
“Kamu kurus kering begitu masih diet?” ujar Riski tak percaya.
“Iya benar, yang ada kamu harus nambah berat badan Yalisa.” ujar Zuco.
“Apa benar aku sekurus itu?” ucap Yalisa dengan mimik wajah tak percaya.
“Jangan di tanya lagi bodoh!” pekik Marco.
“Lagian ngapain diet sih.” terang Zuco.
“Aku mau glow up dan good looking, biar dia menyesal telah meninggalkan aku.” ucapan Yalisa, yang membuat mereka berempat tersedak.
Dimana saat itu Mei dan Marco sedang minum, Zuco sedang mengunyah satenya, sedang Riski sedang menyeruput kuah baksonya.
Uhuk uhuk uhuk uhuk! ke empatnya pun mendadak batuk.
“Kalian enggak apa-apa?” Yalisa seketika panik melihat teman-temannya batuk-batuk.
“Jadi ini semua karena Leo? Uhuk uhuk uhuk!” ucap Zuco yang masih batuk.
Setelah beberapa saat, akhirnya batuk mereka pun reda juga.
“Hampir saja kita mati karena tersedak.” ucap Marco.
“Iya Mar, pada hal secuil bakso pun belum masuk ke perut ku.” lanjut Riski seraya mengaduk-aduk kuah baksonya.
“Cuma karena Leo kamu begini?” tanya Zuco dengan mata membelalak.
Plak! Zuco menampar betisnya sendiri, ia tak percaya ada wanita rela menyiksa diri demi seorang pria.
“Gila sih kamu, dia ninggalin kamu gara-gara wanita lain ya?” tanya Zuco lagi, kemudian Yalisa pun mengangguk.
Mei yang merasa mulai tak nyaman berencana ingin pergi dari sana.
“Wah! Aku fikir anak itu cowok baik-baik, nyatanya pemain juga, tenang Yalisa, kan sudah ada Riski.”
Sontak Riski mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jadi, lupakan si cowok berengse* itu, tapi... kamu kenal enggak sama ceweknya?” tanya Zuco lagi. Yalisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Teman-teman aku mau ke toilet dulu ya.” ucap Mei, saat Mei akan berdiri dari duduknya, tiba-tiba Marco yang ada di sampingnya menahan bahu Mei.
“Tunggu dulu, kamu enggak kasihan apa sama sahabat mu yang lagi patah hati ini?” ungkap Marco, akhirnya mau tidak mau, Mei pun duduk kembali.
“Kalau aku jadi kamu Yalisa, jangan sempat aku ketemu PHO (Perusak Hubungan Orang) itu, aku sentil jantungnya pake martil, benarkan Mei?” terang Marco seraya melihat ke wajah Mei .
Sontak Mei menelan saliva nya, sedang Riski hanya senyum-senyum, ia merasa lucu melihat ketiganya mencibir wanita PHO yang ternyata ada di samping mereka saat ini.
“Itu kejam bangat lah kalau di sentil pake martil.” ungkap Zuco.
“Ha? Terus di apain dong? Si cewek itu saja enggak mikir, buat merebut orang yang kita cintai.” ucap Marco.
“Yang lebih pas, ya di kubur hidup-hidup sama si cowoknya juga.” ujar Zuco.
__ADS_1
Riski yang melihat kondisi wajah Mei menjadi merah, langsung melerai teman-temanya.
“Sudah-sudah, berhenti menggosipkan orang lain, kalian kan enggak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi jangan begitu mudah, mencela, mencibir dan membuat opini, perlu kalian tahu, Allah itu enggak pernah salah dalam memutuskan suatu hal, termasuk perpisahan antara Leo dan Yalisa.”
Mereka berempat yang mendengar ceramah singkat Riski langsung merapatkan bibirnya masing-masing.
“Yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik di mata Allah, jadi biarlah Tuhan yang menilai, mana yang baik mana pula yang buruk.” terang Riski lebih lanjut.
“Apa pendapat ku dan Allah itu sama ya?” batin Mei.
“Tapi Ki, bukannya kamu sama saja dengan kita? Kamu juga kan suka mencibir, menggiring opini, membuat ujaran kebencian, bahkan...., membully orang lain.” terang Marco yang menurutnya Riski harus sadar diri juga.
“Ehem hem...” seketika di tenggorokan Riski seperti ada sesuatu yang menyangkut.
“Benar bangat, korban hidupnya masih disini nih.” lanjut Zuco seraya memegang pundak Yalisa.
“Benar bangat.” sahut Yalisa.
Riski yang sadar akan kesalahannya langsung mendudukkan kepala seraya berkata.
“Maaf, aku sudah salah selama ini, aku tahu perbuatan ku teramat menyakiti mu, aku benar-benar menyesal.” ucap Riski dari hatinya yang paling dalam, kemudian ia pun memegang punggung tangan Yalisa.
“Untuk itu, biarkan aku mengobati luka yang ada di hati mu.” untuk sesaat mereka terharu mendengar permintaan maaf tulus Riski, tapi semua sirna saat mereka tahu ada udang di balik bakwan.
Keempatnya pun geleng-geleng kepala, tak habis fikir, bisa-bisanya Riski menggombal di saat yang tidak tepat.
“Selalu saja, mengejutkan.” ungkap Yalisa seraya menarik tangannya dari genggaman Riski.
“Aku duluan ke kelas kalau begitu.” ujar Mei.
“Kenapa enggak sama-sama?” tanya Yalisa yang sedang mengunyah rotinya.
“Aku cape, mau tidur di atas meja.” terang Mei.
“Oke.” ucap Yalisa seraya mengangkat jempolnya.
Kemudian Mei berlalu dari hadapan mereka berempat.
Saat Mei sedang berjalan di koridor, tak sengaja ia berpapasan dengan Leo.
Mata mereka bertemu, yang membuat jantung Mei berdebar-debar.
Deg deg deg deg!
“Bisa bicara sebentar?” ucap Leo pada Mei.
“Bisa.” sahut Mei.
Lalu mereka berdua pun memilih taman sebagai tempat mengobrol.
Sesampainya mereka di taman, Leo dan Mei pun duduk di sebuah kursi besi panjang yang cukup di duduki oleh dua orang.
“Mau ngomong apa?” tanya Mei seraya melihat wajah Leo.
__ADS_1
“Kata ibu, nanti pulang sekolah kamu di bawa ke rumah.”
“Buat apa?”
“Kalian mau ke mall, buat beli gaun tunangan.” terang Leo.
“Oh, oke.”
“Mei, tolong dong, bantu buat bicara sama ibu, tunangannya antar keluarga saja.” pinta Leo dengan penuh harap.
“Oke, tapi ada syaratnya.”
“Syarat? Syarat apa yang kamu minta?”
“Kamu....., harus cium aku.” ungkap Mei.
“Apa?” Leo mengernyit.
“Disini.” Mei menaruh jari telunjuknya ke bibirnya.
“Kamu gila ya!” pekik Leo dengan rasa kesal, merasa kelemahannya di manfaatkan.
“Oh, kalau itu enggak mau, gimana kalau kita kencan, satu hari juga boleh.” Mei memberi pilihan lain.
“Hufff...” Leo mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya.
“Aku fikir kamu masih ingat Mei, kalau aku enggak akan pernah suka sama kamu.”
“Aku enggak perduli, kalau kamu menolak, aku enggak akan bantu, ku rasa sore nanti undangan akan di sebar.” terang Mei.
Leo dengan menahan kekesalan dalam hatinya pun berkata. “Baik, aku akan cium mu di tempat itu.”
“Oh iya?” seketika Mei menjadi girang.
Lalu Leo menatap tajam ke arah Mei, yang membuat Mei grogi.
“A-ada apa?” tanya Mei gelagapan.
Lalu Leo mendekatkan bibirnya ke bibir Mei, Mei yang tak ada persiapan menjadi salah tingkah.
Karena merasa malu, Mei pun memejamkan matanya.
Namun lama di tunggu, bibir Leo tak kunjung mendarat ke bibirnya.
❤️
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Jangan lupa mampir juga ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1