SAVE YALISA

SAVE YALISA
Ba CI (Merasa Berdosa)


__ADS_3

Leo yang mendengar nama Riski langsung naik pitam, ia pun dengan tak sabaran melucuti bajunya.


“Jangan sebut nama si brengse* itu di hadapan ku, kamu fikir dia sebaik itu?! Dia jugalah penyebab perpisahan ini!” Leo yang di penuhi amarah mulai membuka paksa gaun yang di kenalan Yalisa.


“Jangan! Aku mohon!” tangis wanita kecil itu pecah, penyesalannya kian membesar, andai saja ia tak berbohong pada Riski, andai saja ia tak begitu saja membuka hatinya kembali pada Leo.


Yalisa terus saja menepis dan menahan tangan Leo, hingga Leo yang tak sabaran membaringkan paksa tubuh Yalisa ke ranjang, Leo yang bertubuh kekar dan gagah dengan mudah menyibak gaun yang Yalisa pakai.


srakk!!!


Kedua kelopak mata Yalisa membulat sempurna, air matanya ketakutan pun terus saja mengalir, Yalisa yang berbaring dengan tubuh terkulai menutupi kedua barang kehormatannya.


Leo yang melihat penampakan tubuh polos orang yang ia cintai itu, malah merasa tak nyaman.


“Jangan! Hiks.. hiks..., aku mohon huah!”


Yalisa terus saja menangis, sebenarnya hati kecil Leo tak sanggup mendengar isak sang gadis tercinta, namun bagaimana pun, ia ingin memiliki wanita yang kini tak di balut sehelai benang pun itu.


“Ja-jangan, hiks... hiks..., tolong.” pinta Yalisa dengan mata yang sembab.


“Maafkan aku sayang, aku janji akan bertanggung jawab.” ungkap Leo seraya menindih tubuh Yalisa.


“A-ampun! Berhenti!!!!”


_____________________________________________


2 jam kemudian, setelah hujan reda, Leo yang duduk di pinggir ranjang menatap iba ke sebelahnya, wanita yang bersembunyi dalam selimut itu masih saja menangis.


Leo tak berani menyapa lagi, karena merasa sangat berdosa.


Kini telah pukul 16:00, namun wanita yang ia cintai masih saja menangis.


“Ya-Yalisa, maafkan aku, tapi hujannya sudah berhenti, ayo aku antar pulang.” ujar Leo.


Lama Leo menunggu, hingga akhirnya Yalisa menampakkan wajahnya.


“Tolong ambilkan baju ku.” pinta Yalisa dengan wajah dan rambut yang kacau.


“Tapi itukan masih basah.” ucap Leo.


“Ambil saja.” karena Yalisa yang meminta, Leo pun memenuhinya.


Setelah Leo mengambil baju milik Yalisa, ia meletakkannya di atas ranjang, kemudian beranjak keluar dari dalam kamar, Leo yang merasa menyesal duduk termenung di atas sofa, seraya menunggu Yalisa selesai berpakaian.


Yalisa yang telah selesai berpakaian lengkap menyusul Leo ke ruang tamu.

__ADS_1


Leo yang masih menunduk perlahan melirik Yalisa, “Kita pulang sekarang?” Yalisa mengangguk, sebelum mereka beranjak, Leo melilitkan syal ke leher Yalisa, agar bekas merah yang ia gambar tak terlihat orang lain.


Kemudian mereka meluncur pulang menuju kediaman Yalisa, tak ada obrolan di antara keduanya, mereka sibuk dalam fikiran mereka masing-masing.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya mereka sampai di depan gang rumah Yalisa.


Keduanya mengernyit bersamaan, karena terdapat bendera kuning yang di selipkan di tiang listrik tepat di sebelah jalan aspal menuju rumah Yalisa.


“Siapa yang meninggal?” batin keduanya.


Yalisa di buat tambah bingung, saat orang-orang menatap iba padanya.


“Siapa yang meninggal bu?” tanya Yalisa pada salah satu ibu-ibu tetangga mereka.


“Hiks hiks hiks, yang tabah ya nak, ayo ibu antar ke dalam.” ucap sanga tetangga seraya menggandeng lengan Yalisa.


Leo yang memiliki firasat buruk, mengikuti dari belakang.


“Bu, siapa yang meninggal bu?” tanya Yalisa lagi, namun sang tetangga tak menjawab, semakin mendekati rumah, Yalisa di buat bungkam, kakinya menjadi lemas tak bertenaga.


Rumahnya yang biasa sepi, kini banyak kunjungi oleh khalayak, di halaman rumahnya juga sudah berdiri tenda hijau.


“I-ibu.” hanya kata itu yang terus keluar dari mulut manis Yalisa. Semua orang memberinya jalan untuk masuk ke dalam rumah.


“Iii-Ibu!” Yalisa berjalan lunglai ke ibunya yang telah terbujur kaku.


“Ibuuuu!!” Yalisa menangis sejadi-jadinya, pada hal tadi pagi sang ibu masih sehat-sehat saja, tiba ia kembali ke rumah, bu Alisyah sudah pergi meninggalkannya.


Yalisa memeluk ibunya dengan perasaan sangat sedih, orang tua satu-satunya pergi meninggalkannya, kini ia hanya sebatang kara untuk menjalani hidupnya.


Leo yang melihat itu semua tak habis fikir, karena bu Alisyah berpulang secepat itu.


Yalisa yang terus menangis di tenangkan oleh para pelayat, mereka juga memasangkan jilbab ke pada Yalisa.


“Ibu! Ibuuuu, jangan tinggalkan Yalisa sendirian bu! Yalisa enggak punya siapa-siapa lagi bu, ibuuuu!!!”


Semua yang ada di ruangan itu ikut menangis, terlebih Leo, yang tak tahu harus berbuat apa.


“Ibuuu!!!” Yalisa yang tak kuat batinnya menerima kenyataan yang ada tiba-tiba pingsan.


____________________________________________


Pada pukul 23:00 Yalisa tersadar, sejenak ia merasa bingung, karena sekarang ia tengah berbaring di ranjang.


Samar-samar ia mendengar ada suara orang yang sedang mengaji Yasin, akhirnya ingatannya pun kembali.

__ADS_1


Sontak ia bangkit dari ranjang, dan membuka pintu kamarnya dengan tergesah-gesah.


“Ibu.” gumam Yalisa, saat ia tiba di ruang tamu, ia mendapati om dan tantenya tengah duduk bersila seraya membaca Yasin, dan ada satu orang lagi yang menemani keluarganya.


“Riski.” mendengar suara Yalisa mereka bertiga menoleh bersamaan.


“Kamu sudah bangun nak?” ujar om Narto, adik kandung ibunya.


“Om, ibu mana om?” tanya Yalisa, lalu om Narto dan tante Mila pun berdiri.


“Kak Alisyah sudah di kebumikan setelah sholat isya tadi, kamu enggak kunjung bangun, enggak mungkin di tunda kan? sabar ya nak.”


“Kenapa harus di kubur secepat itu om?” ucap Yalisa dengan air mata yang terus mengalir.


“Orang-orang kan sibuk nak di siang hari, sudah nak, tabah kan hati mu, ambil air wudhu berdo'a untuk ibu mu.” ujar om Narto.


Riski yang ada dalam ruangan itu tak memandang wajah Yalisa, ia terus saja melanjutkan bacaan surah Yasin nya.


Yalisa menatap nanar ke arah Riski, tak mengerti kenapa Riski masih berada di rumahnya, pada hal sudah larut malam.


“Untung ada nak Riski, tadi dia yang memimpin bacaan surah Yasin di bagian bapak-bapak nak, teman mu baik sekali.” ujar om Narto, yang membuat perasaan bersalah dan sedih Yalisa semakin besar.


“Maafin aku Ki, aku udah bohong dan jahat sama kamu.” batin Yalisa.


Yalisa pun di ajak duduk oleh om dan tantenya di atas lantai beralaskan tikar itu.


“Om, apa penyebab ibu meninggal?” pertanyaan Yalisa tersebut membuat ketiganya kesulitan untuk menjawab.


Terlebih Riski, yang merasa sangat iba pada Yalisa.


“Om! Tante! Ayo, bilang sama Yalisa, Yalisa berhak tahu apa penyebabnya, karena waktu Yalisa tinggal, ibu masih sehat-sehat saja!” karena terus di desak, sang om pun buka suara.


“Ibu mu tenggelam di sungai yang ada di dekat ladang kalian, dan di lihat dari kakinya yang sangat bengkak, banyak bekas gigitan ular nak, itulah penyebab ibu mu meninggalkan kita semua.” terang om Narto.


“Enggak, enggak mungkin om! Ibu!!! Ini semua salah Yalisa, harusnya Yalisa temani ibu waktu itu! Hiks!!” tangis penyesalan Yalisa pun semakin pecah.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.


__ADS_1


__ADS_2