo belum terbiasa mendengar kata sayang dari sang istri, namun ia mencoba meredam rasa groginya.


“Kamu dari mana saja?”


“Aku dari rumah.” ujar Mei seraya masuk ke dalam kamar.


“Oh ya?”


Lalu Mei melirik ke area ranjang, yang spray nya belum di ganti.


Lalu ia pun membuka spray yang menjadi saksi bisu percintaan mereka semalam.


“Maaf, aku enggak tahu itu harus di apakan, mau nyuci ke mesin cuci juga malu, karena ada ibu,” ucap Leo.


“I-iya, kalau begitu kita rendam di kamar mandi kita saja, kamu kalau enggak keberatan tolong ambil ember ke dapur ya sayang,” pinta Mei.


Lalu Leo pun segera mengambil ember lengkap dengan deterjen dan pemutih, selanjutnya ia menuju kamarnya.


“Biar aku saja yang rendam.” Leo meraih spray yang ada di tangan Mei.


“Jangan, aku saja,” ucap Mei, menahan spray itu tetap di tangannya.


“Jangan, aku saja, kamu pasti lelah.” terjadi tarik menarik antara keduanya.


“Aku enggak lelah, aku sekarang sudah menjadi istri mu, jadi biarkan urusan mencuci menjadi tugas ku.”


Leo melepas spray yang sedari tadi ia pegang.


“Apa masih sakit?” tanya Leo.


“Apa yang sakit?”


“Itu mu,” ucap Leo.


“Oh, tadi siang pas bangun sih iya, tapi sekarang hanya tinggal nyeri dan perih sedikit,” ujar Mei.


Saat Mei akan menuju kamar mandi, Leo menghadangnya.


“Ada apa?” tanya Mei.


Leo yang sudah merasakan nikmatnya surga dunia, mengecup bibir sang istri.

__ADS_1


“Apa kamu masih kuat?”


“Kamu mau lagi?”


“Iya sayang.” naluri pengantin Leo kembali memuncak, sebelum melakukan pengadukan semen, ia terlebih dahulu mengunci pintu kamar rapat-rapat, dan menyetel musik dengan kencang, agar tak ada yang mendengar aktivitas yang mereka lakukan.


_______________________________________________


Malam harinya, saat Riski membuka handphonenya, ia mendapat WhatsApp dari Zuco di group chat mereka bertiga.


📱 “Sudah tahu belum? Pak Aryo menghilang secara misterius, kata istrinya terakhir di rumah, ya pas waktu pernikahan Mei,” Zuco.


📱 “Ah, yang benar kamu!” Marco.


📱 “Iya bro, aku tahu juga dari tante ku, katanya sejak pamit dari pesta Mei, belum pulang ke rumahnya sampai sekarang, kemana ya kira-kira pak Aryo? Takutnya sih sama kayak pak Ari, menghilang tanpa jejak, sampai sekarang enggak ada beritanya,” Zuco.


📱 “Kok bisa ya?” Riski.


📱“Kurang tahu, tapi seram juga ya,” Zuco.


Riski yang mendapat berita itu sedikit kepikiran akan Mei. Ia curiga, kalau kali ini Mei jugalah pelakunya.


“Tapi terserah dia sih, kalau pun itu dia, enggak ada urusan sama sekali dengan ku,” gumam Riski.


_____________________________________________


Berita menghilangnya pak Aryo pun menjadi viral, baik di berita mau pun di media sosial.


Mei juga di datangi oleh kepolisian untuk di mintai keterangan, ia yang sangat professional dalam aksinya bersikap tenang, dan berhasil mengelabui penyidik.


______________________________________________


Satu minggu kemudian, Yalisa yang baru selesai memasak, langsung sarapan pagi.


“Coba aku telepon dia, bodoh amat kalau dia lagi sibuk,” batin Yalisa.


Ia pun mengaktifkan kembali handphonenya setelah ia nonaktifkan untuk mengisi daya semalaman.


Ketika handphonenya sudah menyala, ia mendapati 5 panggilan tak terjawab dari Riski.


“Hah! Dia miscall?” dengan sigap Yalisa mendial nomor Riski. Namun nomornya malah tak aktif.


Lalu saat Yalisa membuka status WhatsApp nya, ia melihat Zuco update status di bandara.


📱“ Mau kemana?” Yalisa.


Tak lama Zuco pun membalas.


📱 “Mengantar Riski ke bandara, kenapa handphone mu enggak aktif?” Zuco.


Yalisa yang sedang makan pun mendadak tak berselera.


📱 “Serius kamu?” Yalisa.


📱 “ Iya, dia berangkat pagi ini jam 10,” Zuco.


Sontak Yalisa menoleh ke jam dindingnya, yang menunjukkan pukul 09:30, segera ia menyudahi makannya, tanpa minum, ia buru-buru ke kamar mengambil tas, dengan masih memakai baju piyama bermotif kucing, Yalisa memesan ojek online, dan keluar dari rumahnya.


Setelah menunggu selama 3 menit, akhirnya ojeknya pun tiba.


“Buruan pak, ke bandara!” ucap Yalisa.


Semula sang driver membawa dengan santai, Yalisa yang tak sabar pun berteriak pada sang driver.

__ADS_1


“Ayo pak ngebut! Gas pol, saya lagi buru-buru!” sang driver pun menambah kecepatan motornya sampai pada batas maksimal.


Sementara Yalisa terus saja mendial nomor Riski yang tidak aktif sedari tadi.


Kemudian ia pun mendial nomor Zuco, saat tersambung.


📲 “Ha,” Zuco.


📲 “Cepat berikan pada Riski!” Yalisa.


Zuco pun sigap memberi pada kan telepon tersebut pada Riski.


📲 “Halo,” Riski.


📲 “Halo Ki, sayang! Aku mohon kamu jangan naik pesawat dulu sebelum aku datang, aku mohon, aku mau ketemu sama kamu!!!!” Yalisa.


Riski pun melihat jam keberangkatannya yang tersisa 15 menit lagi.


Sementara jarak dari rumah Yalisa ke bandara memakan waktu sekitar 40 menit.


📲 “Yalisa, aku mencintai mu, tunggu aku pulang ya,” Riski.


📲 “Iya!!!!! Aku pasti menunggu mu pulang!!! Hiks! Makanya jangan berangkat dulu, tunggu aku!!!” Yalisa.


Yalisa menangis, ia tak dapat membayangkan apabila tak dapat melihat wajah Riski sebelum pergi.


Sang driver yang mengerti akan situasi, semakin menambah kecepatan motornya.


Citt!!! Yalisa akhirnya tiba ke bandara, ia pun memberikan ongkos lebih pada sang driver.


Dengan air mata berderai, ia berlarian masuk bandara.


📲 “Ki..., Ki...,” Yalisa.


Namun suara Riski sudah tak terdengar lagi, saat ia melihat jam di handphonenya ternyata sudah menunjukkan pukul 10:05.


Tangisan Yalisa semakin menjadi-jadi, tak lama ia melihat Zuco dan Marco di pintu gate keberangkatan.


“Zuco mana Riski?!”


“Sudah masuk pesawat,” ucap Zuco.


Wajah Yalisa berubah menjadi cemberut, air matanya tak berhenti mengalir.


Ia pun berjongkok seraya menutup matanya, “Hiks... huah... Riski..., kenapa kamu pergi dengan cara begini?” ucap lirih Yalisa dengan tangis sesungukan.


Zuco menepuk-nepuk bahu Yalisa, “Sudahlah, jangan menangis begini,”


“Zuco, aku rindu Riski, kenapa dia harus berbuat begini? Pergi tanpa pamit? Hiks,”


“Nomor mu dari tadi malam enggak aktif, terus handphonenya juga lowbat, sudahlah Yalisa.” ucap Zuco yang sebenarnya ingin ikut menangis.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa untuk mampir ke karya yang lagi populer di bawah ini ya guys!!!



Sebuah tragedy memaksanya untuk menjadi istri pengganti dari tunangan kakaknya, Santi harus menghadapi pria cacat yang bersikap arogan terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2