
Setelah Yalisa dan Leo selesai makan, mereka berdua pun kembali ke kelas masing-masing.
Sesampainya Yalisa ke kelasnya, Yalisa langsung mengajukan pertanyaan pada Mei.
“Mei, tadi aku lihat kamu jalan bareng sama Marco, itu aku enggak salah lihat kan?” ucap Yalisa seraya duduk di atas kursinya.
“Oh, tadi kita satu tim waktu main volley, dia juga banyak bantuin aku dalam latihan, awalnya aku risih bangat dia tiba-tiba sok ramah, ya... karena masih ada untungnya, enggak apa-apalah akrab bentar sama dia,” ujar Mei.
“Iya juga sih, kalau emang niatnya baik apa salahnya, semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu.” ucap Yalisa.
“Iya, sama kayak Riski, dia juga berubah lebih baik sekarang, udah enggak rese, tapi dia yang sekarang malah terlihat aneh menurut ku.” sahut Mei.
“Anehnya dimana Mei?” tanya Yalisa.
“Enggak tau orang lain sadar apa enggak tapi aku perhatikan, dia kayaknya suka sama kamu Lis.” jawab Mei. Sontak Yalisa tertawa kecil mendengar kebenaran yang Mei kemukakan.
“Mei saja sadar, gimana sama yang lainnya? aduh bisa jadi Malasah nih kalau para penggemar Riski tahu,”~ batin Yalisa.
“Ah, enggak mungkinlah Mei, mana mungkin dia suka sama orang jelek dan miskin seperti aku, kalau selevel kamu, bisa jadi.” ucap Yalisa.
“Kalau sudah cinta, mau nenek-nenek pun di empat,” sahut Mei.
Tet.. tet.. tet.. tak terasa bel sekolah pun berbunyi, para siswa dan siswi merapikan barangnya masing-masing ke dalam tas.
“Aku ikut ke rumah mu ya Mei,” ucap Yalisa.
“Enggak usah Lis,” sahut Mei.
“Kenapa enggak boleh sih? Biasanya juga boleh Mei.” ucap Yalisa dengan mengernyit.
“Nanti kamu cape loh.” sahut Mei, seolah sedang menghindari sesuatu.
“Pokoknya aku ikut,” ucap Yalisa, dengan menggandeng tangan Mei, menuju parkiran.
Mei pun tidak dapat berbuat banyak, sesampainya mereka di parkiran, mereka bertemu dengan Riski yang akan pulang juga, saat Yalisa melirik ke arah Riski, Riski malah bermain mata pada Yalisa.
“Siala*,”~ Batin Yalisa.
Lalu Yalisa buru-buru masuk ke dalam mobil Mei. “Kamu kenapa?” ucap Mei.
“Enggak apa-apa,” sahut Yalisa.
Sontak Mei melihat ke arah belakangnya, dan dia melihat Riski Yang tengah memakai helm. Kemudian Mei pun masuk ke dalam mobil.
“Kamu ada masalah apa lagi sih sama Riski? Kenapa buru-buru tadi masuk mobilnya?” tanya Mei.
__ADS_1
“Enggak ada sih, cuma pengen masuk cepat saja,” jawab Yalisa.
Setelah mereka semua memasang sabuk pengaman, sopir Mei pun menyalakan mesin mobil dan mulai berjalan membelah jalan raya.
30 menit dalam perjalanan, akhirnya mareka sampai ke rumah Mei bertingkat 2 yang begitu megah dan elegan, bangunan bernuansa eropa dengan halaman yang luas dan memiliki kolam berenang keluarga yang sangat besar.
Mereka pun turun dari dalam mobil, di halaman rumah utama sudah banyak para ART Mei Yang tengah sibuk mendekorasi halaman.
“Jadi pestanya diadakan di halaman utama ini Mei?” tanya Yalisa.
“Iya, biar enggak kotor di dalam rumah,” sahut Mei.
“Aku letakin tas dimana nih Mei?” tanya Yalisa.
“Taruh di kamar ku saja, kamu duluan saja ke kamar, kalau mau ganti baju pakai baju ku saja, ambil di dalam lemari.” jawab Mei, seraya membantu ART nya mendekorasi halaman.
“Okay, aku sekalian pinjam baju kamu kalau gitu.” ucap Yalisa, seraya berlalu dari halaman rumah Mei.
Sesampainya Yalisa di dalam kamar Mei, Yalisa meletakkan tasnya di atas meja belajar Mei, dan juga tidak lupa, Yalisa mengganti bajunya, Yalisa mengambil celana training dan baju kaus berkerah warna abu-abu polos.
Setelah selesai, Yalisa bergegas menuju halaman, saat Yalisa turun dari lantai 2, ia mencium aroma wangi dari dapur, Yalisa pun mengikuti bau lezat itu ke sumbernya, sesampainya Yalisa ke dapur, ia melihat 5 koki pria sedang sibuk dengan masakannya.
Kebetulan Yalisa mengenali ke 5 koki itu, yang membuatnya tak sungkan untuk berbaur dengan mereka.
“Wah, hidangannya banyak bangat pak!” seru Yalisa seraya melihat satu persatu menu yang telah matang.
“Tapi, semua serba daging ya pak?” sahut Yalisa.
“Iya non, itu permintaan dari non Mei nya sendiri, kita sih ikut saja apa yang di suruh.” ucap pak Sarto.
“Aku bantuin apa nih pak?” tanya Yalisa, seraya mengambil pisau.
“Kita saja sudah cukup kok non, sebaiknya nona ke tempat non Mei saja.” jawab pak Sarto yang masih sibuk mengiris bawangnya.
“Okay.” sahut Yalisa. Saat akan ke luar dari dapur, Yalisa tiba-tiba ingin buang air kecil, tanpa permisi ia masuk ke toilet yang ada dalam dapur.
Tak berlama-lama-lama Yalisa pun menuntaskan hajatnya di atas toilet duduk, setelah selesai Yalisa menekan tombol flush.
saat akan membuka handle pintu toilet, tak sengaja Yalisa melihat sesuatu yang cukup familiar baginya, yang terletak di pinggir wastafel.
Sebuah benda bulat, yang semua orang pasti suka.
“Kok aku kayak pernah lihat cincin ini sih? Tapi dimana ya?”~ batin Yalisa.
Yalisa meraih cincin itu, ia lihat ukiran yang terdapat pada cincin tersebut, dan seketika Yalisa ingat, ia melihat cincin itu di akun media sosial Instagramnya.
__ADS_1
“Kenapa? Kenapa cincin pak Ari ada di toilet rumah Mei?” gumam Yalisa.
Kemudian Yalisa memperjelas lagi, dia pun mengambil handphonenya, dan menyalakan senter, untuk melihat bagian dalam cincin yang ada ukiran nama Ari & Markonah, seketika Yalisa menutup rapat bibirnya dengan tangannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mei terlibat ke dalam masalah pak Ari? apa itu penyebab Mei enggak masuk sekolah sekolah di hari itu?”~batin Yalisa.
Karena tak mau ketahuan, Yalisa meletakkan kembali cincin pak Ari ketempat semula, tapi sebelum itu, ia menghapus bersih cincinnya dengan tisu toilet agar tak meninggalkan sidik jari.
Ceklek... Yalisa keluar dari dalam toilet.
“Lama bangat di dalam non?” ucap pak Sarto.
“Hahaha... iya, tadi sekalian buang air besar pak?” sahut Yalisa seraya meninggalkan dapur. Dalam langkahnya menuju halaman utama, hati Yalisa penuh akan pertanyaan.
“Kenapa Mei terlibat dalam semua ini? Apa dia punya masalah sama pak Ari, tapi aku enggak tau? Atau Mei hanya kebetulan nemuin cincin pak Ari? Bisa saja kan? Kalau cincinnya jatuh di area sekolah, tapi... kalau Mei beneran pelakunya, terus sekarang pak Ari ada dimana?”~ batin Yalisa.
Yalisa menatap Mei dengan penuh selidik, Mei yang melihat Yalisa dalam jarak 100 meter darinya langsung melambaikan tangan.
“Hei, ngapain disitu?!” ucap Mei.
“Apa aku tanya saja sama dia sekarang? atau aku menunggu selesai acara ulang tahunnya? Atau aku harus diam saja?”~ batin Yalisa.
Perlahan Yalisa menghampiri Mei, yang sibuk menyusun bangku tamu.
“Lama bangat sih ganti bajunya.” ucap Mei tanpa melihat mimik wajah Yalisa.
“Kamu baik-baik saja Mei?” tanya Yalisa.
“Ha?” Jawab Mei keheranan, tak mengerti maksud Yalisa.
“Aku baik-baik saja kok,” ucap Mei.
“Kalau ada apa-apa cerita sama aku ya, jangan pendam sendiri,” ujar Yalisa, seraya meninggalkan Mei menuju ART yang sedang mempersiapkan balon.
“Maksud dia apa sih?” batin Mei.
Kini Yalisa sibuk membantu para ART meniup balon dengan pompa, ia sengaja menjauhkan diri dari Mei untuk menenangkan fikirannya.
“Aku harus selidiki apa yang sebenarnya terjadi, apa jangan-jangan waktu WhatsApp pak Ari aktif, Mei yang memegang handphonenya?” batin Yalisa terus mengajukan pernyataan tanpa henti.
“Yang lebih penting adalah, mau itu dia atau bukan, Mei enggak boleh sampai ketahuan.” batin Yalisa, Yalisa terus curi pandang pada Mei saat Mei tidak menoleh padanya.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram : @Saya_muchu