
Tak terasa waktu ujian pun selesai, semua siswa siswi yang ada dalam ruangan di persilahkan meninggalkan tempat.
Yalisa yang baru saja mendapat bantuan saat ujian pun melempar senyuman lebar pada sang pacar.
“Enggak usah senyum-senyum, persiapkan mental mu untuk ujian selanjutnya.” ujar Riski.
“Makasih banyak ya Ki, berkat kamu aku selamat, tapi Ki, dalam sekejap kamu jadi pintar ya?” Riski melirik Yalisa dengan tatapan tak suka, karena dirinya di pandang sebelah mata.
“Kamu enggak tahu ya? Kalau sebenarnya aku ini pintar? Waktu SMP aku juara umum sampai kelas 2.” terang Riski dengan bangganya.
“Terus, setelah itu kamu juara berapa?” Yalisa penasaran karena Riski hanya berkata sampai kelas 2.
“Aku tetap juara 1.”
“Wah hebat!” seru Yalisa.
“Tapi dari belakang.” terang Riski seraya membuka buku catatannya.
“Kok bisa?”
Riski enggan menceritakan sebabnya, karena itu menyangkut perihal masalah keluarganya, yang menurutnya itu adalah sebuah aib yang sangat memalukan.
“Kamu enggak perlu tahu soal itu, lebih baik kamu buka mu, belajar lagi, karena aku enggak mau dengar atau tahu kamu hitung kancing baju lagi.”
“Ha? Kamu tahu?” Yalisa tak percaya Riski mengetahui tindakan konyolnya.
“Buka buku mu sekarang! 10 menit lagi ujian akan di mulai!” Riski menghardik Yalisa yang susah di beritahu.
“Iya-iya.” Yalisa pun segera membuka bukunya, dan membaca-baca kembali pelajaran yang pernah mereka pelajari.
10 menit kemudian bel sekolah berbunyi, tanda ujian kedua akan di mulai, semua siswa-siswi kembali memasuki ruangan.
Setelah kertas soal dan jawaban di bagi oleh guru pengawas mereka pun segera mengerjakan soal sebelum waktu habis.
Di 25 menit terakhir, Riski telah selesai mengerjakan semua soalnya, ia menggunakan telinganya dengan seksama untuk mendengar, apakah manusia terindah yang ada di belakangnya saat ini sedang menghitung kancing baju atau tidak.
Setelah beberapa saat Riski memastikan, ternyata Yalisa tak melakukannya.
“Baguslah, ku harap dia sukses mengerjakan soalnya.” batin Riski.
Namun entah mengapa hatinya tak tenang, takut kalau jawaban Yalisa akan banyak yang salah.
Awalnya Riski tak mau memberi contekan, namun di waktu yang akan segera habis, ia masih mendengar suara goresan pena Yalisa di selembar kertas yang di berikan oleh guru pengawas sebagai media untuk menghitung.
“Uh! Bikin kepikiran saja.” batin Riski, lalu ia pun memutuskan untuk menulis semua jawaban yang ia kerjakan di sisa kertas kosong yang di bagikan oleh guru pengawas mereka.
Dengan sangat hati-hati Riski memberikan jawaban yang ia tulis pada Yalisa.
__ADS_1
Yalisa pun segera menimpa kertas pemberian Riski dengan lembar soalnya.
Karena Yalisa sangat berpengalaman soal menyelipkan contekan saat ujian, ia pun tak kesulitan untuk menyalin jawaban yang Riski berikan.
Begitulah seterusnya, di mata ujian fisika selanjutnya pun, Riski membantu Yalisa untuk menjawab semua soal-soal yang sekolah berikan.
Tett!! Tett!! Tett!! Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi.
Semua orang berhamburan keluar kelas, Yalisa yang berniat langsung pulang ke rumah di cegat oleh Riski.
“Mau kemana?” tanya Riski seraya menggenggam tangan Yalisa di keramaian, yang membuat banyak orang memperhatikan mereka.
“Mau pulanglah.” Yalisa mencoba melepaskan genggaman tangan Riski.
“Enggak bisa, ayo ikut aku ke kafe, kita belajar bareng, aku enggak mau besok bantu kamu lagi, kamu harus mandiri.” Riski menuntun tangan Yalisa menuju parkiran.
“Tapi aku kan enggak bawa buku pelajaran yang mau di ujian kan besok?”
“Tenang, Jamal akan antar ke kafe.” Yalisa yang tak dapat menolak pun akhirnya mengikuti kemauan Riski.
Di parkiran Leo melihat Yalisa dan Riski yang sudah berada di atas motor, ingin sekali rasanya ia menyapa Yalisa, namun semua itu harus gugur, tatkala ia melihat Mei menghampiri Yalisa dan Riski.
“Mau kemana?” Mei bertanya pada Riski dan Yalisa yang sebentar lagi akan tancap gas.
“Mau kencan!” terang Riski seraya melajukan motornya, pada hal Yalisa belum sempat berpamitan pada Mai.
Leo yang mendengar perkataan Riski menjadi tak tenang, hatinya gelisah tak menentu.
Kemudian Mei yang melihat Leo pun bergegas menghampiri calon suaminya itu.
“Antar aku pulang.” pinta Mei.
“Apa?” Leo mengernyit, ia yang tak ingin di ganggu menolak permintaan Mei.
“Pulang saja sendiri, aku sibuk.” namun Mei yang keras kepala tak memberikan jalan pada Leo yang akan segera melaju.
“Aku ikut ya, antar aku pulang.” Mei merengek dengan manjanya.
“Minggir, aku cape.” Leo yang cemas akan Yalisa membuatnya tak dapat bersikap baik pada Mei saat ini.
“Aku ikut, ya ya ya! kalau enggak, aku ke rumah mu saja, soalnya aku kangen tante,”
“Bisa minggir enggak? Kalau enggak, aku tabrak sekarang! Susah bangat sih di bilangin! Jangan ngatur-ngatur deh!” hardikan Leo begitu kencang, beruntung saat itu di parkiran sudah tak ada orang saat Mei melihat ke sekelilingnya.
Dengan menahan perasaan nyeri di hatinya, Mei akhirnya memberikan Leo jalan untuk lewat.
“Bagus! Kalau kamu masih keras kepala tadi, beneran aku tabrak, kematian mu akan membawa ku kembali dengan Yalisa.”
__ADS_1
Brumm!!!
Tanpa belas kasih, Leo meninggalkan Mei sendirian di parkiran, pada hal hari itu Mei sengaja tidak di jemput supirnya, agar ia memiliki kesempatan berboncengan dengan Leo.
Mei menatap punggung Leo yang kini semakin hilang dari pandangannya, dengan perasaan lesu, ia keluar parkiran dengan berjalan kaki, hatinya kesal tak menentu.
Pada hal saat ini ia sangat membutuhkan seseorang, bukan untuk tempat bercerita tentang masalahnya, melainkan untuk menemani kesepiannya saja.
Mei memang tipikal orang yang tak mau berbagi kesedihannya, untuk melepas beban yang ada dalam hatinya, cukup dengan ada seseorang yang menemaninya makan atau sebagainya.
Namun kini, satu pun tak ada yang bersedia, orang tuanya sibuk menjauh, Yalisa sibuk dengan kebahagiannya, sedang Leo sibuk dengan masalah hatinya.
Tiba-tiba Mei menghentikan langkahnya di tengah lapangan sekolah, perlahan ia berjongkok, melipat kedua tangannya dan menyandarkan dahinya di lipatan tangannya tersebut.
“Aku juga ingin seperti Yalisa, walau tak kaya namun ia bahagia, banyak orang yang mencintainya, aku cuma minta 1 Tuhan, berikan Leo pada ku, gerakkan hatinya untuk melihat k, ku mohon ya Allah.” ucap Mei dengan menitihkan air matanya.
Saat Mei masih dalam posisi itu, ternyata dari kejauhan Zuco dan Marco memperhatikan aksi Mei.
“Apa dia nangis?” tanya Marco ke Zuco.
“Kayaknya, beruntung cuma kita yang lihat.” ujar Zuco.
“Ih, seram si Leo, tadi dia ngomongnya kasar bangat sama Mei, pada hal Mei kan calon istrinya.” terang Zuco, yang ternyata saat Leo dan Mei adu bicara, mereka berdua ada di parkiran juga, yang berencana akan membuat konten toktok, namun Mei tak melihat, karena keduanya bersembunyi di balik barisan mobil para guru, setelah mendengar hardikan Leo.
Mereka memutuskan untuk mengikuti Mei ke lapangan dengan berjalan kaki juga, karena tak tega melihat raut wajah Mei yang begitu sedih.
Ingin menyapa, namun mereka takut Mei malu, kalau ada orang lain yang menyaksikan sikap kasar Leo padanya.
Setelah merasa cukup meratapi nasibnya, Mei mengangkat kepalanya.
“Ahahaha!” ia tertawa keras seraya melap air mata dengan kedua tangannya.
Zuco dan Marco di buat bingung akan perubahan suasana hati Mei.
“Apa itu tawa kekecewaan?” ucap Marco seraya menatap aneh ke arah Zuco.
“Bisa jadi, sebab ada orang yang tertawa karena bahagia, ada juga karena kecewa, mungkin kali ini Mei yang kedua, sungguh naas nasibnya, harusnya ia cari suami yang lain saja, memangnya menikah tanpa cinta akan membuat bahagia? Ku rasa pernikahan mereka akan membawa petaka untuk Mei sendiri nantinya.” terang Zuco panjang lebar.
“Bukannya waktu bisa merubah segalanya? Contohnya Riski dengan Yalisa?”
“Waktu memang bisa merubah segalanya, tapi proses lah yang menentukan, sanggup tidak melewati ujian, sebelum yang di katakan indah pada waktunya itu di dapatkan.” kali ini Marco di buat kagum akan ke romantismean Zuco.
“Berarti, memaksakan takdir memang enggak baik ya, harusnya Mei lebih ikhlas, agar hatinya bahagia.” ujar Marco, setelah Mei hilang dari pandangan mereka, mereka pun memutuskan. untuk kembali lagi ke parkiran.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu
Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.