
Yalisa yang masuk ke dalam kelas, di susul oleh Mei dan Riski sampai ke kursinya.
“Yalisa, jangan ngambek gini dong, maafkan aku ya.” Riski mencoba membujuk Yalisa agar tak marah lagi padanya.
“Aku juga Lis, maaf atas kesalahan ku,” ucap Mei.
“Jangan nangis Mei, malu tahu di lihat orang-orang, dan Riski balik sana ke bangku mu,”
“Tapi....,”
“Kamu enggak malu apa di lihatin orang-orang?” Riski melirik sekitar, yang benar saja kata Yalisa, banyak mata tertuju pada mereka.
Karena tak ingin membuat Yalisa semakin murka, Riski menurut untuk kembali ke bangkunya.
“Lis....,”
“Mei, sudahlah jangan di bahas lagi, aku benar-benar sudah memaafkan mu, jadi ke depan tolong jangan ada kebohongan lagi di antara kita berdua, aku sebenarnya sudah menganggap mu sebagai saudara, menceritakan apa yang ada di hati ku pada mu, sementara kamu, aku enggak tahu apa saja yang ada di benak mu, jangan khawatir, aku enggak akan membenci mu hanya karena kamu merebut Leo, atau apalah itu, kamu itu adalah salah satu orang penting dalam hidup ku Mei, karena jauh sebelum aku mengenal Leo, kamu adalah satu-satunya orang yang mau menjadi teman ku, di saat semua membenci ku, tapi yang di sayangkan kamu berbohong,” terang Yalisa.
“Maaf,” Mei mencoba menggenggam tangan Yalisa, namun Yalisa menepisnya.
“Jangan meminta maaf lagi, ke depan kalau kamu masih menganggap aku sahabat, jangan bohongi aku lagi, hanya itu yang ku minta.” ujar Yalisa, Mei mengangguk tanda mengeri.
“Syukurlah Yalisa memaafkan ku,” batin Mei.
“Aku cukup tahu diri, selama ini aku enggak pernah membalas budi yang Mei lakukan pada ku, semoga bahagia Mei bersama Leo, maaf hanya keikhlasan yang bisa ku berikan saat ini,” batin Yalisa.
Riski yang duduk di bangkunya merasa tak tenang, ia takut kalau hubungannya akan rusak kembali dengan Yalisa, ia yang tak ahli dalam membujuk pun menjadi pusing sendiri.
“Ck.” Riski berulah kali berdecak dalam resah nya, yang membuat Zuco ikut kepikiran.
“Jangan resah begitu Ki,” ucap Zuco.
“Pada hal kami baru baikan, bisa-bisanya ada kejadian begini, gara-gara mereka berdua nih!” pekik Riski.
“Jangan menyalahkan orang lain, lagi pula kamu sendiri tadi yang jujur pada Yalisa,” ujar Zuco.
“Ya..., aku cuma enggak mau bohongi dia lagi, aku ingin semua clear, aku ingin menjalani percintaan yang jujur dengan Yalisa.”
“Helleh, masih pacaran ajah sok-sok bilang clear.” Zuco meledek Riski, yang sifatnya pemain wanita.
“Jangan buat aku tambah pusing ya!” Riski kesal karena Zuco yang tak memberi solusi padanya.
“Ngapain pusing-pusing sih? Nanti juga bakalan baikan lagi kalian,” ujar Zuco.
“Tahu dari mana?”
“Tahulah, Yalisa itu cinta bangat sama kamu, jadi kamu enggak usah terlalu pusing mikirin hal-hal yang enggak perlu secara berlebihan, beli dia tas mewah atau apalah sebagai tanda permintaan maaf mu,” Zuco memberikan saran pada Riski.
“Makanan?” sejujurnya Riski tak tahu banyak soal Yalisa selama ini, karena semenjak mereka pacaran, keduanya belum pernah melakukan jalan-jalan berdua bagaimana layaknya pasangan normal, mereka juga tak pernah bercerita soal satu sama lain lebih intens.
__ADS_1
“Kamu enggak tahu dia suka apa?” tanya Zuco, Riski menggelengkan kepalanya.
“Ya ampun, gila sih kamu, coba deh kamu tanya Mei, selaku sahabat karibnya,” ujar Zuco.
“Oke,” ucap Riski.
Riski pun mengeluarkan handphonenya dan mulai mengetik pesan pada Mei.
“Mei, aku mau tanya, Yalisa biasanya suka makanan apa sih? Dan barang-barang yang ia sukai apa saja?” Riski.📱
Mei yang merasakan handphonenya bergetar, langsung memeriksa handphonenya.
Setelah membaca pesan dari Riski Mei pun membalas.
“Dia suka coklat, dan membaca novel, saat ini dia sedang mencari novel yang berjudul P******i,lanjutan seri novel menikah muda, novel itu limited edition, mungkin kalau kamu dapatkan buku itu, dia akan senang,” Mei. 📱
“P*******i? Jelek bangat judulnya,” batin Riski. Namun, Riski bertekad untuk mencari buku itu.
Sepulang sekolah, Riski yang melihat Yalisa berjalan di trotoar jalan menghampiri dengan motornya.
Citt!!!
“Ayo naik.” ajak Riski.
“Enggak mau.” Yalisa menolak mentah-mentah ajakan Riski.
“Aku mau jalan kaki ajah pulangnya,”
“Oh, mau naik sendiri, apa aku bantu naik?”
Yalisa memalingkan wajahnya dari Riski, Riski yang tak sabaran pun turun dari motor, dan menggendong tubuh Yalisa ala bridal style.
“Ki!”
“Sudah ku bilang naik, kamu malah sok jual mahal.” Riski pun menurunkan Yalisa di bangku belakang motornya.
“Berani turun, aku lempar kamu ke empang itu!” ucap Riski seraya menunjuk kolam ikan yang berada di pinggir jalan tempat Riski memberhentikan motornya.
Yalisa pun tak berani macam-macam lagi, karena sudah jelas Riski akan benar-benar melemparnya ke empang tersebut kalau ia sampai membangkang.
Kemudian Riski memasukkan helm ke kepala Yalisa, selanjutnya ia pun naik ke atas motor, dan melajukan motor membelah jalan raya yang sempit karena banyaknya kendaraan lalu lalang di antara mereka.
“Kita mau kemana?” tanya Yalisa.
“Diam, kalau lagi nyetir enggak boleh ngomong!” ucap Riski dengan suara keras.
Yalisa pun menutup rapat mulutnya, ia pasrah mau dibawa kemana saja oleh Riski.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, akhirnya mereka sampai ke tujuan, yaitu salah satu mall terbesar di kota J, Riski memarkirkan motornya di basement.
__ADS_1
“Kita ngapain kesini Ki?” tanya Yalisa.
“Belanja,” jawab Riski.
Mereka berdua menuju lantai G dengan lift yang ada di basement.
Ting!
Saat pintu lift terbuka, Yalisa takjub karena tujuan mereka adalah toko buku.
“Kok kamu ajak aku kesini? Kamu mau cari buku pelajaran ya?” ucap Yalisa dengan wajah sumringan.
“Aku mau cari novel,”
“Novel? Aku baru tahu kalau kamu suka baca novel,” ujar Yalisa.
“Oh ya?” ucap Riski.
“Novel apa Ki? Biar aku bantu cari?”
“P******i,” ucap Riski.
“Ha?? Aku juga lagi cari novel itu loh, kebetulan bangat ya,”
“Iya, hari ini kita kencannya disini ya,” ujar Riski, Yalisa pun mengangguk setuju.
Melihat koleksi novel yang begitu banyak di toko tersebut, membuat Yalisa seketika lupa akan kemarahannya pada Riski.
Mereka mulai sibuk mencari ke setiap sudut toko, namun mereka tak kunjung mendapatnya.
Hingga Riski mencoba bertanya pada salah satu penjaga toko tentang keberadaan novel tersebut.
“Mbak, kalau novel P******i, sudah ada belum disini?” tanya Riski.
“Oh, yang penulisnya Reski Muchu Kissky ya mas?” ucap sang karyawan.
“Betul mbak,”
“Maaf mas, buku itu sudah terjual habis 2 hari yang lalu, sekarang ini kita sedang melakukan pemesanan kembali,” ucap sang karyawan.
“Oke, terimakasih mbak.” Riski pun memberi tahu Yalisa, kalau novel yang mereka cari telah terjual habis.
Perasaan Yalisa teramat kecewa saat itu namun Riski berjanji akan mencarikan buku itu sampai dapat, sebagai gantinya Riski membelikan koleksi cerpen horor dari penulis yang sama untuk sang kekasih yang berjudul KAMI HIDUP BERDAMPINGAN.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1