
Pak Doni memarahi Riski yang masih tidak berubah sikapnya, Riski menyunggingkan bibir sebelah kirinya ke atas.
“Boleh maju ke depan untuk saling meminta maaf anak-anak, ayo ayo!” pinta pak Aryo.
Yalisa, Mei, Riski Zuco dan Marco maju ke depan di samping meja pak Aryo, kemudian pak Aryo menyuruh Riski dan kedua temannya meminta maaf pada Yalisa dan Mei. Zuco dan Marco langsung melakukannya, sementara Riski enggan.
“Ayo, ini sudah 2 jam kita rapat, biar selesai Riski!”
Bentak pak Aryo yang masih merasa emosi karena tidak dapat sogokan dari pak Doni. Perlahan Riski mengulurkan tangan kanannya ke Yalisa.
“Maafin aku Yalisa, aku udah nyakitin kamu selama ini.” Riski berbicara dengan mata sinis dan senyum yang sinis pula.
“Jangan ulangi lagi ya,” ucap Yalisa.
Entah apa yang membuat Yalisa tiba-tiba menunjukkan senyum mengejek dengan mengangkat alis sebelah kirinya ke atas, Riski pun memutar mata malas.
“Apa-apaan dia barusan? Apa dia senang karena dapat uang?” batin Riski
Riski melepas jabatan tangannya dari Yalisa kemudian beralih ke Mei Riski, ia mengulurkan tangan kembali untuk minta maaf pada Mei.
“Maaf,” ucap Riski
“Sering-sering ya, kalau tahu ayah mu punya banyak uang, aku ikhlas berurusan sama kamu tiap hari.” bisik Mei di telinga Riski.
“Baru tau ya anji*g.” sahut Riski dengan senyum lebar memperlihatkan gigi atas bawahnya yang putih. Mei mendecak atas respon jelek Riski tersebut.
“Baiklah, karena sudah selesai, kita semua berharap kalian tidak melakukan pembullyan lagi, bertemanlah kalian dengan baik, damaikan masa sekolah kalian, nikmati, saling menjaga menyayangi satu sama lain, apa lagi kalian adalah satu kelas.” ucap pak Aryo.
“Baik pak.” Mereka berlima yang masih di depan menjawab dengan serempak. Akhirnya rapat pun selesai, para orang tua juga saling bersalam-salaman, para guru juga kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Yalisa menuntun tangan sebelah kanan ibunya, yang kemudian Mei juga ikut menuntun dengan memegang tangan kiri ibu Yalisa, Leo sendiri mengikuti mereka bertiga dari belakang.
Semua sudah keluar ruangan kecuali pak Doni, pak Aryo dan Riski.
“Tunggu di luar.” titah pak Doni ke anaknya.
Riski menurut dan keluar ruangan. Pak Doni mulai memandangi pak Aryo dengan raut wajah penuh kecewa.
“Gimana sih pak? Kok kali ini bisa kecolongan? kenapa enggak di bereskan dengan benar?Percuma saya kasih uang banyak ke bapak setiap bulan untuk mengurusi anak saya.”
Pak Aryo menggosok-gosok kedua tangannya karena merasa tak enak.
“Maaf pak, kejadiannya pas pulang sekolah, jadi saya juga sudah pulang, Riski juga kali ini bertindak nya terlalu jauh, saya bisa buat apa pak? Saya juga sudah berusaha tadi membela Riski, tapi enggak bisa, kalau harus berurusan dengan polisi saya menyerah pak, karena karir dan sekolah saya akan terancam nantinya.” ucap pak Aryo.
Pak Doni terdiam, karena dia juga tidak mau berurusan dengan polisi, lalu pak Doni mengambil nafas panjang.
“Kali ini kamu enggak dapat apa-apa pak, bapak tahu kan pengeluaran saya pagi ini berapa?” ucap pak Doni.
__ADS_1
Pak Aryo mengangguk dengan perasaan sangat kecewa. Kemudian pak Doni berlalu dari ruangan itu dengan menggelengkan kepalanya.
“Urusannya sudah kelar?” tanya Riski.
Pak Doni menatap sinis anak semata wayangnya itu dengan penuh amarah.
“Ayo pulang, ikut ayah,” titah pak Doni.
“Aku kan masih harus masuk sekolah yah,” sahut Riski.
“Sudah pulang saja, ayah akan lebih perhatian sama kamu mulai dari sekarang, serba salah ayah melihat mu,” ucap pak Doni.
Riski tak dapat menolak permintaan ayahnya dan hanya menurut masuk ke dalam mobil mewah berwarna silver milik pak Doni.
___________________________________
Sementara di kantin Yalisa, ibunya, Mei dan juga Leo tengah duduk melingkar dengan meja bulat di depan mereka bersama.
“Aku pesan nasi goreng ya,” ucap Mei
“Aku enggak usah, karena aku mau langsung masuk saja ke kelas,” ujar Leo
“Oh, kamu sudah mau masuk?” tanya Yalisa dengan memandang Leo yang sudah berdiri dari duduknya.
“Iya, lagian hari ini kelas ku ada praktek, nanti kita ketemu lagi.” jawab Leo seraya menjabat tangan bu Alisyah.
Setelah Leo berlalu, Yalisa menatap Mei dengan penuh tanya
“Bagus kalau kamu udah ngerti, sekarang jelasin,” ujar Yalisa
“Dengar baik-baik tante dan Yalisa,” ucap Mei.
Yalisa dan ibunya mulai menyimak dengan seksama.
“Kalau kita lapor polisi, itu tidak akan berguna,” terang Mei.
“Kenapa begitu nak?” ucap bu Alisyah dengan mengernyit.
“Tante, pak Doni itu orang kaya, jadi gampang bangat buat mereka untuk sewa pengacara, kita yang lemah ini bisa apa kalau berurusan dengan orang kaya?” terang Mei.
“Jadi pengacara yang kamu bilang tadi cuma gertakan doang?” tanya Yalisa.
“Sebenarnya sih bisa saja aku sewa pengacara, tapi enggak mungkin juga kan? Kamu tahu sendiri ayah ku lagi mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, Hehehe.” Mei tertawa cengengesan
“Sialan kamu! Untung saja berhasil,”
pekik Yalisa.
__ADS_1
“Dari pada mengambil jalan yang tidak jelas hasilnya, lebih baik damaikan? Kita dapat uang, uangnya juga sangat banyak, itu lebih dari cukup buat ngerawat luka di wajah dan tubuh mu, enggak cuma ngerawat saja tante, tapi juga bisa buat renovasi rumah tante dan juga bisa bikin usaha kecil-kecilan.” terang Mei.
Bu Alisyah pun mencerna apa yang di katakan Mei
“Kamu waras enggak sih?” Yalisa menepuk bahu Mei.
“Au! Ya waras lah gimana sih, untung banyak kan kita, masih banyak orang-orang di luar sana yang mau bayar berapa pun asal mereka tidak masuk penjara, kebebasan itu harganya mahal, sekali masuk penjara kamu akan di anggap buruk sama masyarakat, cari kerjaan juga akan susah, jadi uang segitu sih enggak seberapa sebenarnya.” ucap Mei.
Yalisa menghela nafas panjang “Tapi apa kata orang, kita bisa renovasi rumah dan lain-lain dari hasil uang damai?”
“Ngapain dengar kata orang sih? kamu kena musibah saja enggak ada yang gubris, pergunakan uangnya dengan jalan yang benar, kamu juga harus perawatan biar glowing, kalau kamu good looking, semua orang akan menyukai mu.” Ucap Mei.
“Benar juga,” sahut bu Alisyah.
“Hah? Ibu juga setuju?” Yalisa tidak percaya ibunya sepemikiran dengan Mei.
“500 juta buat tante, 200 jt untuk aku dan Yalisa.” ucap Mei
“Aku sama ibu kan udah dapat 500 jt, kok masih dapat lagi?” tanya Yalisa
“200 Jt buat kita perawatan, kamu itu perlu di permak, lagian 500 jt itu buat bangun rumah kalian, sama bikin usaha juga,” ucap Mei
“Tapi kok pak Doni mau-mau saja ya kasih uang segitu banyaknya ke kita?” ucap Yalisa
“Hem” Mei mendehem dan menyuruh Yalisa dan ibunya mendekat.
“Aku pernah dengar gosip, kalau ayahnya itu bandar besar,” ucap Mei, Mata Yalisa dan ibunya pun membelalak.
“Yang benar kamu?” Yalisa bertanya dengan raut wajah penasaran.
“Aku juga kurang yakin sih, tapi kayaknya ada benarnya juga, kalau enggak, siapa juga yang mau kasih uang sebesar itu tanpa tawar menawar dulu?” ucap Mei.
Saat masih asyik berbincang, makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang, mereka menyudahi pembicaraan itu dan tanpa berlama-lama mereka menyantap nasi goreng yang telah tersaji di atas meja.
________________________________________
Sesampainya Riski dan Pak Doni di rumah, pak Doni menyuruh Riski untuk duduk di atas sofa kulit berwarna merah bata.
“Duduk kamu!” Riski menuruti titah ayahnya.
“sst, Kamu kapan sih berubahnya?” Kenapa berulah terus?” ucap pak Doni dengan perasaan dongkol.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram : @Saya_muchu
__ADS_1
Mampir juga ke cerpen horor author yang satu ini ya. Terimakasih banyak.