
Hari itu adalah hari Kamis, minggu tenang sekolah masih berlanjut, setelah sarapan, Mei berangkat sekolah dari kediaman Yalisa.
“Aku pergi dulu ya, jaga diri baik-baik.” ujar Mei seraya memeluk Yalisa.
“Iya, makasih banyak ya Mei udah bagi waktu buat temani aku disini.” setelah saling melepas pelukan, Mei pun berangkat sekolah menggunakan transportasi ojek online.
Mei berangkat pada pukul 06:30, dan sebelumnya ia sudah janjian untuk
bertemu dengan Leo.
Sesampainya ia ke sekolah, Mei buru-buru melangkahkan kakinya menuju ruang praktek komputer.
Drrkkkk!! Setelah pintu terbuka, Mei mendapati Leo sedang duduk di kursi guru.
Leo yang mendengar suara geseran pintu langsung menoleh ke sumber suara.
“Ada apa? Suruh aku datang pagi-pagi begini?” tanya Leo dengan raut wajah letih.
Kemudian Mei yang terbakar api cemburu berjalan cepat menuju Leo.
Plak!!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Leo, yang membuat Leo seketika berdiri dari duduknya.
“Apa-apaan kamu!” hardik Leo.
“Kamu yang apa-apaan! Dasar cowok bejat! lihat!” Mei memperlihatkan photo leher Yalisa yang ia ambil tadi malam sewaktu Yalisa tidur.
“Apa yang sudah kamu lakuin?!” Leo hanya tersenyum sinis menanggapi amarah Mei.
“Kenapa kamu cuma senyum? Ha? Aku ini calon istri mu! Aku tahu, kamu mau ketemu dia hari minggu kemarin!” Mei yang biasa tenang di hadapan orang-orang kini malah lepas kendali.
“Oh, jadi kamu memata-matai aku?” Leo yang masih di rundung rasa sedih dan bersalah akan Yalisa mulai emosi juga.
“Aku enggak sengaja lihat kalian ngobrol di ruangan ini! Sudah sampai mana kebejatan mu sama dia! Jawab jujur!” Mei kali ini benar-benar di luar kendali.
“Oh, jadi kamu mau tahu hubungan kami sampai mana? Oke, aku akan bilang semuanya, aku dan dia sudah menyatukan diri, tak ada lagi rahasia di antara kami.”
“Maksudnya?”
“Kamu enggak ngerti kata kiasan ya? Aku dan dia sudah melakukan hubungan suami istri, walau awalnya dia menolak, tapi pada akhirnya dia relakan kesuciannya untuk ku.” terang Leo, yang membuat air mata Mei mengalir tanpa ia sadari.
__ADS_1
“Hum, kalau aku ingat itu, rasanya panas dan menggaira*kan, itu adalah pengalaman pertama kami, walau ada air mata, tapi seiring waktu, dia menikmati juga, namanya juga kita saling cinta, hum! Itulah kenyataannya Mei.”
“Teganya kamu, pada hal aku sudah memberikan kehidupan baru untuk ibu mu, tapi kamu enggak pernah menghargai apa yang aku perbuat, secara paksa kamu melakukan itu pada ku, aku tidak menuntut apapun selain meminta hati mu untuk ku.”
“Sudahlah Mei, kalau enggak kuat, menyerah saja sekarang, sebelumnya aku sangat susah melupakan Yalisa, apa lagi di tambah yang sekarang, apa enggak makin gila aku sama dia? Tiap waktu selalu terbayang wajahnya, dan bukan enggak mungkin juga kalau kami akan melakukan lagi, dan aku akan terus melakukan itu dengannya sampai dia mengandung anak ku.”
“Enggak, kamu enggak boleh lakuin itu, aku enggak mau kehilangan kamu, kamu harus jadi milik ku.” terang Mei dengan mata membelalak.
“Terserah kamu, kalau dia sampai hamil, apa iya ibu ku masih melanjutkan pernikahan kita? Kalau ibu ku tetap kokoh, akan ku jadikan dia istri kedua, jadi fikir-fikir sendiri ya Mei, mau jadi istri yang tak di anggap, atau mau jadi sahabat yang berbudi luhur, hahaha, masih ada waktu, jangan sia-siakan hidup mu demi orang yang tidak mencintai mu.” terang Leo, kali ini Leo sangat berharap kalau Mei akan menyerah.
“Aku akan tetap pada pendirian ku, kita lihat saja, akan ku buat kamu lupa dengan dia, kalau aku enggak bisa dapatin kamu, dia juga enggak boleh, fikir kan sendiri brengse*!” setelah itu Mei meninggal kan Leo sendiri di dalam ruangan itu.
Leo tak memikirkan perkataan Mei tersebut karena di kepalanya hanya ada Yalisa, dan tentang bagaimana ia harus mendekati Yalisa lagi.
Sementara Mei yang merasa sakitnya kambuh segera berlarian ke atap gedung, ia tanpa lelah menaiki anak tangga, hingga ia mencapai tujuannya.
Mei pun duduk seraya menyandarkan tubuhnya di toren besar yang ada di atap gedung itu.
Dengan nafas terengah-engah ia mengambil obat Xanax nya dari dalam tas.
Gluk gluk gluk, Mei menelan 1 tablet di bantu dengan air mineral yang selalu ia bawa dalam tasnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya ia kembali tenang.
Lalu dari belakangnya terdengar suara “Tingkah aneh?”
Tanpa menoleh ke sumber suara, Mei sudah tahu itu siapa.
“Iya, aku mengalami kepanikan berlebih, cuma kamu yang aku kasih tahu, dan ngapain kamu kesini?” tanya Mei pada Riski yang kini ikut duduk di sebelahnya.
“Aku lihat kamu lari-lari enggak jelas kesini.” ujar Riski.
“Oh, eh Ki, kalau boleh tahu, kamu sesayang apa sih sama Yalisa?” tanya Mei seraya mengeluarkan rokok dari dalam tasnya.
“Sayang bangat lah, aku rela lakuin apa pun demi dia.” ujar Riski seraya mengambil sebatang rokok yang ada di tangan Mei.
Cetek!
“Wuss..., berarti kamu bakalan terima dia apa adanya dong kalau memang beneran cinta.” ujar Mei seraya mengisap rokoknya.
“Iya terimalah, apa lagi sekarang dia sebatang kara, nanti aku mau kirim salah satu ART ku ke rumahnya buat urus dia, karena aku enggak tega lihat dia sendirian.” ungkap Riski dengan terus menghisap filter rokoknya.
__ADS_1
Mei cukup senang karena Riski mau menerima Yalisa apa adanya.
“Berarti kalau Yalisa kenapa-napa, dia mau tanggung jawab dong, apa aku pengaruhi Riski buat melakukan itu juga pada Yalisa, biar enggak ketahuan yang di kandung Yalisa anak Riski atau Leo.”
“Kalau khawatir, kenapa kamu enggak bawa dia tinggal di rumah mu saja?”
“Mana mungkin ayah setuju, untuk sementara biar begini saja.” terang Riski.
“Tapi, kalian udah pernah lakukan yang begituan enggak sih?”
“Begituan apaan?” tanya Riski dengan wajah masam.
“Sekarangkan biasa tuh kalau pacaran melakukan begituan.”
“Udah gila ya kamu? Mana mungkin aku lakuin itu sama dia, dia itu cewek baik-baik, beda dari yang lain, kalau pun aku mau, kita harus nikah dulu, aku udah berubah Mei, jangan fikir aku akan rusak dia semudah itu, dia itu sama seperti mu, masih suci, bedanya kamu gila dia waras.” terang Riski yang kini telah selesai menghisap rokoknya.
“Di antara kami enggak ada kesamaan sama sekali, ingat itu.”
“Maaf-maaf, kalau kamu tersinggung, tapi Mei, aku lihat akhir-akhir ini kamu enggak suka sama Yalisa.”
“Apa?” Mei mengernyit.
“Aku kenal kamu Mei, dan tahu betul karakter mu, kecemburuan nampak jelas di mata dan wajah mu, kita sama-sama tahu Yalisa sudah enggak punya hubungan apapun dengan Leo, jadi singkirkan niat jahat mu itu, kalau sampai Yalisa terluka sedikit saja karena ulah mu, habis kamu di tangan ku, aku yakin kamu pasti pernah dengar gosip tentang keluarga ku, jadi mari sama-sama sportif.” Mendengar gertakan Riski Mei sedikit gentar.
Karena sedikit banyaknya ia tahu, keluarga Riski memiliki bisnis ilegal, bandar besar serta berhubungan dengan mafia, perusahan XX yang keluarga Riski jalankan hanya sebagai peralihan isu, agar keluarga Riski tak di curigai oleh polisi.
“Aku harus hati-hati dengan Riski, salah sedikit bisa di jual aku di dark web.” batin Mei.
Mei yang tak mau ambil resiko pun memilih menjaga sikap, karena ia sadar tindakan yang ia lakukan tidak sebanding dengan yang keluarga Riski jalankan.
“Aku hanya bertindak sendiri, sedangkan dia banyak pesuruh, bisa mati konyol aku kalau sampai salah langkah.” batin Mei.
Lalu Riski beranjak dari duduknya dan berkata “Ayo turun, kita masih harus mengikuti pertandingan semi final.”
Mei pun berdiri dari duduknya, dan mereka beranjak turun menuju gedung olah raga.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.