SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XX (Kembalinya Setan Sekolah)


__ADS_3

Banyak juga siswa-siswa lain yang seperti dirinya menempuh jalan kaki ke sekolah karena jarak yang tidak terlalu jauh.


Yalisa melangkahkan kakinya sembari mengingat kenangan tadi malam bersama Leo, sesekali Yalisa tersenyum sendiri, hingga tiba-tiba.


“Plak!" Ada yang memukul bagian belakang kepalanya, sontak Yalisa mengusap kepalanya karena kesakitan, dan menoleh ke arah datangnya pukulan itu.


“Hai apa kabar?” Sapa Riski


“Kamu.” ucap Yalisa dengan mata membelalak seolah tak percaya, penjahat sekolahnya telah kembali.


Riski memberhentikan motor Ninja 300 berwarna merahnya tepat di samping Yalisa.


“Kamu enggak kangen sama aku?” tanya Riski sembari menghantarkan wajahnya dekat dengan wajah Yalisa.


“Ternyata dia beneran cantik sekarang, dia benar-benar menggunakan uang damai itu dengan baik.” batin Riski.


“Kamu jangan ganggu aku.” ucap Yalisa memalingkan wajahnya dari hadapan Riski.


“Jangan gitulah, kita kan sudah damai, berarti kita sekarang adalah teman kan?” ujar Riski seraya mengulurkan tangannya.


“Entah apa yang dia rencanakan lagi saat ini, bikin pusing saja.” batin Yalisa.


“Kamu enggak mau jabat tangan aku?” Sombong bangat ya” Riski tersenyum getir.


“Aku udah maafin kamu, tapi tolong jangan ganggu aku, anggap kita enggak saling kenal.”


terang Yalisa yang mulai melangkahkan kakinya kembali, Riski pun tak diam, dia melajukan motornya pelan seimbang dengan langkah kaki Yalisa.


“Ayolah, Allah saja maha pemaaf, masa kamu yang di ciptakan enggak bisa memaafkan orang lain?” ujar Riski.


“Benar juga apa kata Riski, ya sudahlah aku ikuti saja maunya, dari pada dia berisik terus,” batin Yalisa. Karena tak ingin belit-belit ia pun mencoba mengikuti mau Riski.


“Ya sudah, kita saling memaafkan ya.”ujar Yalisa seraya mengulurkan tangannya, Riski pun memberhentikan motornya dan menerima uluran tangan itu, mereka pun akhirnya berjabatan.


Di kira semua telah selesai, Yalisa mencoba melepaskan tangannya, tapi Riski malah mengencangkan jabatan tangan itu, lalu Yalisa menatap wajah Riski penuh selidik.


“Kita sudah baikan kan? Ayo lepasin tangan aku, aku mau jalan lagi nih.” Pinta Yalisa.


Dengan senyum liciknya Riski tiba-tiba menggas motornya dengan kecepatan 20 km/jam yang membuat Yalisa terpaksa berlari mengikuti arahan dari Riski.


“Riski lepasin! Nanti aku jatuh!” Pinta Yalisa dengan perasaan khawatir dia akan celaka.


“Ini salam hangat dari ku, 1 bulan enggak ketemu aku rindu kamu Loh.” ungkap Riski seraya membelokkan arah motor jauh dari jalan sekolah.


“Lepas! Kalau enggak aku teriak nih!” Bentak Yalisa.

__ADS_1


“Eh bacot, aku jalanin motornya pelan begini, itu enggak akan buat kamu jatuh dan terluka!”ucap Riski yang masih memegang tangan Yalisa dalam laju motornya, Riski membuat Yalisa berlari hingga 15 menit lamanya.


“Lepas, aku udah cape enggak kuat lagi, nanti aku bisa jatuh, tolong.” ucap Yalisa dengan mata berkaca-kaca.


“Benar cape?” ujar Riski dengan senyum meledek.


“Iya, please hentikan motornya.” Yalisa terus meminta dengan rasa kelelahan, lalu Riski pun menghentikan motornya di pinggir jalan yang sepi, jauh dari kawasan sekolah. Nafas Yalisa ngos-ngosan karena kelelahan berlari.


“Ternyata beneran cape ya?” ucap Riski sambil turun dari motornya.


“Iya!” Karena marah Yalisa memelototi Riski, saat Yalisa akan melepaskan tangannya dari genggaman Riski, Riski malah menarik tangan Yalisa hingga jatuh ke pelukan nya.


“Kalau gitu, kita ke sekolahnya sama-sama ya.” ucap Riski seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yalisa.


Karena tubuh Yalisa kecil, Yalisa harus mendongak menatap wajah Riski yang badannya jauh lebih tinggi di bandingkan dirinya, dengan mata tajam dan mimik wajah marah Yalisa berkata.


“Enggak mau! Lepasin aku bodoh, ngapain kamu peluk aku! Aku kira setelah kamu di hukum selama sebulan fikiran mu jadi jernih, ternyata malah makin keruh.” Yalisa meronta mencoba melepaskan diri dari dekapan Riski.


“Ya sudah, hari ini kita berdua bolos saja kalau gitu.” ucap Riski yang kemudian meletakkan dagunya di puncak kepala Yalisa.


“Lepasin, sudah mau bel nih, jangan bercanda terus dong!” bentak Yalisa dengan terus meronta-rontakan tubuhnya.


Namun entah apa yang di fikiran Riski, Riski malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Kalau mau lepas, berangkat sekolahnya bareng aku kalau enggak, kita enggak usah ke sekolah, guru-guru malah untung kalau aku bolos, mereka akan dapat suntikan dana, kalau kamu gimana?” terang Riski dengan berbisik ke telinga Yalisa.


ucap Yalisa dengan perasaan kesal bercampur takut, karena sikap Riski benar-benar aneh menurutnya saat itu.


“Ya sudah, hari ini kita bolos saja, lagian aku juga malas masuk sekolah.” Riski memeluk erat Yalisa, hingga Yalisa tak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.


“Si bodoh ini kenapa sih! Di skors sebulan bukannya berubah malah jadi tambah parah, semoga dia enggak bertindak lebih dari ini, Ya Tuhan tolong aku,” batin Yalisa


Karena tak ada pilihan lain akhirnya Yalisa pun setuju dengan ajakan Riski.


“Ya sudah kalau gitu, ayo kita sama-sama ke sekolah.”


“Nah gitu dong” Riski kemudian melepas pelukannya dari Yalisa, dan naik kembali ke atas motornya.


“Ayo naik.” seru Riski.


“Sialan, bangkunya kok miring bangat sih, dada ku bisa menyentuh punggung entar,” batin Yalisa.


“Kenapa? Ayo naik, jangan lama-lama, kita bisa telat loh.” ucap Riski.


“Yang bikin telat kan kamu, sadar diri dong!” pekik Yalisa

__ADS_1


Riski pun menyalakan mesin motornya “Jangan banyak bawel, ayo cepat.” Desak Riski.


“Iya-iya, uuh... bilangin aku bawel sendirinya lebih bawel, sampai semua orang enggak mau lihat dia.” gumam Yalisa.


“Apa? Aku bisa dengar kamu ngomong lo, gercep!” ujar Riski.


Saat Yalisa akan menginjakkan kakinya di footstep motor Riski, Riski tiba-tiba menggas kencang motornya.


“Emang siapa yang mau kasih tebengan ke kamu, goblo*! Masih saja mau di bego-begoin!” ucap Riski seraya mengacungkan jari tengahnya ke Yalisa.


“Riski!! Sialan kamu, semoga kamu kena sial!” Teriak Yalisa.


“Ya Tuhan telat deh, kalau jalan dari sini kan makan waktu 20 menit ke sekolah, angkot juga enggak ada yang lewat, karena ini bekas kawasan PT.” ucap Yalisa seraya berlari kencang menyusuri jalan sepi tersebut.


“Kenapa sih dia kembalinya cepat bangat? Kenapa dia enggak sekalian pindah sekolah saja, bikin pegal hati kalau harus berurusan sama dia ke depannya.”


Sekitar 7 menit Yalisa berlari, dia melihat ada motor yang tergeletak di pinggir jalan, mirip dengan kepunyaan Riski.


“Eh, bukannya itu motor Riski ya?” batin Yalisa.


“Umum.. mau ngapain lagi dia kali ini? Idenya buat nyusahin orang enggak habis-habis ya!” Gumam Yalisa.


Saat sudah dekat dengan motor Riski, Yalisa samar-samar mendengar suara minta tolong.


“Toloong.....”


Begitu lirih seperti sedang kesakitan, walau sangat kesal Yalisa masih coba mengecek ke sumber suara, lalu ia mendapati Riski terbaring di atas rerumputan tajam di turunan pinggir jalan.


Saat itu, Yalisa berfikir kalau Riski mencoba mengerjainya lagi.


“Aktingnya total bangat ya, sampai tiduran di atas ilalang tajam, bodoh amat, mending aku segera ke sekolah, aku enggak akan tertipu untuk kedua kalinya ya.” saat Yalisa akan berlalu, Riski melihat kehadiran Yalisa.


“Yalisa tolong aku, kaki dan tangan ku terkilir enggak bisa duduk, tolong jangan tinggalin aku.” pinta Riski.


Yalisa tetap tak perduli dan mulai melangkahkan kakinya tapi Riski terus memohon.


“Please jangan pergi, aku beneran enggak bisa bangun tangan dan kaki ku terkilir.”


“Kamu fikir aku percaya!” Teriak Yalisa Yang berjarak 80 meter dari Riski.


“Aku enggak bohong, makanya kamu kesini lihat aku, badan ku banyak goresan rumput tajamnya, kalau memang mau ngerjain kamu, aku enggak perlu repot tiduran disini bodoh!”


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE DAN TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️

__ADS_1


Instagram : @Saya_muchu


__ADS_2