SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XXII (Kuasa Riski)


__ADS_3

“Kalau enggak mau aku tinggal nih!” Bentak Yalisa.


“Aku bukan enggak mau, tapi aku susah gerak,” terang Riski dengan wajah kecutnya.


Yalisa menoleh ke belakang dan mulai meraih lengan kanan Riski, menariknya hingga jatuh ke punggung Yalisa.


Dengan susah payah Yalisa berusaha berdiri dengan memegang kedua tangan Riski yang melingkar di lehernya.


“Akhh....!”


Teriak Yalisa, hingga akhirnya mereka berdua berhasil berdiri.


“Kamu pegangan yang kuat ya di bahu ku.” ucap Yalisa, seraya mengangkat kaki jenjang Riski dengan kedua tangannya, untuk di tekan ke pinggangnya, dengan lutut yang gemetaran Yalisa mencoba melangkah sekuat tenaga.


“Buruan!! Ularnya terus mendesis tuh!”Desak Riski, dengan terus menoleh kebelakang, memastikan pergerakan sang Cobra.


“Kamu enggak lihat aku lagi berjuang, hah!” pekik Yalisa.


“Iya aku tahu, buruan kamu mau kita kena makan?” seru Riski dengan terus mendesak Yalisa.


Entah karena kuat atau ketakutan, Yalisa mampu berjalan cukup jauh dari posisi si ular Cobra dengan membawa beban 65 kg di punggungnya.


Brukk!!!


Yalisa dan Riski terjatuh ke tanah tepat pinggir jalan raya.


“Haah.... haah...”


Nafas yalisa memburu karena lelah, lalu Riski mencoba melihat ular yang mengejar mereka tadi, yang ternyata hanya diam di tempat.


“Sialan ularnya, bikin jantungan saja,” ucap ketus Riski.


“Ya lebih sialan kamu lah, berat bangat lagi!” Hardik Yalisa.


“Emang yang nyuruh buat gendong aku siapa?!”


“Kamu kan enggak mau di tinggal, makanya aku gendong!” bentak Yalisa dengan posisi duduk membelakangi Riski.


Seketika Riski terdiam mendengar ucapan Yalisa, lalu mulai menurunkan sorot matanya ke lengan Yalisa yang begitu banyak sayatan ilalang.


“Kasihan dia, karena aku dia jadi terluka,” batin Riski


Dengan rasa iba, Riski melingkarkan ke dua tangannya ke pinggang Yalisa dan mulai membenamkan wajahnya ke rambut Yalisa.


“Ngapain lagi kamu!” Yalisa yang sudah muak bertambah emosi


“Diam sebentar,” ujar Riski.


“Jangan peluk-peluk, kamu emang enggak bisa lihat situasi ya, lagi genting begini masih saja bisa bercanda,” ungkap Yalisa.


“Sudahlah jangan cerewet terus, harusnya kamu diam dan nikmati,” terang Riski yang semakin mengeratkan pelukannya.


“Hadeh, harusnya tadi aku biarkan saja kamu di gigit ular.” ucap Yalisa.


“Kalau aku mati, terus yang gangguin kamu tiap hari siapa?” ujar Riski.

__ADS_1


Saat nyaman-nyamannya memeluk Yalisa, mobil jemputan Riski tiba-tiba datang.


Pak Jamal dan pak Erwin keluar dari dalam mobil menghampiri Yalisa dan Riski


dengan setelan jas hitam dan celana hitam.


“Tuan baik-baik saja? Apa yang terjadi tuan?” Ucap pak Jamal


“Aku kecelakaan gara-gara teleponan, enggak lihat ada kucing nyebrang, beruntung kucingnya enggak apa-apa.” tutur Riski dengan masih memeluk Yalisa.


“umm.. pak, tolong Riski nya di bawa ke rumah sakit, karena cederanya lumayan parah.” ucap Yalisa seraya mencoba melonggarkan dekapan Riski.


“Siap non,” Sahut pak Jamal.


“Tadi pas aku butuh kalian, kalian malah enggak ada, sekarang pas aku lagi pelukan sama dia, kalian muncul tiba-tiba!” ucap kesal Riski karena waktunya dengan Yalisa terganggu.


“Maaf tuan, maaf atas kelalaian kami,” ucap pak Erwin.


“Ayo lepas, biarin mereka bantu kamu buat ke rumah sakit,” terang Yalisa seraya menggeliat.


“Aku enggak ke rumah sakit, aku langsung pulang ke rumah, di rumah akan ada dokter, kamu juga harus ikut aku pulang ke rumah ku, luka mu juga banyak, gimana pun kamu terluka karena aku,” terang Riski yang kini merasa bertanggung jawab pada Yalisa.


“Iya non, benar kata tuan, silahkan non ikut kita, nanti akan di obati juga.” ucap Pak Erwin.


“Terimakasih pak, tapi saya bisa obati sendiri kok.” Kemudian Riski memutar bola matanya ke arah mobil, seolah menyuruh supirnya untuk membawa paksa Yalisa masuk.


“Silahkan lewat sini non.” pak Jamal mencegat langkah Yalisa dengan berdiri tepat di depannya, yang akan pergi, dengan hati terpaksa Yalisa pun masuk ke dalam mobil Riski.


Lalu pak Erwin dan Jamal menggotong tubuh Riski masuk ke dalam mobil.


Setelah mereka semua sudah dalam mobil, pak Jamal menghidupkan mesin mobil dan mulai membelah jalan raya.


Handphone Yalisa kembali bergetar “Kok enggak di balas, kamu lagi sakit ya?” 📱 Mei.


“Aku lagi antar orang yang kecelakaan ke rumahnya,” 📱Yalisa.


“Hah? Siapa yang kecelakaan?”📱 Mei.


“Nanti aku ceritakan ya,” 📱Yalisa.


“Ya sudah, nanti kamu photo saja orang yang kecelakaan itu, takutnya kamu di kira bohong sama guru-guru,” 📱Mei.


“Oke,” 📱 Yalisa.


Riski yang berada di sebelah Yalisa memperhatikannya yang terus berkirim pesan.


“Pesan dari siapa?” tanya Riski penasaran.


“Dari Mei,” jawab Yalisa.


“Oh... Udah, stop chattingan nya, enggak sopan tahu main handphone kalau lagi sama orang lain,” Ucap Riski.


Yalisa menyunggingkan bibirnya dan memutar mata malas.


“Ini semua kan karena kamu,” batin Yalisa.

__ADS_1


Setelah 40 menit dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di kediaman keluarga Riski, terlihat dari luar gerbang rumah mewah berlantai 3, lalu pagar yang menjulang tinggi otomatis terbuka mempersilahkan mereka masuk, halaman yang luas dengan rumput hijau memanjakan mata membuat nyaman hati Yalisa.


“Ya ampun rumah Riski mewah bangat, pekarangannya juga luas, berapa hektar ya kira-kira?” Ternyata yang di bilang Mei benar kalau Riski itu anak orang kaya,” batin Yalisa.


“Silahkan nona.” ucap Jamal, menyuruh Yalisa untuk turun dari dalam mobil, Yalisa terkejut dia tidak sadar kalau mobil telah berhenti.


Riski mendecak “Ck, enggak ada bedanya ya sama yang lain, baru lihat rumah segini udah pangling.” ucap Riski seraya menggeleng-gelengkan kepala.


“Sialan, ternyata dia perhatiin aku dari tadi,” batin Yalisa.


Dengan perasaan malu, Yalisa keluar dari dalam mobil, di pintu utama 2 wanita muda berparas cantik telah menunggu ke datangan Riski dengan memegang 2 kursi Roda.


Pak Jamal dan pak Erwin membantu Riski untuk duduk ke kursi roda.


“Silahkan tuan, dokter juga sudah menunggu di kamar tuan,” ucap Lena ART Riski.


“Baik, tolong nona Yalisa juga di bantu untuk ke kamar ku,” titah Riski.


“Ayo, silahkan nona,” ucap Dahlia.


“Saya bisa jalan kok kak.” terang Yalisa Yalisa dengan senyum canggungnya.


“Silahkan nona, ini adalah permintaan tuan.” ujar lembut Dahlia.


Karena tak enak dan takut menyulitkan posisi Dahlia, Yalisa pun menurut. Mereka pun menuju kamar Riski yang terletak di lantai 2 dengan menggunakan lift.


“Oh my God, ini rumah atau hotel ada lift nya juga,” batin Yalisa.


Tak beberapa lama mereka pun sampai di lantai 2, dan bergegas menuju kamar Riski.


Setelah berjalan sebentar, akhirnya sampai juga ke kamar Riski, saat pintu kamar di buka, Yalisa kembali merasa takjub, kamar Riski begitu rapi wangi dan luas, lebih luas dari rumah Yalisa.


“Sudah datang?” ucap Rendy sang dokter keluarga Riski.


Kemudian 2 sopir Riski membaringkannya ke atas ranjang.


“Iya dok, tangan dan kaki ku terkilir” terang Riski.


Dokter Rendy pun memberikan penanganan pada Riski mencek seberapa parah cedera Riski.


“Syukurlah tidak terlalu parah, ini cuma terkilir biasa, istirahat beberapa hari juga akan sembuh, nanti kamu minum obat yang saya kasih ya.” lalu dokter Rendy membersihkan kaki dan tangan Riski pakai alkohol, setelah itu membalutnya dengan perban elastis.


Dokter Rendy juga meminta asistennya untuk membersihkan luka di wajah Riski dengan alkohol, setelah itu mengoleskan krim di area yang terluka agar cepat sembuh dan tak berbekas.


Setelah selesai, Riski melihat ke arah Yalisa yang masih duduk di kursi roda.


“Oh iya, aku lupa lagi sama dia,” batin Riski.


“Kalian pada ngapain sih? Sia juga terluka, kalian enggak lihat?” terang Riski.


Asisten dokter Rendy pun dengan segera, membersihkan dan mengobati luka Yalisa dengan sigap sampai selesai.


“Terima kasih sust,” ucap Yalisa.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN VOTE DAN TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2