SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXIV (Terimakasih Untuk Segalanya)


__ADS_3

Ku kira kau akan menjadi bagian utuh diriku


Sejenak kau buat aku merasa yang terindah


Hadir mu membuat ku ceria


Siaga mu membuat ku aman


Tapi cinta, mengapa kau pergi begitu mudah?


Sedang mencari mu butuh waktu lama.


Kau datang seperti musafir.


Hadir untuk sekedar mampir


Ku tahu bukan aku yang terbaik


Tapi pergi mu membuat ku panik


Aku takut dan tak percaya diri


Bila harus melihat mu bersamanya suatu hari nanti.


________________________________________


Leo memijat dahinya yang mulai terasa berdenyut.


“Kamu lagi ngeprank aku ya?” tanya Yalisa dengan wajah serius, namun Leo hanya menggelengkan kepalanya.


“Terus apa? Kenapa malah tiba-tiba minta putus?” tanya Yalisa lagi pada Leo yang masih saja memijat kepalanya.


“Ngomong dong, kasih aku kejelasan, kalau kamu cuma begitu, gimana aku bisa ngerti?” terang Yalisa yang badannya mulai panas dingin.


“Huuuh! Ck!” Leo menghela nafas dan mendecak seraya mendongak ke arah langit-langit ruangan.


“Leo, kamu dengar aku kan? Ini sama sekali enggak lucu, kamu jangan ngerjain aku, kamu cuma bercanda kan? Iya kan?”


Leo menepuk-nepuk jidatnya karena tak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Yalisa.


“Le- Leo, ini belum hari ulang tahun ku, jadi stop ngerjain aku, aku enggak suka dengar kata-kata itu.” ucap Yalisa dengan mata berkaca-kaca.


“Enggak,” sahut Leo dengan nada berat.


“Apa?” ucap Yalisa, lalu Leo menoleh ke wajah Yalisa. Saat ia akan melanjutkan katanya, tiba-tiba mulutnya kaku, karena ia melihat Yalisa sedang berusaha menahan tangis.


“Ka- kamu, cip ah...!” gerutu Leo yang tak sanggup melihat wajah pilu Yalisa.


“Apa? Aku kenapa? Ngomong dong, jangan kayak orang bodoh, aku enggak suka cara bercanda mu hari ini!” pekik Yalisa yang nafasnya terengah-engah.Lalu Leo memegang pipi kanan Yalisa.


“Maafkan aku.” ucap Leo.


“Buat apa?”


“Aku serius,” ujar Leo.


“Hah? Serius?” seketika tubuh Yalisa menggigil seolah ia sedang berada di puncak gunung Himalaya.


“Tapi kenapa? Ada apa sebenarnya?” mata Yalisa mulai berkaca-kaca dan memerah.


“Aku enggak bisa jelasin.”


“Apa-apaan sih? Kok enggak bisa jelasin? Kamu punya cewek lain? Ha!” Yalisa menyingkirkan tangan Leo dari pipinya.


“Bukan.”


“Terus apa? Jangan buat aku cape menunggu jawaban mu.”


“Aku enggak bisa jelasin.”


“Ya sudah.” Yalisa menyandang tas ransel biru mudanya.


“Aku pulang.” Yalisa pun berdiri dari duduknya, saat ia membalik badannya untuk pergi, tiba-tiba Leo melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Yalisa.


“Jangan pergi.” pinta Leo seraya membungkuk lalu membenamkan bibirnya di puncak kepala Yalisa.


“Kenapa enggak boleh pergi?”

__ADS_1


“Tutup mulut mu, biarkan aku memeluk mu sebentar saja.”


Lalu Yalisa menitihkan air matanya, ia tak mengerti mengapa Leo memutuskannya.


“Jujur saja Leo, jangan sembunyikan apapun dari ku.” ucap Yalisa, Lalu Leo menaruh dagunya di puncak kepala Yalisa.


“Aku di jodohkan.”


Dug dug dug!


Mendengar pengakuan Leo, membuat jantung Yalisa berdetak kencang sehingga ia merasa ingin mual.


“La-lalu?”


“Aku menerimanya.”


“Kenapa?”


“Aku terpaksa.”


“Apa perempuan itu cantik?”


“Iya.”


“Apa dia kaya?”


“Iya.”


“Oh, begitu.”


“Tapi di hati ku cuma ada kamu, aku enggak bisa menolak, karena perempuan itu telah membantu ibu ku, yang saat itu di ambang kematian.” terang Leo.


“Dengan apa dia membantu ibu mu?” tanya Yalisa penasaran.


“Donor ginjal,” ucap Leo.


Seketika Yalisa tak dapat menyela perkataan Leo, karena menurutnya wanita itu memang pantas menjadi pendamping Leo, namun Yalisa tak dapat memungkiri, kalau hatinya teramat sakit, ingin rasanya ia melabrak wanita yang telah berhasil merebut Leo darinya.


“Dan ibu ku merasa sangat bersyukur, karena ia berhasil bangun dari komanya, sebagai bentuk terimakasih, ibu bahkan sudah melamarnya secara pribadi, setelah mereka berdua keluar dari rumah sakit, ibu akan melamar dia lagi secara resmi di hadapan keluarganya.”


“Kapan?!”


“Setelah lulus sekolah, maafkan aku sayang.” terang Leo dengan penuh bersalah.


Sarrrrr!!!


Pembuluh darah Yalisa seakan pecah, tubuhnya kembali bergetar hebat, Leo dapat merasakan betapa hancurnya hati Yalisa.


“Hiks.... hiks... huahhh!” air mata yang Yalisa bendung sedari tadi pun buyar, Yalisa menangis sejadi-jadinya.


Sontak Leo membalik badan Yalisa menjadi menghadap dirinya, baru ia melihat dengan jelas, air mata dan air hidung Yalisa mengalir dengan sangat deras.


“Sayang.” Leo menelan air ludahnya, lalu menyeka air mata Yalisa dengan kedua telapak tangannya.


“Hiks... hiks... brengse*, huah!!!”


“Sudah, jangan nangis lagi sayang.” bujuk Leo, dengan terus menyeka air mata Yalisa.


“Hiks hiks hiks... bangsa*, sialan!” Yalisa mengumpat karena kesal.


“Maafin aku.” saat Leo akan memegang kedua bahu Yalisa, sontak Yalisa menepisnya.


Plak!!


“Siapa?” Tanya Yalisa, Leo malah merapatkan bibirnya seraya memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali.


“Ck,” Leo mendecak.


“Jawab! Dan lagi, kenapa kamu melakukan hal itu dengan ku? Seolah-olah tak ada masalah, apa untuk kenang-kenangan? Atau sebagai salam perpisahan? Hah?! Hardik Yalisa.


“Bukan, aku enggak ada maksud untuk menjadikan itu yang terakhir.” ungkap Leo dengan menatap mata Yalisa.


“Kamu jahat ya! Tiba-tiba hilang, tiba-tiba ngajak ketemu, sekarang tiba-tiba ngajak putus, kamu pernah pikirin gimana sakitnya perasaan ku enggak!” pekik Yalisa.


“Aku tahu, aku yang salah, tapi aku terpaksa, kamu pikir aku enggak nolak? Aku sudah berusaha Yalisa, tapi ibu ku enggak mau tahu, pokoknya perempuan itu harus jadi istri ku, itu keputusan final ibu.”


“Siapa perempuan itu? Setidaknya beritahu aku, siapa dia.” ucap Yalisa.

__ADS_1


“Aku enggak bisa.” ujar Leo.


“Egois!” saat Yalisa ingin pergi Leo menahan tangannya.


“Lepas! Aku benci sama kamu! Kamu itu....”


Tok tok tok tok!


Suara ketukan pintu dari luar membuat Yalisa menghentikan ucapannya.


“Silahkan masuk.” ucap Leo. Segera Yalisa memalingkan wajahnya agar tak di lihat orang lain.


Drrkkkk....


Saat pintu terbuka, ternyata yang datang itu adalah pelayan wanita yang tadi membawa pesanan mereka.


“Ada apa?” tanya Leo pada sang pelayan.


“Mohon maaf kakak-kakak sudah mengganggu kenyamanannya, tapi saya menerima beberapa laporan dari pelanggan lain, kalau room 15 sangat mengganggu pengguna room lainnya.” terang sang pelayan dengan murah senyumnya.


Mereka tak sadar kalau ternyata percakapan mereka tembus ke ruangan lain.


“Maaf, kami tidak akan mengulanginya lagi.” ucap Leo dengan sedikit menundukkan kepalanya.


“Baik kak, kalau begitu saya mohon undur diri.” ucap sang pelayan, seraya menutup pintu itu kembali.


Kemudian Yalisa pun mengambil tisu yang ada di atas meja, lalu menyeka wajahnya yang basah sampai kering.


Saat ia akan beranjak pergi, lagi-lagi Leo menahan tangannya.


“Jangan pergi dulu.”


“Mau apa lagi sih kamu? Apa masih ada yang mau kamu bicarakan?” ujar Yalisa dengan perasaan dongkol.


“Aku tahu, apa kamu marah sama aku.”


“Ya jelaslah aku marah! Kamu mau putuskan? Oke! Kita putus.”


Mendengar kata putus dari Yalisa membuat Leo mengerti, apa yang Yalisa rasakan saat ia berkata hal yang sama tadinya.


“Yalisa.”


“Diam, dengarkan aku, mulai hari ini kita berdua sudah tidak punya hubungan apa-apa, kedepannya, jangan pernah tampakkan wajah mu dan pasangan mu di hadapan ku, baik itu di sengaja atau pun tidak, karena kalau sampai itu terjadi, ku keluarkan semua isi perut mu yang busuk itu!” pekik Yalisa.


Mendengar ancaman Yalisa, mulut Leo menganga, ini pertama kalinya ia melihat Yalisa marah.


“Apa ini yang namanya efek cemburu?” batin Leo.


“Tapi....”


“Jangan jadi orang yang enggak tahu diri, sudah bagus aku membiarkan mu pergi begitu saja, tolong penuhi permintaan itu,”


“Tapikan kita satu sekolah.” ucap Leo.


“Kamu bisa pilih jalan lain kalau melihat ku.” terang Yalisa.


“Apa kita enggak bisa jadi teman? Atau kita pacaran diam-diam, jangan ada yang tahu.” Leo memberi penawaran pada Yalisa.


“Sampai kapan?” tanya Yalisa dengan tersenyum getir.


“Sampai kapan pun.”


“Jangan ngelawak sore-sore gini, kamu sadar enggak sih? Kalau posisi ku sekarang tidak lebih dari seorang selingkuhan? Walau pun aku yang pertama, tapi tetap yang terakhirlah pemenangnya. Terimakasih sudah pernah mencintai ku, terimakasih untuk segalanya.” ucap Yalisa seraya berlalu dari hadapan Leo.


Kali ini Leo tak dapat mencegah Yalisa, karena semua yang di ungkapkan Yalisa adalah kenyataan.


Leo pun menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, ia tak percaya hubungannya kini benar-benar berakhir dengan Yalisa.


“Seandainya, yang aku culik adalah Yalisa, akkkkhh... semua salah ku, yang enggak sabaran, sekarang aku malah terjebak dalam permasalah yang aku buat sendiri.” gumam Leo, seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bersambung....


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2