SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXII (Perhatian)


__ADS_3

Yalisa hanya dapat melihat kepergian Leo bersama wanita itu tanpa bisa mencegahnya.


“Hiks hiks hiks, kenapa aku enggak rela kalau dia pergi? Pada hal sudah jelas dia mengkhianati aku, hiks hiks.”


Bruk!


“Aduh!” tubuh Yalisa ambruk ke lantai, ia pun membuka matanya.


“Hah! Ternyata hanya mimpi?” gumam Yalisa.


“Ckckck, kalau di dunia nyata mana mungkin aku berani melakukannya.” Yalisa pun bangkit dari lantai seraya memegang bokongnya yang terasa sakit akibat jatuh dari ranjang tadi.


Ia pun berjalan menuju kamar mandi, sebab ia lihat ke jam dinding sudah menunjukkan pukul 06:00.


“Ya ampun, aku kesiangan bangat.” gumam Yalisa.


Yalisa pun bergegas mandi, setelah selesai, ia pun memakai seragam putih abu-abunya, menyisir rambut panjangnya, lalu tak lupa ia merapikan poninya dengan penjepit rambut kecil, agar tak terurai, mengingat poninya sudah Sepenjang dagu.


Setelah semua beres, Yalisa pun memutuskan untuk langsung berangkat, saat ia telah di depan pintu utama rumahnya, langkahnya terhenti, karena ia ingat perkataan Riski, untuk makan teratur.


Tapi karena Yalisa tidak memasak nasi, akhirnya ia memutuskan untuk sarapan di sekolah saja.


“Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah.” Setelah membaca do'a keluar rumah, Yalisa berangkat dengan penuh semangat.


“Ini adalah lembaran baru bagi hidup ku, aku harus mengisinya dengan awal yang baik,” batin Yalisa.


Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, ia pun sampai ke gerbang sekolah tercinta.


“Akhirnya sampai juga hufff.” Yalisa melap keringat yang ada di dahinya dengan telapak tangannya.


Leo yang sedang berdiri di pintu kelasnya tanpa sengaja melihat Yalisa yang ada di gerbang.


“Yalisa,” gumam Leo.


Leo pun melangkahkan kakinya dengan sangat cepat menuju gerbang.


“Aku harus minta maaf sama dia.” itulah niat yang ada dalam batin Leo.


Saat akan dekat dengan tempat Yalisa berdiri, tiba-tiba Leo melihat kehadiran Mei yang merangkul bahu Yalisa.


Sontak Leo menghentikan langkahnya, karena jika ia tetap melanjutkannya, mungkin saja Mei akan mengadu pada bu Dita.


“Hah!” Leo menarik nafas panjang dan mengeluarkannya. Lagi-lagi ia gagal mendekati Yalisa.


“Mei!”


“Hehehe, Apa kabar?” ujar Mei.


“Aku baik, kamu sendiri bagaimana? Kok enggak datang ke sekolah selama beberapa hari?” tanya Yalisa, seraya memperhatikan penampilan Mei yang datang ke sekolah hari ini begitu berbeda dari biasanya.


Ya, Mei menggunakan make up, terlihat sekali bedak tebal, dan lip ice mewarnai bibirnya.


“Aku ketemu kedua orang tua ku, hehehe.”


“Apa?” wajah Yalisa berubah jadi datar, karena ia tahu kalau Mei sedang berbohong padanya.

__ADS_1


“Iya, ya sudah yuk, kita ngobrolnya sambil jalan saja oke.” seru Mei dengan wajah berseri-seri.


“Oke.” Yalisa tak tahu, kenapa Mei harus berbohong padanya.


Untuk sementara Yalisa memutuskan pura-pura tak tahu apapun, karena dari pengamatannya, Mei masih bisa mengatasinya.


“Apa om dan tante sehat?”


“Sehat bangat dong, aku senang bangat bisa ketemu mereka.”


“Mungkin memang benar dia ketemu om dan tante, bahagia yang terlukis di wajahnya itu sangat nyata.” batin Yalisa.


Sesampainya mereka berdua ke kelas, Mei heran karena sudah ada Riski di kursinya.


“Minggir.” ucap ketus Mei yang masih menyimpan marah pada Riski.


“Baru datang udah bikin rusuh.”


“Ngapain kamu ada di kursi ku, awas! Aku mau duduk.” Mei menggoyang-goyang bangku yang di duduki Riski.


“Aduh Mei, masih pagi jangan marah-marah.” Yalisa mencoba melerai keduanya.


“Benar kata Yalisa, jangan marah-marah, itu enggak baik buat kesehatan mu.” ucap Riski yang masih tak mau beranjak.


“Sudah berapa lama dia duduk disini?” tanya Mei pada Yalisa.


“Selama kamu absen.”


“Harusnya kamu bersyukur, saat tak ada kamu, aku ada untuknya, baik-baik kamu sama Yalisa.” ujar Riski seraya berdiri dari duduknya.


Mei tahu apa maksud perkataan Riski itu, ia pun memalingkan wajahnya karena tak suka bertatap mata dengan Riski.


“Nih!” Riski memberikan tas belanja kecil itu pada Yalisa.


“Apa ini?”


“Ini bisa membantu memulihkan wajah mu yang rusak itu, kamu harus rawat dirimu sendiri, setidaknya kalau kau tak kaya, kamu harus cantik, cantik wajah dan cantik hati.” terang Riski, lalu Yalisa pun menerima pemberian Riski dengan tersenyum kecil.


Mei tahu, sindiran itu di tujukan padanya, namun ia tak bisa melakukan apapun pada Riski, karena ada Yalisa di sampingnya.


Saat Yalisa lihat isi dalam tas pemberian Riski, ternyata itu adalah sheet mask dan eye mask.


“Ki, maskernya banyak bangat.” ucap Yalisa dengan perasaan senang.


“Aku cuma beli selusin selusin, kalau kurang nanti aku suruh kurir buat antar ke rumah mu.”


“Makasih banyak ya Ki.” setelah itu Riski pun berlalu dari kursi mereka, menuju tempat duduknya semula, yaitu bangku barisan paling depan bersama Zuco.


“Baru ingat pulang kamu!” ucap Zuco dengan wajah kecut.


“Kamu keberatan aku kesini lagi?” tanya Riski seraya duduk di kursinya kembali.


“Bukan, habis kamu ninggalin aku sendirian disini, kamu tahukan gimana menegangkannya duduk di kursi VIP seperti kita ini?”


“Hahaha, sorry Co, sudah meninggalkan mu beberapa hari ini.” ucap Riski seraya tertawa.

__ADS_1


“Iya, entah kenapa di sekolah kita ini aneh, yang kapasitas otaknya tengkurap malah di wajibkan duduk di bangku paling depan.” ujar Zuco.


“Hahaha... sudahlah, jangan sedih lagi, nanti aku traktir ke kantin.” terang Riski seraya menepuk-nepuk punggung Zuco.


“Ki.”


“Hum?”


“Aku boleh minjam uang mu enggak?”


“Minjam uang?”


“Iya, aku janji bakalan bayar bulan depan Ki.”


Zuco menyatukan kedua tangannya.


“Buat apa?”


“Aku mau beli handphone Apel keluaran terbaru itu, habis aku main toktok pake handphone kentang enggak pernah FYP.” Riski yang memang dasarnya royal tak dapat menolak permintaan temannya itu, apa lagi ia tahu kalau Zuco sangat ingin sekali menjadi selebriti dadakan.


“Baiklah kalau begitu, aku akan kasih uangnya sama kamu, tapi ada syaratnya.” terang Riski yang tak mau memberi cuma-cuma.


“Apa itu Ki?”


“Sini mendekat aku bisikin.” Zuco pun mendekatkan telinganya ke Riski, barulah ia tahu, kalau Riski merencanakan sesuatu yang menurutnya cukup aneh.


“Kamu hanya meminta bantuan itu pada ku?”


“Iya, atur agar perjalanan itu menjadi sesuatu.”


“Baiklah, kalau cuma itu sih kecil!” Zuco merasa yakin kalau ia dapat melakukan tugasnya.


“Eh satu lagi.”


“Apa itu?”


“Aku sudah lihat video joget ular mu di tok tok, menurut ku badan mu kurang lentur, ku rasa masalahnya bukan pada merek handphonenya, melainkan goyangan mu yang kurang menarik.” terang Riski seraya membuka aplikasi mbanking yang ada di handphonenya, dan mengirim uang dengan nominal 20 jt ke rekening Zuco.


“Sudah ya.” ucap Riski seraya memperlihatkan bukti transferan yang ia lakukan.


“Makasih banyak Ki, aku berhutang banyak sama kamu, nanti pasti aku bayar, do'akan biar joget angin semesta ku viral kali ini!” seru Zuco seraya menciumi punggung tangan Riski.


“Iya-iya, sudah ah, jangan berlebihan begini.” meski Riski tahu, kalau Zuco tidak akan mengembalikannya, tapi ia tetap memberi, karena ia butuh bantuan Zuco kedepannya untuk melakukan hal-hal besar.


Jadi andai Zuco tak bersedia membayar, Riski akan menganggap itu lunas.


_____________________________________________


“Mei, ada apa sih selama beberapa hari ini? Kenapa kamu enggak masuk sekolah? Kalau ada masalah, harusnya kamu cerita sama aku, kita kan sahabatan sudah lama, masa kamu belum percaya sama aku?” Yalisa mencoba memancing Mei, agar mau membuka mulut, bagaimana pun juga, Yalisa tak bisa membiarkan temannya itu melalui masalahnya sendirian.


“Aku baik-baik saja kok, jangan khawatir, malah perasaan ku sekarang jauh lebih baik.” Mei tak mau menceritakan apapun pada Yalisa saat ini, terlebih soal perjodohannya dengan Riski, walau pun ia sudah merebut Leo dari Yalisa, bukan berarti nyalinya lebih dari itu untuk terang-terangan di depan Yalisa secara langsung.


“Oke, kalau kamu emang enggak mau cerita, tapi..., ada yang aneh.” Yalisa menatap Mei dengan penuh selidik.


“Aneh? Apanya?” Mei tersenyum gugup, ia merasa kalau Yalisa curiga padanya.

__ADS_1


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


__ADS_2