
Leo yang kala itu sedang ingin ke toilet pamit pada Maya, yang telah datang membawa makan siang untuk mereka.
Krieett...
Ketika Leo membuka pintu, ia di buat terkejut, pasalnya Mei sudah berdiri tegap di hadapannya.
“Astagofirloh! Mei!” pekik Leo.
“Leo, apa kabar?” ucap Mei dengan senyum tipis di bibirnya.
Lalu Leo keluar dan menutup pintu ruangan ibunya.
“Aku baik, kamu sendiri?” ucap Leo seraya mengarahkan Mei untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan pintu ruangan rawat bu Dita.
“Alhamdulillah, aku juga baik,” ujar Mei.
“Sedang apa kamu disini? Apa ada keluarga mu yang sedang sakit?” tanya Leo.
“Enggak ada sih, hanya saja aku tahu dari Kevin, kalau tante masuk rumah sakit,” terang Mei.
“Oh, begitu ya, terimakasih sudah datang menjenguk ibu,” ucap Leo.
Saat mereka masih berbincang-bincang, tiba-tiba seorang dokter pria datang untuk memeriksa kondisi bu Dita.
Leo dan Mei pun turut ikut masuk ke dalam ruangan.
Di dalam ruangan, Mei melihat bu Dita yang terbaring tak sadarkan diri, hatinya begitu sakit melihat keadaan bu Dita yang begitu menyedihkan.
Setelah sang dokter memeriksa keadaan bu Dita, dokter pun memberi penjelasan pada mereka yang ada dalam ruangan.
“Walinya pasien yang mana?” tanya sang dokter, lalu Leo menjawab.
“Saya dok,”
“Begini nak, kondisi ibu mu masih sangat lemah, akibat pendarahan yang sangat banyak, tadi saya sudah sampaikan ke mbak Maya, untuk ikut membantu, mencari donor darah, karena di rumah sakit ini stoknya lagi kosong, dan saya juga sudah menelepon ke cabang rumah sakit kita, tapi mereka juga tidak punya stok, jadi mohon kita saling membantu, karena ini tidak bisa di biarkan lama,” terang sang dokter.
Mei yang memang mempunyai golongan darah yang sama dengan bu Dita langsung mengajukan diri.
“Golongan darah saya sama dengan tante Dita dok,” ucap Mei.
__ADS_1
“Oh ya?”
“Iya dok, beberapa bulan yang lalu juga saya sempat mendonorkan ginjal saya pada tante, dan itu aman,” terang Mei. Leo yang tak ingin berhutang budi lagi pada Mei langsung menolak.
“Jangan Mei, kamu enggak harus berbuat banyak untuk keluarga ku,” ucap Leo.
“Ini adalah naluri kemanusiaan ku, aku sayang sama tante, aku enggak butuh apa-apa sebagai balasan untuk apa yang aku lakukan,” ucap tegas Mei.
“Tante Dita adalah pengganti bu Alisyah, yang bersedia menyayangi ku dengan tulus,” batin Mei
“Tapi Mei....,”
“Sudahlah, kamu enggak perlu merasa enggak enak, atau takut untuk membalas budi, ini aku lakukan, karena aku sudah menganggap tante sebagai orang tua ku.” mendengar ketulusan hati Mei, seketika hati Leo bergetar, ia tak menyangka, Mei yang sudah ia kecewakan, malah merangkulnya ketika ia dalam keadaan sulit.
“Apa benar kamu bersedia nak?” tanya sang dokter pada Mei.
“Iya dok, ambil darah ku sebanyak yang di butuhkan, aku kuat kok dok,” jawab Mei.
Leo merasa tertampar dengan kenyataan yang ada, ia juga merasa malu, akan perbuatannya selama ini.
“Terimakasih Mei,” ucap Leo.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya dokter kembali ke ruangan bu Dita dengan membawa 5 buah kantong darah, yang masing-masing kantong berisi 350 ml.
“Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar, teman mu tangguh juga nak, ia memaksa untuk mengambil sebanyak mungkin,” ucap sang dokter.
“Sekarang Mei dimana dok?” tanya Leo.
“Dia sudah di pindahkan ke ruang rawat pasien nomor 250, kondisinya lemah, tapi nanti akan pulih kembali, setelah ia menghabiskan makanan yang telah di siapkan,” terang si dokter.
“Terimakasih dok, saya titip ibu dok,” ucap Leo.
Lalu Leo pun bergegas menuju ruangan yang di maksud oleh sang dokter.
Setibanya Leo di ruangan nomor 250, Leo pun membuka pintu dengan pelan.
Krieeett...
Di dalam ruangan ia melihat Mei yang sedang duduk di atas ranjang, seraya memakan hidangan yang ada di atas meja dorong ranjangnya.
__ADS_1
“Leo? Ngapain kamu disini?” tanya Mei.
“Mei.” kali itu, Leo benar-benar merasa bersalah pada Mei, dengan mata memerah menahan tangis, ia meraih sendok yang ada di tangan Mei, lalu menyuapi bubur kacang hijau tersebut ke mulut Mei.
“Ada apa? Kenapa enggak jaga tante?” ucap Mei.
“Enggak apa-apa, sudah ada dokter, buka mulut mu.” Leo pun menyuap Mei dengan telaten hingga bubur yang ada di mangkok habis tak tersisa.
“Makasih ya.” ucap Mei, dengan mata yang sendu karena masih lemah.
“Harusnya aku yang bilang terimakasih.” Leo pun menggeser meja yang ada di hadapan Mei.
“Enggak apa-apa kok, aku bahagia kalau tante baik-baik saja,” terang Mei seraya meminum susu yang ada di tangannya.
“Lagi pula, aku sudah membunuh banyak orang, setidaknya aku harus bisa membantu kehidupan orang lain, aku ingin bertaubat,” batin Mei. Saat Mei melamun, Leo tiba-tiba memeluknya.
“Hah!! Leo!” ucap Mei.
“Maafkan aku yang selama ini menyakiti mu, maafkan aku yang selalu bertingkah egois, sampai-sampai aku enggak bisa melihat ketulusan hati mu mencintai ku dan keluarga ku, aku memang bodoh, pecundang dan tidak tahu diri,” ucap Leo, dengan mata berkaca-kaca.
“Ya ampun Leo, jangan ngomong seperti itu, aku sudah memaafkan kamu, tolong jangan salah kan dirimu, masalah perasaan itu memang sulit untuk di mengerti dan di paksakan.” Mei menepuk-nepuk punggung Leo. Lalu Leo melepas pelukannya dan memegang kedua tangan Mei.
“Mei, apa kamu masih mau menerima ku kembali?” tanya Leo.
“Apa?”
“Maaf kalau aku terlambat mengatakannya, tapi apa aku masih punya kesempatan?”
“Leo, kamu ngomong apa sih? Aku kan udah bilang, jangan merasa berhutang budi, aku ini ikhlas loh bantuin tante, aku juga tahu kamu enggak cinta aku, gimana bisa kamu memaksakan diri begini? Kamu mencintai Yalisa bukan aku.” terang Mei dengan perasaan sesak.
“Aku tahu, tapi...., aku ingin membuka hati ku untuk mu, dan belajar menyayangi mu dari sekarang, Yalisa itu enggak mencinta ku, aku pun sudah mengikhlaskannya, sekarang aku ingin kamu kembali lagi pada ku, bukan karena sebagai cadangan atau bayangan Yalisa, tapi ini benar-benar dari hati ku, ketulusan mu pada ibu ku lah yang mengubah pandangan ku, kelak yang seperti mu yang ku butuhkan, yang siap menyayangi ku, dan keluarga ku,” ungkap Leo.
Mei yang mendengar ucapan Leo tak dapat lagi membendung air matanya, ia pun mulai menangis tersedu-sedu, cinta yang selama ini ia nanti, akhirnya ia dapati dengan ketulusan hati yang ia beri pada sang calon ibu mertua.
“Hei, jangan nangis,” Leo menyeka air mata Mei, kemudia memeluk mei dengan erat.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu