
Sesampainya Yalisa dan Mei ke area pesta Leo menyapa mereka berdua.
“Kalian kok lama sih? Yalisa, kamu enggak apa-apa kan?” ucap Leo.
“Iya, aku enggak apa-apa kok,” sahut Yalisa.
Mei, hanya tersenyum tipis atas ucapan Leo itu.
“Apa kalian sudah makan?” tanya Mei.
“Belum, tadi aku nunggu Yalisa dulu,” jawab Leo.
“Ya sudah, ayo kita makan bersama, teman-teman yang lain juga sudah makan tuh.” ucap Mei, seraya melihat ke sekelilingnya.
“Oke, Leo aku ambil makan buat kamu ya.” ucap Yalisa.
“Ya sudah, boleh,” sahut Leo.
Yalisa dan Mei pun mengambil hidangan yang tersedia di atas meja yang mana di antaranya adalah daging panggang yang di taruh di atas daun selada, tak lupa Yalisa mengambil kentang goreng kesukaannya, ia menyamakan makanannya dengan Leo.
Lalu tiba-tiba, Mei meletakkan di masing-masing piring mereka berdua sepotong daging BBQ yang ukurannya lumayan besar.
“Itu daging pilihan, gizinya juga banyak, jadi kalian harus habiskan ya.” ucap Mei, yang telah selesai menghiasi piringnya dengan berbagai menu.
Melihat Mei yang sudah mulai ramah pada Yalisa, Yalisa pun merasa senang.
“Alhamdulillah, Mei sudah enggak marah sama aku,” batin Yalisa.
Yalisa pun tersenyum lebar pada Mei, “Iya, pasti aku habiskan.” ujar Yalisa, seraya beranjak ke tempat Leo duduk.
“Ini,” ucap Yalisa, seraya meletakkan piring kepunyaan Leo, di atas meja bulat, bertapplak putih, Mei juga bergabung bersama mereka berdua.
“Makasih ya.” ucap Leo, yang mulai memotong daging panggang miliknya dengan pisau pemotong.
Begitu pula dengan Yalisa dan Mei, saat daging panggang Yalisa masukkan ke dalam mulutnya, ia merasa nikmat tiada dua.
“Benar-benar lezat, apa ini namanya makanan orang kaya?” batin Yalisa.
“Enak enggak?” tanya Mei pada Yalisa dan Leo.
“Enak,” sahut mereka berdua.
“Daging BBQ nya lebih enak tuh.” ucap Mei.
Lalu, Leo dan Yalisa pun mencoba mengunyah daging BBQ yang di sebutkan oleh Mei.
“Enakkan?!” seru Mei.
“Iya enak,” sahut Yalisa, dengan terus menyantap makanan di piringnya.
Namun berbeda dengan Leo, ia merasa dagingnya berbeda dengan daging panggang yang ia makan sebelumnya.
“Ini daging apa?” tanya Leo.
“Itu daging sapi biasa, sama seperti daging panggang yang kamu makan,” ujar Mei.
__ADS_1
“Kok rasanya mirip daging manusia ya.” ucap Leo, seketika Mei terdiam, wajahnya berubah menjadi datar tanpa ekspresi.
“Tapi bohong, hehehe.” ucap Leo lebih lanjut dengan tertawa kecil.
“Apa sih kamu, daging sapi di bilang daging manusia!” pekik Yalisa seraya menjewer telinga Leo, Mei menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa candaan Leo tidak enak di dengar.
Tepat pada pukul 00:00 malam, acara pesta ulang tahun Mei pun usai, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan kediaman Mei.
“Kamu nginap disini kan?” ujar Mei pada Yalisa.
“Hah?” sahut Yalisa, awalnya Yalisa memang berniat untuk menginap, mengingat waktu yang sudah terlalu malam, ibunya juga pasti memarahinya kalau pulang selarut itu.
“Emang tante enggak marah kalau kamu pulang jam segini?” tanya Mei, pada Yalisa yang menampilkan wajah bingung.
“Aku juga maunya gitu sih, tapi kalau aku nginap, bisa jadi barang bukti yang ada di saku ku, ketahuan sama Mei.” batin Yalisa.
“Iya Lis, kamu menginap disini saja,” ucap Leo, yang setuju akan pendapat Mei
“Ehehehe, tadi ibu suruh aku buat pulang, pada hal aku udah bilang, mau nginap disini,” ujar Yalisa.
“Tumben?” ucap Mei keheranan.
“Iya, katanya besok ada acara keluarga, berangkatnya subuh gitu.” sahut Yalisa, berharap Mei percaya.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Mei.
“Kalau begitu, kita pulang sekarang saja, biar enggak kelamaan.” ucap Leo, berdiri dari duduknya.
“Oke, Mai selamat ulang tahun ya,” Yalisa pun memeluk Mei.
“Makasih banyak ya, ya sudah, kalian cepat pulang sana, hati-hati di jalan ya,” ucap Mei.
“Sampi besok,” ucap Yalisa dan Leo seraya meninggalkan Mei menuju parkiran.
Sesampainya di parkiran, mata Yalisa celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
“Kamu nyari siapa?” tanya Leo.
“Ah, enggak kok, enggak cari apa-apa,” sahut Yalisa.
“Untung Riski sudah pulang, tapi aku harus pulang kemana ya? Kalau ke rumah sudah jelas ibu akan memarahi aku habis-habisan, apa lagi pulang di antar sama cowok, tadi pagi kan udah bilang mau nginap di rumah Mei.” batin Yalisa.
Leo, yang melihat tingkah aneh Yalisa merasa curiga.
“Kamu lagi mikirin apa sih?” tanya Leo.
“Enggak mikirin apa-apa, hehehe,” sahut Yalisa.
“Kalau gitu Ayo naik.” titah Leo, menyuruh Yalisa naik ke atas motornya, setelah Yalisa sudah berada di atas motor, Leo pun menyalakan mesin motornya dan mulai membelah jalan raya.
Selama perjalanan, Yalisa hanya diam saja, tak ada kata sedikit pun, membuat Leo makin khawatir.
“Mau nginap di hotel, aku malah lupa ambil tas ku di kamar Mei, saking paniknya, takut di paksa nginap.” batin Yalisa.
Lalu tiba-tiba Yalisa terkejut saat Leo merem motornya secara mendadak.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih? Cerita dong.” tanya Leo penuh selidik.
“Sebenarnya, aku enggak bisa pulang ke rumah, aku juga sudah izin sama ibu buat nginap di rumah Mei tadi pagi,” jawab Yalisa.
“Terus kenapa maksa buat pulang?” tanya Leo yang memutar separuh tubuhnya melihat ke arah Yalisa yang duduk di belakangnya.
“Aku, aku enggak mau nginap di rumah Mei.” jawab Yalisa.
“Maksud kamu apa sih?” ucap Leo yang tak mengerti akan pemikiran Yalisa.
“Gimana bilangnya ya? Enggak mungkinkan aku bilang soal pak Ari sama Leo, bisa-bisa Leo langsung laporin Mei ke kantor polisi lagi,” batin Yalisa.
“Yalisa, kamu ngomong, sebenarnya ada apa? Kalau gini aku harus antar kamu kemana?” tanya Leo, yang mendesak Yalisa untuk memberi jawaban.
“Sebenarnya aku masih mau habisin waktu malam ini sama kamu.” ucap Yalisa, dia terpaksa berkata demikian karena tidak tahu harus bilang apa ke Leo.
“Alasan kamu enggak masuk akal sama sekali Yalisa,” sahut Leo.
“Aku masih rindu kamu sebenarnya.” ucap Yalisa lebih lanjut.
Leo yang merasa kalau Yalisa berbohong dan tak jujur padanya hanya mencoba bersabar, atas sikap Yalisa tersebut.
“Ya sudah, aku harap suatu hari nanti, kamu bisa cerita sama aku, tentang apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Leo.
“Makasih banyak Leo,” sahut Yalisa.
“Iya, sama-sama, kalau gitu malam ini kita nginap di hotel saja ya.” ucap datar Leo.
“Apa?” sahut Yalisa.
“Kok apa? Katanya masih kangen, emang malam-malam begini kita mau kemana? Tau enggak kalau kita kelamaan di jalan begini, malah mengundang begal, enggak lihat berita ya kamu.” ucap Leo, yang kembali melajukan motornya membelah jalan raya menuju hotel.
“Tapi kan,”
“Itu hukuman buat kamu, karena enggak mau jujur sama aku.” ucap Leo yang memotong perkataan Yalisa.
“Ya sudahlah, terserah,” batin Yalisa.
Setelah melaju selama 10 menit, mereka menemukan sebuah hotel bintang 3, tanpa bilang apa-apa, Leo langsung melajukan motornya ke parkiran.
Sesampainya di parkiran, Yalisa turun dari atas motor, begitu pula dengan Leo.
“Ayo,” ucap Leo, yang berjalan di depan Yalisa menuju meja resepsionis.
“Ini enggak apa-apa Leo? Kalau di fikir-fikir hotelnya kan dekat dengan perumahan guru dan teman-teman sekolah kita.” ucap Yalisa yang merasa gugup.
“Apa boleh buat, aku bawa kamu ke rumah juga enggak memungkinkan, kecuali kamu udah mau nikah muda sama aku.” tutur Leo.
Sontak Yalisa memukul kecil bahu Leo, “Bercanda yang masuk akal sedikit dong!” hardik Yalisa.
“Emang yang aku bilang enggak masuk akal ya?” ucap Leo dengan tertawa kecil.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH,VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu