SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXXI (Menguji Perasaan)


__ADS_3

“Ayo buruan, kamu duduk di sebelah Mei.” titah bu Dita.


Leo yang tak mau membantah ibunya pun menurut.


Lalu bu Dita mengambil sebuah piring putih polos, untuk di isi nasi, lalu bu Dita menyodorkan piring itu ke hadapan Mei, tak lupa bu Dita juga menggeser sup ikan gabus, lele panggang ke hadapan Mei, agar Mei mudah untuk mengambilnya.


“Banyak bangat Tan.” Mei merasa ia takkan sanggup menghabiskan ikan gabus dan lele bakar tersebut.


“Habiskan sebisa mu nak, agar luka mu cepat sembuh, iya kan Leo.” Leo pun menoleh pada ibunya yang seperti memberi kode.


“Iya, makan yang banyak.” ujar Leo.


“Kalau begitu Mei makan ya Tan.” ucap Mei seraya mulai mengambil lauk satu persatu ke piringnya.


Begitu pula dengan Leo dan ibunya yang muai makan juga.


Setelah mereka selesai makan, Mei pun mulai membuka pembicaraan kembali.


“Tan.”


“Iya nak?”


“Tan, boleh enggak Mei minta tolong?”


“Tolong apa nak?”


“Tolong pertunangannya antar keluarga saja, lagi pula kedua orang tua ku adalah orang yang sangat sibuk, terlebih papa adalah anggota legislatif, takutnya kalau ada wartawan tahu soal pertunangan ku yang buru-buru, akan menimbulkan banyak gosip, dan itu bisa saja akan mengancam karir papa.” terang Mei.


Untuk beberapa saat bu Dita diam, ia mencerna apa yang di katakan calon menantunya itu.


“Tapi nak, undangannya kan sudah di cetak.”


“Enggak masalah Tan, tolong Mei Tan, biar kita sama-sama enak.”


Karena Mei bersikeras, bu Dita pun tak bisa melanjutkan niatnya.


“Baiklah kalau begitu, tapi apa orang tua mu tidak masalah?”


“Tentu saja Tan, mereka enggak akan keberatan.” terang Mei bersemangat.


“Ya sudah kalau begitu, kalau itu mau mu.”


“Terimakasih banyak ya Tan.” ucap Mei seraya menoleh ke arah Leo yang sedari tadi hanya menyimak.


“Oh iya, tante lupa bilang, kita enggak jadi ke mall, tadi sebelum kalian pulang, tante suruh orang tokonya saja yang datang ke rumah, dan mereka memberikan beberapa contoh baju, nanti kita ke kamar buat kamu coba satu-satu ya.”


“Oh, gitu ya Tan?”


“Iya, kasihan kamu, tante takut kamu kecapean.” terang bu Dita.


Leo yang sadar kalau ibunya sudah mengerjainya hanya bisa menghela nafas.


“Usaha terus bu.” batin Leo.


“Ayo sayang, bajunya ada di kamar tamu,” ucap bu Dita.

__ADS_1


Lalu Bu Dita dan Mei pun bergegas untuk mencoba baju tersebut. Sementara Leo memilih tetap di meja makan, seraya melihat layar handphone nya.


_________________________________________


Sesampainya mereka ke kamar, di atas ranjang sudah ada 5 buah baju, dimana di antaranya ada 3 dress cantik berwarna pink, merah dan krem, sepanjang lutut, tangan you can see.


Ada pula gaun panjangnya sampai ke matahari kaki, dan yang paling menarik perhatian Mei adalah baju kebaya berwarna blue sky dengan bawahan kain batik jarik.


“Mei mau baju kebaya biru itu saja Tan.” seru Mei.


“Apa?” bu Dita langsung memegang baju kebaya yang di maksud oleh Mei.


“Iya, baju itu cantik, Mei suka.” ujar Mei.


“Kamu enggak mau coba yang lain dulu?” tanya bu Dita.


“Enggak Tan, itu saja.” ungkap Mei.


“Ya sudah, kamu coba di kamar ini saja.” ujar bu Dita.


“Tante di kamar ini juga?” tanya Mei, karena ia merasa risih ada orang yang melihatnya membuka baju.


“Sudahlah enggak apa-apa, ganti saja di depan tante.” ujar bu Dita.


“Tapi Tan, tante kayaknya tunggu di luar saja deh.”


“Baiklah, kalau butuh bantuan panggil tante ya.”


ucap bu Dita seraya keluar kamar dengan menutup pintu separuh.


Setelah semua terlepas, barulah Mei memakai baju kebaya tersebut ke tubuhnya.


Mei yang tangannya tak sampai ke belakang untuk menarik kancing bajunya pun meminta tolong pada calon mertuanya.


“Tan, bisa tolong bantu Mei buat narik kancingnya ke atas?” pinta Mei.


Sreeekkkkk!!!


Kancing kebaya itu pun perlahan-lahan maju ke atas, menutupi punggung Mei.


“Makasih ya Tan.”


Saat Mei menoleh ke belakang, ia kaget bercampur malu, karena yang membantunya tadi adalah Leo, bukan bu Dita.


“Kamu..., se-sejak kapan kamu ada di kamar ini?” tanya Mei gelagapan.


“Sejak kapan emang penting? Dan...., kenapa kalian malah coba-coba bajunya di kamar ku?” tanya Leo penuh selidik.


“A-aku enggak tahu, kan tante yang ajak aku kesini.”


“Ck.” Leo geleng-geleng kepala, melihat usaha ibunya yang begitu keras.


“Maaf, aku enggak tahu.” ucap Mei yang merasa tak enak.


Lalu Leo yang berdiri di hadapan Mei pun berkata.

__ADS_1


“Apa masih mau coba baju yang lain?”


“Udah enggak kok.”


“Ya sudah kalau gitu, kamu cepat keluar dari dalam kamar ku.”


“Ta-tapi bajunya.”


“Apa lagi sih? Bajunya udah cocok sama kamu, jadi pakai yang itu saja.” terang Leo.


“Bukan itu, aku mau buka bajunya lagi, tante ada dimana? Biar dia yang bantu aku.”


“Ibu pergi keluar, katanya mau jemput cincin tunangan.”


“Jadi, siapa yang bantu aku buka kancingnya?” gumam Mei.


Karena tak ingin bertele-tele, Leo pun memutar kembali badan Mei menjadi membelakanginya.


Sreeekkkk!!


Leo menarik kancing kebaya itu dari atas sampai ke bawah.


Deg deg deg deg!! Jantung Mei berdebar kencang.


“Ayo, tunggu apa lagi? Lepas bajunya, apa mau aku bantu juga?” tanya Leo seraya memegang bagian bawah kebaya Mei lalu menariknya ke atas dengan kasar.


“Au! Pelan-pelan Leo.”


Sruuuk!


Baju Mei pun berhasil terbuka, awalnya Leo berfikir kalau Mei memakai kaus dalam, makanya ia berani berbuat seperti itu, namun ternyata ia salah, Mei yang di hadapannya kini hanya memakai br*.


“Sakit...” Mei merintih seraya memegang perutnya, ketidak hati-hatian Leo membuka baju Mei membuat bekas operasinya memerah dan sedikit lecet.


“A-ada apa?” tanya Leo dengan mimik wajah khawatir.


“Lukanya perih, ngilu, nyeri dan sakit bangat.” Leo yang merasa bersalah langsung buru-buru mengambil kotak PPPK, dan juga mengambil obat pereda nyeri.


Setelah dapat, Leo pun kembali ke dalam kamarnya, lalu meletakkan PPPK di atas ranjang.


“Nih, minum dulu obatnya.” Leo menyodorkan obat pereda nyeri pada Mei, seraya ia mengambil segelas air minum dari dispenser yang ada dalam kamarnya, lalu menyerahkan air dalam gelas itu pada Mei.


Mei pun menerimanya dan gkuk gluk gluk, Mei menelan obat itu di bantu dengan air minum.


Setelah selesai, Mei memberikan gelasnya pada Leo, yang selanjutnya Leo letakkan di sebelah dispenser.


Kemudian Leo membuka kotak PPPK, lalu mengambil krim antibiotik dan korek kuping, untuk di aplikasikan.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Jangan lupa mampir le karya author di bawah ini ya.


__ADS_1


__ADS_2