SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CVI (Kalut)


__ADS_3

“Apa kamu sudah makan?” tanya Yalisa.


“Belum,”


“Ayo kita makan dulu, aku sudah masak tadi.” ujar Yalisa, keduanya pun menuju dapur untuk makan siang.


Saat di meja makan, Mei yang merasa tak nyaman berkata pada Yalisa.


“Lis, kayaknya malam ini aku enggak bisa nginap disini, kamu enggak apa-apakan sendirian?”


“Hah? Memangnya kamu ada keperluan penting ya?” tanya Yalisa dengan wajah serius.


“Umm, iya ada, makanya aku mau pulang dulu ke rumah, besok aku akan kesini lagi, maaf ya.” Mei menggenggam tangan Yalisa yang ada di hadapannya dengan erat.


“Oke, semoga urusan mu cepat selesai ya.” ucap Yalisa dengan tersenyum tipis.


______________________________________________


Malam harinya, seperti yang sudah di katakan oleh Riski, ia pun datang ke rumah Yalisa selepas sholat Magrib.


Tok tok tok tok!


“Assalamu'alaikum, Yalisa!” ucap Riski.


Tok tok tok tok!


Cukup lama Riski mengetuk pintu, namun tak ada jawaban.


“Apa dia pergi ke suatu tempat ya?” gumam Riski, karena penasaran Riski mengeluarkan handphonenya, lalu mendial nomor Yalisa.


Tak lama, terdengar bunyi dering telepon dari dalam rumah.


“Loh, dia di rumah kok, tapi kenapa enggak buka pintu? Apa dia sakit?” batin Riski.


Karena merasa cemas, Riski pun mencoba memutar handle pintu.


Ceklek!


Ternyata pintu yang sedari tadi ia ketuk tidak di kunci.


“Bodoh bangat sih aku, kenapa enggak langsung buka pintu saja dari tadi.” setelah melepas sepatunya, Riski pun masuk ke dalam rumah seraya memanggil nama Yalisa dengan pelan, karena takut tetangga akan mendengarnya kalau suaranya terlalu keras.


“Yalisa, oih kamu dimana? Aku bawa ayam goreng nih.”


Riski yang kurang sopan santun pun langsung saja membuka pintu kamar Yalisa, namun tak ada tanda-tanda Yalisa di dalam kamar yang berantakan itu.

__ADS_1


“Jorok bangat kamarnya,” ucap Riski.


Lalu Riski beranjak ke dapur, tak lupa ia meletakkan ayam goreng panas yang baru ia bawa ke atas meja.


Riski yang berfirasat kalau Yalisa berada di kamar mandi pun inisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandi.


Tok tok tok! “Yalisa, kamu di dalam?”


Karena tak ada sahutan, Riski mencoba membuka pintu, benar saja pintu kamar mandi itu tidak di kunci.


“Permi...” belum sempat Riski menyelesaikan barisan katanya, ia di buat syok dengan pemandangan di depan matanya.


Karena saat ini ia menyaksikan Yalisa yang tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya, mencelupkan kepalanya ke dalam bak mandi segi empat berkramik warna biru polos.


“Yalisa!” Riski berlari ke arah Yalisa, dan mengeluarkan kepala Yalisa dari dalam bak.


“Apa kamu tolol?!” bentak Riski pada wanita yang ada di pelukannya saat ini, Nafas Yalisa pun memburu, karena terlalu lama menahan nafas dalam bak.


“Kenapa kamu kesini?” tanya Yalisa dengan penampilan kacaunya.


“Bodoh! Kamu mau bunuh diri karena ibu mu sudah mati? Apa kamu gila!” Riski membulatkan matanya seraya mencengkram erat lengab Yalisa.


Dengan air mata berlinang Yalisa menjawab “Apa gunanya aku hidup, karena aku ibu pergi.”


“Ngomong apa sih kamu?” Riski yang merasa kalau badan Yalisa dingin langsung mengambil handuk yang tergantung di belakang Yalisa, saat Riski akan membalut tubuh Yalisa, disitu Riski baru melihat dengan jelas, kalau banyak bekas merah di sekujur tubuh kekasihnya.


Dengan perasaan penuh tanya, Riski membalut tubuh wanita yang ia cintai dengan handuk, lalu menggendong Yalisa menuju kamarnya.


“Jangan, aku enggak mau, aku mau nyusul ibu, aku enggak bisa hidup dalam keadaan bersalah begini.” ucap Yalisa dalam anggukannya.


Riski tak merespon perkataan Yalisa tersebut, sesampainya di kamar, Riski melempar tubuh Yalisa ke atas ranjang.


Yalisa yang bebal bangkit dari ranjang berniat akan ke kamar mandi lagi untuk bunuh diri, namun Riski kembali lagi menghempaskan tubuh Yalisa ke atas ranjang.


“Aku enggak nyangka kamu lebih bodoh dari yang aku kenal selama ini, apa dengan kamu mati, ibu mu akan tenang? Kalau kamu mati, kamu akan masuk neraka, sampai kiamat dalam kubur kamu akan di siksa habis-habisan, walau pun aku mengirim do'a sebanyak-banyaknya, itu akan sia-sia, kalau kamu bunuh diri!”


“Biar saja, aku pantas mendapatkannya.” ucap Yalisa dengan wajah yang basah karena air mata.


“Apa?”


“Kamu pergi saja, tinggalkan aku.”


“Apa, apa alasan mu ingin bunuh diri?” tanya Riski.


“Karena, karena aku ibu jadi enggak ada.”

__ADS_1


“Itu bukan salah mu, itu semua kecelakaan Yalisa.” ucap Riski mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya.


“Enggak, andai saja, aku enggak ikut Leo, pasti aku bisa jaga ibu Ki.” Yalisa terus saja menangis, ia juga membenamkan wajahnya dalam-dalam ke ranjang.


“Apa?”


Riski yang sudah mengerti apa yang terjadi dengan Yalisa, tak mau bertanya lebih lanjut, karena ia takut, mendengar kebenaran dari mulut Yalisa, tentang apa yang sudah terjadi.


Dengan perasaan penuh kecewa marah bercampur cemburu, Riski mengelus dadanya, lalu menarik nafas panjang.


Setelah itu ia menarik tubuh Yalisa untuk duduk, “Sudahlah, kalau memang kamu merasa bersalah, banyak cara untuk menebusnya, salah satunya, dengan mendo'akan tante, bunuh diri bukan solusi, aku enggak mau kamu ngelakuin itu.”


Setelah menyampaikan pendapatnya , Riski memeluk Yalisa. “Yalisa, kenapa kamu tega mengkhianati aku, apa aku masih kurang pantas untuk mu?” batin Riski.


Cukup lama Riski memeluk Yalisa, hingga ia kembali bangkit, dan mengambil baju untuk sang kekasuh.


“Kamu bisa sendiri apa perlu aku bantu?” tanya Riski.


“A-aku bisa sendiri.” jawab Yalisa, Riski pun menyerahkan baju daster lengkap dengan **********, yang ia ambil dalam lemari pada Yalisa.


“Kamu bisa keluar sekarang.” pinta Yalisa.


“Akhh, sudahlah, kamu pakai saja di depan ku, lagi pula aku sudah lihat semuanya, nanti kalau aku keluar kamu bunuh diri pula lagi.” ucap Riski yang kini duduk di atas ranjang Yalisa.


“Tapi...”


“Tapi apa sih.” Riski yang masih gusar merampas baju yang ada di tangan Yalisa, ia pun mulai membantu Yalisa memakai baju, mulai dari BH ****** ***** sampai dasternya.


Meski Yalisa menolak, Riski tak perduli, setalah selesai memakai baju, Riski menuntun Yalisa menuju dapur untuk makan.


“Duduk.” titah Riski, Yalisa sudah seperti anak kecil, dia hanya menurut saja dengan apa yang di katakan oleh Riski.


Riski yang tak banyak bicara lagi, mengambil piring, dan mengeluarkan isi kantung yang ia bawa ke atas piring.


“Makanlah, hidup harus tetap berjalan, jangan bodoh, masalah maut itu terjadi pada siapa saja, jangan menyalahkan dirimu, orang mati dengan berbagai alasan dan peristiwa, jadi aku mohon, jangan berbuat bodoh lagi.”


Beberapa kata yang Riski lontarkan membuat Yalisa sadar, akan tindakan bodoh yang seharusnya ia tidak lalukan.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2