SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXXVII (Cinta Tulus)


__ADS_3

Mei masih belum dapat memercayai, bahwasanya ia dan Leo kembali bersama.


“Ternyata kalau kita tulus, Allah pun akan memberi seribu kebaikan pada kita, pantas saja Leo dan Riski menyukai Yalisa, dia yang selama ini mendapat perlakuan buruk dari banyak pihak, tak sekali pun membalasnya,” batin Mei.


“Ya sudah, istirahatlah Mei, aku akan mengecek keadaan ibu, nanti aku kembali lagi kesini,” Mei mengangguk, lalu Leo keluar dari ruangan itu menuju ruangan bu Dita.


______________________________________________


Sore hari menjelang magrib, Yalisa yang merasa kalau hari itu melelahkan, memutuskan untuk segera menutup warungnya.


Mengingat Riski akan berkunjung setelah magrib, mengingat itu Yalisa pun menjadi terburu-buru.


Seusai menutup warung, Yalisa pulang dengan berjalan kaki, karena jarak antara warung dan rumahnya hanya 250 meter.


“Kalau bukan karena uang damai dari Riski, mungkin aku akan ke ladang, untuk mencukupi biaya hidup ku sehari-hari, hah... ternyata di balik setiap peristiwa selalu ada hikmahnya,” batin Yalisa.


Tak terasa ia pun sudah sampai di depan rumah, Yalisa yang gerah segera membuka pintu.


Ceklek!!


Krieettt!!!


“Assalamu'alaikum,” ucap Yalisa.


Setelah ia masuk ke dalam rumah, Yalisa kembali mengunci pintunya.


Ia pun menuju kamarnya untuk mengambil handuk, setelah itu bergegas mandi dan keramas rambut, agar nanti ia percaya diri duduk di dekat Riski.


Saat Yalisa masih di kamar Mandi suara adzan pun berkumandang, ia pun menyempatkan sekalian mengambil air wudhu untuk sholat.


Kemudian Yalisa yang sudah selesai mandi, memakai setelan piyama bergambar pokemon, setelah itu ia memakai mukenanya dan segera menunaikan sholat di ruang tamu rumahnya.


Setelah 5 menit, Yalisa pun telah selesai sholat, tiba-tiba dari luar ada yang mengetuk pintu rumahnya.


Tok tok tok tok...


“Assalamu'alaikum,” suara yang begitu familiar, Yalisa pun bangkit dari atas sajadah dan membuka pintu.


Ceklek, Krieett!!!


“Wa'alaikumussalam,” Yalisa menjawab salam Riski.


“Masya Allah, ukhti cantik sekali saat menutup aurat,” ucap Riski dengan menampilkan senyum tipis di bibirnya.


“Alhamdulillah, terimakasih sudah bilang aku cantik,l.” Yalisa mempersilahkan Riski masuk dan mengarahkannya duduk di sofa.


Riski yang melihat di dekat sajadah Yalisa ada sebuah Yasin pun bertanya.


“Kamu mau ngaji ya?”


Yalisa yang akan membuka mukenah pun menjawab.

__ADS_1


“Tadinya sih iya, enggak di sangka, kamu datangnya cepat, sudah sholat belum?”


“Sudah, tadi aku sholat di mesjid dekat sini,” sahut Riski.


“Eh, mukenanya jangan di buka,” pinta Riski dengan lembut.


“Kenapa?”


“Nanti aura cantiknya hilang.” ujar Riski, yang membuat Yalisa tersipu malu.


“Iiih, bercanda terus dari tadi, kita enggak mungkinkan pacaran sambil pake mukena?”


“Ya iyalah, kamu baca Yasin ajah dulu, soal kita berdua nanti setelah Isa juga enggak apa-apa, aku masih sabar menunggu,” ucap Riski.


“Pfffff,” Yalisa menahan tawa mendengar gombalan Riski.


“Ya sudah, kalau gitu kamu tunggu di warung depan gang ajah, jangan disini,”


“Loh? Kenapa?”


“Aku enggak PD, kalau ada yang dengarin aku ngaji, apa lagi itu kamu,” ujar Yalisa yang kembali duduk di atas sajadahnya.


“Sama calon imam kok malu, udah buruan kamu ngaji, Anggap saja aku boneka, biar kamu bisa leluasa,” ujar Riski.


“Ya sudah kalau begitu,” ucap Yalisa.


Kemudian Yalisa pun membuka buku Yasinnya, dan mulai mengaji.


“Salah, salah!” ucap Riski.


“Salahnya dimana Ki?” tanya Yalisa bingung.


“Itu kan ada tasydid di huruf nun nya, jadi nun nya itu di baca double, jadi Inna, bukan Ina, faham? setiap ada tanda tasydid, hurufnya itu jadi double, ini tulisan Arab, bukan English, yang kalau ada 2 huruf yang sama, satu hurufnya lagi di hilangkan, oke? Kamu faham kan?” terang Riski.


“Oke pak.” ucap Yalisa yang membuat wajah Riski menjadi kecut.


“Ulang-ulang,” titah Riski.


“Innaka laminal-mursalīn, 'alā ṣirāṭim mustaqīm.” Yalisa pun lanjut membaca Yasin tentunya di dampingi oleh Riski.


Sering kali Yalisa melakukan pelafalan yang salah, Riski yang di sampingnya pun meluruskannya, sesekali Riski menggertak kan giginya, karena Yalisa sering melakukan kesalahan.


Surah Yasin yang begitu mudah dan cepat di baca oleh Riski, bersama Yalisa memakan waktu yang sangat panjang.


“Alhamdulillah, kelar juga,” Riski menghela nafas panjang.


“Makasih ya Ki, udah ngajarin aku,” ucap Yalisa.


“Kamu waktu kecil ngapain ajah sih? Ngaji ajah enggak bisa, pada hal kamu bisa untuk dirimu sendiri, kalau kamu sudah jadi orang tua, ilmu itu kamu wariskan ke anak mu, kembali untuk mu juga, kalau kamu sudah tiada, anak mu akan mendo'a kan mu, membacakan mu surah-surah yang ada dalam al-qur'an,” ucap Riski.


“Maaf, ibu ku hanya mengajari ku sesekali, karena ibu sibuk bekerja di Ladang, itu juga penghasilan enggak cukup, kadang ibu dan ayah harus menginap di ladang, agar babi enggak merusak cabai atau ubi yang di tanam, jangankan untuk sekolah mengaji, makan pun kadang pas-pasan tanpa lauk.” ungkap Yalisa yang merasa malu, dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Riski menelan saliva nya, ia menjadi merasa bersalah karena sudah memarahi Yalisa, tanpa tahu kondisi Yalisa.


“Hem, hem..., maaf aku sudah memarahi mu,"


“Kamu benar kok, terimakasih sudah menasehati dan mengajari ku,”


“Iya, hummm...., ternyata Allah enggak salah memasangkan setiap hambanya,”


“Hah? Maksudnya?" tanya Yalisa bingung.


“Beruntung kamu ketemu aku, sudah tampan, baik, kaya raya lagi, hehehehe,” Riski mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi di antara mereka.


“Iya, aku memang beruntung,” ujar Yalisa.


“Tapi Ki, kemana kamu selama enggak masuk sekolah?” tanya Yalisa penasaran.


“Hmmm, enggak kemana-mana, cuma ada urusan keluarga,”


“Sampai selama itu?” tanya Yalisa kembali.


“Sudahlah, jangan tanya lagi.” entah apa yang Riski sembunyikan, yang jelas ia enggan untuk menjawab.


Karena suara adzan Isya telah berkumandang, mereka berdua pun melaksanakan sholat Isya berjamaah.


Selepas sholat Isya, Riski mengecup kening kekasihnya itu.


“Ki, kita baru sholat loh," ujar Yalisa.


“Ibadah ya ibadah, ciuman ya ciuman,” terang Riski.


“Ih! Kamu negatifnya ya gitu,” terang Yalisa seraya merapikan sajadah dan mukenanya.


“Jangan banyak bacot, cepat bawakan nasi, aku lapar,” titah Riski.


“Kamu fikir rumah ku warteg?!” pekik Yalisa.


“Warteg?” gumam Riski.


Walau begitu, Yalisa tetap menghidangkan nasi remas di temani teh manis dingin untuk mereka berdua.


“Lauknya ikan kembung lagi?” ucap Riski.


“Maaf ya tuan, inikan rumah anak yatim piatu, jadi seadanya, itu tuan sudah beruntung dapat ikan kembung, coba datangnya kemarin malam,”


“Emang kemarin malam lauknya apa?” tanya Riski.


“Orek telur, di campur cabe bubuk,” jawab Yalisa. Seketika Riski merasa iba pada sang kekasih.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2