
Dalam keadaan yang tak bertenaga, Mei tak bisa berbuat apapun, ketika para dokter dan suster mulai membuat sebuah pembatas dengan kain warna hijau tua, tepat di atas dada Mei, agar Mei tidak melihat perutnya yang akan di bedah.
“Kayaknya ini bakalan terjadi, aku juga enggak akan bisa buat lari.” batin Mei.
Leo yang berada di sampingnya mulai beranjak, karena kehadirannya di ruangan itu tidak di perlukan.
“Tunggu.” ucap Mei dengan suara lemas.
“Ada apa?” Leo membalik tubuhnya ke arah Mei yang ia belakangi.
“Apa boleh aku minta sesuatu, sebagai tebusan ginjal ku?” pinta Mei.
Leo tak tahu Mei meminta apa, tapi ia mencoba memenuhi permintaan itu, agar beban bersalah di hatinya berkurang.
“Mau minta apa?” tanya Leo.
“Aku tidak akan protes mengenai tindakan brengsek mu ini, tapi sebagai gantinya, putuskan Yalisa, jangan berpacaran lagi dengannya, ku rasa itu bukan permintaan berat, mengingat bagian organ ku sebagai bayarannya.” ungkap Mei dengan suara lirih.
Leo terdiam mendengar ucapan Mei, ia mencerna apa yang di katakan wanita itu. Permintaan itu sebenarnya tidak sulit baginya, tapi di sisi lain, ia sangat mencintai Yalisa.
“Kalau kamu enggak bisa tepat janji, aku pasti akan balas dendam, ini karena kamu beruntung saja mendapatkan ku dengan mudah.” terang Mei lebih lanjut.
“Kalau aku bisa keluar dari sini dengan selamat, aku pasti akan balas dendam pada mu dan seluruh keluarga mu, tapi kalau kamu tepat janji mungkin aku akan berubah fikiran.” batin Mei.
“Baiklah, kalau cuma itu, aku bisa lakukan, terimakasih atas kerja samanya.” ucap Leo, seraya meninggalkan Mei dalam ruang operasi.
Mei melihat kepergian Leo dengan perasaan sedikit sedih.
“Apa kalau aku mati, mama dan papa akan bahagia? Apa harus begitu? Baru mereka mau melihat ku?” gumam Mei.
Leo yang duduk di ruang tunggu memikirkan permintaan Mei kembali. Berat untuknya menepati janji itu, namun ia tak mau menjadi seorang pengecut.
Untuk ibunya, ia rela melakukan apapun, meski itu merenggut nyawa orang lain.
“Maafin aku Yalisa, hubungan kita cukup sampai disini saja, dan maafin aku juga Mei.” Leo menghela nafas panjang. lalu menyandarkan bahunya di kursi tunggu.
___________________________________________
Pagi harinya, Yalisa yang telah tiba dalam kelas melihat kedalam laci Mei apa sudah ada tasnya atau belum, lalu ia celingak-celinguk, mencari keberadaan Mei.
“Tumben Mei belum datang ke sekolah.” gumam Yalisa.
Satu persatu anggota kelas pun berdatangan, begitu juga dengan Riski, yang datang tepat waktu pagi itu.
Riski yang melihat Yalisa memandangi layar handphone nya dengan serius, lalu ia memutuskan untuk menyapa Yalisa ke kursinya.
“Mikirin apa sih?” tanya Riski seraya meletakkan kedua telapak tangannya ke atas meja.
Yalisa sontak mendongak setelah mendengar suara Riski.
“Mei, dia belum datang juga.”
“Bentar lagi mungkin datang.”
“Iya, semoga saja, karena tadi malam juga dia enggak balas pesan dari aku.” ucap Yalisa.
Lalu Riski berfikir sejenak, kira-kira kemana perginya Mei saat ini.
“Apa dia buat ulah baru lagi?” batin Riski. Kemudian Riski duduk di samping kursi Yalisa.
“Kamu ngapain duduk disitu?” tanya Yalisa dengan wajah kecut.
__ADS_1
“Buat temani kamu, kayaknya kamu kepikiran bangat sama dia.”
“Iya sih, kamu benar.” Gumam Yalisa.
Tak lama, bel pun berbunyi, tanda proses belajar mengajar akan di mulai.
Riski tak beranjak dari samping Yalisa, ia kepikiran karena wajah Yalisa terlihat muram.
“Leo juga tumben bangat enggak kasih kabar dari kemarin, apa dia baik-baik saja ya?” batin Yalisa.
Saat Yalisa sedang gundah-gundahnya, tiba-tiba ia merasa tangannya yang ada di bawah meja di genggam.
Ia pun melihat ke arah Riski, kali ini Yalisa tidak marah, mungkin karena ia merasa lelah.
“Kamu jangan banyak fikiran begitu dong, jangan-jangan dia lagi liburan atau apalah saat ini.” ucap Riski seraya meletakkan pipi kanannya ke atas meja.
“Inikan belum libur semester Ki.” ucap Yalisa dengan menggelengkan kepalanya
___________________________________
“Pak Leo bangun pak.” Suara itu membangunkan Leo yang tertidur di atas kursi tunggu.
“Suster.” gumam Leo seraya mengucek matanya.
“Operasinya berjalan lancar, kedua pasien selamat, pak Leo bisa langsung menuju ruangan mereka, ibu mas Leo juga sebentar lagi akan bangun.” ucap sang suster seraya meninggalkan Leo yang nyawanya belum terkumpul. Leo pun berdiri sambil meregangkan badannya.
Saat ia akan membuka pintu ruangan ibunya, tangannya terhenti, ia mengingat Mei yang ada di pintu sebelahnya.
Akhirnya Leo memutuskan untuk menjenguk Mei terlebih dahulu.
Ceklek!
Kriet...
Leo merasa bersalah, melihat keadaan Mei yang begitu menyedihkan sekarang, tapi walau pun begitu, ia tak punya pilihan lain.
Leo duduk di atas kursi yang ada di samping ranjang Mei. Kemudian Leo mengelus kepala Mei dengan perlahan.
Akibatnya, Mei yang tadinya masih tidur mulai terbangun.
“Ngapain?” ucap Mei.
“Hah!” Leo kaget karena Mei tiba-tiba bangun dan menyapanya, ia pun berhenti mengelus kepala Mei.
“Kamu enggak usah pura-pura sedih, toh yang kamu ingin kan sudah kamu dapatkan, jangan lupa untuk menepati janji.” terang Mei.
“Apa aku boleh tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
“Kenapa?”
“Hum? Apa maksud mu?” ucap Mei.
“Kenapa harus hubungan ku yang kamu minta?” tanya Leo lagi.
“Sama hal nya dengan ku, kamu harus kehilangan sesuatu yang berharga juga,” terang Mei.
“Apa hanya karena itu?” ucap Leo.
“Oh iya, alasan lainnya, karena aku suka kamu.” ungkap Mei dengan senyum liciknya.
__ADS_1
Leo mengernyit mendengar ucapan Mei, ia tak tahu kalau selama ini Mei ternyata menyimpan perasaan padanya.
“Huh, kamu pasti bercanda.” Leo tertawa getir.
“Dari awal bertemu aku sudah suka kamu, tapi kamu malah suka sahabat ku, aku bukan orang egois seperti kamu, yang suka memaksakan kehendak.”
“Apa?” mata Leo membelalak.
“Sudahlah, enggak usah bahas lagi, yang jelas tepati janji mu, aku cuma minta itu, jangan jadi salah faham atas ucapan ku tadi, karena aku enggak akan minta kamu buat jadi pacar ku.” terang Mei.
Leo menghela nafas panjang seraya bersedekap, ucapan Mei membuatnya kehabisan kata-kata.
“Aku pergi dulu,” ucap Leo seraya berdiri dari duduknya. Mei hanya melihat Leo tanpa menyahut.
“Nanti aku kesini lagi, tolong cari alasan bagus buat orang tua mu, agar mereka enggak kwatir, karena selama kamu belum pulih, kamu akan tetap di rawat disini.” Leo pun berlalu dari ruangan Mei, untuk menuju ruangan ibunya.
“Enggak akan ada yang perduli, aku hidup atau mati.” batin Mei.
“Kalau bukan karena Riski, aku pasti nolak buat ketemu Leo, dan semua ini enggak akan terjadi,” gumam Mei.
Sementara di ruangan ibunya, Leo melihat bu Dita telah siuman, dan di temani 2 orang suster, dengan wajah berbinar penuh syukur Leo melangkahkan kakinya dengan cepat.
“Leo,” ucap bu Dita.
“Ibu.” Leo memeluk ibunya seraya menangis sesenggukan.
“Sudah sayang, jangan nangis lagi,”
“Leo kwatir bangat bu, Leo takut bangat kehilangan ibu.” ucap Leo.
“Sudah nak, alhamdulillah kan ibu sudah siuman sekarang.”
“Iya bu, Leo bersyukur bangat.”
“Tapi nak, siapa orang yang sudah berbaik hati mendonorkan ginjalnya sama ibu?” tanya bu Dita dengan penasaran. Lalu Leo melepas pelukannya dari ibunya.
“Itu, dia.” Leo ragu untuk mengatakannya.
“Kalau dia laki-laki, ibu akan jadikan anak angkat, apa lagi kalau dia anak yatim ibu akan masukin ke kartu keluarga kita.”
“Apa bu?”
“Sebaliknya, kalau dia perempuan, ibu akan jadikan menantu.” lanjut bu Dita.
“Apa?” Leo tak menyangka kalau ibunya skan berfikir sampai sejauh itu.
“Ibu enggak serius kan?” tanya Leo.
“Ya ibu serius lah, enggak semua orang orang mau mendonorkan organnya pada orang lain, kecuali orangnya mengalami kesulitan ekonomi, atau dia di culik dan terpaksa merelakan organnya di perjual belikan secara cuma-cuma.” terang bu Dita.
“Bisa gawat kalau ibu ketemu Mei, apa lagi Mei kan suka sama aku, apa yang akan terjadi, kalau aku benar di jodohkan dengan Mei? Gimana sama perasaan Yalisa?” batin Leo.
“Jadi, siapa pendonornya?” tanya bu Dita dengan rasa penasaran.
“Bu, itu, orangnya enggak mau di sebutin identitasnya.” ucap Leo.
“Hah? Kamu bercanda ya? Ibu enggak mau tau, pokoknya kamu kenalin ibu ke dia.” titah bu Dita.
Bersambung....
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu