
Setelah beberapa menit menempuh perjalan dengan menaiki motor, akhirnya Yalisa dan Riski tiba juga di room kafe @Saya_muchu.
Di pintu masuk kafe telah berdiri pak Jamal, menunggu kehadiran mereka berdua sedari tadi.
“Sudah pulang sekolah tuan?” tanya pak Jamal kepada Riski yang berjalan ke arahnya.
“Sudah, mana bukunya?” Riski mengulurkan tangannya.
“Ini tuan, semua sudah lengkap sesuai permintaan tuan.” ujar pak Jamal seraya menyerahkan sebuah tas ransel hitam kepada Riski.
“Bagus, kamu boleh pulang duluan.”
“Tapi tuan, hari ini tuan mau pulang jam berapa?” pak Jamal bertanya sebab Riski harus private sore hari nanti.
“Sebelum private, aku sudah di rumah.” setelah mengatakan itu Riski dan Yalisa pun masuk ke dalam kafe.
Sebenarnya Yalisa enggan belajar di kafe itu, mengingat beberapa hari belakangan ia dan Leo pernah ke kafe tersebut.
Riski yang tak tahu apa pun tanpa permisi malah membuat ancang-ancang sendiri, membawanya ke tempat kenangan terburuknya.
Setelah melakukan pemesanan ruangan dan makanan, sang resepsionis mengarahkan mereka ke room nomor 15.
“15 lagi?” wajah Yalisa seketika berubah jadi murung, karena di ruangan itu pulalah, ia dan Leo melakukan perpisahan yang menyayat hati.
Riski yang melihat perubahan suasana hati Yalisa pun bertanya.
“Kenapa muka mu?”
“Enggak apa-apa.”
“Ya sudah, ayo ke room nya, lebih cepat lebih baik.” ujar Riski seraya berjalan terlebih dahulu, yang di ikuti oleh Yalisa di belakangnya.
Drakkk!!
Riski menggeser pintu room lalu bergegas duduk di atas sofa.
Yalisa yang melihat suasana ruangan nampak sama tak ada perubahan sedikit pun merasa tambah sedih.
Ini si kutu beras bisa bangat buat aku dilema, mau dia sengaja atau tidak hasil akhirnya selalu saja nyelipin sakit hati. batin Yalisa.Yalisa yang kesal menunjukkan muka masam pada Riski.
“Kamu kenapa sih?” tanya Riski lagi yang mulai kesal, ia tak tahu salahnya apa, tapi Yalisa terus saja menampilkan wajah yang tak enak di lihat di matanya.
“Enggak ada, ayo mulai belajarnya.” ujar Yalisa seraya duduk di samping Riski.
Lalu Riski mengeluarkan 3 buah buku pelajaran, yaitu buku Agama, PKN, dan Bahasa Inggris dari dalam tasnya, yang terlebih dahulu mereka pelajari adalah pelajaran Agama.
Keduanya membahas dan membaca kembali pelajaran mereka selama 1 semester ini.
Yalisa dan Riski juga melakukan tanya jawab secara bergantian. Hingga Riski memberikan sebuah pertanyaan pada Yalisa, yang sebelumnya telah mereka bahas.
“Coba sebutkan lafal Asmaul Husna dari yang ke 21 sampai 30.” Lalu Yalisa pun menjawab pertanyaan Riski.
“Al Basith, Al Khaafidh, Ar Raafi', Al Mu'izz,
Al Mudzil, Al Samii', Al Basiir, Al Adl, umm... yang ke 30 apa ya?” Yalisa yang belum hafal seluruhnya pun memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan.
__ADS_1
“Masa Asmaul Husna saja enggak bisa?” Riski melirik Yalisa dengan tatapan yang kurang sedap.
“Aku bukan enggak bisa, tapi lupa.”
“Intinya kalau enggak bisa berarti enggak tahu, belajar dong, masa nama sang pencipta saja kamu enggak tahu.” Riski geleng-geleng kepala mengejek Yalisa.
“Dulu aku tahu semua, sekarang lagi lupa saja.”
“Makanya lancar kaji karena di ulang, enak makan karena di kunyah, pisau setajam apa pun kalau tidak di asah, akan tumpul, sama seperti otak mu.”
Tuk! Riski menyentil dahi Yalisa.
“Au! Sakit.” Yalisa meringis seraya memegang dahinya dengan sebelah tangannya.
“Yang ke 30 Al Latiif,” ucap Riski.
“Oh..., iya yang itu, Al Latiif.” jawab Yalisa dengan tertawa kecil.
“Arti dari Al Samii' sendiri apa?” tanya Riski yang gelagatnya sudah seperti guru sungguhan.
“Apa? Itu...” lagi-lagi Yalisa tak bisa menjawab pertanyaan Riski.
Tuk.
Yalisa yang tak dapat menjawab pertanyaan Riski selanjutnya pun mendapat sentilan 3 kali berturut-turut.
Tuk.
Tuk.
Tuk.
“Kamu bodoh sih, sudah besar malah enggak banyak tahu soal agama sendiri, aku ya, walau pun nakal, tapi otak ku enggak bodoh-bodoh bangat kayak kamu.” tanpa Riski sadari ucapannya membuat Yalisa sakit hati.
Namun Yalisa mencoba meredam amarahnya, ia tak mau membuat ribut di kafe itu lagi untuk yang kedua kalinya.
Sebelum mereka lanjut belajar, sang pelayan pun datang membawa makan siang mereka, yaitu 2 piring stik daging dan 2 gelas jus semangka segar.
Emangnya kafe ini enggak nyediain makanan selain stik daging sama jus semangka ya? batin Yalisa murka melihat hidangan itu, bagaimana tidak, terakhir ia ke kafe itu juga di hidang dengan makanan dan minuman yang sama.
“Uek!” entah karena maag Yalisa yang kambuh, atau karena ia tak berselera saja melihat makanan itu, perut Yalisa tiba-tiba mual.
“Kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Riski seraya memijat bahu Yalisa.
“Aku enggak apa-apa.”
“Kamu masuk angin?”
“Enggak, aku baik-baik saja kok Ki.”
“Apa mungkin kamu hamil?” tanya Riski bercanda.
“Apa sih Ki! Bikin kesal terus dari tadi.”
“Hehehe, aku bercanda, gimana mungkin kamu hamil, kita kan belum ngapa-ngapain.” Riski yang semakin jahil membuat Yalisa tambah kesal.
__ADS_1
“Jangan ngomong lagi kalau cuma buat kesal.” Yalisa tak menyentuh stik dagingnya, ia hanya meminum jus semangka nya.
“Kenapa enggak makan? Nanti kena maag loh.”
“Aku kenyang, punya ku untuk mu saja.” ujar Yalisa menghabiskan jusnya.
“Oh, gitu?” saat Yalisa lengah, Riski memasukan 1 steak daging utuh ke mulutnya, dan dengan cepat ia menangkap Yalisa ke pelukannya.
“Apa?” Tanya Yalisa keheranan, saat mulut Yalisa terbuka, Riski segera memagu* nya, lalu memindahkan steak daging yang ia simpan di mulutnya ke mulut Yalisa.
Yalisa kaget, ia tak menyangka kali ini Riski benar-benar menyuapinya pakai mulut.
Setelah steak sapi mendarat dengan selamat ke mulut Yalisa, barulah Riski melepas ciumannya.
“Aku suka yang seperti itu, kalau kamu mau, aku akan ulangi lagi.” ujar Riski, yang kemudian melanjutkan makannya.
Baru satu hari pacaran resmi sudah begini, bisa gila aku lama-lama. batin Yalisa.
Karena tak ingin mengulangi adegan kedua, Yalisa pun memakan dengan baik, semua yang tersaji di piringnya.
“Bagus, kalau kamu makan dengan benar, kelihatan lebih enak di pandang mata, aku enggak mau ya, kalau pacar ku kurus kering, tambahkan berat badan mu, minimal 5 kg lagi, karena tinggi badan dan berat badan mu enggak sesuai.” terang Riski, yang membuat Yalisa mengangguk.
Selesai makan, mereka melanjutkan pelajaran mereka ke PKN. Untuk pelajaran yang satu ini aman terkendali, hingga sampailah mereka ke pelajaran bahasa Inggris.
Setelah mereka melakukan diskusi hingga 30 menit lamanya, sampailah mereka pada sesi pertanyaan, kali ini Yalisa yang memberikan pertanyaan terlebih dahulu.
“Eric: I heard John failed the speech competition held at Language Center in Jakarta last week.
Sam : Oh really? It’s strange, he should have won it because he is good at English.
The italicized sentence is used to express….
a. disagreement
b. possibility
c. surprise
d. capability
e. curiosity
Apa jawabannya?” tanya Yalisa, Riski yang lemah akan bahasa Inggris pun menyuruh Yalisa untuk mengulang pertanyaannya sampai dengan 3 kali.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Hai readers sekalian, jangan lupa mampir ke novel keren yang ada di bawah ini, karena perasaan kalian akan panas membara ketika membaca alur cerita yang begitu penguras air mata.
__ADS_1