
“Ck, akh.... siala*n,” ucap Riski yang merasa kesal karena di malam pentingnya masih ada saja yang mengganggu.
“Tuh kan, aku udah bilang, pintunya di kunci....,”
“Sudah biarkan saja.” Ketika Riski ingin memulai kembali aksinya ketukan di pintu semakin kencang.
Tok tok tok!
“Permisi tuan, maaf mengganggu,” ternyata yang mengetuk pintu adalah pak Jamal.
“Beraninya dia mengganggu, tunggu sebentar!” Riski yang bertelanjang dada menemui pak Jamal ke pintu.
“Ngapain kamu disini?!” pekik Riski.
“Maaf tuan, tuan besar meminta saya untuk memanggil tuan,”
“Ini malam pertama saya, bilang sama ayah, kalau ada urusan penting tunggu besok malam,”
“Tapi tuan....,”
“Sudah, kamu bilang itu saja pada ayah! Malam ini aku enggak mau di ganggu!” meski Riski telah berkata demikian, namun pak Jamal tetap tak mau pergi.
Dan itu cukup membuat Riski gusar, “Jamaaaal!”
“Maafkan saya tuan, tapi saya tidak bisa membantah perintah tuan besar, yang mengharuskan saya membawa tuan ke ruang kerjanya sekarang,”
“Astaga! Ya sudah ayo kesana sekarang, awas saja kalau enggak penting!” dengan perasaan tak terlukiskan, Riski menuju ruang kerja sang ayah.
Sesampainya ia di ruang kerja pak Doni, Riski masuk dengan wajah masam.
“Ada apa yah?” ucap Riski.
“Maaf sebelumnya, tapi ini urusan penting enggak bisa di tunda,”
“Hah? Maksud ayah?” Riski menurunkan alisnya, tak mengerti apa yang di maksud oleh sang ayah.
“Malam ini, kamu harus berangkat ke Thailand,”
“Ayah waras enggak sih?! Ini malam pertama ku, enggak bisa besok saja apa?” ucap Riski dengan hati panas dingin.
“Hmmm, sayangnya enggak bisa, tenang saja kali ini hanya 3 hari,” ujar pak Doni.
“Benar-benar ya! Istri ku belum sempat ku sentuh, tapi harus ku tinggal selama itu?” ucap Riski seraya memutar mata malas.
“Sudahlah, kali ini saja, ayah juga sudah pesan tiket untuk mu, berangkat jam 22:00 malam,” pak Doni mengirimkan bukti pembelian tiket online pada anaknya.
“Kalau setelah ini ayah masih ada permintaan, awas saja!” dengan kesal, Riski kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Sesampainya ia ke kamar, ia melihat Yalisa yang duduk di pinggir ranjang menunggu ke datangannya.
“Riski!” Yalisa bangkit dari duduknya kemudian memeluk sang suami.
“Apa urusannya sudah selesai?” tanya Yalisa yang berpikir, kalau mereka akan melanjutkan malam sunah kembali.
“Hemmm, maaf Yalisa,” ucap Riski seraya menggaruk kepalanya.
__ADS_1
“Ada apa Ki?” tanya Yalisa.
“Aku minta maaf bangat sebelumnya, tapi ayah menyuruh ku berangkat malam ini juga ke Thailand,” terang Riski.
“Apa?” Yalisa tak percaya, kalau dirinya akan di tinggal di saat malam pernikahan mereka.
Riski merasa iba, saat melihat wajah sedih sang istri.
“Ini enggak lama,”
“Berapa tahun Ki?”
“Cuma 3 hari, setelah itu aku enggak akan tinggalin kamu lagi,” ingin sekali Yalisa mencegah kepergian sang suami, namun apa daya, ia hanya orang luar yang baru masuk dalam keluarga itu.
“Ya sudah, tapi kali ini cepat pulang ya,” ujar Yalisa.
“Pasti.” Riski mengecup kening istrinya. Setelah itu, ia segera bersiap menuju bandara.
Riski tak mengizinkan Yalisa ikut ke bandara, sebab ia tahu, kalau istrinya teramat lelah.
Malam pertama yang harusnya indah, kini terasa sangat hamba, perasaan keduanya menjadi di lema.
“Pada hal dia baru berangkat, tapi kenapa rasanya rindu sekali?” gumam Yalisa yang tengah rebahan di atas ranjang.
Karena tak tahu harus berbuat apa lagi malam itu, akhirnya Yalisa memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, ketika Yalisa baru bangun ia terkejut melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08:00 pagi.
“Ya ampun! Aku belum sholat subuh, aduh...,” Yalisa merasa takut, apabila sang mertua mengkritiknya.
Sebelum menyantap bubur tersebut, Yalisa terlebih dahulu mandi, ketika akan memakai baju, ia pun membuka lemari bajunya, yang posisinya tepat di sebelah lemari sang suami.
Drakkkkk!!!
Ketika Yalisa menggeser pintu lemari besar itu. ia di buat terpesona, sebab isi dalam lemari, di penuhi dengan baju-baju indah dan bermerek.
“Aku harus pakai yang mana ya?” karena terlalu banyak pilihan, Yalisa jadi bingung untuk memakai yang mana.
Cukup lama ia memilah-milih pakaian-pakaian itu, hingga akhirnya ia mengambil setelan gaun indah berwarna merah muda.
Kemudian Yalisa menyantap bubur dingin yang telah di hidangkan.
Ketika ia telah selesai makan, Susi sang ART masuk ke dalam kamar.
Tok tok tok!
“Permisi nyonya,”
“Iya mbak?” sahut Yalisa.
“Maaf, nyonya hari ini mau melakukan apa? Karena tuan Riski memerintahkan saya untuk jadi ART pribadi nyonya mulai dari sekarang,” terang Susi.
“Aku?” Yalisa di buat bingung untuk melakukan apa hari itu.
“Aku...., sepertinya di rumah saja, oh iya, apa ayah sudah berangkat kerja?” tanya Yalisa.
__ADS_1
“Sudah non, tuan besar tadi pagi berangkat ke Singapura,”
“Alhamdulillah, tapi... itu artinya aku akan sering di tinggal dong ke depannya,” gumam Yalisa.
“Kemungkinan begitu nyonya, karenakan baik tuan besar atau tuan Riski harus turun tangan secara langsung mengurus bisnis.” terang Susi yang sudah 10 tahun bekerja pada keluarga Lail.
“Oh, gitu ya?” Yalisa menjadi kepikiran akan nasibnya di masa depan.
Dan hari itu, ia lalui dengan mengobrol bersama Susi, mengulik tentang keluarga besar suaminya, yang sebelumnya ia tak tahu apapun.
Meski begitu, Susi hanya menceritakan apa yang perlu di ceritakan pada nyonya barunya.
Tiga hari kemudian, Yalisa bersiap-siap dengan baju indahnya, untuk menyambut kepulangan sang suami.
Namun, ia telah menunggu dari pagi hingga malam hari, suami tercintanya tak kunjung datang.
Ketika di telepon pun, nomornya tidak aktif, dan itu membuat Yalisa menjadi kepikiran, ia takut kalau sang suami akan pergi lebih lama dari yang telah di janjikan.
Pukul 02:00 dini hari, Yalisa masih setia menunggu ke datangan suami di ruang tamu, hingga Susi yang mendampingi menjadi khawatir akan kesehatan nyonya nya.
“Nyonya, nunggunya di kamar saja ya? Dan nyonya juga belum makan dari siang, ayo non makan dulu,” ucap Susi.
Ketika Yalisa bangkit dari sofa, tiba-tiba ia merasa lemas, pandangannya pun mengabur.
Bruk!!! Tubuh Yalisa terjatuh ke lantai.
Susi yang melihat sang nyonya jatuh pingsan langsung meminta pertolongan.
“Tolong! Tolong nyonya pingsan!” teriak Susi.
Lalu para Art pun berdatangan, selanjutnya mereka menggotong tubuh Yalisa ke dalam kamarnya.
Tak lupa Susi mengirim pesan pada tuannya, dan juga menelepon dokter pribadi keluarga Lail.
30 menit kemudian, sang dokter pun tiba, lalu memeriksa keadaan Yalisa.
“Bagaimana dok?” tanya Susi dengan panik, sebab ia akan di minta pertanggung jawaban oleh sang tuan apa bila terjadi sesuatu.
“Hem, begini mbak, nyonya Yalisa....”
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Nantikan karya baru dari author pada tanggal 15 Desember 2021.
Beeve adalah gadis muda berparas cantik yang baru saja lulus SMA, ia yang ingin melanjutkan studi harus terhalang karena mendapati dirinya tengah mengandung anak dari hubungan terlarangnya dengan sang kekasih yang berbeda keyakinan.
Alih-alih di nikahi oleh yang ia cintai, Beeve yang malang malah di campakkan seperti sampah.
Keluarganya yang tahu akan kondisi dirinya dengan sigap menikahkannya dengan Andri, pemuda tampan mapan dan dermawan.
Akankah pernikahan Beeve dan Andri akan berjalan dengan lancar? Atau justru putus di tengah jalan?
__ADS_1