SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LVII (Tertangkap)


__ADS_3

Mai melirik ke arah Leo yang menawarkan tumpangan.


“Makasih, tapi aku bisa pulang sendiri.”


“Maaf ya Mei, udah buat kamu kesal tadi, untuk itu aku mau antar pulang sebagai bentuk permintaan maaf ku.” ucap Leo yang berdiri di samping Mei.


“Ya udah lah, enggak ada salahnya di antar sama dia.” batin Mei.


“Ya sudah, kamu mau antar pakai apa?” tanya Mei yang mulai berdiri dari duduknya.


“Aku bawa mobil tuh.” seru Leo seraya menunjuk ke arah parkiran yang ada di depan cafe.


“Ya udah, ayo kalau gitu.” terang Mei.


Mereka berdua pun berjalan menuju mobil Hybrid berwarna hitam Leo. Sesampainya di mobil Leo dan Mei pun masuk.


“Pakai sabuk pengamannya.” ucap Leo seraya memakai sabuk pengamannya juga.


“Oke.” Mei pun menuruti titah Leo. Kemudian Leo menyalakan mesin mobil dan mulai membelah jalan raya.


Selama perjalanan keduanya begitu canggung akibat konflik di cafe tadi, Leo yang tak mau masalahnya berlarut-larut mulai membuka obrolan.


“Orang tua kamu ada di rumah enggak malam ini?” tanya Leo.


“Enggak, mereka lagi ada di luar kota.”


“Berarti kamu sering di tinggal ya? Mirip bangat sama aku, di tinggal terus sama ayah.” ungkap Leo dengan tersenyum.


“Oh, gitu ya.”


Saat mobil mereka telah memasuki kawasan yang sepi kanan kiri tak ada rumah penduduk, cahaya lampu di sana juga temaram, Leo tiba-tiba memberhentikan mobilnya.


Sontak Mei melihat ke arah Leo dengan tatapan penuh tanya.


“Maaf Mei, aku harus jahat hari ini sama kamu.” ucap Leo dengan raut wajah bersalah.


“Jangan macam-macam ya kamu.” Perlahan Mei mau melepaskan sabuk pengamannya, Leo yang telah tahu maksud Mei langsung memegang erat pergelangan tangan kanan Mei.


“Jangan buat aku makin kalut Mei, sebaiknya kamu menurut saja, seandainya ada pendonor lain, pasti aku enggak akan maksa kamu.” terang Leo, seraya mengambil sebuah suntik yang berisikan obat bius dari dalam tasnya, yang ada di depan kemudinya.


“Gila ya kamu! Orang enggak mau malah di paksa! Lepasin aku!” hardik Mei, yang mulai ketakutan.


“Yang benar saja, kalau sampai ginjal ku berhasil di ambil sama si sialan ini.” batin Mei.


Saat Leo membuka penutup jarum suntik nya, Mei dengan sigap menghantam dahinya ke dahi Leo.


“Mei!” pekik Leo yang kesakitan.


“Kalau mau ginjal, cari saja di luar sana!” saat Leo memegangi dahinya, Mei pun buru-buru membuka sabuk pengamannya, lalu keluar dari dalam mobil Leo.


“Jangan bikin repot Mei.” gumam Leo, seraya turun dari dalam mobilnya, tak lupa ia menutup kembali jarum suntik nya, dan meletakkan di saku belakang kantong celananya.


Mei yang berlari dengan sekuat tenaganya, di kejar oleh Leo dengan kecepatan penuh juga.


Leo yang dasarnya adalah atlet lari dengan mudah menyusul Mei.


“Jangan kejar aku bodoh!” hardik Mei seraya berlari sekencang ia bisa.


“Berhenti Mei! Jangan buat makin rumit!”


“Orang gila juga enggak akan mau berhenti kalau udah tau mau di apain.”

__ADS_1


Leo yang telah hilang kesabarannya mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangannya dari pinggir jalan raya, lalu melemparkannya ke arah Mei.


Puk!


Bruk!


Lemparan Leo tepat mengenai kepala belakang Mei, kemudian Mei pun tersungkur ke atas aspal.


Dengan langkah gagahnya Leo berjalan ke arah Mei yang sedang kesakitan.


“Sudah aku bilang berhenti, kamu malah terus lari.” ucap Leo seraya mengambil kembali jarum suntik yang ada di saku celana belakangnya.


“Kamu bercanda kan?” tanya Mei dengan senyuman meledek.


“Saat ini aku enggak mau main-main, kalau cuma di ambil satu, kamu masih bisa hidup sampai tua.” terang Leo, seraya menyuntikan bius ke punggung Mei, agar Mei tak dapat bergerak lagi.


“Sialan!” pekik Mei yang perlahan-lahan kesadarannya mulai hilang.


“Maafin aku Mei.” gumam Leo seraya mengangkat tubuh Mei kembali ke dalam mobilnya.


___________________________________________


Yalisa yang sedang mengerjakan PR matematika di rumahnya terpaksa berhenti menulis, karena dia tidak bisa mengerjakan soal nomor 9.


“Kira-kira Mei sudah selesai ngerjain PR enggak ya?” gumam Yalisa.


Lalu Yalisa mengambil handphone yang ada di atas ranjangnya. Dan mulai mendial nomor Mei.


Trut... trut...


Lama sudah Yalisa mendial nomor sahabatnya itu, namun tak kunjung di angkat juga.


“Tumben dia enggak angkat.” gumam Yalisa. Lalu Yalisa mencoba mengirim pesan WhatsApp pada Mei.


Seraya menunggu balasan dari Mei, Yalisa mencoba mengerjakan nomor selanjutnya.


Saat ia sedang fokusnya menghitung bilangan-bilangan yang ia kerjakan, tiba-tiba ada panggilan masuk di handphonenya.


Sesaat ia berfikir itu adalah Mei, yang saat ia lihat layar handphonenya, ternyata adalah Riski.


“Halo,” Yalisa. 📱


“Halo, kamu udah selesai kerjain PR nya?” Riski. 📱


“Belum,” Yalisa. 📱


“Gimana kalau kita ngerjain sama-sama?” Riski. 📱


“Ini kan sudah malam, jadi gimana kita mau ngerjain sama-sama?” Yalisa. 📱


“Benar juga, kalau gitu bantu aku buat cari jawaban soalnya, karena aku belum selesai nih.” Riski. 📱


“Memangnya nomor berapa yang belum selesai?” Yalisa. 📱


“Semuanya.” Riski. 📱


“Huh..., kamu sebenarnya mikirin apa sih pas bu Amel menerangkan?” Yalisa. 📱


“Mikirin kamulah.” Riski. 📱


“Setres nih anak.” batin Yalisa.

__ADS_1


“Besok deh kalau gitu, aku lagi pusing juga nih.” Yalisa. 📱


Yalisa menutup panggilan Riski, karena menurutnya Riski hanya akan mengganggu konsentrasinya.


____________________________________


Pukul 22.00, Mei terbangun dari pingsannya, saat ia hendak membuka mata, ia merasa sorot lampu yang mengarah padanya begitu silau.


“Sudah bangun?”


Mei menggelengkan kepalanya ke sebelah kananya, tepat mengarah suara yang tak asing baginya itu.


Saat Mei ingin mencoba menutupi matanya karena efek silaunya lampu, ia keheranan karena tangan dan kakinya tak bisa bergerak.


Mei dengan mata yang menyipit melihat keadaannya yang sebenarnya.


“Astaga,” gumam Mei.


Ia merasa marah dan juga geli, saat mengetahui kedua kaki dan tangannya di ikat besi-besi ranjang dengan tali restraint, yang biasa di gunakan para dokter untuk mengikat pasien yang suka memberontak agar tak lari.


“Kamu ikat aku?” tanya Mei dengan rasa marah.


“Iya, aku terpaksa.” ungkap Leo, seraya menggenggam sebuah kertas putih di tangannya.


“Gila bangat ya.” ucap Mei yang mencoba melepaskan tubuhnya dengan menarik-narik tangannya.


“Tolong kamu kasih cap jari mu di kertas ini, sebagai tanda kamu setuju untuk donor ginjal tanpa paksaan.” terang Leo, yang mulai duduk di atas bangku, tepat di samping ranjang Mei.


“Enggak mau, sampai kapan pun aku enggak mau!” pekik Mei.


“Mau enggak mau, kamu memang harus setuju Mei, karena enggak akan ada orang yang akan menolong kamu. Jadi seandainya kamu mau lapor polisi juga kamu enggak akan ada bukti, kami semua yang ada disini akan mengurus segalanya.”


“Sinting, jangan maksa dong kalau orang enggak mau.” ucap Mei dengan tertawa getir.


“Hum, memangnya kalau kamu enggak mau, operasinya enggak akan jalan? Jangan bodoh, tanpa keikhlasan dari kamu pun, aku bisa taruh cap jempol mu di kertas ini.” terang Riski dengan wajah serius.


“Aku harus bagaimana Tuhan? Aku juga enggak bisa bergerak. Badan ku masih lemas.” batin Mei.


Tak lama, 2 orang dokter serta 3 orang suster masuk ke dalam ruangan, lengkap dengan baju medis selayaknya mau mengoperasi pasien.


Mata Mei membulat, saat melihat banyaknya pisau yang di susun rapi di atas meja Yang ada dalam ruangan itu.


“Leo, kamu benar-benar gila ya! Aku engga mau Leo, lepasin aku!” Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Mei terus memberontak dalam ranjangnya.


“Diam Mei, percuma kamu memberontak, ibu ku di sebelah ruangan ini sedang koma, jadi apapun caranya, aku harus mendapatkan ginjal untuk menyelamatkan nyawanya.”


“Sudah bisa di mulai?” tanya sang dokter pada Leo.


“Sudah dok.” sahut Leo.


Lalu sang dokter pun mengeluarkan jarum suntik yang telah berisi cairan obat bius.


Dalam keadaan genting itu, Leo melihat wajah Mei yang ketakutan namun tak mengeluarkan air mata sedikit pun.


Para suster dan Leo pun membuka ikatan tangan Mei, lalu membantu Mei untuk duduk, agar sang dokter bisa menyuntikkan obat bius ke punggung Mei.


Mei tak dapat menggerakkan tubuhnya, karena badannya di pengang dengan sangat erat oleh Leo dan suster lainnya.


“Aku sudah enggak bisa apa-apa.” batin Mei


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2