SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXXXIV (Jangan main-main)


__ADS_3

Leo yang telah fokus ke arah lain pun memberi Mei celah untuk mengambil handphone yang ada di atas meja. Matanya pun melihat ke segala arah, seolah sedang mencari sesuatu.


Lalu Mei mendapat sebuah pesan ke aplikasi WhatsApp nya.


Kali ini, Mei memandang puas ke dalam layar handphone, tidak seperti sebelumnya.


“Ikuti aku,” Mei. 📱


Mengirim pesan pada Winda.


“Leo, aku mau ke toilet sebentar.” ucap Mei, meminta izin pada sang suami.


“Ya sudah, kita pergi bersama,” ujar Leo.


“Enggak usah, masa kita berdua meninggalkan acara.” terang Mei Leo pun berpendapat kalau yang di katakan istrinya ada benarnya.


“Aku pergi sama mbak Winda,”


“Oke, hati-hati ya,” ucap Leo.


Setelah izin pada Leo dan para tetua, Mei pun berjalan ke dalam rumah, dan di ikuti oleh Winda.


Sesampainya ia ke dalam rumah, ia pun berjalan terus hingga ke lorong yang tak ada seorang pun disana, kecuali si pemilik nomor misterius.


“Kamu cantik sekali nak hari ini.” ucap pak Aryo dengan menampilkan senyum licik.


Mei tersenyum getir melihat kepala sekolahnya yang begitu memuakkan.


“Iya pak, gimana? Bapak puas dengan jamuan yang kami sediakan?” ujar Mei.


“Sangat puas, apa lagi hari ini akan lebih puas, maka dari itu bapak datangnya lebih cepat dari yang lain.” ujar pak Aryo dengan tak tahu malu.


“Saya juga senang, karena bapak akhirnya menampakkan diri,” balas Mei.


“Baiklah, saya tidak mau berbasa-basi lagi, berikan apa yang saya minta, atau rekaman suara mu ini akan bapak berikan pada kepolisian, bayangkan kalau semua orang tahu, kamu adalah seorang pembunuh, pembunuh ah ahahhaha.” pak Aryo pun mulai tertawa meledek Mei.


Dengan santainya Mei, menjawab perkataan pak Aryo.


“Jangan di sebarkan dong pak, ayo ikut aku ke brangkas,” ujar Mei.


Ia pun berjalan terlebih dahulu, kemudian pak Aryo menyusulnya. Mei berjalan semakin dalam ke dalam sisi rumah.


Kemudian, mereka pun mengarah ke ruang bawah tanah, pak Aryo pun secara terang-terangan membuat rekaman suara antara mereka berdua.


Saat Mei akan menuruni anak tangga yang ada di hadapannya, ia mengangkat gaun yang ia pakai sampai ke atas lutut, dengan kecepatan penuh memutar tubuhnya searah jarum jam, seraya mengangkat kaki kirinya kemudian mengayunkannya tepat ke leher pak Aryo.

__ADS_1


Pak Aryo yang tak menduga hal itu akan terjadi tak sempat menghindar.


Krek!


Alhasil ia pun tumbang ke lantai tanpa jeritan, sebab pita suaranya rusak akibat tekanan yang Mei berikan di lehernya, belum lagi sepatu hak tinggi yang Mei kenakan semakin mempertajam rasa sakit di leher pak Aryo yang tulangnya mengalami patah.


“Salah besar kamu datang kesini.” ucap Mei dengan senyum sinis.


Pak Aryo tak dapat mengeluarkan suara, yang pasti dari sikapnya, ia masih saja percaya diri bisa membuat Mei kena masalah.


Lalu Mei mengambil handphone yang ada di tangan pak Aryo.


Ketika pak Aryo ingin bangun dari lantai, Mei menghentakkan keras tumitnya ke salah satu betis pak Aryo.


“Diam dulu pak.” Lalu Mei menghapus rekaman suara mereka yang sedang berlangsung, dan memformat semua file yang ada di handphone pak Aryo.


“Mau 20 Milyar? Hah?” ucap Mei dengan suara bergetar.


Pak Aryo yang hanya bisa mengeluarkan suara tak jelas mencoba memukul Mei.


Namun Mei yang jago bela diri langsung menghindar.


“Hahahahahaha, harusnya bapak cukup menikmati uang yang sudah ku beri, jangan minta lagi, ya begitulah kalau kurang bersyukur.” Tak lama Winda dan kepala koki pun telah tiba.


“Mbak, bereskan benalu ini, buat di senyaman mungkin di ruang bawah tanah, jangan sampai lolos, aku enggak mau dia yang lancang ini, merusak kebahagiaan ku,” titah Mei.


Setelah mengatakan hal itu, Mei pun meninggalkan mereka bertiga. Tanpa belas kasihan, kepala koki pun membius pak Aryo, lalu menggotongnya ke ruang bawah tanah, yang mana isinya adalah hewan-hewan reftil kesayangan Mei, pak Aryo yang masih memiliki sisa kesadaran melihat terdapat banyak ular dalam kandang kaca di ruangan itu, ia pun menjadi takut sejadi-jadinya, namun apa daya, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya, di saat ia akan menutup mata, air matanya pun menetes.


“Ikat, dan lakban mulutnya pak,” titah Winda.


Sang kepala koki pun mengikuti perintah Winda. Setelah memberi perintah, ia meninggalkan ruangan itu.


“Kali ini non Mei mau menghukum orang itu dengan cara seperti apa lagi?” batin Winda.


Sebelum kembali lagi ke area pesta, tak lupa Mei meminum pil penenang yang biasa ia komsumsi. Setelahnya, ia pun beranjak kembali.


Ia yang baru saja duduk di sebelah Leo di tanya oleh sang suami.


“Lama bangat Mei? Apa perut mu baik-baik saja?”


“Iya, tadi perut ku mules bangat,” ujar Mei.


Mei yang telah kembali dari dalam rumahnya menjadi lebih ceria dari sebelumnya.


Bahkan ia menarik tangan Leo untuk bernyanyi bersama di atas panggung.

__ADS_1


Dan juga menyerukan teman-teman mereka yang lain untuk menari bersama.


Pukul 18:00, acara pesta pernikahan pun telah usai.


“Sayang, pulang yuk.” ajak Riski pada sang kekasih.


Yalisa yang mendapat panggilan sayang di depan banyak orang pun menjadi malu.


“Ssstt...” Yalisa menyuruh Riski diam.


“Ayo pulang,”


“Enggak mungkin aku pulang sekarang,” ujar Yalisa.


“Kenapa enggak mungkin? Emang kamu mau nongkrongin Mei di malam pertamanya juga? Enggak mungkin kan?” ucap Riski.


Yalisa yang merasa perkataan Riski ada benarnya memutuskan untuk pamit pada sahabatnya.


“Mei, Leo, sekali lagi selamat ya.” Yalisa memeluk Mei dengan erat.


Lalu menjabat tangan Leo, disini Leo merasa ada sedikit rasa sakit di hati, karena selamanya ia takkan bisa bersama Yalisa.


“Terimakasih banyak, kalian hati-hati di jalan,” ucap Leo.


“Oke.” sahut Yalisa.


Sebelum pulang, Riski juga ikut memberi selamat, dan menjabat kedua mempelai.


Lalu Riski menggenggam tangan Yalisa menuju mobilnya terparkir.


Leo dengan penuh senyum mengucapkan dalam hatinya. “Semoga kau temukan bahagia mu juga, sayang ku Yalisa,”


Yalisa dan Riski yang sudah berada dalam mobil pun beranjak keluar membelah jalan raya.


“Ki, gimana pelajaran mu selama ini?” tanya Yalisa seraya memandang wajah sang kekasih.


“Alhamdulillah lancar,” jawab Riski.


“Berarti kalau lancar, kamu udah punya waktu dong buat ketemu sama aku? Biar pun cuma sebentar, karena kan kita udah tamat sekolah, otomatis enggak akan ketemu setiap hari lagi,” ungkap Yalisa.


Riski terdiam sejenak, memikirkan apa yang mau ia katakan pada sang kekasih.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2