
Semua orang hanya terdiam melihat tingkah aneh Riski yang datang-datang seperti orang kesurupan.
Mei yang duduk di bangkunya pun menelan saliva seraya berkata dalam hati
“Ini anak kenapa ya?”
Setelah hatinya puas, Riski duduk di kursinya, Zuco yang duduk di sebelahnya kemudian memberanikan diri untuk bertanya.
“Kamu kenapa bro?”
“Jangan ganggu aku dulu.” ucap Riski seraya meletakkan telapak tangannya di wajahnya.
Zuco yang faham kalau Riski butuh waktu pun hanya diam saja.
Tak lama bel sekolah berbunyi, semua siswa siswi kembali ke aktivitasnya masing-masing, mengikuti pertandingan akhir semester yang telah di tentukan.
Mei yang melihat Riski sudah agak baikan langsung mendekatinya yang sekarang tengah duduk di sebuah kursi di taman sekolah.
“Hem, boleh duduk kan?” tanya Mei.
“Duduk saja kalau mau,” jawab Riski, lalu Mei pun duduk di sebelah Riski.
“Ada apa?” tanya Mei.
“Apa kamu sudah tahu, kebejatan calon suami mu?” ungkap Riski.
“Oh, iya aku sudah tahu.”
“Tadi aku bertemu dia di parkiran, bukannya merasa bersalah, dia malah bersikukuh ingin bersama Yalisa.” terang Riski.
“Iya, dia juga begitu pas aku minta kejelasan, tapi itu tidak akan mengubah keputusan ku, kalau aku akan tetap menikah dengannya,”
“Mei, kok bisa sih kamu suka sama orang seperti dia?”
“Terus aku harus suka sama siapa? Orang tua ku saja membuang ku, hanya ibunya yang menerima ku, jadi apa aku salah kalau sedikit egois? Aku sudah cukup berkorban dalam menahan kebahagiaan ku selama ini.” terang Mei yang tak sadar telah mengatakan ketidak bertanggung jawaban orang tuanya.
Dan itu cukup membuat Riski mengerti, “Baiklah, kalau kamu memang sudah memutuskan begitu, teruskan saja, aku enggak akan menghalangi.”
Setelah percakapan itu, keduanya pun memisahkan diri.
Seminggu kemudian penerimaan raport pun telah tiba, dan saat itu Yalisa telah masuk sekolah, sayangnya kali itu Riski tak masuk rangking 10 besar, namun setidaknya ia tidak berada di urutan belakang lagi. Setelah menerima raport liburan pun tiba.
Yalisa yang tidak memiliki agenda kemana pun di ajak oleh Riski untuk liburan ke Bandung, ke Villa keluarganya bersama Mei, Zuco dan Marco, awalnya Yalisa menolak, tapi karena Riski terus memaksa, akhirnya Yalisa pun setuju.
Hari H untuk on the way ke Bandung telah tiba, Riski dengan mobil mewahnya datang menjemput sang pujaan hati, saat Yalisa masuk ke dalam mobil, ternyata sudah ada Marco dan Zuco di dalamnya.
“Loh, aku fikir aku yang terakhir.” ucap Yalisa karena Mei belum berada dalam mobil.
“Enggak tahu tuh, dari tadi handphonenya sibuk terus.” ujar Riski.
“Ya sudah kita ke rumahnya saja,”
__ADS_1
Saat mereka semua akan menuju rumah Mei, tiba-tiba Mei menelpon Riski.
📲 “Halo, Ki maaf ya aku baru bisa telepon sekarang,” Mei.
📲 “Iya, enggak apa-apa Mei, sekarang kita mau ke rumah kamu, siap-siap ya,” Riski.
📲 “Nah, itu dia, aku mau minta maaf lagi, aku enggak bisa ikut, karena aku ada acara sama keluarganya Leo,” Mei.
Riski terdiam sejenak, karena ia bingung harus memberi tahu Yalisa atau tidak, sebab jika Yalisa tahu Mei tidak jadi ikut, sudah jelas kalau Yalisa tidak mau pergi.
📲 “Ya sudah kalau begitu,” Riski.
“Mei bilang apa?” tanya Yalisa.
“Katanya kita berangkat duluan saja.”
“Terus, dia nyusul?”
“Iya.” dengan terpaksa Riski berbohong, karena sebenarnya Riski sudah lama menantikan liburan itu.
“Ya sudah, ayo berangkat kalau begitu,” ucap Yalisa.
Zuco dan Marco pun bersorak gembira akan keberangkatan mereka.
Setelah menempuh perjalan 4 jam, akhirnya mereka sampai juga di kota Bandung, mereka pun turun satu persatu dari dalam mobil, tak lupa mereka mengeluarkan koper mereka yang ada di bagasi mobil.
Yalisa, Zuco dan Marco cukup takjub melihat pemandangan yang begitu menyegarkan mata.
“Wah, bagus bangat Ki Villa nya,” ucap Marco.
“Iya dong, nah kita bakalan liburan disini, selama 3 hari.” terang Riski.
“Mantap! Mantap!” seru Marco.
“Gimana Yalisa, kamu senang kan?” ucap Riski dengan senyum manisnya.
“Iya,” sahut Yalisa.
“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, terpenting sekarang kamu harus nikmati liburan kita ini, kamu juga berhak bahagia, ibu mu juga pasti senang kalau kamu senang.” terang Riski seraya merangkul bahu Yalisa.
“Makasih ya, udah hibur aku.” tanpa berlama-lama lagi, mereka pun memasuki villa yang indah dan unik itu, dan di dalam villa tersedia 3 kamar tidur, 2 kamar ada di lantai bawah, dan satu kamar lagi ada di lantai atas.
Zuco dan Marco memilih kamar yang pertama kali di jumpai tepat di dekat pintu masuk villa, lalu Riski memilih kamar di sebelahnya, dan karena Yalisa adalah perempuan sendirian, dia pun Riski arah kan untuk ke kamar yang ada di lantai 2.
Saat Yalisa telah sampai ke lantai 2, dan membuka pintu, ia terhibur melihat dekorasi kamar yang begitu indah dan bersih, di tambah lagi pegunungan terpampang jelas dari kamar itu.
“Kamarnya bagus Ki.” ucap Yalisa seraya menoleh ke Riski yang ada si sebelahnya.
__ADS_1
“Syukurlah kalau kamu suka, di antara ke 3 kamar, ini yang paling luas.” terang Riski.
“Ya suka lah, ini udah lebih dari bagus dan luas.” akhirnya Riski dapat melihat senyum manis Yalisa, setalah sekian purnama, hanya melihat sang kekasih menangis dan termenung.
Lalu mereka berdua pun masuk ke dalam kamar, Riski yang baik hati pun menarik koper gadis pujaan hatinya, Yalisa yang bersemangat melihat gunung langsung membuka pintu kaca menuju balkon.
Drrrkkkk!!!!
Saat pintu telah terbuka , Yalisa berdiri di pinggir balkon seraya membentangkan tangannya, menghirup dalam-dalam udara pegunungan yang begitu menyegarkan.
Lalu dari belakang, Riski melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Yalisa.
“Ki!” Yalisa yang masih risih akan keintiman seperti itu langsung menggeliat.
“Kenapa?”
“Jaga jarak ah!”
“Kamu suka pemandangannya?”
“Suka, tapi bukan berarti harus peluk-peluk juga begini.” terang Yalisa.
“Yaaaa, iya sih, tapi kan udah lama juga kita jaga jarak,”
“Aku...”
“Udahlah, biarkan aku peluk kamu sebentar saja.” karena banyak berhutang budi pada Riski, Yalisa pun menurut saja.
“Lis,”
“Hum?”
“Nanti kalau kita udah nikah, kita bulan madu kesini yuk, berdua.” ucap Riski ke telinga Yalisa, yang membuat Yalisa kegelian.
“Ngomong apa sih?” ucap Yalisa yang mulai melepaskan lingkaran tangan Riski.
“Emang kamu enggak mau nikah sama aku?” tanya Riski seraya memutar badan Yalisa menghadap dirinya.
“Ya kalau jodoh mau, tapi itukan masih lama dan entah sampai kapan, jadi menurut aku, enggak usah di bahas sekarang,” terang Yalisa.
Kemudian Riski memegang kedua pipi Yalisa dan membungkuk, menghantarkan wajahnya ke ke hadapan wajah Yalisa.
“Kalau setelah lulus sekolah mau? Nanti kita kuliah bersama,”
“Apa sih Ki? Kita masih anak-anak lo, kita baru 17 tahun, masa mau nikah sih?”
“Ya enggak apa-apa kan? Lagian kitaberdua sudah dewasa.”
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu