
Setelah dari toko buku kedua pasang ke kasih yang baru perdana kencan setelah sekian lama berpacaran itu selanjutnya menuju restoran Jepang yang ada di luar mall.
Mereka pun memilih tempat duduk di sudut restoran agar tidak banyak yang lalu lalang dari hadapan mereka.
“Kamu mau makan apa?” tanya Riski.
Yalisa pun membuka buku menu, saat ia melihat harga yang tertera pada setiap makanan, matanya membelalak.
“Astaga, mahal bangat! 1 porsi makanan saja harganya jutaan?” batin Yalisa.
Yalisa terus saja membolak-balik buku menu, berusaha mencari menu yang harganya paling murah.
Namun harga yang tertera dalam buku tak ada satu pun yang di bawah 1 juta rupiah.
“Lama bangat sih pesannya,” ucap Riski.
Karena bingung Yalisa pun bertanya pada sang kekasih, “Kamu pesan apa Ki?”
“Disini katanya ada menu baru, enak bangat namanya jamur white truffle yang di campur dengab daging wagyu, aku juga kurang tahu detailnya, yang jelas itu menu yang lagi favorit disini,” terang Riski.
“Aku juga pesan itu ajah deh,” ujar Yalisa.
Setelah menentukan pesanan, mereka pun memanggil salah satu pelayan wanita, dan mengatakan makanan apa yang mereka inginkan..
Yalisa kagum melihat interior dan design restoran yang begitu indah, bertemakan rumah adat Jepang yang menyuguhkan pemandangan asri.
“Bagus bangat ya,” gumam Yalisa.
“Kamu suka?”
“Sukalah, kamu sudah sering kesini?” tanya Yalisa.
“Tentu saja,”
Setelah menunggu beberapa saat, menu pesanan mereka pun datang, aromanya begitu lezat dan menggugah selera.
“Ayo dimakan,” ucap Riski.
Yalisa pun menyantap makanan mewah yang ada di piringnya dengan perasaan bahagia.
“Enak bangat!!” seru Yalisa, Riski jadi bersemangat melihat wajah ceria Yalisa.
Setelah selesai makan, Yalisa yang merasa tidak akan punya kesempatan kedua untuk makan disitu lagi dengan malu-malu mengeluarkan handphonenya untuk berphoto.
Cekrek!!
“Kamu photo kok enggak ajak-ajak sih?” ucap Riski.
“Emang kamu mau ikutan?” tanya Yalisa.
“Maulah,” jawab Riski.
__ADS_1
Lalu mereka berdua pun melakukan photo selfie, tak lupa Riski menempelkan pipinya ke pipi sang paca. Dan di selfie terakhir, Riski mencium pipi Yalisa.
“Riski, banyak orang tahu!”
“Enggak ada yang perduli juga, ayo kita bayar,” ucap Riski.
Keduanya pun menuju ke kasir, “Berapa mbak?” tanya Riski.
“Totalnya 16.400.000 kak,” ucap sang kasir.
“Uhuk uhuk uhuk!” Yalisa sontak batuk mendengar harga yang di luar akal sehatnya.
Namun Riski dengan santainya memberikan atmnya pada si kasir. Setelah keluar dari restoran Riski menanyakan kondisi Yalisa.
“Kamu enggak apa-apa? Apa kita ke apotik untuk beli obat batuk?”
“Iya, kita perlu buat beli obat batuk dan sesak nafas,”
“Kamu punya sesak nafas?” tanya Riski dengan serius.
“Sebelemnya enggak, tapi sekarang iya,” jawab Yalisa.
“Kamu alergi jamur ya?”
“Sinting! Siapapun pasti bisa mati konyol dengar bayaran segitu mahalnya, lain kali kita jangan makan di tempat itu lagi, cuma jamur sama daging harganya sampai 16 jutaan?!”
“Tapi itu memang harga yang wajar.”
“Coba bayangkan, 16 juta sudah dapat emas berapa karat? Kalau kamu begitu terus, bukan enggak mungkin kalau suatu saat kamu bisa jatuh miskin,” ujar Yalisa.
“Makanan apan yang harganya segitu mahal?"
“Sudahlah, kamu banyak bacot bangat, sebaiknya aku antar kamu pulang," terang Riski.
20 menit kemudian, mereka pun sampai di kediaman Yalisa, kali itu Riski tidak mampir. karena ia menerima pesan dari pak Jamal, kalau pak Doni menyuruhnya agar segera pulang.
Sesampainya ia di rumah kira-kira pukul 17:00 sore, di ruang utama, tepatnya di pintu masuk rumah, pak Doni sudah duduk menunggunya.
“Assalamu'alaikum yah.” Riski mencium punggung tangan sang ayah.
“Sudah pulang?” ucap pak Doni.
“Iya yah,” jawab Riski.
“Dari mana saja kamu hari ini?”
“Habis dari sekolah, pergi kencan yah,” jawab datar Riski.
“Sama Yalisa?” tanya pak Doni.
“Iya yah, ada apa sih yah nyuruh Riski buat pulang?” tanpa basa basi lagi pak Doni mengungkapkan keluhannya.
__ADS_1
“Papa lihat akhir-akhir ini pengeluaran mu bengkak, kemana saja uangnya?”
“Oh, buat jajan, traktir teman, sama buat Yalisa yah,” jawab Riski dengan santai.
Lalu pak Doni memperlihatkan rekening koran Riski selama sebulan terakhir.
“Cuma untuk itu kamu habis 250 juta?”
“Kenapa sih yah? Toh cuma segitu, kan ayah juga udah beberapa bulan ini enggak kasih sogokan ke sekolah, jadi apa salahnya kalau Riski pake uangnya untuk keperluan Riski pribadi?” ucap Riski dengan perasaan kesal.
“Kamu mikir enggak sih? Itu uang bukan daun, kamu masih SMK, tapi pengeluaran mu sudah seperti orang tua,”
“Terus apa masalahnya yah? Toh kemarin Riski sudah kerja buat ayah selama 2 minggu, di kirim ke Brazil, pada hal aku enggak mau jalanin bisnis seperti ini, jadi wajar kalau Riski habiskan lebih banyak dari biasanya.”
“Riski! Kamu itu harus pintar mengelola keuangan, kalau gini terus kamu bisa menghancurkan harta ayah,” terang pak Doni.
“Ah, baru segitu!” Riski yang masih suka melawan membuat pak Doni tak sabar hati.
“Mulai besok, setelah pulang sekolah kamu enggak boleh kemana-mana,” titah pak Doni.
“Loh, kenapa yah?”
“Kamu harus private les kembali, karena setelah kamu lulus sekolah, ayah akan mengirim mu ke Brazil.” terang pak Doni.
“Kesana lagi?” ucap Riski dengan rasa tak suka.
“Iya, kamu akan mengelola bisnis yang ada disana,”
“Yah!”
“Ki! Kamu sadarkan, kamu hidup enak uangnya dari mana? Jadi jalankan apa yang ayah perintahkan!”
“Tapi Yalisa,”
“Memangnya wanita cuma dia saja? Di sana juga banyak cewek-cewek cantik, kamu bebas memilih, kali ini tidak ada penawaran, tamat sekolah, langsung berangkat.”
“Riski enggak mau yah, ayah saja yang kesana, apapun yang ayah katakan, Riski enggak akan pergi, dan enggak akan meninggalkan Yalisa.” pak Doni yang hafal watak anaknya yang pendiriannya takkan berubah pun memutar otak agar Riski mau ke Brazil.
“Begini saja, kalau kamu mau berangkat, dan dapat menaikkan omset yang ada disana, permintaan apapun akan ayah kabulkan, tapi .. kalau kamu enggak mau berangkat, ayah akan mencoret mu dari harta warisan, kamu fikir kalau kamu miskin Yalisa akan mau sama kamu? Jangankan Yalisa, setan pun tidak akan sudi untuk menyapa mu,” terang pak Doni.
Riski pun terdiam dengan penawaran ayahnya, ia tahu kalau ayahnya tidak pernah bercanda kalau berhubungan soal uang.
“Oke, kalau aku berhasil menaikkan omset dalam jangka waktu 1 tahun, izinkan aku menikahi Yalisa, dan menetap di Indonesia.” ucap Riski.
“Hahahaha, itu enggak masalah,” ujar pak Doni, karena pak Doni tahu, untuk mengelola bisnis haram mereka tidak semudah yang Riski bayangkan.
“Tolong, nanti jaga Yalisa, kalau ada yang mau melamarnya, lempar saja orang itu ke laut, kalau sampai Yalisa menikah dengan orang lain, ayah akan tahu akibatnya.” Riski mengancam balik pak Doni.
Dengan perasaan gundah, Riski meninggalkan sang ayah di ruang utama sendirian.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu