SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XC (Takut)


__ADS_3

“Iya enggak apa-apa pak, saya senang bapak masih mau keras pada mereka, semoga ke depan mereka jadi anak-anak yang baik.” ujar pak Doni, kemudian Riski pun mencium telapak tangan ayahnya dan pak Musa.


Yalisa yang melihat pun ikut menyalam pak Musa dan pak Doni, kedua orang tua itu kaget, karena tangan Yalisa sedingin es di kutub Utara.


“Anak ini ketakutan?” batin pak Doni.


“Mari saya antar ke depan pak.” ujar pak Doni pada pak Musa.


Saat kedua orang tua itu berjalan ke pintu utama, Yalisa berkata.


“Aku juga pulang sekarang ya.” Riski melihat mata Yalisa mulai berkaca-kaca.


“Iya sayang.” ucap Riski, lalu Riski mengulurkan tangannya pada Yalisa.


“Apa ini?” tanya Yalisa.


“Salim.” jawab Riski.


Yalisa pun menjabat tangan Riski, selanjutnya Riski mencium kening Yalisa.


“Ki, sempat-sempatnya kamu begini?”


“Jangan takut, kamu harus belajar sholat lagi ya, kalau kamu enggak bisa sendiri, nanti aku ajari.” Riski mengelus puncak kepala Yalisa yang masih memakai mukenah.


“Mukenah ibu, cocok bangat di pakai Yalisa.” batin Riski.


Lalu Yalisa dan Riski pun segera merapikan perlengkapan sholat mereka.


“Aku antar pulang ya.” ujar Riski seraya mengajak Yalisa menuju garasi.


“Iya.” saat keduanya baru saja keluar dari Mushollah, tiba-tiba pak Doni mencegat mereka.


“Mau kemana kalian berdua?”


Sementara Mei yang telah sampai di mall XX dengan membawa sebuah tas besar berisi uang, segera menuju tempat penitipan barang yang ada di supermarket dalam mall.


Mei ke mall XX tidak sendirian, ia membawa Winda, Mei memerintahkan Winda untuk duduk di sebuah cafe, tepatnya yang ada di hadapan penitipan barang, agar nanti mereka mengetahui, siapa yang akan mengambil tas tersebut.


“Saya mau nitip barang mbak.” ucap Mei seraya menyerahkan tas berat itu pada petugas wanita yang sedang berjaga.


“Baik mbak, ini nomornya.” sang petugas menyerahkan pada Mei nomor loker tasnya, Mei pun menerima nomor tersebut.


Drrtttt.....


Tak di sangka setelah tas itu di serahkan, handphonenya bergetar.


“Letakkan nomor lokernya di dalam pot pohon natal yang ada di hadapan mu,” nomor misterius. 📱

__ADS_1


“Baik,” Mei. 📱


Mei menaruh nomor loker itu sesuai arahan si pemilik nomor misterius.


Drrrttt....


“Segera tinggalkan mall ini, kalau tidak perjanjian kita batal,” nomor misterius. 📱


Dengan santai Mei meninggalkan mall, keluar menuju parkiran mobil.


“Aku akan lihat, siapa yang mengerjai ku, kalau sampai dia lewat di parkiran ini, ku tabrak sampai rata dengan semen parkiran.” ucap Mei, seraya mencengkram kuat setir mobilnya.


Lalu Winda yang di tinggalkan di cafe pun siaga tanpa memalingkan pandangannya, melihat ke arah penitipan barang.


Setelah menunggu selama 5 menit, terlihat ada seorang wanita bertubuh langsing dan semampai, yang memakai outfit serba hitam, mulai dari celana kulit, jaket kulit, topi, kaca mata, sampai dengan masker, wanita itu mulai mendekati pohon natal, lalu mengambil nomor loker yang ada dalam pot.


Karena sang wanita mengenakan pakaian serba tertutup, membuat Winda sulit untuk mengenali wanita tersebut, karena tak mau melapor dengan tangan kosong, Winda pun memotret wanita itu dari cafe.


Cekrek!


Cekrek!


Dengan mudahnya wanita itu mengambil tas berisi uang yang mereka titipkan.


Setelah mengambil tas itu, sang wanita melenggang pergi keluar dari dalam mall, Winda pun bergegas menguntit dari belakang, bukannya menuju parkiran, sang wanita justru keluar mall dari lobby utama.


“Hah!” Winda tak memperkirakan hal itu, lalu sang wanita mempercepat langkahnya, dan setelah berhasil mencapai lobby, ia pun naik ke sebuah mobil mewah berwarna silver, satu-satunya yang bisa Winda lakukan adalah mencatat plat mobil tersebut di handphonenya.


“Mereka sudah pergi, apa perlu kita kejar non?'” Winda.📱


“Tidak perlu.” Mei. 📱


Lalu Mei mengambil handphonenya, untuk mendial nomor misterius itu, namun saat Mei mendial nya.


“Nomor yang ada tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.” itulah yang ia dengar dari sang operator telepon.


“Akhh!!!!! Sial-sial!!” Mei berteriak-teriak dalam mobilnya, seraya membanting-banting setir mobil dengan kedua tangannya.


“Wuah! Hahaha!! Beraninya kamu mengerjai ku! Hahaha!!! Akhh!!!” Mei marah serta terkikik secara bersamaan, ia juga menarik-narik rambutnya.


“Kamu fikir, kamu sudah hebat? Kita lihat saja, kalau kamu sampai tertangkap, wahahahaha!” Mei berbicara dengan pandangan lurus ke depan, seolah ia memikiki lawan bicara yang berdiri di luar mobilnya


Mei yang masih memiliki sedikit kesadaran segera mengambil obat yang ada dalam tasnya.


Sebab ia merasa kecemasannya sudah berlebihan, Mei langsung meminum 2 butir Xanax dengan dosis tertinggi yaitu 1 mg.


Gluk gluk gluk!

__ADS_1


Mei meminum obat tersebut, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.


Setelah menunggu selama 10 menit, Mei pun kembali normal, lalu ia nyalakan mesin mobilnya, dan keluar dari area parkiran menuju lobby utama untuk menjemput Winda.


Winda yang melihat mobil majikannya telah berhenti di hadapannya, ia pun langsung masuk ke dalam mobil.


Winda yang baru masuk merasa khawatir melihat kondisi Mei, rambutnya acak-acakan, matanya juga merah.


“Non, apa nona baik-baik saja?” tanya Winda.


“Tentu saja.” jawab Mei seraya menyeringai, yang membuat Winda merasa resah.


“Apa stres nona kambuh lagi sewaktu di parkiran? Makanya dia terlambat datang menjemput ku?” batin Winda.


Mei pun melajukan mobilnya membelah jalan raya menuju kediamannya.


_____________________________________________


Pak Doni yang mencegat Yalisa dan Riski menuju garasi pun menuntun mereka untuk ke ruang keluarga.


Di ruang keluarga yang lengkap akan pasilitas dengan tv lebar, sofa mewah nan elegan, guci antik dimana-mana, membuat Yalisa takjub, semua barang-barang yang ada disana bukan barang murahan.


Senggol sedikit, barang pecah, takkan mampu untuk bayar, meski telah bekerja seumur hidup, itu lah yang ada di fikiran Yalisa, makanya ia sangat memperhatikan langkah dan pandangannya.


“Silahkan duduk kalian berdua.” titah pak Doni, lalu Yalisa dan Riski pun duduk di hadapan pak Doni, yang di hadapan mereka bersama terbentang meja kaca yang persegi 4.


Yalisa yang berada di sebelah Riski tak tahu harus bergaya apa, terlebih pak Doni memandanginya terus dengan seksama.


“Om ngapain sih? Kenapa tatapannya tajam bangat.” batin Yalisa.


Yalisa sendiri sedari pak Musa datang hingga sekarang, terus saja menundukkan kepalanya, ia tak bisa melihat wajah kedua orang tua itu.


“Apa tujuan mu mendekati anak ku?” tanya pak Doni dengan bersedekap.


“Eh?” Yalisa tak mengerti akan pertanyaan itu.


“Ayah nanya apaan sih?” ujar Riski.


“Diam kamu! Jangan coba-coba menjawab perkataan ayah!” hardik pak Doni, yang membuat Riski bungkam.


“Jawab Yalisa.”


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.



__ADS_2