SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXXIII (Pemerasan)


__ADS_3

“Uangnya harus ada besok, kalau tidak, mati saja kau, membusuk dalam penjara Mei. hahahah.”


“Gila, dia beneran enggak mau kasih aku waktu.” lalu Mei pun mencoba mendial nomor misterius tersebut. Tapi panggilan Mei malah di matikan.


“Jam 20:00, datang ke mall XX di pusat kota, letakkan uangnya di penitipan barang supermarket mall, jangan macam-macam, jangan lapor polisi, apalagi bawa teman, setelah kamu letakkan uangnya, kamu harus segera pergi, kalau sampai kamu tidak melakukan itu, ku pastikan polisi segera menyeret mu ke sel. Hahahaha.” 📱


Mei bingung harus berbuat apa, terlebih besok adalah hari pertunangannya.


“Aku harus gimana ya?” batin Mei.


Karena merasa buntu, Mei menekan bel yang ada dalam kamarnya.


ting ting ting...


Tak lama Winda, sang asisten rumah tangga pun datang ke menghampiri.


Tok tok tok!


“Masuk.”


krieettt...


“Ada yang bisa saya bantu non?” tanya Winda seraya memegang handle pintu.


Lalu Mei bangkit dari ranjangnya dan berkata. “Ayo, kita bicara di balkon.” sebelum ke balkon kamarnya, Mei mengambil rokok terlebih dahulu dari atas meja, sebelah ranjangnya.


Cetek! Mei membuka pintu kamar yang menuju balkon. Di balkon ada 2 buah sofa Mei pun duduk di atasnya, lalu ia juga mempersilahkan Winda untuk duduk.


“Mbak Win.”


“Iya non?”


“Aku ada tugas buat kamu.” ucap Mei seraya menyalakan rokoknya.


“Tugas apa non?”


“Besok, mbak Winda ke mall XX yang ada di pusat kota, bawa uang 1 milyar, titip ke tempat penitipan barang mall.”


“Tapi non, untuk apa uang sebanyak itu?” tanya Winda penasaran.


“Ada orang yang tahu soal pak Ari, ku rasa orang itu bukanlah orang jauh, buktinya dia tahu nomor handphone dan nama ku, pada hal dia tidak melihat wajah ku saat berbicara dengan Riski, berarti dia sudah kenal betulkan dengan ku mbak Winda?” terang Mei, seraya mengisap rokok di jarinya.


Winda mencerna baik-baik perkataan majikannya itu.


“Apa ada yang nona curigai?” perkataan Winda membuat Mei berfikir sejenak.

__ADS_1


“Hummm..., ada sih, tapi ku rasa, dia enggak akan sejauh itu kalau mau bertidak.” ungkap Mei.


“Siapa non? Apa boleh saya tahu?” Mei pun menatap tajam mata Winda dan berkata.


“Kamu juga pasti tahu orangnya.” Winda terengah, tak percaya jika memang orang itu adalah pelakunya.


“Kalau memang dia, apa yang mau nona lakukan?” tanya Winda lebih lanjut.


“Aku akan pura-pura enggak tahu, dan mengikuti permainannya, tapi... kalau berani berbuat kedua kali, ku cabut nyawanya, ku jual organnya, jadi enggak masalah kalau kita rugi sedikit sekarang.” ucap Mei seraya mematikan api puntung rokoknya dengan telanjang tangan.


“Tapi non, dia kan...,”


“Aku enggak perduli siapa dia, berani mengusik ku lebih dulu, terima akibatnya. Ayo, sekarang kita ambil uang yang ada dalam brangkas mbak Winda.” terang Mei seraya menuju ruang rahasia yang hanya di ketahui oleh Mei, kedua orang tuanya dan Winda.


“Mbak Win,” ucap Mei seraya menyusuri anak tangga menuju basemen.


“Iya non?” sahut Winda.


Winda yang polos tiba-tiba di cekik oleh Mei, kuku-kuku Mei yang panjang membuat leher Winda tergores.


“Kamu jangan pernah seperti dia ya? Ini peringatan pertama dan terakhir ku, aku enggak suka pengkhianat. Jaga kesetiaan mu, hentikan niat mu.” Mei berkata demikian, karena ia memiliki firasat, kalau Winda akan membobol brangkas nya suatu saat nanti, entah itu benar, atau hanya karena efek ketakutannya saat ini, yang membuat fikiran nya negatif pada setiap orang.


_______________________________________________


Di rumah Yalisa yang masih terbayang-bayang akan Leo dan wanita itu, mulai membayangkan hal yang tidak-tidak.


“Enggak mau, huah... hiks hiks...” Yalisa kembali menangis seperti orang bodoh.


Karena tak tahu harus bagaimana ia pun berniat menelepon Mei untuk curhat.


Saat ia akan menelepon, ia baru sadar ternyata ia sudah tak memegang handphonenya selama 2 hari.


“Haduh, kemana handphone ku?” gumam Yalisa.


Ia pun sibuk mencari handphonenya kemana-mana, setelah mencari hampir 30 menit, akhirnya ia pun menemukan handphonenya yang ternyata ia letakkan di atas lemari piring yang ada di dapur.


“Alhamdulillah, dapat juga, tapi aku enggak ingat tuh taruh disini.” saat Yalisa membuka pola smartphonenya, ia menemukan banyak sekali panggilan dari Leo dan Riski.


Panggilan dan pesan dari Riski tak ia gubris, lalu Yalisa membuka pesan dari Leo, saat ia lihat tanggalnya, ternyata pesan itu di kirim malam hari, di hari mereka putus.


Dan hari ini pun, Leo mendial nomornya beberapa kali.


Sempat terpikir ingin menelepon Leo balik, tapi Yalisa mengurungkan niatnya.


“Gimana kalau aku tanya pendapat Mei dulu?” Yalisa bergumam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Karena Yalisa membutuhkan pendapat seseorang, akhirnya ia memutuskan untuk mendial nomor Mei.


Trutt.. tutt.. tutt...


Status teleponnya berdering, namun tak di angkat.


Lalu Yalisa mencoba mendial sekali lagi. Trutt... tutt.. tutt...


“Halo.” Mei. 📱


“Halo Mei, kamu lagi sibuk enggak?” Yalisa. 📱


“Enggak, ada apa?” Mei.📱


“Aku mau tanya pendapat kamu Mei, barusan aku lihat handphone ku, banyak bangat panggilan WhatsApp dari Leo, dia juga minta ketemu, dan sebenarnya tadi waktu di sekolah kita juga sempat berpapasan tanpa sengaja, jadi gimana Mei? Apa aku harus telepon dia balik?” Yalisa.📱


Mei yang merasa cemburu pun langsung berkata dengan tegas.


“Jangan telepon, kalau perlu blokir nomornya, cowok berengse* kayak dia enggak pantas buat kamu, masih banyak hati yang lain buat kamu singgahi, lagi pula dia sudah mau menikah, memangnya kamu mau jadi perusak hubungan mereka?” Mei. 📱


“Kamu benar juga sih, tapi...” Yalisa.📱


“Sudah dulu ya, aku sibuk, aku harap kamu bisa bersikap bijak, laki-laki bukan cuma dia.” Mei.📱


“Iya, aku mengerti, tapi Mei, yang paling mengejutkan, ternyata calon istrinya itu adalah teman satu sekolah kita.” Yalisa.📱


“A-apa? Eh Yalisa, nanti kita sambung lagi, mama lagi manggil aku tuh.” Mei. 📱


“Oh, oke, makasih ya udah mau dengerin curhatan aku.” Yalisa. 📱


Yalisa menutup telepon singkat mereka yang terasa belum memuaskan.


“Mungkin Mei ada benarnya juga, sebaiknya aku blokir nomornya saja, lagi pula dia juga sudah mau menikah.” Berkat pengaruh Mei, Yalisa memblokir Leo dari segala akun media sosialnya.


Yalisa berharap dengan begitu ia tak lagi mengingat tentang Leo.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Jangan lupa mampir ke karya author keren di bawah ini ya.



“Aira, dirinya di temukan oleh seorang phisikiater muda bernama Igun dalam keadaan depresi dan luka berat, karna mengalami trauma akibat di jual pamannya di rumah pelacuran hingga ia harus menjadi pasien rumah sakit jiwa.

__ADS_1


Sementara dua playboy kampus yang terganteng dan terkaya mereka mengadakan taruhan balap mobil mewah, barang siapa yg kalah harus menikahi pasien rumah sakit jiwa, dan  mereka memilih Aira yang baru saja sembuh dari depresi tersebut sebagai taruhan mereka, bagaiman jima ternyata keduanya justru jatuh cinta pada Aira?”


__ADS_2