SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab IX (Derai Air Mata Part II)


__ADS_3

Riski perlahan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Yalisa yang ada di sampingnya. Yalisa dan ibunya juga melihat Riski dengan pandangan penuh emosi, walau sebenarnya memang Yalisa lah pelakunya.


“Saya yakin pak, dia pelakunya,” ucap Riski.


Riski mengarahkan jari telunjuknya pada Yalisa. Pak Aryo mendehem menatap pada Yalisa dan Riski secara bergantian.


“Kamu ada buktinya enggak?” tanya pak Aryo.


Riski dengan sombongnya melipat kedua tangannya di dada.


“Saya yakin, walau saya enggak punya bukti, karena saya hanya bermasalah dengan dia pak,” ucap Riski.


Yalisa menggeleng-geleng kan kepalanya karena tak setuju, menurutnya Riski itu bermasalah dengan semua orang yang dia temui.


“Kamu itu bermasalah sama semua orang, kamu seenaknya, kalau tidak suka langsung saja main pukul, memangnya kamu fikir kamu siapa?” Mata Yalisa berkaca-kaca saat mencoba membela dirinya.


“Benar pak, dari pertama kali kita masuk ke sekolah ini dia sudah sangat berulah, dia enggak perduli dengan siapa dia berhadapan baik itu perempuan atau laki-laki sama saja di matanya, dia tidak hanya main tangan tapi juga mengejek dan meludahi orang yang tidak dia suka.” tambah Mei yang duduk di belakang kursi Yalisa. Pak Doni sangat malu sekali akan perbuatan anaknya yang sudah di luar akal sehat.


Pak Aryo sebenarnya sudah tau semua itu tapi dia diam karena pak Doni sering memberinya uang masukan yang cukup besar, jadi setiap ada kesalahan Riski para guru hanya diam saja.


“Saya berharap bapak memberi hukuman kepada ketiga anak ini, mereka sudah memperlakukan anak saya seperti binatan*, ini anak saya pak, yang sudah saya besarkan, saya tidak meminta apa pun dari kalian untuk membesarkan anak saya, kamu!” bu Alisyah menunjuk wajah Riski dengan air mata yang berderai.


“Apa kamu tidak di ajari oleh orang tua mu?Bagaimana kamu bertindak seperti psikopat, pada hal kamu masih muda, teganya kamu memperlakukan anak saya seperti ini, coba kamu lihat hasil perbuatan mu, wajah anak saya memar, kakinya juga memar, apa hak mu berbuat seperti ini, saya sangat sakit melihat anak saya seperti ini, apa lagi anak saya sendiri yang sudah mengalaminya,” ucap bu Alisyah.


Yalisa memeluk ibunya yang menangis dan ikut menangis juga. Ayah Riski tak dapat mengangkat kepalanya untuk melihat orang-orang, matanya seakan menyilaukan. Dia hanya bisa mengucap maaf dengan posisi kepala menunduk.


“Maafkan anak saya bu, maafkan saya juga yang tidak bisa mendidiknya.” ucap pak Doni terus menerus.


“Bagaimana dengan Zuco dan Marco, apa jawaban kalian? Apa kalian punya bukti kalau Yalisa dan Mei adalah pelakunya?” tanya pak Aryo.

__ADS_1


Mereka berdua hanya menggelengkan kepala. Wajah Marco sendiri merah ada cap tangan di pipinya.


“Maafkan anak saya Yalisa dan ibunya Yalisa, sebenarnya anak saya tidak berniat melakukan itu, anak saya hanya takut pada Riski, kalau anak saya tidak menurut, maka dia akan di pukuli oleh Riski juga.” Ibu Marco mencoba membela anaknya, karena begitulah pengakuan Marco padanya, walau sebenarnya itu tidak benar.


“Sudah tau sakit, malah tega melakukan juga, dimana hati dan nurani anak ibu! Ibu bisa ajar anak ibu enggak sih? Saya yakin ibu juga pasti tidak terima anak ibu di perlakukan seperti anak saya,” Sahut bu Alisyah.


“Iya benar bu, saya juga pasti tidak terima, saya memohon maaf sama Yalisa dan juga ibu, saya juga sudah memarahi anak saya di rumah kemarin, ayahnya juga turut memukuli dia dengan brutal, saya mohon bu, ibu maafkan anak saya,” pinta ibu Marco.


Ibu Marco memohon maaf dengan sepuluh jari, Marco tak tega melihat ibunya memohon seperti itu.


“Maafin Marco bu, udah buat ibu malu,” Batin Marco.


“Bu, udah bu jangan minta maaf seperti itu,” Tegur Marco pada ibunya.


“Diam kamu anak bodoh, sekali lagi ibu dapat laporan seperti ini, kamu akan mati di tangan ayah mu.” Ibu Marco memukul keras kepala Marco.


“Kalau saya pasrah saja, anak saya yang salah, saya tidak dapat mendidiknya karena saya sibuk bekerja, ayahnya sudah pergi meninggalkan kami, jadi saya harus banting tulang untuk menghidupi Zuco, saya juga sudah memberi pelajaran pada anak saya kemarin dan pagi tadi sebelum berangkat kesini, saya tidak akan membela anak saya, tolong berikan anak saya hukuman berat agar dia jera.” pinta ibunya Zuco dengan dengan penuh rasa bersalah dan dosa.


“Ibu udah gila ya? Ibu minta Zuco buat di hukum?” Zuco melotot pada ibunya, tapi ibunya tidak perduli. Leo yang sedari tadi hanya menyimak mulai berbicara dengan mengangkat tangan kanannya ke atas.


“Maaf saya mau menambahkan, kalau hari sebelumnya juga Riski mengunci mereka di dalam toilet sehingga mereka tidak dapat mengikuti pelajaran bu Amel, akibatnya bu Amel menghukum mereka berdua, untung saja saat itu saya ke toilet jadi bisa membantu mereka, dan saya sangat berharap kedepannya, jangan terjadi hal seperti ini lagi pak, bu, karena tindakan pembullyan ini dapat merusak mental seseorang, terkadang kita hanya bercanda saja, kalau orangnya tidak merasa nyaman bisa membuat dia tersinggung, apa lagi dengan tindakan fisik, berikan kita kenyamanan di sekolah ini pak,” terang Leo.


Bu Amel yang mendengar kesaksian Leo jadi merasa bersalah sudah menghukum kedua siswi yang tidak bersalah.


“Untuk Yalisa dan Mei, ibu minta maaf sudah menghukum kalian kemarin, dan Riski saya akan menghukum kamu dan teman-teman mu setelah rapat dari ruangan ini,” ucap bu Amel.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pak Aryo berniat mengakhiri rapat tersebut, karena 30 menit mata pelajaran telah berlalu. Kelas-kelas juga banyak yang kosong akibat guru yang ikut rapat.


“Baiklah, karena sudah jam segini mari kita akhiri rapatnya, Riski dan kawan-kawan maju ke depan begitu pula dengan Yalisa dan Mei, bagaiman pun juga mereka ini masih anak- anak, saling memaafkan adalah lebih baik, saya berharap kalian bisa berdamai, jangan di ulangi lagi,” ucap pak Aryo.

__ADS_1


Ibu Yalisa yang mendengar hal itu tidak terima dia berdiri dengan menatap tajam pak Aryo.


“Apa-apaan ini! Bapak bilang saling memaafkan? Anak saya disini sebagai korban lo! Bapak bilang saling memaafkan hanya karena mereka anak-anak?!” bu Alisyah berbicara dengan kencang dan lantang.


“Bu, Bu,tenang dulu, silahkan duduk kembali bu,” ucap pak Aryo.


Yalisa berdiri dan menggenggam pundak ibunya.


“Duduk bu,” pinta Yalisa.


“Enggak Lis, enak saja bilang tenang, ini anak saya! Sudah di bully dari pertama kali masuk sekolah, dimana perhatian kalian sebagai guru! Anak-anak ini hanya di suruh meminta maaf? tidak bisa!” ucap bu Alisyah seraya menggebrak meja dengan sangat kuat membuat seisi ruangan kaget dan mengusap dada.


Pak Aryo mulai geram karena bu Alisyah tidak bisa di ajak kerja sama.


“Gawat nih, kalau saya enggak bisa beresin masalah ini, bisa enggak dapat uang saya dari pak Doni.” batin pak Aryo.


Sementara pak Doni terus memperhatikan pak Aryo, seolah memberi kode untuk menyudahi rapat, karena pak Doni ingin segera pergi bekerja.


“Ibu, saya pemimpin rapat disini, mereka juga masih anak-anak, saya akan menyuruh mereka setiap jam istirahat menghadapi guru BK untuk di bina dan di nasehati,” jawab tegas pak Aryo.


“Saya mau mereka di hukum pantas!” pinta bu


Alisyah.


“Bu!” pak Aryo menatap tajam ke arah bu Alisyah.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2