SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LVI (Hasil Laboratorium)


__ADS_3

“Humm!!!” Yalisa pun meregangkan tubuhnya, dan melirik ke arah Riski yang wajahnya begitu dekat dengan wajah Yalisa.


“Lo! Kamu sudah datang?” ucap Yalisa dengan wajahnya yang pura-pura bingung.


“Cih, banyak akting bangat kamu.” Riski beranjak dari duduknya untuk mengambil mangkuk dan sendok di rak piring kecil yang ada dalam UKS itu.


Lalu Riski membuka bungkus sup kambing yang ia bawa dan menuangkannya ke dalam mangkok mereka masing-masing.


Kemudian Yalisa bangun dari tidurnya untuk duduk. Riski juga menggeser sedikit meja yang ada di samping ranjang Yalisa tepat di hadapan mereka berdua.


“Ayo makan.” Riski menyodorkan mangkuk sup kambing itu kepada Yalisa.


“Iya, makasih banyak.” Yalisa yang duduk di atas ranjang mulai mencicipi kuah sup kambingnya.


“Aduh! Panas!” Karena kaget Yalisa tak sengaja menjatuhkan sendoknya ke lantai.


“Makanya, di tiup dulu sebelum di seruput.” ucap Riski dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Cip, iya iya.” Yalisa pun membungkuk, berniat turun dari ranjang untuk mengambil sendoknya kembali.


“Enggak usah di ambil, udah jorok juga,” ucap Riski.


“Kan bisa di cuci,” sahut Yalisa.


“Di wastafel enggak ada sabun, sendok tadi cuma dua, kamu repotin bangat ya.” Riski pun mengambil sepotong daging dari mangkuknya.


“A! Buka mulutnya yang lebar.”


“Enggak usah, kamu saja duluan, nanti baru aku pakai sendok mu.”


“Kamu mau di suap pakai sendok apa mulut?” Riski mulai menampilkan tatapan mata genitnya.


“Ya sudah, pakai sendok, kayaknya lebih oke.” sahut Yalisa dengan rada malu.


“Ngerjain bangat sih dia, bikin pandangan ku jadi silau.” batin Yalisa.


Riski pun menyuapi Yalisa dengan sangat telaten. Satu suap, dua suap, sampai empat suap telah masuk ke dalam mulut Yalisa.


“Kamu enggak makan?”


“Gampang, yang penting kamu kenyang dulu.” ungkapan Riski, yang membuat Yalisa jadi bungkam, tak tahu mau merespon apa pada Riski, dan perasaannya pun seketika jadi aneh.


Saat suapan ke sepuluh, Yalisa menahan tangan Riski. Lalu Yalisa merebut sendok tersebut.


“Kamu juga harus makan, kalau kamu entar tepar gimana?” Yalisa menyuap Riski yang sedari tadi belum makan sepotong pun.


Dengan senang, Riski membuka lebar mulutnya.


“Aku enggak nyangka,” ungkap Riski.


“Apanya?” sahut Yalisa seraya menyuapi Riski lagi.


“Perlahan kamu mulai suka sama aku,” ucap Riski.


Mendengar perkataan Riski, Yalisa meletakkan sendok yang ia pegang ke dalam mangkuk, karena ia teringat akan Leo yang telah jadi kekasihnya.


“Aku lagi ngapain sih sekarang?” batin Yalisa.


“Kok berhenti? Tuh, di mangkuk punya mu masih banyak dagingnya.” ucap Riski.


“Kamu makan sendiri saja!” pekik Yalisa, yang merasa bersalah pada Leo.


Lalu tanpa protes Riski melanjutkan makannya hingga selesai.


“Kenapa tiba-tiba mood mu jadi kacau?” tanya Riski pada Yalisa yang wajahnya terlihat kusut.


“Kamu tahu kan, aku udah punya pacar? Ngelakuin ini dan itu di belakang dia, aku jadi merasa bersalah, kamu kan sudah punya Yovi, aku juga tahu, kamu punya pacar yang lainnya, tolong dong, kamu jangan main-main lagi sama aku.” Yalisa mencoba memberi pengertian pada Riski.

__ADS_1


“Emang ada undang-undang yang mengatur kalau pacaran harus sama satu orang? Enggak kan? Dan satu lagi, aku enggak pacaran sama Yovi,” terang Riski.


“Tapi kan masih ada yang lain?” sambung Yalisa.


“Aku jarang ketemu dia, jadi kamu enggak usah khawatir,” terang Riski.


“Sakit jiwa ya kamu, emang aku perduli? Yang suka sama kamu emangnya siapa?”


“Aku akan putusin cewek itu dari dalam hati ku, asal kamu mau jadi pacar ku.”


“Jangan mimpi,” sahut Yalisa.


Riski menggelengkan kepalanya, lalu beranjak untuk membereskan tempat makan mereka berdua.


Riski memasukkan semua sampah ke kantong bekas sup kambing mereka termasuk mangkuk sup kukuruyuk yang baru saja mereka pakai.


“Kok mangkuknya di buang juga? Itu kan punya UKS” tanya Yalisa.


“Nanti aku beli yang baru, mangkuk usang kok masih di pakai, buruan minum sari kacang hijau mu, biar cepat pulih.” tutur Riski seraya membuang sampah yang telah ia susun ke dalam tong sampah.


“Bisa bengkak biaya bulanan kalau sampai nikah sama dia.” batin Yalisa.


Setelah semua bersih seperti sedia kala, Riski duduk kembali tepat di hadapan Yalisa.


“Sekali lagi jangan ikut donor darah ya.”


“Ke.” Riski menutup bibir Yalisa dengan jari telunjuknya.


“Karena kamu enggak kuat.” ucap Riski seraya meletakkan dahinya ke bahu Yalisa.


“Riski, kamu ngapain sih?” Yalisa merasa Risih dengan sikap Riski.


“Pokoknya, kamu jangan sampai sakit.” Riski mengangkat kembali kepalanya.


“Oke.” sahut Yalisa dengan tersenyum kecil.


Karena Yalisa sudah merasa baikan, mereka pun memutuskan untuk kembali ke kelas mereka.


________________________________


Drrttt....


“Saya sudah kirim hasil testnya dalam bentuk pdf.” Dokter 📱.


Leo pun membuka file yang di kirim oleh dokter tersebut.


“Hasilnya cocok, tapi apa Mei mau untuk mendonorkan ginjalnya pada ibu?” gumam Leo, Lalu Leo mendial nomor Mei.


“Halo?” Mei.📱


“Halo Mei.” Leo. 📱


“Kenapa Leo?” Mei. 📱


“Nanti malam mau kemana?” Leo. 📱


“Di rumah doang sih, kenapa?” Mei. 📱


“Ketemuan yuk entar malam, aku mau bilang sesuatu.” Leo. 📱


“Oke, nanti kirim alamat saja ya.” Mei. 📱


“Semoga Mei berbaik hati, dan ikhlas mendonorkan ginjalnya, aku harap semua berjalan lancar.” batin Leo.


“Leo kira-kira mau ngomong apa ya? Tumben bangat ngajak ketemuan.” gumam Mei


“Tapi enggak salahkan kalau kita ketemu berduaan?” gumam Mei kembali, seraya merasa sedikit bersalah, bertemu berdua dengan pacar sahabatnya sendiri.

__ADS_1


_______________________________________


Malam harinya, Mei pun datang menjumpai Leo di sebuah cafe XX, yang letaknya tak jauh dari rumah Leo.


Mei yang telah tiba, langsung saja masuk ke dalam cafe, dan mendapati Leo duduk di salah satu bangku yang ada dalam cafe itu.


“Silahkan duduk,” ucap Leo.


“Oke.”


“Mau makan apa?” tanya Leo seraya membuka buku menu.


“Aku lagi diet, kalau jus terong Belanda saja boleh kan?”


“Bolehlah, ya sudah kalau gitu aku pesan itu juga.” ungkap Leo dan menutup kembali buku menu. Lalu memanggil pelayan untuk mempersiapkan pesanan mereka.


“Ada perlu apa sih sebenarnya? Sampai-sampai ngajak ketemu malam-malam begini?” tanya Mei.


“Aku enggak tahu mau mulai dari mana bilangnya Mei.” ungkap Leo.


“Kamu bilang saja, kalau aku bisa bantu, pasti aku bantu.”


“Ibu ku, ibu ku mengalami gagal ginjal sebanyak 2 kali, terakhir ayah mendonorkan ginjalnya sama ibu, dan sekarang ginjal yang ayah berikan pada ibu, mulai gagal fungsi lagi, kita juga belum dapat donor Mei sampai sekarang, sementara aku enggak bisa kasih ginjal aku buat ibu, kata dokter, ginjal ku enggak cocok, entah apa sebabnya aku juga kurang ngerti.” ungkap Leo dengan mata berkaca-kaca.


“Susah sih, kalau cari donor organ yang begituan.” sahut Mei, dengan rasa simpatinya


Lalu Leo menyodorkan sebuah amplop pada Mei.


“Apa ini?”


“Baca saja dulu, nanti aku jelaskan.” terang Riski.


Mei pun membuka amplop pemberian Leo, dahinya mengerut melihat hasil laporan yang ada pada kertas yang ia baca.


“Ini maksudnya apa?” tanya Mei dengan tawa anehnya.


“Itu hasil tes DNA mu, maaf darah yang ku bersihkan tadi siang, tanpa izin ku kirim ke Lab, hasilnya, ginjal mu cocok untuk ibu ku.”


Mei langsung mengeluarkan ekspresi wajah datar.


“Tapi aku enggak mau,” ungkap Mei.


“Mei, aku bayar berapapun, tolong, tolong bangat buat bantu ibu ku, apa pun akan aku berikan, asal kamu mau bantu aku.” pinta Leo.


“Tapi aku tetap enggak mau, kamu fikir aku kekurangan uang apa? Cari saja pendonor lain.” ucap Mei dengan rasa kesal di hatinya.


“Sialan, aku di ajak ketemu buat ngobrolin hal enggak penting beginian? Yang benar saja, jangan sampai aku berbuat nekat lainnya lagi.” batin Mei.


“Mei, tolonglah, aku mohon Mei, ibu ku sudah sangat kritis.” Leo menyatukan sepuluh jarinya, agar Mei mau membantu ibunya.


“Kalau enggak ada lagi yang perlu, aku mau pulang.” ucap Mei, lalu beranjak dari duduknya.


Leo pun pasrah, tak dapat memaksa kehendaknya. Kemudian Mei meninggalkan Leo sendirian untuk keluar dari dalam cafe.


“Tuan, nyonya pingsan, sekarang kita mau menuju rumah sakit.” Maya. 📱


“Ibu,” gumam Leo, dengan menitihkan air mata.


Lalu ia pun keluar dari dalam cafe, dan melihat Mei yang masih duduk di sebuah halte. Leo pun berjalan menuju Mei.


“Mau aku antar pulang?” tanya Leo, yang berbaik hati memberi tumpangan untuk Mei.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2