
Mata Yovi membelalak tak percaya kalau penganiayaan yang dia lakukan sampai ke handphone Riski.
“ I.. ini.. ”
Saat tau pengirim video itu adalah Zuco Yovi langsung mengumpat.
“Brengse*”
Riski menggelengkan kepala dan bersedekap.
“Kamu lupa ya aku bilang apa kemarin? Jangan urusi urusan ku” Riski menyegarkan kembali ingatan Yovi.
“Kamu sendiri kenapa harus bohong? Kenapa enggak bilang kalau itu dia?” Ucap Yovi.
“Karena kalau aku jujur hasilnya akan begini!” Sahut Riski.
“Hahaha... Geli asli geli, hanya karena dia nolong kamu?” Yovi memutar mata malas.
“Iya, jadi jangan berlebihan dan jaga sikap mu” Titah Riski.
“Apa? Hahaha... Kamu bercanda ya? Kalau itu dia, sekali pun dia sudah menolong dia tetap enggak berhak dapat perlakuan baik dari siapa pun, karena dia apa? Dia itu sampah” Tutur Yovi dengan hati gusar.
“Berhenti sebut dia sampah” Ucap Riski.
“Aku enggak mau, sebutan itu yang paling cocok untuk dia!” Sahut Yovi.
“Susah bangat sih di bilangin, jangan keras kepala gimana pun juga dia sudah menyelamatkan nyawa ku kemarin, seharusnya kamu bersyukur kalau sampai aku kenapa-kenapa bukannya kamu juga yang rugi?”
“Aku enggak perduli, lagian kamu enggak sadar ya pembullyan yang dia dapatkan hasil dari ulah mu sendiri? Jadi buat apa sok baik sekarang?” Ucap Yovi.
“Benar juga, aku memang dalang dari semua masalahnya ayah ku juga yang sogok guru biar mengabaikan semuanya”~Batin Riski.
“Kalau kamu enggak perduli, berarti kamu cuma sayang sama uang ku dong?”
Tutur Riski dengan mata penuh selidik.
“Bukan gitu maksudnya, aku enggak perduli kalau itu berhubungan dengan dia!”
Yovi mencoba bersilat lidah dari perkataannya.
“Aku yakin kamu masih ingat perkataan ku kemarin, permintaan ku enggak muluk-muluk, tapi sekarang aku lihat kamu enggak bisa penuhi hal sesederhana itu, jadi...”
Saat Riski ingin menyelesaikan perkataannya Yovi langsung memotongnya.
“Enggak yang, kamu jangan lanjutin lagi” Ucap Yovi dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sudah bosan sama kamu Yov, selama ini aku cuma menuruti mau mu saja, mulai detik ini aku dan kamu enggak punya hubungan apa-apa lagi, dan uang bulanan mu aku stop jangan ganggu aku lagi”
Perasaan Riski sangat lega setelah mengatakan keinginannya selama ini pada Yovi, tapi tidak dengan Yovi batinnya tidak terima dengan keputusan Riski.
“Enggak, aku enggak mau sayang tolong jangan putusin aku”
Air mata membasahi pipi Yovi, tak sanggup menerima semuanya.
“Aku udah banyak kasih kamu kesempatan, dan satu lagi jangan ganggu siapa pun yang dekat dengan ku kalau sampai itu terjadi, aku enggak akan segan-segan lagi sama kamu!”
Riski mulai berdiri dari duduknya dan memegang umbun umbun Yovi.
“Aku harap kamu dapatkan orang yang mencintai kamu tulus dari dalam hati, maaf aku
__ADS_1
aku enggak bisa buat kamu bahagia”
Yovi memegang tangan Riski yang berada di umbun-umbunnya.
“Aku minta maaf sayang”
Yovi masih mencoba mengembalikan keadaan.
“Kita saling memaafkan saja, aku rasa sudah enggak ada yang perlu kita bahas lagi, kamu sudah bisa pulang sekarang”
Riski berlalu dan meninggalkan Yovi sendiri dalam kamarnya.
“Semoga dia bisa menerima keadaan ini, cepat atau lambat memang harus ku akhiri juga”~Batin Riski
“Ini semua karena kamu Bab* awas saja kamu, aku bersumpah akan membalas semua ini sama kamu! Kalau aku enggak bisa dapatin Riski berarti yang lain juga enggak boleh”~Batin Yovi.
Yovi menguatkan dirinya meski terasa berat, dia pun berlalu dari kamar penuh kenangan itu dengan keyakinan kalau hubungan mereka masih bisa di perbaiki.
Riski pun melihat kepergian Yovi dengan motornya dari balkon lantai 3 rumahnya.
“Tenang saja Yov, aku akan buat kamu lupa sama aku dengan cepat” Gumam Riski.
___________________
Selesai sholat Isha Yalisa merebahkan badannya di atas ranjang, tak lama handphonenya berdering saat di periksa ternyata panggilan dari Mei.
“Halo, ada apa Mei?” 📱Yalisa
“Aku nagih penjelasan soal Riski, kok bisa kamu yang nolongin dia kemarin?”📱 Mei
“Panjang ceritanya, aku juga sebenarnya terpaksa tolongin dia, abis enggak ada siapa-siapa yang lewat situ, kaki dan tangannya juga terkilir, kasihan kan anak orang kalau sampai Wassalam?” 📱Yalisa
“Harusnya biarkan saja dia berakhir disitu, orangnya nyusahin mulu sama kamu dan semua orang, kebaikan bangat sih kamu” 📱Mei
“Ya udah, mau gimana pun emang enggak bisa di perbaiki lagi waktu yang udah berlalu, tapi kamu harus pintar jelasin ke Leo, kasihan dia” 📱Mei
“Oke, makasih banyak ya Mei atas perhatiannya” 📱 Yalisa
Setelah pembicaraan singkat itu Yalisa memutuskan untuk tidur karena dia harus memiliki banyak energi menghadapi kenyataan yang berat di hari esok.
___________________
Di pagi hari yang cerah Riski terbangun dari lelapnya, dia menyambut hari dengan begitu bahagia
“Hari ini aku membuka lembaran baru, semoga kedepannya aku lebih baik”~Batin Riski.
Dia pun bersiap-siap untuk mandi, karena ini adalah hari pertamanya masuk sekolah.
Sesampainya Riski ke sekolah dia berpapasan dengan Leo di parkiran, Leo yang melihat wajah Riski mengernyit.
“Ini anak kenapa?”~ Batin Riski.
Riski pun tak ambil pusing dengan ekspresi wajah Leo tersebut dan berlalu dari parkiran.
“Apa yang Yalisa tolong itu dia? Tapi kenapa Yalisa harus bohong sama aku?” Batin Leo.
Belum dapat jawaban atas pertanyaan dalam hatinya, Leo kembali berpapasan dengan Yovi dengan mata yang sembabnya.
“Kamu, aku punya pertanyaan sama kamu” Ucap Leo.
__ADS_1
“Mau nanya apaan!” Bentak Yovi.
“Kamu ada masalah apa sih sama Yalisa? Kenapa selalu ganggu dia terus?”
“Itu bukan urusan kamu!” Sahut ketus Yovi.
“Eh, aku peringatkan kamu jangan macam-macam ya! Jangan ganggu dia lagi sekali lagi kamu ganggu dia, bisa habis kamu!”
Bentak Leo, Yovi yang dari kemarin sudah muak dengan Yalisa menjadi histeris.
“Yalisa, Yalisa Yalisa terus! Akh... Apa bagusnya sih dia? Enggak kamu enggak Riski sama saja! Apa mata kalian buta enggak bisa lihat mana permata mana kotoran?!”
“Apa maksud kamu soal Riski? Bukannya dia selalu ganggu Yalisa?” Tanya Leo pada Yovi.
“Jangan bahas-bahas lagi soal cewek itu, kalau kamu beneran suka sama dia, buruan bilang sebelum Riski tikung kamu”
Ucap Yovi dan berlalu dari hadapan Leo, Leo tak habis fikir dengan penuturan Yovi.
“Enggak mungkin kan Riski suka sama Yalisa, dan lagi aku enggak ngerti kenapa Yalisa harus bohong sama aku?”~ Batin Riski
“Semoga saja si Leo cerdas, jadi aku enggak perlu kerja sendiri buat pisahin mereka berdua”~ Batin Yovi.
Mereka berdua pun bergegas menuju kelas mereka masing-masing, saat akan sampai ke kelas Leo, Yalisa menyapanya yang baru datang dari kantin.
“Leo, selamat pagi?”
Ucap Yalisa, Leo agak gusar karena melihat bekas luka di wajah Yalisa mirip dengan kepunyaan Riski, alhasil Leo malah langsung masuk ke kelasnya tanpa merespon sapaan Yalisa.
“Bukannya tadi Leo lihat ya saat aku sapa?”, Ucap Yalisa.
“Iya, tadi pas kamu panggil nama dia, dia langsung berhenti dan lihat kamu, aneh ya?” Sahut Mei.
“Mungkin suasana hatinya lagi enggak bagus kali ya” Ucap Yalisa.
Saat mereka berdua hampir sampai di kelas pak Ari memanggil Yalisa.
“Hei Yalisa, kenapa enggak jadi menghadap saya?” Ucap Pak Ari
Mereka berdua yang mendengar suara pak Aru langsung merinding.
“Maaf pak, saya kemarin enggak enak badan” Sahut Yalisa.
“Sekarang sudah baikan kan? Ayo ikut saya ke ruang BP” Ucap Pak Ari.
“Baik pak” Sahut Yalisa.
Mau tidak mau Yalisa terpaksa mengikuti titah gurunya, saat Mei mengikuti mereka dari belakang pak Ari melarang.
“Kamu mending ke kelas saja, ngapain ikut?” Ucap Pak Ari.
“Saya mau temani Yalisa pak” Sahut Mei.
“Urus saja urusan mu, jangan sok baik balik sana ke kelas” Titah pak Ari.
Dengan perasaan berat Mei terpaksa membiarkan sahabatnya pergi berdua dengan pak Ari si guru Killer.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram : @Saya_muchu
Happy Eid Mubarak 1442 H 🕋