
Selepas memancing, yang tiada hasil pada hal Matahari telah menyingsing tinggi, sebab itu Leo dan Yalisa memutuskan untuk kembali ke Vila.
“Yes! hubungan ku ada kemajuan, berkat lihat tutorial di google tuh,” batin Leo.
“Kita pulang sekarangkan?” tanya Yalisa.
“Iya, lagi pula sudah jam 14:00,” sahut Leo.
Mereka berdua pun membereskan barang-barang mereka masing-masing untuk segera beranjak pulang.
Setelah semua beres, mereka berdua pun langsung pulang dengan menaiki sepeda motor Leo.
Setelah menempuh perjalanan 1 jam lebih, mereka pun hampir sampai ke rumah Yalisa, namun tiba-tiba Leo menghentikan motornya.
“Ada apa?” tanya Yalisa.
“Kita belum beli oleh-oleh sama tante!” seru Leo.
“Heh? Enggak usahlah,” ucap Yalisa.
“Gimana enggak usah, nanti tante marah, kalau kamu pulangnya sama aku,” ujar Leo.
“Ya sudah kalau begitu, kita mau beli apa nih?” ucap Yalisa.
Mata Leo pun celingak-celinguk, dan pandangannya pun tertuju pada sebuah gerobak sate Padang.
“Gimana kalau sate Padang?” tanya Leo.
“Boleh juga tuh,” jawab Yalisa.
Lalu Leo melajukan motornya menuju gerobak tersebut.
“Pak, tolong sate Padang nya 3 bungkus.” pinta Leo.
“Siap mas, di tunggu ya,” sahut tukang sate.
“Kamu lapar ya?” tanya Yalisa, yang posisinya duduk berdua di atas motor dengan Leo.
“Iya nih, nanti kita makan di rumah kamu saja,” ungkap Leo.
“Waduh, mau makan di rumah ternyata, entar habis dia pulang, bakalan kena siraman rohani habis-habisan nih sama ibu.” batin Yalisa.
Setelah pesanan selesai di masak, mereka pun bergegas ke rumah Yalisa.
Sesampainya di rumah Yalisa, ternyata bu Alisyah sedang duduk bersantai di teras kecil rumah mereka.
“Assalamu'alaikum,” ucap Yalisa dan Leo.
“Wa'alaikumussalam, loh kok pulangnya sama Leo Lis?” tanya bu Alisyah.
“Iya bu, tadi ketemu di jalan bu,” jawab Yalisa.
“Apa kabar tante,” ucap Leo.
“Kabar baik, kamu apa kabar juga?” ujar bu Alisyah.
“Baik juga tan.” sahut Leo, seraya duduk di samping bu Alisyah dan menyodorkan sate padang oleh-oleh mereka berdua.
“Apa ini?” tanya bu Alisyah.
“Sate Padang tante,” jawab Leo.
“Oh, tolong Yalisa, ambilkan sendok ke dapur, biar kita makan bersama, nak Leo kita masuk ke dalam rumah saja ya.” ujar bu Alisyah, kemudian mereka beranjak keruang tamu dan mengambil posisi duduk di atas sofa.
__ADS_1
Yalisa yang telah kembali dari dapur, memberikan sendok satu persatu pada Leo dan ibunya.
“Ayo kita makan,” ucap bu Alisyah.
Mereka pun mulai membuka bungkus sate dan melahapnya.
“Semalam kamu tidur dimana Yalisa?” tanya bu Alisyah padanya, yang membuat Yalisa seketika panik.
“Oh iya, tadi malam lupa bilang sama ibu,” batinnya.
Leo juga ikut gugup karena takut akan ketahuan, jika ia telah membawa Yalisa ke Villa keluarganya.
“Di rumah Mei bu,” jawab Yalisa dengan ragu, takut kalau ibunya sudah menelepon Mei terlebih dahulu.
“Hum? Tapi Mei bilang tadi malam kamu pulang Lis?” tanya bu Alisyah kembali.
“Enggak kok bu,” Jawab Yalisa.
“Gimana dong, kalau begini?” batin Leo.
“Emang ibu nelpon jam berapa?” tanya Yalisa.
“Sekitar tengah 1 malam.” jawab ibunya.
Pertanyaan yang belum menerima titik terang membuat selera makan Leo hilang, ia tak dapat mengunyah satenya lagi.
“Em, itu tante,” ucap Leo.
“Apa?” sahut bu Alisyah.
“Tadi malam saya sudah mau mengantar Yalisa ke rumah, tapi ada pohon tumbang di jalan, jadinya enggak bisa lewat, terpaksa putar balik ke rumah Mei, dan kita dari rumah Mei berangkatnya jam 00:17 tan.” terang Leo.
“Iya bu,” timpal Yalisa.
“Kirain Leo mau jujur, bisa kena cincang-cincang habis aku,” batin Yalisa.
Setelah bu Alisyah menghabiskan satenya, ia pun memasukkan bungkus satenya ke dalam plastik kresek, lalu bu Alisyah meneguk air putih yang ada di gelasnya sampai habis.
Ia memperhatikan dalam wajah kedua anak yang ada di depannya, yang menyiratkan kecemasan.
Bu Alisyah juga melirik ke arah sate Leo dan Yalisa, yang setengahnya saja belum habis.
“Kenapa satenya belum habis juga?” tanya bu Alisyah, namun keduanya hanya melemparkan senyuman.
“Pada hal tadi ibu cuma bercanda, habis sholat isya ibu langsung tidur kok.” ucap bu Alisyah, seketika keduanya langsung merasa lega, dan bersemangat kembali.
“Ibu bercandanya receh bangat, bikin orang jantungan,” batin Yalisa.
Saat Leo dan Yalisa tengah asyik makan sate, tiba-tiba Leo mendapat pesan WhatsApp masuk ke handphonenya.
“Dimana saja semalaman? Kenapa belum pulang?” bu Dita. 📱
“Ibu, waduh sampe lupa buat kabari ibu,” batin Leo.
“Bentar lagi Leo pulang.” Leo. 📱
Setelah Leo menghabiskan satenya, ia pun memohon pamit pada Yalisa dan ibunya.
“Lis, ibu, sepertinya Leo mau pamit pulang sekarang, karena ada perlu di rumah.” ucap Leo.
“Oh, iya enggak apa-apa,” sahut Yalisa.
“Hati-hati di jalan ya nak, lain waktu main lagi ya kesini,” ucap bu Alisyah.
__ADS_1
“Baik bu,” ucap Leo, saat Leo akan membereskan bungkus satenya, Yalisa melarangnya.
“Ya sudah saya pulang bu, Yalisa, assalamu'alaikum.” ucap Leo.
Yalisa dan ibunya pun menjawab wa'alaikumussalam bersamaan. Lalu Leo melajukan motornya membelah jalan raya menuju rumahnya.
Setelah beberapa saat ia pun sampai ke rumahnya dengan selamat, kemudian Leo turun dari atas motor lalu masuk ke dalam rumahnya.
Saat ia membuka pintu, ia bertemu dengan Maya asisten rumah tangga mereka.
“Ibu dimana?” tanya Leo.
“Di kamar tuan, nyonya drop lagi tuan.” ucap sang ART.
Lalu Leo bergegas ke kamar ibunya, sesampainya ia ke kamar ibunya, ia melihat ibunya tengah terbaring lemah di atas ranjang. Leo pun mendekat, dan duduk di samping rajang.
“Sakitnya kambuh lagi bu?” tanya Leo.
“Iya sayang, donor ginjal untuk ibu juga belum dapat-dapat, pada hal ginjal ibu tinggal satu, tapi malah kurang sehat, gimana ibu bisa bertahan nak?” ucap bu Dita dengan lirih.
“Terus gimana bu? Leo harus apa bu?” tanya Leo kembali dengan mata berkaca-kaca.
“Sudahlah nak, kamu belajar yang benar saja, berdo'a juga, agar donor ginjalnya cepat dapat.” pinta bu Dita dengan senyum hangatnya.
“Andaikan ginjal Leo cocok, pasti Leo kasih buat ibu.” ucap Leo dengan perasaan sedih.
“Kamu tenang saja, kalau ada rezekinya, pasti ibu akan dapat donornya,” terang bu Dita.
Leo hanya bisa berharap pada yang maha kuasa, semoga ibunya dapat bertahan dari segala penyakitnya.
“Aku harus cari pendonor dimana ya Tuhan? Ya Allah berikan aku petunjuk mu.” batin Leo.
_________________________________
Pagi harinya saat Leo telah sampai ke sekolah, ia melihat di lapangan sekolahnya ada 3 buah mobil donor darah.
“Emangnya hari ini ada kegiatan donor darah? Kenapa aku enggak tahu?” gumam Leo.
Saat Leo masih berdiri seraya fokus melihat ke mobil donor darah tersebut, tiba-tiba Yalisa dan Mei menyapa Leo dengan masih menyandang tas mereka masing-masing.
“Pagi Leo!” seru keduanya.
“Selamat pagi,” sahut Leo.
“Wah, ada donor darah ya hari ini?” ucap Yalisa.
“Iya, aku juga baru tahu, di saat-saat begini darah kita berdua pasti banyak yang membutuhkan Yalisa!” ujar Mei.
“Iya benar bangat, kita harus ikutan!” seru Yalisa.
“Memangnya golongan darah kalian apa?” tanya Leo.
“O!” seru keduanya.
Mendengar jawaban dari kedua sahabat itu membuat mata Leo membulat.
“O?” gumam Leo.
“Iya, kita berdua O, yang seperti kita kan langka bangat.” sahut Yalisa.
“Benar, itu sangat langka.” batin Leo.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu