SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XVIII (Yalisa)


__ADS_3

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya filmnya pun di mulai, mata mereka berdua fokus ke layar, tetap fikiran kemana-mana.


Saat Yalisa akan mengambil popcorn yang ada di atas meja, tak sengaja tangannya memegang punggung tangan Leo, yang ternyata sedang mengambil popcorn juga.


“Demi Bumi Pertiwi, situasi macam apa lagi ini?” batin Yalisa.


“Apa yang harus aku lakukan kalau momennya seperti ini? Apa aku harus pegang tangan Yalisa balik?” batin Leo.


Leo menatap sendu ke arah Yalisa yang bola matanya tak berkedip ke arah layar besar di depan mereka , Yalisa perlahan menyingkirkan tangannya dari tangan Leo.


“Maaf ya, aku enggak sengaja.” ucap Yalisa tanpa melihat wajah Leo.


“Ini ambil, kayaknya kamu enggak akan bisa ambil dengan benar kalau kamu tidak lihat cup nya.” Leo memberikan popcorn yang ada di tangannya ke tangan Yalisa langsung, Yalisa yang sudah tidak tahan karena malu dan deg degan langsung menutup wajahnya dengan tangan kirinya.


“Ya Tuhan, aku enggak bisa kendalikan perasaan ku, belum lagi di sebelah kami ada orang yang bermesraan,” batin Yalisa.


Posisi duduk mereka yang tegap bagaikan angka satu membuat keduanya dapat melihat aktivitas orang-orang di sekitar mereka.


“Kamu enggak apa-apa?” tanya Leo.


“Iya enggak apa-apa,” jawab Yalisa.


Saat Yalisa masih dalam ketegangannya Leo tiba-tiba merebahkan badannya.


“Kenapa kamu rebahan?!” ucap spontan Yalisa.


Suara keras Yalisa membuat pasangan yang sedang berpelukan di sebelahnya keberatan.


“Mbak pelanin suaranya dong, berisik bangat sih dari tadi.” ucap penonton wanita yang ada di sebelah kirinya.


“Maaf mbak,” ujar Yalisa.


“Tadi aku enggak sengaja lihat ke samping kiri ku, mereka sedang bermesraan, terus si cowok memelototi aku, makanya aku tiduran, sebaiknya kamu tiduran juga, biar tidak mengganggu orang lain,” terang Leo.


Yalisa mendecak, dengan terpaksa ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Nih, kamu pakai bantal, biar nontonnya lebih nyaman,” terang Leo.


“enggak usah, gini juga enak kok.”


Karena Yalisa menolak, Leo menggeser tubuhnya jadi lebih dekat dengan Yalisa, hingga jaraknya berkisar sejari telunjuk, lalu Leo yang masih dengan posisi telentang memiringkan badannya menghadap Yalisa, yang ada di sebelah nya.


“Angkat kepala mu,” pinta Leo seraya mengangkat tubuhnya ke atas sedikit.


“Oke,” sahut Yalisa.


Setelah selesai meletakkan bantal di bawah kepala Yalisa, Leo kembali membaringkan tubuhnya.


“Kok dia enggak balik ke posisinya yang tadi sih? Terlalu dekat begini kan makin enggak nyaman,” batin Yalisa.

__ADS_1


Yalisa kembali mengarahkan pandangannya ke layar besar yang menyuguhkan adegan pocong beranak dalam kubur.


Saat Yalisa sedang asik menonton, Leo memutar kepalanya menghadap Yalisa, Leo sangat terpesona dengan kecantikan Yalisa, rambut panjang berwarna hitam yang terurai tak beraturan menempel di pipi Leo, Leo mengelus-elus rambut panjang tersebut dan mengecupnya.


Setelah film horornya selesai, Yalisa dan Leo bergegas keluar dari dalam bioskop.


“Filmnya seram ya,” ucap Yalisa.


“Enggak juga kok,” Sahut Leo.


“Masa sih enggak seram? Bayangin pocong beranak dalam kubur, terus datangin rumah mantan pacarnya untuk menuntut balas karena nyuruh dia buat gugurin kandungan, hihhh... Bikin merinding tadi.” ucap Yalisa sambil menaikkan bahunya ke atas.


“Kan sepanjang film yang aku lihat cuma kamu,” batin Leo.


“Ohh.. gitu ya? Menurut aku sih enggak ada seramnya sama sekali.” ucap Leo dengan tersenyum tipis.


“Kamu emang enggak ada takutnya,” ucap Yalisa sambil menepuk punggung Leo.


“Sudah jam 21.00,” ucap Yalisa.


“Iya,” sahut Leo sambil melihat jam tangan Kasio berwarna silver nya.


“Ayo kita makan dulu.” ucap Leo seraya membuka pintu mobil dan menyuruh Yalisa masuk, kemudian Leo juga masuk ke dalam mobil dari arah pintu kemudi.


“Apa dia lupa jam sepuluh aku harus sampai rumah?” batin Yalisa.


“Tapi, aku kan harus sampai rumah jam sepuluh.” ucap Yalisa dengan wajah yang sedikit kwatir. Leo menatap dalam wajah Yalisa seolah tak ikhlas kebersamaan itu berlalu.


“Ya sudah, kalau gitu nanti kita minta di bungkus makanannya.” ujar Leo sambil menginjak gas mobilnya membelah jalan raya, Leo sesekali melirik Yalisa yang terus menerus melihat handphone nya.


“Lagi nunggu kabar seseorang ya?” ucap Leo.


“Enggak kok, hehehe,” sahut Yalisa.


“Sabuk pengamannya tolong di pakai, biar safety,” ucap Leo.


“Oh iya, maaf ya aku lupa hehe.” Yalisa pun buru-buru memasangkan sabuk pengamannya.


“Terus kenapa kamu lihat handphone terus?”


“Aku cuma lihat jam saja, takut kita telat nyampe rumah”, sahut Yalisa.


“Oh, tenang saja kita kan masih punya cukup waktu, ngomong-ngomong kamu jangan sembarangan berkirim pesan sama orang lain ya, sekarang banyak penjahat bermodus kenalan di sosmed, terus ngajak ketemuan, ujung-ujungnya di culik, ada yang di perkosa, ada juga jadi wanita panggilan, paling miris organ si korban akan di jual dengan harga tinggi,” terang Leo.


“Iya, aku enggak gitu kok, kalau ada orang yang ngajak kenalan aku langsung abaikan atau blokir, kecuali itu orang yang aku kenal,” Sahut Yalisa.


“Walau pun kenal harus tetap hati-hati, kita kan enggak tau isi hati seseorang,” ucap Leo.


“Leo kenapa ngomong ini tiba-tiba ya? Apa keluarganya ada yang menjadi korban?” batin Yalisa.

__ADS_1


“Makasih ya Leo atas nasehatnya, aku akan selalu ingat apa kata-kata kamu.” ucap Yalisa


“Dan itu....” ucap Leo dengan merasa ragu untuk mengatakannya.


“Apa?” tanya Yalisa.


“Maaf bukannya aku mau ikut campur, tapi berhati-hati jugalah dengan laki-laki yang kamu lukis waktu itu.” seketika Yalisa tertawa lepas, merasa lucu, karena Leo membicarakan dirinya sendiri.


“Menurut kamu aku harus waspada sama laki-laki itu juga?” ucap Yalisa.


“Tentu saja, siapa tau dia itu orang mesum, atau psikopat,” sahut Leo.


“Tapi kayaknya enggak mungkin deh,” ucap Yalisa.


“Emang udah kenal berapa lama?” tanya Leo.


“Kenal sih udah lama, tapi dekatnya baru beberapa minggu ini,” jawab Yalisa.


“Apa? Sudah selama itu? Hubungan mereka udah sampai mana ya? Masa iya aku harus tanya sampai situ, nanti Yalisa ilfeel lagi sama aku, bisa dekat seperti ini saja aku udah bahagia bangat, oh Yalisa,” batin Leo.


“Ya pokoknya hati-hati saja, yang baik sekarang belum tentu baik besok, apa lagi yang namanya cowok, kalau dia belum dapat maunya dia akan bertingkah seperti doggy terlihat patuh dan selalu melindungi, sudah dapat maunya dia akan berubah jadi buaya, habis di telan bulat jadi kotoran,”ucap Leo. Berusaha memprovokasi Yalisa agar tidak suka dengan laki-laki yang ada lukisan tersebut.


“Hahahaha.” Yalisa makin tertawa keras sambil memegang perutnya.


“Aduh, perut ku sampai sakit, kamu lucu bangat sih.” ucap Yalisa yang masih saja tertawa sampai air matanya keluar, Yalisa tidak menyangka kalau Leo akan berkata demikian mengenai dirinya sendiri.


Leo mendecak dan mengehentikan mobilnya di tepi jalan raya.


“ Turun,” ucap Leo.


“Hah, apa?”


“Loh, kenapa turun?” ucap Yalisa keheranan.


“Apa Leo marah karena aku terus menertawai dia tadi ya?” batin Yalisa.


“Hoi Yalisa,” ucap Leo sambil menatap wajah Yalisa yang sudah berhenti tertawa.


“Ya Leo,” sahut Yalisa.


“Bukannya kita harus beli makanan ya? Kamu emang enggak lapar?” ucap Leo.


Seketika Yalisa melihat tak jauh dari depan mobil Leo ada gerobak bertuliskan, “Sedia martabak telor.” Yalisa mengamati wajah Leo yang memperlihatkan wajah cemberut nya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE DAN TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram : @Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2