SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXVIII (Menyerah)


__ADS_3

“Baiklah, saya akan memenuhi permintaan mu, mereka berdua akan di keluarkan dari sekolah,” ucap pak Aryo.


Yovi dan Yuna yang menerima keputusan itu langsung memohon-mohon kepada pak Aryo, agar keduanya tidak di keluarkan, mengingat sebentar lagi akan ujian nasional.


“Pak, tolong pak, saya jangan di keluarkan pak, saya mohon, apapun akan saya lakukan, hiks hiks.” ucap Yovi dengan meneteskan air mata.


“Saya juga jangan di keluarkan ya pak, saya akan berkelakuan baik mulai dari sekarang, tolong pak, jangan keluarkan saya.” Yuna berlutut seraya memeluk kaki pak Aryo.


Riski dan Mei yang melihat itu tak iba sama sekali, begitu pula dengan pak Aryo dan pak Roni.


“Memangnya kalian siapa? Kenapa saya harus melakukan hal yang tidak berguna untuk orang yang tidak bermanfaat seperti kalian? Saya tidak perduli siapa yang benar dan salah, yang paling penting adalah uang,” batin pak Aryo.


“Ya sudah, Riski kamu serahkan saja urusan ini sama bapak, kalian boleh kembali ke kelas,” ujar pak Aryo.


“Baik pak, terimakasih banyak.” ucap Riski dan Mei, mereka pun keluar bersama dari dalam ruangan pak Aryo.


Setelah Riski dan Mei keluar dari ruangan pak Aryo Riski bertanya pada Mei.


“Yang bawa Yalisa ke rumah sakit cuma Marco dan Zuco?”


“Bukan,”


“Terus?”


“Leo,” jawab Mei.


“Apa? Kok kamu biarin Leo yang bawa Yalisa?”


“Aku bisa buat apa? Dia dan kamu sama hebohnya,” ucap Mei.


“Ya sudahlah, aku mau ke rumah sakit, terserah kamu mau ikut apa enggak.” Riski pun bergegas menuju parkiran.


Awalnya Mei enggan untuk ikut, namun karena ia penasaran apa yang Leo lakukan di rumah sakit, ia pun menyusul Riski ke parkiran.


“Katanya enggak mau ikut,”


“Tutup mulut mu.” pekik Mei seraya naik ke atas motor Riski.

__ADS_1


Mereka berdua pun berangkat bersama menuju rumah sakit. Selang 15 menit akhirnya mereka sampai ke tujuan.


Riski buru-buru menuju ke ruangan Yalisa yang sebelumnya telah di beritahu oleh Zuco.


Saat Riski telah sampai di depan pintu ruangan, ia ragu untuk masuk, karena ia merasa bersalah, kalau saja berita putusnya tidak tersebar, mungkin Yalisa akan baik-baik saja.


“Ayo masuk.” ujar Mei, dengan berat hati Riski pun masuk ke dalam ruang rawat Yalisa.


Saat mereka membuka pintu, di dalam hanya ada Leo duduk di sebelah ranjang Yalisa yang tengah tidur.


Wajah Leo nampak cemas, Leo juga menggenggam erat tangan Yalisa, yang membuat Mei sakit hati.


“Sebegitu cintanya kah sama Yalisa?” batin Mei.


Riski mendekat, dan memegang bahu Leo, sontak Leo mendongak.


“Kalian sudah datang?” ucap Leo.


“Iya, terimakasih sudah menjaga Yalisa, sekarang kamu bisa pulang,” ujar Riski.


Leo melepaskan genggaman tangannya dari Yalisa, kemudian bangkit dari duduknya, saat ia akan keluar, ia melihat Mei berdiri di depan pintu dengan wajah yang bersedih.


Setelah mereka keluar keduanya duduk di kursi tunggu, dan Leo mengutarakan permohonan maaf pada Mei.


“Maaf, kalau aku sudah menyakiti hati mu Mei.” Mei yang merasa sakit di dadanya tak dapat membendung air matanya.


“Secinta itukah kamu sama dia?” Leo yang jujur pun tak mau berbohong pada Mei.


“Iya, sampai sekarang masih cinta, tapi aku sadar, kami bukan yang terbaik untuk satu sama lain, aku telah gagal melindungi dia, dan sekarang malah melukai perasaan mu,” terang Leo.


“Kalau kamu memang masih mencintai dia, dan enggak bisa melupakan dia, aku menyerah, aku tidak akan memaksa mu lagi untuk menjadi suami ku.” ungkap Mei, kali ini Mei tak dapat menipu perasaannya lagi, dia benar-benar sadar bahwasanya cinta itu tidak dapat di paksakan.


“Aku menyerah, ternyata tak ada bahagia untuk ku di dunia ini, aku terima ya Tuhan, kalau memang ini yang terbaik untuk ku,” batin Mei.


“Apa kamu yakin?” tanya Leo.


“Iya, kejarlah cinta mu, dan perlu kamu tahu, Yalisa dan Riski sudah putus, ini adalah kesempatan bagus untuk mu, maaf kan aku selama ini sudah hadir sebagai pengacau di antara kalian.” Meski tak ikhlas melepas Leo, tapi Mei harus berbesar hati, bagaimana pun juga, ia tak dapat mengendalikan apa yang ia inginkan.

__ADS_1


Leo terdiam, karena tak menyangka Mei akan melepaskannya begitu saja. Tapi bagaimana pun juga, ini adalah kesempatannya untuk kembali lagi pada Yalisa, terlebih Yalisa juga sudah putus dari Riski.


“Terimakasih banyak Mei, maafkan juga atas kesalahan ku selama ini.” ucap Leo, seraya menjabat tangan Mei, Mei dengan air matanya hanya mengangguk pilu.


Zuco dan Marco ternyata bersembunyi di tikungan ruangan, dan mendengar percakapan haru antara keduanya.


Mereka pun makin pusing antara cinta segi empat teman-teman mereka.


“Mei dan Leo juga sudah putus, apa Riski juga akan merelakan Yalisa balikan lagi sama Leo?” tanya Zuco pada Marco.


“Kalau sampai di ikhlasin sih, luar biasa sekali,” ujar Marco.


“Tapikan Riski sudah punya Felicia,” ucap Zuco.


“Apa sih, Felicia kan cuma sebagai pelampiasan biar Yalisa cemburu,” terang Marco.


“Ribet bangat sih hidup mereka, eh, tapi mau taruhan enggak, aku sih feeling nya, Riski dan Yalisa akan baikan,” ucap Zuco.


“Ngajak taruhan lagi, taruhan apa kita, ayo!” seru Marco.


“Uang, 500.000,” ucap Zuco.


“Oke, kalau aku, Yalisa dan Riski akan tetap putus, ucap Marco.


“Oke deal ya!” seru Zuco, seraya berjabat tangan dengan Marco.


Riski yang berada dalam ruangan bersama Yalisa teramat menyesal dan sedih, ia yang biasanya tegar kini menjadi rapuh, tanpa ia sadari air matanya menetes.


“Maafkan aku, aku memang enggak becus, pada hal aku sudah berjanji buat jaga kamu waktu itu, sekarang kamu yang sebatang kara, harus kembali menerima perlakuan tak adil dari orang-orang yang tak berperasaan.” ucap Riski seraya mencium punggung tangan Yalisa.


“Bangun sayang, maaf atas kecerobohan ku, ini semua salah ku.” Leo yang mengintip dari kaca pintu dapat melihat dan merasakan kalau perasaan Riski begitu tulus pada Yalisa.


Mei yang merasa kehadirannya disana tidak di perlukan memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


“Aku pantas mendapatkan ini semua, pada hal Yalisa adalah sahabat ku, teman baik ku dari pertama kali masuk sekolah, dia juga tak pernah menyakiti ku, ibunya juga sudah menganggap aku seperti anak, tapi aku sangat bodoh, hanya karena cinta buta ku, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ku mau, pada hal semua itu pada sadarnya bukan ku.” Mei pun pulang dengan mata yang sembab.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2