
“Yalisa, semua orang bisa berubah pada waktunya, aku juga minta maaf sama kamu atas kesalahan ku selama ini,” tutur Riski.
“Iya, iya, aku sudah maafin kamu, dan makasih juga udah jaga aku selama tidur, apa boleh aku pulang sekarang?” ucap Yalisa.
“Ayo pulang sama-sama kalau gitu,” sahut Riski.
Yalisa yang takut nantinya bisa saja berpapasan dengan Leo langsung menolak penawaran Riski.
“Aku pulang sendiri saja ya, lagian kan rumah aku dekat.” ucap Yalisa seraya melangkahkan kakinya malai melewati tempat Riski berdiri.
Namun Riski menghalangi jalan Yalisa dengan berdiri tepat di hadapannya, dan mengikuti langkah kaki Yalisa, saat Yalisa ke kiri, Riski ke kiri, Yalisa ke kanan Riski juga ikut ke kanan.
“Apaan sih kamu!” Hardik Yalisa seraya mendorong dada Riski ke belakang.
“Makanya jangan bandel ayo pulang sama-sama,” Titah Riski.
“Kamu bodoh atau gimana sih? Aku itu sudah punya pacar, gimana kalau Leo lihat? Gimana kalau ada yang bergosip tentang kita dan sampai ke telinganya, fikir dong!” Hardik Yalisa.
“Ya sudah suruh Leo buat jemput kamu sekarang juga, kalau kamu memang enggak mau pulang sama aku,” ucap Riski.
“Jangan memerintah sesuka mu! Aku bukan pembantu mu, aku bukan saudari mu, aku dan kamu enggak punya hubungan apa pun! Dan itu enggak akan pernah terjadi, karena apa? Karena aku benci kamu! Karena apa lagi? Karena kalau kamu dekat-dekat sama aku, kamu hanya akan membuat masalah baru dan mengancam keselamatan ku, minggir kamu!” Hardik Yalisa, mengeluarkan isi hatinya selama ini.
Riski yang menerina perkataan pedas Yalisa tak bisa membalas apa pun, karena memang ia bersalah.
“Aku terima semua apa pun yang kamu katakan, dan aku mohon maaf, tapi untuk pulang, itu urusan lain.” ucap Riski yang masih mempertahankan posisinya tepat di hadapan Yalisa.
“Dasar enggak normal, minggir!” Sahut Yalisa seraya memukul dada Riski dengan tinju kecilnya sekuat tenaga.
Riski yang sudah kewalahan menghadapi tingkah Yalisa, dengan sigap menangkap dua tangan yang sedari tadi memukulnya, lalu menghantarkan tubuh Yalisa ke pelukannya.
“Sudah cukup main-mainnya, sekarang kamu harus nurut sama apa yang aku bilang,” Titah Riski.
Yalisa yang berada dalam pelukan Riski dengan jelas mendengar suara detak jantung yang begitu kencang.
“Apa benar dia suka sama aku?”~Batin Yalisa.
“Lepasin! Aku sudah bilang kemarin, permintaan ku enggak muluk-muluk, cukup jauhi aku, ngerti enggak sih Ki?” ucap Yalisa.
“Yalisa, jangan atur aku sesuka mu,” sahut Riski.
Yalisa yang merasa tak nyaman dengan pelukan itu, mencoba melepaskan tubuhnya, namun Riski semakin mengencangkan dekapannya.
“Hei anjin*, lepaskan aku, kamu fikir aku akan berbunga-bungan kalau kamu peluk begini? Biar kamu tau, aku jijik kalau melihat kamu, dan karena sentuhan yang sekarang kamu lakukan, aku harus repot-repot mensucikan diri dari najis seperti mu.” ucap ketus Yalisa.
Mendengar hinaan Yalisa yang menyamakan dirinya dengan binatang, batin Riski merasa tak terima.
Dengan sorot mata tajam, Riski memandang Yalisa yang mendongak padanya, Dan tanpa fikir panjang Riski mengangkat tubuh Yalisa lalu menurunkannya di atas meja guru.
“Mau apa lagi kamu sampah!” Hardik Yalisa yang mulai gentar.
Riski yang sedang kalut spontan mengecup kilat bibir Yalisa dan melepaskannya. Seketika mata Yalisa membelalak tak percaya, ia pun memegang bekas ciuman Riski di bibirnya.
__ADS_1
Saat Yalisa akan turun dari meja guru, Riski menahannya lalu memeluk erat tubuh Yalisa, dengan menutup matanya, Riski kembali mencium bibir Yalisa seraya memberi pagutan-pagutan mesra.
Jantung Yalisa serasa mau copot, ini pertama kalinya ia di cium seorang laki-laki, saat ia ingin mendorong kepala Riski, Riski menahan tangannya dan melanjutkan hasratnya untuk beberapa saat.
Yalisa yang mulai takut akan Riski yang masih saja memagut bahkan mempermainkan lidahnya mulai menangis.
Hiks hiks hiks...
Riski yang merasakan pipinya basah membuka matanya.
“Yalisa...,” batin Riski.
Riski melihat dengan jelas, derai air mata Yalisa bercucuran, perlahan ia menghentikan permainan panasnya dan melepaskan pagutan serta pelukannya dari Yalisa.
“Ka... kamu eng... eng enggak akan perkosa aku disini kan? Hiks... hiks.. ” ucap Yalisa dengan suara yang serak dan terbata-bata.
Riski yang mendengar ucapan Yalisa langsung merasa bersalah, dia lupa kalau Yalisa bukanlah Yovi, yang siap kapan saja melayaninya.
“Maafin aku Yalisa, aku khilaf.” ucap Riski dengan suara yang pelan.
Riski pun menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangannya, lalu mundur beberapa langkah dari hadapan Yalisa, karena kalau masih tak berjarak, ia takut dirinya tak dapat menahan nafsunya seperti yang baru saja terjadi.
Yalisa yang melihat ada celah untuk lari, tak mensia-siakan kesempatan itu, perlahan ia turun dari atas meja guru, dan mulai berlari sekencang ia bisa menjauh dari kelas yang telah membuat luka baru di hatinya.
Di bawah guyuran hujan yang deras Yalisa terus berlari tak melihat ke belakang lagi.
Riski yang masih berada dalam kelas memukul-mukul white board dengan tinjunya. Iya marah pada dirinya sendiri yang tak mampu menahan birahinya.
Takut kalau Yalisa akan membencinya dalam waktu yang lama, Riski pun bergegas keluar dari kelas menuju parkiran sekolah, setelah itu ia menaiki motornya dan melajukan nya dengan kecepatan maksimal untuk mengejar Yalisa.
“Yalisa!” Teriak Riski.
“Riski,”~batin Yalisa.
Tak mau ada urusan dengan Riski lagi, Yalisa mengencangkan larinya sekuat tenaga, sampai ia Yalisa menginjak sebuah lubang di jalan raya yang membuat dirinya tersungkur ke aspal.
Riski yang melihat langsung memarkirkan motornya di pinggir jalan.
“Kamu enggak apa-apa?” ucap Riski, yang ingin membantu Yalisa duduk.
“Enggak, enggak apa-apa, udah kamu duluan saja, aku bisa sendiri kok,” sahut Yalisa, menepis tangan Riski.
“Tapi...,” ucap Riski yang tetap membantu Yalisa untuk duduk.
“Udah, aku enggak apa-apa, tolong tinggalin aku,” pinta Yalisa dengan tubuh yang gemetaran karena dinginnya air hujan di tambah takutnya pada Riski.
Yalisa pun bangkit dari duduknya, mulai berjalan dengan sedikit pincang.
“Yalisa, aku minta maaf, aku minta maaf, tolong maafin aku, aku janji enggak akan gitu lagi sama kamu tanpa seizin mu.” ucap Riski seraya ikut berjalan kaki di samping Yalisa.
“Iya, aku udah maafin kamu kok, tapi kamu Bisa kan pulang sendiri? Tolong...” pinta Yalisa.
__ADS_1
“Yalisa, ke rumah mu kan masih lumayan jauh, ini juga perbatasan, gimana kalau kamu ada apa-apa?” ucap Riski.
“Kalau kamu enggak mau, aku akan bunuh diri disini, aku akan melempar tubuh ku ke mobil truk yang disana” Yalisa mengancam Riski.
Riski melihat ke arah yang di maksud Yalisa, tidak jauh dari hadapan mereka ada sebuah truk yang akan melintas, tak mau Yalisa sampai berbuat nekat, Riski pun memenuhi keinginan Yalisa.
“Oke, aku bakalan pergi,” ucap Riski, ia pun balik kanan, dengan berat hati ia menyalakan mesin motornya dan mulai berlalu dari hadapan Yalisa.
Saat Riski telah luput dari pandangan mata Yalisa, ia pun menangis sejadi-jadinya.
“Kenapa? kenapa ya Tuhan, aku harus menerima semua ini?” ucap Yalisa, dengan air mata yang telah menyatu dengan hujan.
Dengan langkah yang tertatih ia berjuang hingga sampai ke rumahnya, saat Yalisa mencoba membuka pintu, tak sengaja ia menoleh ke warung tetangga yang ada di sebelah rumahnya.
“Dasar batu,”~Batin Yalisa, sebab ia melihat Riski berteduh di warung itu, dengan cepat Yalisa mengalihkan pandangannya, lalu masuk ke dalam rumah.
Mengetahui Yalisa pulang dengan selamat, Riski pun kembali menaiki motornya dan mulai membelah jalan raya menuju rumahnya.
________________
Yalisa, kenapa hujan-hujanan nak?” sapa ibunya.
“Uang Yalisa hilang bu, jadi terpaksa jalan kaki, tadi juga aku udah nunggu hujannya reda, tapi sampai 17:30 masih lebat juga,” ucap Yalisa.
“Tunggu di pintu ibu ambil handuk, buka sepatu mu di teras nak.” sahut ibu Yalisa, sembari meletakkan handuk di kepala Yalisa.
“Makasih bu,” ucap Yalisa.
“Iya, tapi, kenapa kamu enggak nebeng sama Mei?” tanya ibunya.
“Mei enggak masuk sekolah bu, tadi juga Yalisa ketiduran di kelas saat nunggu hujannya berhenti, makanya enggak bisa minta tolong sama orang lain.” jawab Yalisa seraya berjalan menuju kamar mandi untuk keramas.
“Oh, ibu fikir kamu ada temannya disana, pulang lama,” ucap ibunya Yalisa.
Yalisa yang telah masuk ke dalam kamar mandi seketika ingat kejadian yang baru saja ia alami karena ibunya menyebut kata teman.
“Jahat kamu Ki, di depan orang-orang kamu membela aku atas perbuatan pak Ari, tapi saat tak ada yang melihat, kamu malah berbuat hal yang sama, terus apa bedanya kamu sama dia? Sesaat aku berfikir kalau kamu telah berubah, kenyataannya kamu masih sama,” batin Yalisa.
Hati Yalisa berkecamuk, rasa bencinya terhadap Riski semakin membesar, Yalisa yang merasa dirinya berhadas besar terus mengguyur tubuhnya dengan air dan menyikatnya dengan sabun mandi batang.
Setelah merasa bersih Yalisa pun keluar dari dalam kamar mandi menuju kamarnya untuk mengganti baju.
Karena udara yang dingin, Yalisa memakai jaket kuning yang kainnya begitu tebal dan hangat, ia yang merasa lelah mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.
“Besok ulang tahun Mei, tapi sampai sekarang nomor dan WA nya enggak aktif,” Gumam Yalisa seraya mengambil handphonenya yang telah basah akibat menerobos hujan.
“Abis deh sekarang, aku enggak punya handphone,” gumam Yalisa.
Tak mau berfikir hal-hal yang memberatkan fikiranya lagi, Yalisa pun mencoba untuk tidur, saat akan menutup mata tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu