
Tante Mila memeluk Yalisa dengan sangat erat, turut bersedih atas apa yang menimpa keponakannya itu.
“Seandainya aku enggak keluar rumah, seandainya aku mengikuti kemana ibu pergi, aku memang anak yang enggak berguna.” itulah yang ada dalam batin Yalisa, seperti kata pepatah, penyesalan memang selalu datang terlambat.
“Tapi om, tante, ibu bilang kan mau reunian sama teman-temannya, gimana bisa ibu pergi ke ladang?”
“Kata tetangga, ibu mu enggak jadi pergi, reuninya batal, makanya ibu mu pergi ke ladang, baru 4 jam ibu mu meninggalkan rumah, ia kembali lagi dengan di tandu oleh petani lain.”
“Apa?” kepala Yalisa menjadi pusing tak tertahankan, kali ini ia merasa, kalau semua yang terjadi, atas kesalahannya. Karena dosa yang ia perbuat, sang ibu malah kena musibah dari yang maha kuasa.
“Harusnya aku saja ya Allah, jangan ibu.” itulah yang selalu terucap dalam benak Yalisa.
“Yalisa, ambil air wudhu, kamu sholat dulu, do'akan tante.” ujar Riski yang matanya merah dan berkaca-kaca.
“Iya.” ucap Yalisa, ia pun bangkit dari duduknya.
“Ayo tante temani nak.” ujar tante Mila.
“Enggak usah tan, Yalisa bisa kok.” dengan langkah terhuyung Yalisa menuju kamar mandi, tak lupa ia mengambil handuk dan baju gantinya terlebih dahulu.
Sesampainya ia di kamar mandi, ia kunci pintunya. Lalu Yalisa menyalakan shower, kemudian ia melucuti pakaiannya satu persatu.
Setelah itu ia berdiri tepat di bawah shower yang sedang memancarkan air.
“Hiks hiks hiks! Ini semua salah ku, karena dosa yang aku lakukan ibu jadi kena sialnya, kenapa bukan aku saja? Hiks hiks! Huah!! I u! Maafin Yalisa bu!” Yalisa menampar wajahnya kiri dan kanan berulang kali dengan kedua tangannya.
“Maafkan anak mu yang kurang aja* ini bu!” Yalisa sangat membenci dirinya saat itu, ia terus saja menyalahkan diri atas berpulangnya sang ibu ke sang pencipta.
Riski om dan tante Yalisa merasa khawatir, karena Yalisa begitu lama untuk mengambil air wudhu.
“Bu, coba Yalisa di susul ke kamar mandi, sudah setengah jam kok belum keluar juga.” ujar pak Narto dengan perasaan cemas.
“Baik pak.” sahut tante Mila.
Tante Mila pun bergegas ke kamar mandi, setibanya tante Mila di depan pintu, semar-sama ia mendengar suara tangisan Yalisa.
Tok tok tok!
“Nak, buka pintunya, kamu lagi apa di dalam nak?”
Yalisa yang tahu tantenya ada di luar langsung menyahut.
“Aku baik-baik saja tan, sebentar lagi aku keluar.” ujar Yalisa.
“Jangan lama-lama nak, tante tunggu di depan pintu nih.” ucap tante Mila.
“Iya tan.” sahut Yalisa.
Yalisa yang sudah selesai mandi wajib menatap wajahnya di cermin, dirinya merasa malu, saat melihat bekas merah peninggalan Leo yang ada di lehernya.
__ADS_1
Ia usap dengan tangannya bekas itu, lalu ia pakai baju gamis putih panjangnya, serta ia pasang jilbab sorong nya
Cetek!
Saat Yalisa membuka pintu, ia mendapati ia tantenya, berdiri tepat di hadapannya.
“Tan?” ucap Yalisa, sang tante pun merangkul keponakannya itu, lalu menuntunnya ke kamar Yalisa.
“Sholatlah, tante akan tunggu disini.” ujar tante Mila dengan duduk di atas ranjang.
Yalisa mengangguk, dan mulailah ia menunaikan sholat Isya.
Setelah salam Yalisa lanjut berzikir, selepas itu Yalisa menadahkan tangannya.
“Ya Allah, ampunilah dosa ku, dosa ayah ku yang kini telah berpulang ke sisi mu, Ya Allah maafkan aku, karena kebodohan dan kelalaian ku, ibu ku menjadi celaka, Ya Allah terimalah mereka di sisi mu, jangan hukum mereka atas kesalahan ku, dan cintai mereka Ya Allah.” cukup lama Yalisa berdo'a hingga ia benar-benar menyelesaikan kewajibannya itu.
Sang tante yang masih setia menunggu pun memeluk keponakannya.
“Jangan salahkan dirimu, ini semua takdir Allah.” terang tante Mila, Yalisa hanya mengangguk.
Setelah melepas mukenah nya, Yalisa dan tante Mila kembali ke ruang tamu.
“Duduklah nak.” ujar om Narto.
“Iya om?”
Setelah Yalisa duduk bersila berhadapan dengan om dan Riski, om Narto pun mengatakan maksudnya.
“Apa?” ucap Yalisa dan Riski bersamaan.
“Tapi om, Yalisa kan masih sekolah?” ungkap Yalisa.
“Om, jangan bawa Yalisa ke Solo om.” pinta Riski dengan raut wajah tak rela.
“Terus? Enggak mungkin Yalisa hidup sendiri disini kan?”
“Om, Yalisa mengerti, tapi Yalisa masih harus sekolah.”
“Iya om ngerti, maksud om, setelah lulus sekolah, tinggallah dengan om di Solo.”
Belum sempat Yalisa menjawab, Riski sudah memotong.
“Jangan om, biarkan dia disini, saya akan mengurusnya.”
“Nak Riski, kamu enggak mengerti, Yalisa ini anak perempuan, mana mungkin tinggal sendirian.” terang om Narto.
“Kalau soal teman, aku akan bawa beberapa karyawan rumah ku tinggal disini, yang penting jangan bawa Yalisa om, aku enggak bisa jauh dari Yalisa.” om Narto yang sadar mereka punya hubungan mencoba mengerti.
“Apa kamu bisa menjamin keselamatan Yalisa?” tanya om Narto.
__ADS_1
“Aku jamin 100% om, dia tidak akan terluka atau pun merasa sendirian.” jawab tegas Riski.
Om Narto mengangguk, lalu ia bertanya pada keponakannya.
“Apa kamu mau tetap tinggal disini setelah tamat sekolah?”
“Iya om, lagi pula Yalisa sudah dewasa, Yalisa akan cari kerja, setelah lulus sekolah.” om Narto dan tante Mila menghargai keputusan keponakan mereka itu.
“Baiklah, tapi, jaga dirimu baik-baik, jangan sampai om dapat kabar miring mengenai kamu disini.” jantung Yalisa berdetak kencang mendengar ucapan omnya tersebut.
Keesokan harinya, selepas sholat Zuhur, perwakilan kelas dan guru pendamping pun datang ke rumah Yalisa untuk takjiah.
Ada bu Amel, Riski, Zuco, Marco dan Mei, mereka mengucap salam bersamaan sebelum masuk.
“Assalamu'alaikum.” dan dari dapur Yalisa menyahut seraya memakai jilbab sorong nya.
“Wa'alaikumussalam.” ia sangat terharu, ketika teman-teman sekolahnya datang mengunjungi dirinya.
Satu persatu dari mereka yang datang mengucap bela sungkawa, tak terkecuali Mei.
Melihat Mei, air mata Yalisa kembali pecah, ia ingat betul Mei dan ibunya begitu dekat.
“Ibu udah enggak ada Mei.” ucap Yalisa, kemudian Mei memeluk Yalisa.
“Yang sabar Ya Lis, maaf aku baru bisa datang, karena aku baru dapat kabar tadi pagi dari Riski.” kedua sahabat itu pun larut dalam tangisnya.
Hingga Riski ambil alih untuk mengambil air minum ke dapur.
Di dapur Riski tak dapat menemukan makanan apapun untuk di hidangkan.
“Dia bisa enggak ya ngurus diri sendiri kalau begini?” batin Riski.
Karena tak ingin Yalisa malu, Riski pun memesan makanan cepat saji secara online.
Setelah selesai melakukan pemesanan, Riski membawa teko dan beberapa gelas ke ruang tamu, dan mulai menjamu semua orang yang duduk di atas tidar dalam ruangan itu.
Melihat Riski yang seperti orang rumah, Zuco dan Marco saling tukar pandang.
Mereka pun bercerita-cerita perihal berpulangnya bu Alisyah yang begitu mendadak.
Sampai tak terasa makanan yang Riski pesan pun datang, yaitu nasi dan ayam goreng KEEFSI.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1